Roti Rp. 2000

1389 Words
"Sha, kita sekelompok!" Aku yang tadinya sibuk menata kursi langsung mendongak ketika mendengar seseorang berseru padaku. Cowok berbadan proporsional itu tampak riang. Aku tersenyum miring. "Lo girang amat sekelompok sama gue," cibirku. Dia hanya tertawa lalu menarik kursi di sebelahku dan menaruh tas warna hitam miliknya di sana. "Gak usah ge'er! Gue girang karena lo itu pinter dan bisa diandalkan." Cowok itu menaik turunkan alisnya. Cih, menyebalkan sekali. Pasti dia akan memanfaatkanku. "Hm, terserah!" Aku menduduki kursi baruku ini dengan nyaman. Tempat yang kusukai sejak pertama kali sekolah. Yaitu duduk di depan meja guru. Kalau kebanyakan orang akan takut duduk di tempatku, maka aku berbeda. Aku malah suka. Biar dianggap pintar hehe .... Hari ini adalah hari pertama masuk SMA sebagai kelas sebelas. Dan kelasku berbeda dengan kelas sepuluh dulu alias diacak. Aku merasa jika prestasiku meningkat. Karena dulu aku menghuni kelas IPA 5. Sekarang berhasil masuk ke IPA 1. Yep. Kelas yang muridnya rata-rata pintar semua. Saingan semakin banyak. Di sini juga ada si Ulfha. Langganan juara umum sejak SMP. Di sekolahku ini selalu memakai sistem duduk berkelompok setiap tahunnya. Jadi, di tiap kelas itu ada lima kelompok yang terdiri dari tujuh murid. Dan sekarang, pembagian kelompok telah diatur oleh wali kelas. Aku menempati kelompok satu. Bersama dengan Caca—sahabat dekatku sejak SD. Ada juga Mella dan Flora—teman satu SMP yang tak terlalu dekat. Hanya kenal sekilas. Tapi mereka baik dan menyenangkan. Jadi, di kelompokku ini terdiri dari tujuh murid. Cewek-ceweknya yang telah kusebutkan tadi. Dan cowoknya ada tiga. Yaitu Mario—cowok yang kegirangan barusan. Lalu ada Arya, cowok yang pinter banget ngegambar. Dan satu lagi, Devva. Cowok yang keahliannya cuma satu. Yaitu menyanyi. Sifatnya? Aduh, jangan ditanya deh! Dia itu super pemalas, menyebalkan dan suka ngegombalin cewek! Kami pernah sekelas waktu kelas sepuluh. Aku heran kenapa kami bisa sekelas lagi. Dan sepertinya itu musibah bagiku. "Sha, gue gak nyangka bisa sekelas dan satu kelompok sama lo!" Caca yang baru datang langsung heboh. Aku tersenyum senang. "Mungkin kita emang udah ditakdirkan buat bersama, Ca." Aku terkekeh. "Eh ... itu tas siapa, Sha? Padahal gue mau duduk di dekat lo." Caca menghela napas kecewa melihat tempat di sebelahku sudah ada yang mengisi. Mario. Orangnya entah ke mana. "Itu si Mario, Ca. Teman satu SD. Inget, kan?" Caca mengangguk. "Oh iya ingat! Duh, kenapa sih cowok nyebelin itu harus ada di sini?" Aku tertawa melihat Caca jengkel. Dia menaruh tasnya di depanku. Kami jadi duduk berhadapan. Aku tahu sebenarnya dia ingin tetap duduk di posisi Mario. Namun malas mengusir cowok itu karena nantinya, cowok itu akan mengajaknya berdebat panjang lebar. Hm, Caca sudah paham betul sifat cowok itu. Aku pun paham sifatnya. Tak semua, sih. Tapi aku cukup mengenal Mario. Dulu kami satu SD. Dan apa kalian tahu? Dulu, cowok itu bulat! Entah bagaimana caranya sekarang malah keren begitu badannya. Eh, apakah aku memujinya? Oh, tidak! Jangan bilang-bilang, ya? Pak Lukman memasuki kelas saat bel berbunyi. Ya, dia wali kelasku. Guru itu masih muda. Entahlah usianya berapa. Tapi wajahnya tampan dan berkarisma. Ia tampak manis dengan kacamata minus itu. Dan nilai plus lainnya tentang Pak Lukman, dia itu baik banget! Gak enaknya sih, kalau ngasih tugas sering banyak. Apalagi, dia mengajar di pelajaran yang tak kusukai. Yaitu PKN. Haduh, entah apa alasannya dari dulu aku teramat membenci pelajaran itu. "Selamat pagi semua." Pak Lukman menyapa diiringi senyuman ramahnya yang membuat para siswi tersenyum riang. "Pagi, Pak!" "Gimana liburannya?" Dia berbasa-basi. "Kurang, Pak!" salah satu temanku menyahut. "Hm, suram banget, Pak. Pas liburan saya cuma bantuin Emak ngepel rumah doang!" seruan dari Edi langsung menyambut tawa seisi kelas. Termasuk aku. "Oke karena ini masih awal, jadi kita susun struktur organisasi kelas dulu," ucap Pak Lukman. "Nah, siapa yang ingin jadi ketua kelas?" Pak Lukman bertanya. Semua teman sekelas saling lirik, namun tak ada yang mau mengajukan diri. "Ayo siapa yang mau. Atau, Bapak tunjuk aja, ya?" Seisi kelas mulai riuh. Dan pilihannya jatuh pada Arsen. Cowok yang lumayan populer karena kegantengan dan kekayaannya. Hm, cowok nakal kayak begitu apa pantas jadi ketua kelas? Lalu untuk wakil, Ulfha yang ditunjuk langsung oleh Arsen. Gak aneh memang. Sejak kelas sepuluh dua orang itu memang terlihat dekat. Bendahara dipegang oleh Rika yang lumayan kaya. Alasannya sih satu. Katanya kalau kebutuhan kelas ada yang kurang, dia bisa mengatasinya. "Oke, sekarang sekretaris. Siapa yang mau?" tanya Pak Lukman. "Pak, Varsha aja! Tulisannya bagus." What?! Aku langsung menatap Mario yang tadi berseru dengan tatapan mati-lo-sekarang. Aduh, aku langsung gelisah dan perasaanku tak enak ketika murid-murid lain mulai berseru setuju. "Mar! Lo apaan, sih!" Aku bersungut-sungut. Cowok itu malah nyengir. "Oke, Varsha jadi sekretaris. Untuk pengurus yang lain, silahkan kamu atur ya, Arsen. Dan jangan lupa print-kan struktur itu kalau sudah tersusun dan tempel di tembok kelas." Ucapan Pak Lukman membuatku lemas seketika. Argh, ini semua gara-gara Mario. "Kenapa kesel gitu sih, Sha?" tanya Mario. Ih cowok ini benar-benar ya! Jelas-jelas aku badmood karenanya. "Gue gak mau jadi sekretaris!" Aku menyahut ketus. Dia tertawa. "Udah terlanjur. Lagipula, lo harusnya senang dong karena tulisan lo gue puji kayak tadi." "Mar, tapi pujian itu malah bikin gue jadi sekretaris. Gue tuh paling males ngerasa terbebani." Aku terus mengomel sampai bel istirahat berbunyi. Tapi Mario malah terus menertawakanku. s**l. Sepertinya cowok itu senang sekali membuatku sengsara. Ketika jam istirahat, aku tidak ke kantin karena sibuk membuat jadwal piket yang diperintahkan oleh Arsen. Ketua kelas itu memang sangat menyebalkan. Dia sengaja mengalihkan tugasnya padaku. Sekarang aku tahu apa alasan cowok itu setuju untuk jadi ketua kelas. Yep! Pencitraan! *** "Sha, lo gak ke kantin?" Aku menatap Mario sinis. Masih kesal padanya. Cowok itu duduk di tempatnya sambil memakan roti. "Gue gak sempat," sahutku ketus lalu kembali mengatur jadwal piket untuk kelas kami ini. "Eh, nulis kayak gitu harusnya tugas Arsen, kan?" Mario bertanya heran. Aku menghela napas berat. "Lo kayak gak tahu dia aja sih? Dia mana mau ngerjain beginian. Jadinya, dia limpahin semua tugas ini ke gue." Aku menjelaskan dengan ekspresi kesal setengah mati. "Aduh, kasian banget. Nih, makan roti gue." Aku tertegun ketika Mario meletakkan roti yang masih terbungkus rapi di depanku. Dia langsung menjelaskan tujuannya. "Gue cuma bermaksud menolong orang yang kelaparan," sahutnya lalu memakan jatah roti miliknya. Tuh, kan! Kapan sih dia tulus?! Malah bilang aku kelaparan pula. "Nggak, makasih!" "Hei, nolak rejeki itu gak baik." "Terserah." "Sha ... cepat makan! Lo bersyukur dong dapat makanan. Di luar sana—" "Iya iya gue makan!" Aku mulai membuka bungkus roti itu ketika Mario mulai berisik membicarakan orang yang tidak mampu. Dia tersenyum puas. "Tapi minumnya gak ada. Gue beliin deh." Mario beranjak berdiri. Aku langsung mecegahnya. "Gak usah. Gue bawa air minum kok." Mario mengangguk lalu kembali duduk. "Alhamdulillah. Uang gue selamat." "Sialan." Aku mendengus dan dia malah terbahak. "MARIO!" Aku dan Mario refleks menoleh ke arah pintu kelas. Di sana berdiri seorang cewek cantik bertubuh langsing. Aku mengenalnya. Dia Oliv. Anak kelas IPS yang cukup populer. Oliv menghampiri meja kami dengan raut kesal. Kenapa sih tuh orang? "Apa, Liv?" Mario menyahut. Dia lanhsung berdiri di depan Oliv. "Lo kok jahat banget, sih!" sergah Oliv. Mario menghela napas berat. "Jahat apanya?" "Lo gak mau beliin gue makanan selain roti murahan itu?" Aku terus memperhatikan dua orang itu dengan raut bingung. "Emangnya lo mau makan apa, sih? Gue kasih roti malah gak mau." "Mar, lo, kan, tahu gue gak suka makanan murahan! Oke, sekarang mana rotinya?" Aku tercenung saat Mario menunjuk roti yang tinggal separuh di tanganku. Apa?! Jadi ini ... arghhh! "Kenapa malah lo kasih ke Varsha?!" pekik Oliv. Wajahnya memerah karena marah. Aduh, aku sebenarnya masih bingung dengan situasi ini. "Dari pada mubazir." Mario mengangkat bahunya cuek lalu duduk kembali. Aku tak kembali memakan roti itu dan meletakkannya di meja. Meski belum mengerti dengan apa yang terjadi, aku paham jika masalah ini ada sangkut pautnya denganku. "Mario, lo gak bisa gitu!" Oliv berseru marah. Aku melirik Mario yang tampak tak peduli sambil meminum airku tanpa ijin. "Dasar cowok resek!" Oliv yang merasa diabaikan langsung pergi keluar kelas. Aku akhirnya berani bertanya. "Mar, apa maksudnya, sih?" "Roti itu tadinya gue beliin untuk Oliv. Tapi dia nolak dengan alasan roti itu terlalu murah. Ya memang benar kok. Itu cuma dua ribu." Mario menjelaskan. Bukan itu yang kubingungkan. Maksudku itu, kenapa Mario memberi roti ke Oliv? "Iya. Terus, kenapa lo beliin dia roti?" "Niatnya sih mau jadi pacar yang perhatian."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD