Air mataku terus saja mengalir semalaman ini. Aku benar-benar labil, bimbang atau entahlah. Di sisi lain, aku tidak mau jadi perusak hubungan orang. Tapi, di sisi lainnya, aku juga tidak bisa terus menahan perasaan yang semakin hari semakin membunuh ini. Jadi, aku harus bagaimana? Kisah ini begitu rumit hingga aku bingung bagaimana cara menyelesaikannya. Rasaku itu sama seperti hujan. Selalu nekat ingin memeluk bumi, padahal dia tahu yang akan dipilih adalah pelangi. Aku menyeka pipi dan menatap jam beker di atas nakas. Pukul sebelas malam. Aku mengambil ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempatku berbaring. "Gue hanya akan buat lo tidur lebih cepat." Aku mendengarkan rekaman teleponku dan Mario beberapa bulan lalu. Mengingat kembali masa itu, rasanya sangat bahagia. Dulu, aku tid

