Aku telah sampai di kost-an Mario. Namun enggan untuk masuk ke dalam. Ini tempat khusus cowok dan sangat tidak enak kalau aku masuk sendiri. Jadi, aku harus bagaimana?
"Cari siapa, Neng?" Seorang Ibu paruh baya menyapaku. Tubuhnya gempal dengan rambut sebahu yang tergerai rapi. Aku tersenyum sesopan mungkin. Sepertinya dia Ibu kost di sini.
"Cari Mario, Bu. Dia ada?"
Ibu itu mengangguk. "Ada kok, dia lagi sakit dan gak bisa keluar. Jadi, Neng kalau mau masuk, masuk aja. Di sini gak ada larangan cewek gak boleh masuk, asalkan jangan macam-macam."
Aku tersenyum. "Tapi, saya gak tahu kamarnya yang mana. Ibu bisa antar?"
"Yuk." Ibu itu melangkah lebih dulu. Aku mengikutinya dari belakang.
Kost ini terbilang cukup besar. Bangunanya terdiri dari dua lantai dan semua kamarnya terisi. Persis seperti rumah susun. Kami tiba di depan pintu dengan nomor 7.
"Ini kamarnya." Ibu Kost mengetuk pintu. "Mario? Ada tamu, nih!"
Tak lama kemudian pintu kayu berwarna coklat itu terbuka. Mario muncul dengan wajah yang amat lesu. Aku prihatin melihatnya. Pasti tak ada yang mengurus cowok itu.
"Eh, Varsha." Dia nyengir. Aku balas tersenyum.
"Eh, pasti Bu Kos yang anterin, ya? Makasih, Bu." Mario berucap sopan. Ibu Kost itu mengangguk.
"Saya permisi." Wanita itu tersenyum tipis padaku lalu melangkah pergi. Eh, aku pikir setiap Ibu Kost akan galak. Tapi yang ini beda.
"Lo mau diem aja di situ? Sini masuk." Mario membuka pintunya lebar-lebar. Aku mengekor di belakangnya.
Kamar kost itu cukup rapi untuk ukuran anak cowok. Ruangan ini tak terlalu besar, ruang TV yang juga menjadi ruang tamu dan tempat tidur hanya disekat oleh sebuah lemari kayu dua pintu. Di pojok ruangan terdapat satu kamar kecil. Itu pasti kamar mandi.
Aku dan Mario duduk lesehan di karpet berbulu tebal. Cowok itu menyalakan TV untuk mengusir sepi.
"Lo naik taksi?" Dia membuka percakapan. Aku mengangguk. Memangnya naik apa lagi?
"Eh, lo udah makan? Nih, gue ada bekal dari rumah. Belum gue makan. Isinya nasi goreng." Aku membuka tas dan mengeluarkan kotak makan berwarna pink kesukaanku. Mario terlihat antusias. Sepertinya dia memang belum makan.
"Makasih, Sha. Lo memang yang terbaik!" Aku hanya tersenyum tipis menanggapi seruannya. Mario mulai sibuk dengan makanan itu.
Mataku sibuk mengamati sekitar. Lalu, hatiku seakan terhimpit sesuatu saat melihat foto-foto Oliv terpajang di dinding. Dari situ, aku sangat bisa menyimpulkan seberapa berharganya Oliv untuk Mario. Sesak sekali saat menyadari hal itu.
"Mar, lo sendirian aja? Eh, kenapa gak pulang? Lo di sini sakit dan gak ada yang urus. Kenapa gak pulang dulu?" Aku bertanya.
Cowok itu menggeleng. "Rumah Mama jauh. Di luar kota."
Dahiku berkerut. Kalau jauh, kenapa dia harus di sini? Kenapa malah milih ngekost? "Terus, lo di sini sama siapa? Bokap lo?"
"Gue broken home, Sha. Orang tua gue udah punya keluarga masing-masing. Gue cuma dikasih uang setiap bulannya." Dia menjawab dengan jelas. Hatiku berdenyut mendengar kenyataan itu. Aku tidak pernah tahu kalau hidup Mario seperti itu. Jadi ... dia dibuang keluarganya sendiri?
"Maaf, Mar. Gue gak maksud untuk—"
"Santai aja. Toh kenyataannya memang begitu, kan?" selanya. Mario menaruh kotak makan yang sudah bersih tak bersisa.
"Oh iya, Oliv gak ke sini?" tanyaku.
Dia menggeleng. "Sejak kemarin, Oliv gak bisa dihubungi. Lo di sekolah lihat dia?"
"Nggak, gue gak lihat. Eh, soalnya pas jam istirahat gue jenguk Devva."
Mario menghela napas. Dia menatapku. "Andai Oliv sebaik lo."
Aku tertegun. "Hm, iya."
***
Pagi ini, ketika melintasi gedung kelas IPS, aku mendengar suara pertengkaran. Aku melirik jam di pergelangan tangan kiri, baru pukul enam lewat sepuluh menit. Sekolah masih sepi dan itu sudah ada yang bertengkar. Kira-kira siapa?
Sebenarnya gedung IPS dan IPA lumayan jauh. Tapi aku iseng berjalan-jalan ke sini sebelum masuk kelas karena masih pagi. Aku menempelkan telinga ke pintu kelas yang tertutup. Suara teriakkan semakin terdengar. Oh, ternyata cewek-cowok.
"Apa sih kurangnya gue? Selama ini gue selalu sabar menghadapi sikap lo yang egois dan kayak anak kecil, Liv. Gue rela kalau lo ngerendahin gue di depan teman-teman lo. Gue gak masalah kalau lo gak mau diantar jemput karena motor gue biasa aja. Tapi sekarang, gue udah gak bisa nerima sikap lo yang kayak gini. Lo gak ngehargain gue."
Eh ... aku seperti mengenali suara itu. Mario? Itu dia, 'kan? Aku semakin mempertajam pendengaran.
"Heh, itu Arya, Mar! Dia teman lo, kan? Masa lo mau cemburu sama dia. Lagian, kami gak ada hubungan apa-apa. Gue cuma minta tolong ke dia buat gambarin tugas seni gue."
Tidak salah lagi. Itu pasti Mario dan Oliv. Kenapa mereka bertengkar? Akhirnya aku mengintip ke dalam lewat kaca jendela.
"Ngerjain tugas harus berdua doang, ya? Di kafe seromantis itu? Kalian mau ngerjain tugas atau kencan?" sindir Mario. Dia tersenyum miring.
"Terserah lo deh mau mikir apa! Gue pergi sama cowok gak boleh. Sedangkan lo, ke mana-mana sama si Varsha. Lo pikir gue gak cemburu, Mar?" cetus Oliv. Aku tertegun.
Ekspresi Mario sangat sulit diartikan. Cowok itu menghela napas berat. "Gue dan Varsha cuma—"
"Teman, 'kan? Sama! Gue dan Arya juga teman. Lo dulu gak pernah se-over ini deh. Kenapa sekarang jadi berlebihan kayak gini?" Oliv menghela napas kasar. Dia terduduk di kursi. Membelakangi Mario yang masih berdiri kaku.
"Liv ... gue minta maaf kalau selama ini bikin lo—"
"Udah, gak usah dibahas. Kalau lo masih menghargai gue sebagai pacar lo, jaga jarak dari Varsha. Dan gue juga akan jaga jarak dengan cowok-cowok." Oliv menyela ucapan Mario dengan tegas. Perkataan itu betul-betul menusuk ulu hatiku. Aku memejamkan mata karena tidak kuat melihat ekspresi Mario.
"Oke, gue akan jaga jarak dari dia."
Dan harapan untuk memilikinya sudah tak ada lagi ketika kalimat itu terluncur mulus dari mulut Mario.
Apa aku memang ditakdirkan untuk patah hati?