"Nih, ponsel baru buat lo." Mataku berbinar ketika menerima sebuah benda persegi panjang dengan warna pink mengkilap yang baru saja Satria sodorkan. "I—ini, buat gue, Sat?" tanyaku. Satria mengangguk. Dia duduk di depanku. Kami duduk berhadapan di kasur. "Biar lo gak mewek terus," cetusnya. Aku terkekeh pelan. "Gila, ini pasti mahal. Lo dapat uang darimana?" Satria mengangkat bahu. Dia menidurkan tubuhnya. "Kemarin bokap gue ngirim uang." "Eh, padahalkan uang itu untuk kebutuhan lo, Sat. Gak mau ah gue. Nih, ambil lagi. Gue bisa minta ke papa." Aku menyodorkan ponsel itu kepada Satria. Cowok itu berdecak. "Udah ambil aja. Uang yang bokap gue kasih lumayan banyak. Dan ya, anggap aja itu rasa berterima kasih dari gue karena keluarga lo yang baik banget." "Oke, makasih ya! Jadi sayang

