Kata-kata Zidan terus terngiang-ngiang di pikiranku. Kapanpun dan di mana pun. Kata dia, aku telah jatuh cinta tanpa sadar. Atau mungkin, aku memang telah sadar, namun sesuatu dalam diriku terus menerus menepis kenyataan itu.
Bagaimana aku tidak ingin menepisnya? Hei, aku jatuh cinta pada orang yang telah menemukan tambatan hati. Aku jatuh cinta pada dia yang mencintai kekasihnya setengah mati. Dan yang terpenting, orang itu takkan pernah bisa kumilikki. Tak akan pernah. Kecuali, kalau aku rela untuk menjadi tokoh antagonis di dalam cerita ini.
Haruskah di dunia ini aku yang menjadi antagonisnya? Haruskah aku tetap mempertahankan rasa yang tak seharusnya ada? Bisakah aku terus bertahan di tengah jembatan kebimbangan? Bertahan atau pergi?
Aku menelungkupkan kepala ke atas meja. Ini benar-benar buruk. Apa yang harus kulakukan kini? Menjauhi Mario dan mengubur rasaku dalam-dalam? Atau tetap menjadi temannya dan harus siap untuk patah hati?
"Sha, lihat PR matematika dong! Gila, gue lupa kalau ada tugas." Teriakkan melengking itu berasal dari mulut Caca. Please deh, ini masih pagi dan kelas juga masih sepi. Jadi, suara cewek itu menggema dan membuat telingaku sakit.
"Ambil di tas!" Aku berseru tanpa mengangkat kepala. Dan aku yakin Caca langsung cengar-cengir.
"Makasih, Sha. Lo memang bisa diandalkan." Caca mengambil buku PR matematikaku di dalam tas lalu mulai menyalin jawaban.
"Btw Sha, si Mario gak masuk? Emang kemarin sakitnya parah?" Caca bertanya. Aku mengangkat kepala dan duduk dengan tegak. Menatap Caca lempeng.
"Mana gue tahu."
"Biasanya lo tahu semua tentang dia. Kalian, kan, dekat." Tangan mungil Caca sibuk menari di atas buku. Mata bulatnya melirik deretan angka yang tertera rapi di kertas putih milikku.
"Kata siapa? Lo ngomong gitu seolah-olah gue ini yang paling tahu banget tentang dia. Tapi Ca, kami gak sedekat itu. Gue sama dia juga sama kayak lo ke dia. Teman biasa." Ya, teman. Mulutku terasa pahit saat mengucapkannya.
"Sering diantar jemput, kalau lo gak ada, dia uring-uringan. Waktu lo pacaran dengan Axel, Mario marah. Kayak gitu gak dekat? Apa wajar teman antara cewek dan cowok sampai segitunya?" Caca menatapku dan meninggalkan PR-nya sejenak.
"Ya, kami memang teman, Ca. Memangnya apa? Lo lupa? Mario itu pacar Oliv." Aku mengerjapkan mata ketika air mata hendak keluar.
"Pertemanan cewek-cowok memang gak seharusnya ada, sih. Karena salah satu dari mereka, pasti menyimpan rasa," cetus Caca. Aku menghela napas berat.
***
"Cepat sembuh ya, Dev. Gak ada lo kelas sepi. Gak ada yang bikin konser dadakan." Rika menceletuk.
Devva yang sedang berbaring di ranjangnya tertawa. "Bilang aja lo kangen ke gue, Rik."
Di jam istirahat sekolah, para pengurus kelas menengok Devva yang masih cedera akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa hari lalu. Kami tidak datang satu kelas karena guru piket tidak mengizinkan. Hanya ada aku, Rika dan Ulfha.
"Ngaco lo, Dev!" ketus Rika seraya memukul lengan Devva.
Cowok itu refleks memekik. "Sakit, gila!"
Ulfha tertawa. "Masa gara-gara sakit, lo jadi lemah begitu, Dev? Pukulan Rika pelan banget lho padahal."
Aku hanya menyimak tanpa minat. Rasanya bosan melakukan apa pun.
"Lo lagi sariawan ya, Sha? Diam mulu daritadi." Devva menatapku dengan kening berkerut.
Aku menghela napas kemudian menggeleng. "Gue cuma lagi badmood aja. Nyanyi dong, Dev! Biasanya kalau di kelas, lo sering hibur gue kalau gue lagi kesal."
Devva berdehem pelan lalu mengubah posisinya menjadi duduk. Aku yang duduk di sofa ikut menegakkan badan. Rika dan Ulfha menyimak dengan sigap. Ya ... memang sudah bukan rahasia lagi kalau suara Devva itu bagus.
"Rika sayang, ambilin gitar Abang dong." Devva mengedipkan sebelah matanya kepada Rika. Cewek itu memutar bola matanya kemudian beranjak berdiri.
"Najisin lo, Dev." Rika meraih gitar milik Devva di pojok kamar cowok itu. Aku dan Ulfha hanya tertawa melihat wajah masam Rika.
"Makasih, babe!" seru Devva lalu memeluk gitarnya. Benda itu memanglah kesayangan Devva. Beberapa hari kemarin pasti dia tak memegangnya karena tangan yang cedera. Tapi kali ini sepertinya ia telah membaik.
Rika kembali duduk di sampingku sambil terus bersungut-sungut karena Devva yang tak mau berhenti untuk menggodanya.
"Oke, kali ini Bang Devva ganteng kembaran Taehyung akan membawakan lagu yang berjudul Abdullah," ucap Devva. Tangannya memetik senar gitar secara perlahan.
Rika ngakak. "Jangan bercanda, Dev!"
Cowok itu nyengir lalu menatapku. "Lagu ini spesial untuk Varsha yang lagi gelisah galau merana."
Melodi mulai mengalun. Aku kenal lagu ini. Ah, Devva sangat tahu seleraku. Ya ... Never Be Alone dari suamiku tercinta, Shawn Mendes.
I promise that one day I'll be around
I'll keep your safe
I'll keep you sound
Right now it's pretty crazy
And i don't know how to stop or slow it down
Hey ....
I know there are somethings we need to talk about
And i can't stay
Just let me hold you for a little longer now
Take a piece of my heart
And make it all your own
So when we are apart
You'll never be alone
You'll never be alone
You'll never be alone
When you miss me close your eyes
I maybe far but never gone
When you fall asleep tonight just remember that we lay under the same stars
And hey ....
I know you are somethings we need to talk about
And i can't stay
Just let me hold you for a little longer now
And take a piece of my heart
And make it all your own
So when we are apart
You'll never be alone
You'll never be alone
You'll never be alone ....
You'll never be alone ....
You'll never be alone ....
You'll never be alone ....
And take a piece of my heart
And make it all your own
So when we are apart
Never be alone
You'll never be alone ....
Aku, Rika dan Ulfha bertepuk tangan setelah nyanyian Devva usai. Cowok itu menebar senyum sok cakep ke arah kami. "Ini gak gratis lho, ya."
Aku menepuk dahi.
***
Lo gak mau nengok gue?
Aku menatap ponsel lamat-lamat. Satu pesan singkat baru saja muncul dari Mario. Meski hanya pesan, namun hal itu mampu membuat jantungku meletup tak karuan. Ini semakin menyebalkan saja. Aku masih belum tahu harus bertahan dengan perasaan ini atau menjauh dan melupakannya.
Taksi yang kutunggu belum juga lewat. Jadi, selama lima belas menit setelah sekolah bubar, aku masih setia berdiri di depan gerbang.
Hari ini sangat panas. Dahiku berkeringat. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa pulang selain naik taksi. Yep, aku tidak memiliki jemputan pribadi dan tidak mau naik angkot. Bukan tidak mau sih. Lebih tepatnya, aku tidak bisa, eh tidak tahu caranya. Ah, kamu pasti mengerti, kan? Ya begitulah. Aku tidak tahu cara memberhentikan angkot. Kalau ada Mario, aku pasti pulang dengan dia. Em, Mario lagi.
Ponselku kembali berbunyi. Aku menatap benda pipih itu dan menemukan pesan singkat dari pengirim yang sama beberapa menit lalu.
Lo pulang naik apa? Jangan lupa ke kost gue juga ya? Bawain makanan yang banyak.
Hatiku berdenyut. Mario, kenapa kamu senang sekali membuatku bingung begini? Tanganku terkepal gemas.
"Varsha? Lo belum pulang?"
Aku menoleh. Zidan duduk di atas motor matic-nya. Dia tersenyum ke arahku. "Gue lagi nunggu taksi. Lo sendiri, baru mau pulang?"
"Iya nih, tadi ada urusan nilai sama guru. Em, lo mau pulang bareng gue? Daripada lama nunggu taksi," ucapnya.
Aku berpikir sejenak kemudian menggeleng. "Gak usah, Zi. Gue mau langsung ke kost Mario soalnya."
Cowok itu tersenyum. "Udah sadar, kan, sekarang?"
"Sadar apa?" Dahiku terlipat.
Dia tertawa. "Sadar kalau lo suka sama dia."
Aku memberenggut kesal. Zidan berdehem pelan lalu menatapku serius. "Salah satu cara untuk dekat dengan orang yang kita cintai adalah dengan tetap menjadi temannya, Sha. Eh, gue duluan ya. Tuh, taksinya datang. Lo hati-hati."
Motor Zidan melaju meninggalkan gerbang sekolah. Aku masih melongo sejenak lalu menyetop taksi itu dan masuk ke dalam. Menyebutkan tujuan ke sopir lalu tenggelam dengan pikiran sendiri.
Salah satu cara untuk tetap dekat dengan orang yang kita cintai adalah dengan tetap menjadi temannya.
Perkataan cowok itu lagi-lagi mengisi pikiranku. Kalimat itu sangat benar. Tapi, apa iya hanya bisa jadi teman?