Ada Apa Denganku?

1124 Words
Besoknya aku bersekolah kembali. Ini semua karena Mario. Dia yang telah membuatku kembali bersemangat. Ketika ingin masuk ke kelas, Axel meghadangku. Mau apa lagi sih cowok itu? Tanpa memperdulikannya, aku berlalu begitu saja. "Sha, tunggu sebentar." Axel menahan pergelangan tanganku. Mataku menatapnya tajam. "Mau apa lagi lo?!" "Gue ... minta maaf, Sha," jawabnya dengan suara pelan. Axel menunduk. "Maaf, gue gak maksud untuk merendahkan lo." Mataku berkaca-kaca. Axel menatapku tulus. "Setelah kejadian itu, pasti lo gak mau ya pacaran dengan gue?"  Apa?! "Iya, Sha. Gue suka sama lo. Mau ya jadi cewek gue?" Hah? "Emm ... gue ...." Bola mataku menatap ke belakang Axel. Di sana ada Mario dan Oliv yang tengah tertawa-tawa sambil membaca buku. s**l. Kenapa rasa tidak terima itu muncul lagi? Aku ini sebenarnya kenapa, sih? Kenapa selalu begitu? Aku terus menatap mereka yang terlihat begitu bahagia. Apa aku iri? "Sha?" Aku mengerjapkan mata berkali-kali. Axel tersenyum lembut. "Gimana?" ucap Axel, "gue janji akan jadi anak baik. Bukan hanya demi lo. Tapi juga demi diri gue sendiri." Aku menghela napas dan menggigit bibir. "Oke." "Oke apa?" Pipiku terasa panas. "Oke, ayo kita pacaran." Axel tersenyum lebar. "Serius, kan?" Aku mengangguk. "Yes!" Axel mengepalkan tangannya. Aku ikut tersenyum. Namun, aku bingung dengan diriku sendiri. Kenapa aku menerimanya dengan mudah? Ada apa sih denganku?! Sejak saat itu, hari-hariku berubah indah. Aku tak merasa iri lagi dengan Oliv yang selalu mendapat perhatian. Ya, karena aku juga sudah memiliki Axel sebagai pacarku. Dia cukup menyenangkan. Ya, meskipun aku masih belum sepenuhnya percaya pada cowok itu, gak apa-apalah. Kami sudah pacaran seminggu. Tapi sejauh ini dia tak banyak tingkah. Dia banyak berubah. Tak lagi melanggar peraturan-peraturan sekolah. Kabar hubunganku dengan Axel langsung menyebar luas ke seluruh sekolah. Axel yang merupakan murid populer sekaligus cowok pentolan sekolah memang selalu jadi sorotan. Dan hal itu juga berdampak padaku. Ada yang menyukai hubungan kami. Ada juga yang bilang jika aku tidak pantas untuk Axel. Rupanya kabar itu juga sampai di telinga Mario. Ya jelaslah. Karena hampir satu sekolah terus membicarakan aku dan Axel. Di taman, kantin, lapangan, perpustakaan bahkan toilet, dijadikan tempat bergosip. Aku baru saja dari ruang guru untuk mengumpulkan tugas teman-teman sekelas. Ketika kembali, Mario langsung menarikku keluar kelas. "Lo gimana sih, Sha. Gue udah mukulin Axel sampai babak belur untuk ngebela lo, dan sekarang lo malah jadian sama dia?!" Mario langsung berseru marah. Dia memegang bahuku kencang. Matanya tersorot penuh kemarahan. "Otak lo di mana? Mau aja dibegoin si Axel. Sha, lo itu termasuk murid teladan dan terpintar di sekolah. Tapi kenapa lo mau aja pacaran dengan cowok nakal kayak gitu! Otak pinter lo dikemanain, sih? Lo ingat gak dengan kelaukan b***t cowok itu?!" Mario menatapku tajam. Kenapa pula dia harus semarah itu? Aku menghembuskan napas kasar. "Gue cuma pengin ngerasain pacaran." Aku menjawab dengan tenang. Namun tak kusangka, Mario malah semakin marah. "Hanya karena pengin? Lo mau ikutan jadi populer? Gitu? Kalau udah sakit hati aja baru nyesel. Cewek b**o!" Mario melepaskan cengkeramannya lalu melangkah pergi. Aku menatap punggungnya dengan mata yang berkaca-kaca. Maaf Mar, ketika kamu mati-matian membelaku, aku malah memilih keputusan yang gila.  Mario sudah dua hari mendiamkanku. Dan ternyata itu sangat menyiksa. Aku merindukkan perhatiannya. Aku merindukkan sifat jahilnya. Aku rindu tangannya yang selalu menjitak kepalaku. Kini, ketika menatapku, dia seperti orang asing yang tak pernah mengenalku. Tapi aku juga tak ingin mengajaknya bicara duluan. Gengsi dan aku pun merasa kesal. Memangnya dia siapa berhak mengatur-ngaturku? Guru di depan tengah menjelaskan tentang tugas kelompok. Kenapa harus ada tugas kelompok ketika hubunganku dengan Mario sedang tidak baik, sih? Setelah dirasa cukup menjelaskan, guru itu membubarkan kelas. "Kita mau kerja kelompok di rumah siapa?" Flora bertanya. Aku mengangkat bahu. "Tanya aja sama ketuanya," sahutku datar. Ketua kelompok kami adalah Mario. Aku yang memilihnya dan teman-teman yang lain pun setuju. "Gimana kalau di rumah lo aja, Sha?" usul Devva. Aku terbelalak. Eh. Gimana ya. Jangan di rumahku dulu deh. "Emm di rumah Mella aja," cetusku. Mella menggeleng cepat-cepat. "Gak bisa! Bokap gue lagi sakit gigi. Nanti berisik dia bisa ngomel." "Yaudah di rumah Arya aja?" usulku. Caca yang menggeleng. "Rumah Arya kejauhan untuk gue, Sha!" sergah Caca. Aku menghela napas dan melirik Mario yang berekspresi datar. "Mar ... menurut lo di mana enaknya?" Arya bertanya hati-hati. Dia tahu Mario sedang tidak ber-mood baik. "Kost-an gue aja." Mario beranjak berdiri lalu segera meninggalkan kelas yang sejak tadi sudah kosong karena murid lain telah pulang. "Si Mario lagi kenapa, sih? Mukanya gak enak diliat sumpah," cerca Devva. "Pasti ada hubungannya sama Varsha, nih," cetus Flora. Aku melotot. "Apaan sih, Flo? Kok gue?" "Lo pikir kita gak tahu kalau di antara kalian itu lagi ada perang dingin?" ucap Caca. Arya mengangguk lalu menambahkan. "Kalian itu persis kayak pacar yang lagi marahan." "Ah, gak tau deh! Tanya aja sama orangnya." Aku menyahut ketus lalu segera meninggalkan kelas. *** Kini aku tengah berada di dalam taksi yang akan mengantarku menuju kost-an Mario. Ya ... kami akan kerja kelompok hari ini. Sebenarnya aku sedikit malas mengingat seberapa buruknya hubungan kami sekarang. Aku tidak menyangka akhirnya akan begini. Kenapa Mario jadi semarah itu? Akhir-akhir ini dia juga lebih banyak diam. Biasanya, dia itu tidak bisa diam dan hobinya menjahili anak-anak cewek. Ketika menatap keluar jendela, mataku tak sengaja melihat seseorang yang sangat kukenali di pinggir jalan. "Pak, stop, Pak!" Aku berseru tiba-tiba yang membuat sopir taksi itu berhenti mendadak. "Aduh, ada apa, Neng?" tanya sopir taksi itu. Tanpa banyak bicara, aku langsung menyerahkan ongkos dan turun begitu saja. Aku melihat Axel. Dan dia bersama seorang cewek yang tak kukenali. Siapa cewek itu? Langkah kakiku kian cepat hingga aku sampai di depan Axel dan cewek yang tak kuketahui namanya itu. Mereka yang sedang tertawa-tawa langsung menatapku. Axel terlihat kaget dan cewek itu mengerutkan dahinya.  "Axel!" Aku berseru. Cowok itu tampak gelagapan. Dia berdiri dan menatapku. "Sha ... kok lo bisa ada di sini?" tanyanya. "Emang penting buat lo tahu?" sahutku ketus lalu melirik sinis cewek di sampingnya. "Siapa dia?" "Hai, kenalin. Nama gue Raya, pacarnya Axel." Apa?! Pacar? Aku tak menggubris basa-basi cewek bernama Raya itu dan menatap Axel tajam. "Maksudnya apa?! Cewek itu pacar lo?" Aku memekik. Axel menghela napas. Dia menatapku dan Raya bergantian. "Sori ... g--gue ...." "Heh, lo siapa sih? Baru datang langsung nyolot!" Raya menyela ucapan Axel. "Gue pacar Axel!" Aku berseru. Raya menganga. Dia menatap Axel meminta penjelasan. "Dia pacar lo, Xel? Jadi, lo selingkuhin gue?!" Raya memekik. Axel mati kutu. Cowok itu diam saja.  Tanganku yang sudah sangat gatal langsung saja menampar pipi Axel dengan kencang. "Cowok b******k! Sekali b******k tetap aja b******k. Gak akan pernah bisa berubah. Gue mau kita putus!" Aku melirik Raya. "Dan lo Raya, cowok kayak begitu gak perlu ditangisin. Dia terlalu hina buat kita." Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku bergegas pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD