Fall & Love

1552 Words
Aku melangkah gontai menuju kost Mario. Sebenarnya aku sangat emosi. Ingin sekali rasanya berteriak marah pada keadaan. Jika kalian pikir aku patah hati, itu keliru. Aku sama sekali tak merasa sakit hati karena dikhianati si Cowok b******k itu. Yang aku rasakan adalah penyesalan. Aku menyesal telah menerimanya menjadi pacar. Sebab karena Axel, aku dan Mario jadi marahan. Aku menyesal sebab tidak mendengarkan apa kata Mario. Air mataku menetes begitu saja. Aku merasa marah dan kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa aku begitu mudah menelan kata-kata manis? Jarak ke kost Mario masih jauh dan aku malas untuk naik kendaraan umum sebab suasana hatiku sedang kacau. Untuk itu, aku memilih berjalan kaki. Tapi, sepertinya semesta ikut merasakan kesedihan yang tengah aku alami sekarang. Rintik hujan turun dengan deras. Membasahi apa pun yang ada di bumi. Termasuk tubuhku yang langsung basah seketika. Rasa dingin menusuk tulang. Orang-orang berlari pontang-panting menghindari air yang jatuh. Namun aku tetap berjalan di sisi jalan raya dengan kepala tertunduk. Dan air mata itu masih mengalir lalu melebur bersama air hujan yang menyentuh kulitku. Karena sudah sangat kedinginan, aku memilih untuk berteduh di warung kecil tepat di pinggir jalan. Tak hanya ada aku di sana. Juga ada dua orang yang sedang berteduh dari derasnya air mata semesta. "Bu, teh manis hangat satu." Aku berujar pada ibu penjaga warung. Dia tersenyum lalu mengangguk. Aku berdiri agak jauh dari dua orang yang sedang berteduh juga. Mataku menatap air yang membasahi tanah dengan nanar. Di kala hujan, aku mengingatnya. Memang benar ya, hujan adalah waktu terbaik untuk mengingat kenangan. Kepingan ingatan seakan ikut mengalir di dalam air yang jatuh. Lalu menggenang di atas tanah dan baunya ikut tercium. Aku dan Mario tak pernah berencana untuk dekat dan bersahabat. Kami hanya akrab seiring berjalannya waktu sebab satu kelompok. Namun, kehadirannya kenapa seolah sangat berdampak besar pada hidupku? Ya, dia. Mario. Apa sebenarnya yang kurasa? "Neng, ini tehnya." Aku menoleh ketika Ibu penjaga warung berseru. Dengan tangan gemetar karena dingin, aku menerima teh itu. "Makasih, Bu." "Hujan-hujan begini, habis darimana atau mau ke mana, Neng?" Ibu paruh baya yang memiliki t**i lalat di dahi itu bertanya. Senyum kecil tercipta di bibirku. "Mau ke kost-an temen." Aku meminum teh hangat itu secara perlahan. Tatapanku kembali ke jalanan di depan yang sudah basah namun tetap ramai oleh kendaraan. Aku duduk di kursi plastik yang baru saja diberikan si Ibu penjaga warung. Pikiranku kembali lebur oleh satu nama yang kini entah sedang mencemaskan aku atau tidak. Sekarang sudah jam empat sore. Sudah lewat satu jam dari yang dijanjikan untuk kerja kelompok. Teman-temanku, apa mereka mencariku? Apa Mario mencemaskan aku seperti biasanya? Apa dia masih marah padaku? Apa katanya ketika tahu jika Axel mempermainkanku? Apa dia akan kembali menyebutku cewek b**o? "Varsha! Astaga Sha, akhirnya ketemu juga!" Suara itu ... aku mendongakkan kepala. Mata coklatku langsung menubruk mata hitam legam seorang cowok yang tak henti-hentinya ada di pikiranku itu. Astaga Mario, dia masih mengkhawatirkanku? Aku berdiri dan hatiku mencelos seketika. Mario turun dari motornya lalu menghampiriku yang tengah berdiri di warung. Seluruh tubuhnya basah kuyup. "Sha ... lo gak apa-apa?" tanyanya dengan ekspresi cemas. Aku malah menangis tanpa isakan dan terus menatapnya penuh penyesalan. "Sha, hei, lo kenapa?" Mario memegang kedua pipiku dengan tangannya yang dingin. Dia menatapku tak mengerti. "Ma-maaf," ujarku dengan suara bergetar. Kepalaku tertunduk. Sakit sekali rasanya menangkap raut khawatir dari ekspresi Mario. "Maaf. Maaf. Maaf." Aku menggumamkan kata itu berkali-kali. Air mataku turun semakin deras. Si Ibu penjaga warung dan dua orang yang tadi berteduh menatap kami dengan pandangan aneh. Aku membayar teh manis dan mengajak Mario untuk pergi dari warung itu. Hujan sudah sedikit reda. Lagipula, aku tak akan leluasa untuk bercerita jika kami masih di tempat tersebut. Mario melajukan motornya entah menuju ke mana. Yang jelas, bukan ke kost-an. Tapi, hei ... ke rumahku? "Mar, kok pulang? Emang gak jadi kerja kelompok?" Aku bertanya ketika motor Mario berhenti tepat di depan rumahku. "Devva kecelakaan. Kerja kelompoknya gak jadi," jawab Mario. Hah? Devva kecelakaan? "Kecelakaan? Parah gak?" "Cuma lecet-lecet doang katanya." Mario menatapku. "Lo kenapa, Sha? Kenapa minta maaf?" Aku menunduk. "Maaf karena gak dengerin omongan lo tentang Axel." "Axel? Dia apain lo?" Mario berseru. "Ternyata, dia punya pacar selain gue. Lo benar, gue ... bego." Aku terisak. Aku pikir Mario akan tertawa, tapi cowok itu malah memelukku. "Lo memang bodoh. Tapi si Axel lebih bodoh karena udah nyakitin cewek sebaik lo, Sha." Aku hanya bisa diam sambil terus menangis di bahunya. Mario mengusap rambutku dengan lembut. "Lo pasti susah move on deh," cetus Mario. Dahiku berkerut. Kenapa harus susah? "Kenapa susah? Toh gue gak suka kok sama dia," tukasku. Mario melepas pelukan. Alisnya tertaut. "Terus, lo pacaran sama dia karena apa? Dan lo nangis gini, kalau bukan patah hati, kenapa?" Mario bertanya. Aku menyeka pipi. "Ya karena pengin. Gue nangis karena nyesel udah gak dengerin omongan lo." "Pengin? Aduh, dasar lo ya! Udah sana masuk. Jangan lagi-lagi deh pacaran tanpa rasa atau hanya karena sebatas rasa kasihan. Soalnya gak akan bertahan lama." Mario menjitak kepalaku. Entah kenapa, aku malah senang dia melakukan itu. Tandanya, dia peduli, kan? "Gue tadi langsung nyariin lo pas Arya kabarin kalau Devva kecelakaan. Soalnya lo belum datang, sih. Gue nanya ke cewek-cewek, mereka juga gak tahu kabar lo. Terus gue telepon tante Vivi, katanya lo gak ada di rumah. Ya gue paniklah. Mana hujan." Aku tersenyum tanpa sadar ketika Mario menjelaskan dengan menggebu-gebu. Dia benar-benar peduli padaku meski saat itu kami sedang marahan. "Makasih, Mar. Gue masuk ya. Lo langsung pulang terus mandi! Takutnya nanti sakit." Aku membuka pagar lalu masuk ke pekarangan rumah. Mata bulatku melirik Mario. Cowok itu menghidupkan motornya lalu berlalu pergi. Senyuman manis masih saja merekah di bibirku. Ah, aku merasa sangat bahagia. "Can you see the secret of my eyes? Can you feel what i'm feel, here inside. I'm fall in love with you ...." Aku menyanyikan lagu Fall In Love dari Prilly Latuconsina tanpa sadar. Lalu pipiku merona setelahnya. Aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Tatapan tajam dari Mama menyambutku. "Yaampun, Sha! Kok basah begitu?" Aku membalas seruan Mama dengan cengiran lalu segera melangkah ke lantai dua. Di mana kamarku berada. "Haruskah kukatakan cinta? Kuragu tuk menyatakannya ... I'm fall in love with you ...." "Sha? Lagi jatuh cinta yaaa? Sama siapa?" Aku tertawa mendengar teriakkan Mama. *** Satu kelas mendadak pilek semua. Itu karena virus dari Mario. Jadi, aku yang duduk di sebelahnya ikut kena imbas. Hatchiimmm .... Tawaku tersembur melihat Mario yang baru saja bersin. Cowok itu menyumpal hidungnya dengan tisu. Matanya berair. Aduh, jadi tidak tega. "Mar, lo mau gue ambilin obat di UKS?" tawarku. Mata sayu Mario menatapku. "Gak usah." "Lho, kenapa? Lo udah parah kayak gitu—hatchim!" Tuh, kan. Aku ikutan bersin. "Sha, lo mendingan jauh-jauh deh. Jadi ketularan juga, kan?" Mario mendorong bahuku pelan. "Gak apa-apa kok gue ketularan. Toh lo sakit gara-gara gue juga." Aku mengusap hidung dengan tisu yang baru saja disodorkan Mario. "KALIAN SERASI BANGET SIH!" Aku melotot pada Flora yang baru saja berteriak heboh. "Iya, ya? Kompak banget flu aja barengan." Mella menambahkan. Aku hanya memutar bola mata. "Oh iya, Devva gimana keadaannya?" Aku bertanya. Caca mengusap hidungnya yang ikut-ikutan gatal lalu menyahut. "Gak parah kok. Semalam gue lihat statusnya di f*******:. Dia upload foto lukanya." Arya tertawa. "Tuh anak udah sakit, masih aja narsis." Aku, Flora, Mella dan Caca ikutan ketawa. Sedangkan Mario makin kelihatan pucat. Dia menempelkan kepalanya di meja. Aku menatapnya khawatir. "Guys, iuran lima ribu buat jenguk Devva." Rika mendatangi meja kami dengan tangan memegang beberapa lembar uang lima ribuan. Teman-temanku langsung mengeluarkan uang dan menyodorkannya pada Rika. "Nah, gitu dong. Kalian mah gampang banget ditagihnya. Lah, itu kelompok si Arsen susah banget!" sungut Rika. "Kita, kan, teman baiknya Devva. Jadi, pasti cepet, Rik," celetuk Mella. "Sha, bayarin gue dulu ya. Nanti gue ganti." Mario menyahut. Aku mengangguk lalu menyodorkan uang sepuluh ribu ke Rika. "Sama Mario ya, Rik." Rika mengangkat jempolnya. "Sip!" Cewek berambut sebahu itu melengang pergi. Kembali berteriak ke anak cowok yang susah banget dimintai iuran. Aku melirik Mario yang tengah memejamkan mata. "Mar, ke UKS yuk? Atau mau pulang aja?" Kelopak mata Mario terbuka. Dia mengangguk. "Ke UKS aja." "Arya, bantuin gue bawa Mario ke UKS!" Aku berseru pada Arya yang sedang sibuk menggambar sketsa wajah di bukunya. "Oke." Cowok tinggi itu berdiri lalu memapah Mario menuju UKS. Aku mengikuti mereka di belakang. Sesampainya di UKS, Arya membantu Mario untuk tiduran di brankar. Seorang guru yang merupakan petugas kesehatan sekolah langsung menghampiri kami. "Mario, ya? Kenapa?" Ibu paruh baya dengan rambut sebahu itu bertanya. "Dia kayaknya demam deh, Bu." Aku menjawab ketika melihat Mario kembali memejamkan mata. "Hm, pasti kemarin hujan-hujanan ya?" cetus Bu Murni. Aku tertawa pelan. Kok dia bisa tahu? "Mar, Sha, gue ke kelas ya. Bentar lagi masuk." Arya menyahut. Aku mengangguk. "Oke, Ar. Gue di sini dulu deh nemenin Mario. Nanti ijinin kita ke guru, ya?" "Siap!" seru Arya lalu segera keluar dari ruangan ini. "Kamu Varsha, kan? Bisa tolong beliin air putih dan roti buat Mario?" Bu Murni menatapku. Aku segera mengangguk. "Oke, sana beli dulu. Mario harus minum obat." Langkah kakiku segera tergerak untuk meninggalkan UKS. Namun suara lirih Mario menahan langkahku. "Sha ... tolong bilangin ke Oliv kalau gue ada di sini. Gue butuh dia." "Eh, o—oke, Mar." Denyut kesakitan itu muncul lagi di hatiku. Kenapa ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD