Benarkah?

1096 Words
Langkahku terasa berat sekali ketika melewati koridor sekolah yang lengang. Lagi-lagi aku bertanya, ada apa denganku? Kenapa perasaan sakit itu selalu muncul ketika Mario menyebutkan nama Oliv di depanku? Hah, sudahlah. Aku memasuki kantin yang sepi. Ya ... ini sudah memasuki jam pelajaran, pasti para murid sedang sibuk berkutat dengan pelajaran di kelasnya. Namun tetap saja, kantin itu tidak benar-benar sepi. Di pojokan sana ada geng pembuat onar yang sedang berbincang entah mengenai apa. Malas untuk sekadar melirik, aku melangkah cepat untuk membeli roti dan air mineral. "Mbak, saya beli roti dan air ini. Jadi berapa semuanya? Eh, tambah beng beng satu ya, Mbak." Aku menunjukkan barang belianku ke Mbak Sarah. "Jadi tujuh ribu, Kak," sahut Mbak Sarah. Aku mengangguk lalu menyodorkan uang sepuluh ribuan. Tanganku tergerak untuk mengusap hidung. s**l. Terasa gatal lagi. Mbak Sarah menyodorkan uang kembalian. Aku segera berbalik dan melangkah pergi. Hatchiimmm .... Tuh, kan! Gak bisa ditahan. Ah, s**l. Tisuku habis, lagi. Aku mengusap hidung dengan jemari. "Nih, pake." Sebuah sapu tangan tersodor di depanku. Aku langsung merampasnya tanpa ragu dan membersihkan ingus dengan sapu tangan warna merah itu. "Makas—eh, Zidan? Kok bisa ada di sini?" Aku kira siapa? Zidan toh! Ingat dia, kan? "Gue disuruh beli teh manis sama Pak Jamil. Lo ngapain di sini? Si Mario gimana?" tanya cowok yang tingginya sepantaran denganku itu. Kami gak pendek kok. Tinggi kami sekitar 160 cm. "Oh, ini gue abis beli roti sama air buat Mario. Eh Zi, makasih ya sapu tangannya. Besok gue balikin. Mau dicuci dulu." Aku terkekeh karena malu. Heh, ingusku menempel di sapu tangan cowok itu. Ewww! "Santai aja, Sha." Cowok itu ikutan ketawa.  "Hahaha, oke deh gue duluan ya! Eh Zi, nanti kalau ada tugas, contekkin ke gue!" Aku berseru. Cowok itu mengacungkan jempol. Aku melangkah kembali meninggalkan kantin. Sudah ingat Zidan? Itu lho, cowok paling rajin di kelas. Dia juga gak pernah marah kalau tugasnya aku salin. Baik banget, ya? "Sha ... tunggu!" Tubuhku meremang ketika mendengar suara itu. Aku langsung saja melangkah cepat tanpa memperdulikan teriakkan itu. Mau apa lagi sih dia?  "Sha ... please berhenti dulu. Gue mau ngejelasin kejadian kemarin." Cowok yang tak lain adalah Axel, berhasil meraih tanganku. Aku berhenti dengan terpaksa. "Apa?!" Aku memekik tanpa sadar di koridor itu. s**l. Harusnya aku bisa mengontrol suara. Bagaimana jika ada guru di dalam kelas yang mendengar? "Kejadian kemarin itu—" "Stop, Xel! Gak perlu dijelasin karena itu gak penting. Gue gak masalah kok. Gue kemarin marah bukan karena sakit hati lo selingkuhin!" Aku menyela. Dahi cowok itu terlipat. "Jadi, lo sama sekali gak marah dan sakit hati? Terus, kenapa minta putus?" "Cowok b**o! Gue mana mau pacaran diduain begitu. Heh, lagipula gue gak pernah suka ya sama lo! Dasar cowok kegantengan!" Aku menyentakkan tangan dan langsung berlari menjauhi Axel yang masih mematung. Hm, apa aku keterlaluan? Tapi masa bodolah. Dia pantas mendapatkan itu. Ya, aku sih memang tidak apa-apa. Tapi cewek yang kemarin? Si Raya itu, dia pasti sakit hati, kan? Ketika selangkah lagi sampai di UKS, aku lupa akan sesuatu. Oh, iya! Mario, kan, berpesan agar aku memberitahu Oliv mengenai kondisinya. Bagaimana dong? Masa harus balik lagi? Tapi, malas banget. Nanti ketemu sama si Axel lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk masuk. Tanganku membuka pintu dengan perlahan. Takut menganggu. Mario pasti sedang istirahat, kan? "Liv, jangan tinggalin gue ya? Mungkin bagi lo terkesan lebay, tapi ini murni dari hati gue yang paling dalam. Gue cinta banget sama lo dan akan selalu berusaha untuk menjadi cowok yang sempurna di depan lo." Hatiku mencelos melihat adegan di depan. Mario menggenggam tangan Oliv yang sedang duduk di kursi. Tatapan mata cowok itu begitu tulus. "Kata-kata lo apa banget sih, Mar! Gak biasanya lo begitu." Oliv tertawa renyah. Aku memalingkan wajah. Lagi-lagi, denyut itu singgah di hatiku. Mataku terasa panas. Ini mulai tidak beres. "Ekhem." Aku berdehem. Mario dan Oliv langsung menatapku yang masih berdiri di ambang pintu. "Maaf ganggu, ini gue cuma mau ngasih roti sama air yang tadi disuruh Bu Murni," ucapku. Oliv tersenyum. "Yah, telat lo, Sha. Mario udah minum obat dan makan roti yang gue beliin. Pas tadi dengar dia sakit dari Flora, gue langsung siaga." Eh? Aku mengulum senyum. "Oke deh kalau gitu. Emm, gue balik ke kelas ya, Mar? Semoga cepat sembuh." Mario mengangguk lemah. "Lo kelamaan sih. Tapi, makasih." Aku hanya menampakkan cengiran lalu berbalik dan keluar dari ruangan yang atmosfernya terasa kian sesak itu. Lagi dan lagi. Ada apa denganku? s**l. Kenapa air mataku menetes? *** Helaan napasku sangat berat. Merasa lelah dengan keadaan dan kubangan yang itu-itu saja. Berkali-kali aku mempertanyakan sesuatu yang aneh dalam diriku itu, tapi aku belum juga menemukan jawabannya. Tunggu ... apa aku, jatuh cinta? Hah?  Masa iya? Pada Mario? Ta—tapi .... Ponsel yang berbunyi segera mengalihkan pikiranku. Aku meraih benda berbentuk persegi panjang itu dan melihat siapa yang menelepon. Zidan? Mau apa cowok itu? "Halo? Dengan Varsha Nathania di sini. Ada yang bisa dibantu?" ucapku seraya menempelkan ponsel ke telinga. Terdengar kekehan pelan dari sana. "Nasi uduknya masih ada, Mbak?" s**l si Zidan. Tapi aku meladeni candaan tersebut. "Duh, maaf banget, Mas. Udah habis tadi di borong oppa-oppa ganteng."  "Yah, kenapa gak sisain satu bungkus buat saya sih, Mbak?" Aku memutar bola mata malas. "Zi! Cepetan deh. Ada apa telepon? Gue lagi gak mood buat bercanda." Aku memberenggut kesal. "Yaelah, sensi amat sih, Sha. Gue cuma mau nanyain tugas—" "Stop! Lo tuh tugas mulu yang ditanyain. Kali-kali nanyain gue udah makan atau belum kek," selaku. "Oh, jadi lo mau dikasih perhatian? Oke, Varsha yang cantik, lagi apa sekarang? Udah makan?" ucap Zidan dari seberang sana dengan nada lembut yang dibuat-buat. Ish, jijik juga sih dengarnya. "Gue lagi galau," ujarku lalu turun dari tempat tidur dan melangkah menuju balkon kamar. Menatap taburan bintang yang tak terlalu banyak namun tetap indah menghiasi langit malam yang gelap pekat. Ponsel masih kutempelkan di telinga. "Lo bisa galau juga ternyata. Galau-in apa sih?" "Varsha juga manusia, Zi! Jadi gini, gue tuh sebelumnya gak pernah ngerasain hal aneh begini. Tapi akhir-akhir ini gue ... sering badmood dan bahagia tanpa alasan yang jelas. Lo tahu, Zi? Kayaknya hati gue mulai bermasalah deh." Hening sejenak.  Zidan menghela napas. "Lo selalu ngerasin debaran aneh setiap dekat seseorang?" "Emh, iya." Aku menjawab dengan suara pelan. "Hati lo selalu memberontak kalau lihat dia dekat orang lain?" "Iya, Zi! Benar banget. Gue bahkan apa ya, iri dengan kedekatan mereka. Gue kayak gak rela kalau lihat mereka itu—" "Sha ... lo suka sama Mario?" "Kok jadi Mario, sih?" sahutku kesal. Hatiku berdenyut ketika menyebut namanya. "Lo jatuh cinta sama dia tanpa sadar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD