Jangan Baper Dulu!

1595 Words
Pa—pacar? PACAR?! Aku ternganga. "Jadi, lo dan Oliv ...." "Iya kami pacaran. Udah lama kok. Masa lo gak tahu, sih? Padahal udah hampir setahun setengah gue dan dia pacaran." Mulutku semakin melebar. Bagaimana mungkin aku bisa tidak mengetahui fakta itu? "Aduh, sori gue baru tahu. Terus tadi ... apa Oliv marah kalau roti ini lo kasih ke gue?" Aku bertanya. Dia tersenyum sekilas. "Dia kayaknya bukan marah karena roti itu gue kasihin ke elo, Sha. Dia cuma marah karena gue gak beliin dia makanan yang lain," jawab Mario. Aku mengangguk mengerti. "Akhir-akhir ini dia sering banget marah. Bahkan karena hal yang sepele." Aku mengurungkan niat untuk kembali menulis ketika mendengar Mario mulai curhat. "Ini benar-benar aneh, Sha. Dia gak biasanya kayak gitu. Tapi seminggu terakhir, dia sering marah sama gue." Aku berdehem pelan. "Cewek emang suka marah-marah, Mar. Masa lo gak tahu? Dia lagi PMS kali." Mario mengangkat bahu. Aku melanjutkan menulis jadwal piket itu. Aku menempatkan diriku piket di hari Jum'at. Juga Mario. Aku ingin kami piket di hari yang sama agar aku bisa menyuruh-nyuruhnya. Hehe, mantap, kan, ide itu? "Sha ... lo sendiri, apa sering marah ke pacar lo?" Aku refleks menoleh ke Mario. Lalu tertawa terbahak-bahak. "Bahkan gue gak punya pacar," sahutku. Dia menaikkan sebelas alisnya. Menatapku tak percaya. "Cewek kayak lo gak punya pacar?" "Iya. Wait, emangnya gue cewek kayak apa?" Aku memicingkan mata. "Eh? Itu maksud gue ...." Aku tertawa melihatnya salah tingkah. "Lo mau bilang gue cantik dan pintar, kan? Ayo ngaku!" "Apaan sih, Sha! Gak usah ge'er." "Idih, gengsi ya buat bilang!" Aku mencibir. *** Besoknya... aku datang ke sekolah dengan mata panda. AKU KURANG TIDUR SEMINGGU INI!!! Lingkaran hitam di bawah mataku langsung jadi sorotan teman-teman sekelompok. "Sha, lo gak tidur berapa bulan, sih?" tanya Caca. "Iya, Sha. Muka lo kayak capek banget." Mella menambahkan. "Paling begadang nonton drama Korea," celetuk Devva. Aku mendengus lalu langsung duduk. Hari ini aku merasa pusing. Karena selama seminggu itu aku mengalami insomnia. Aku selalu tertidur pukul dua malam dan terbangun pukul lima pagi. Dan itu teramat menyiksa. "Kayaknya gak ada tugas sekolah yang banyak deh akhir-akhir ini. Lo begadang buat apaan?" Caca bertanya lagi. Aku menggeleng. "Gue cuma lagi kena insomnia, Ca." "Pasti lo banyak pikiran, ya? Oh, atau belum nyalin catatan?" sahut Flora. "Iya tuh. Si Varsha keseringan mikirin gue." Eh? Si Mario emang minta ditampol! "Wah, beneran, Sha?" Mella melotot heboh. "Ya kagaklah, Mel! Gak penting banget gue mikirin Mario!" Teman sekelompokku hanya tertawa. Mereka sudah terbiasa dengan tabiatku yang gampang kesal dan mudah marah. *** Malam itu, aku kembali tak bisa tidur. Aku juga tidak tahu apa penyebab insomnia ini. Aku menyumpal telinga dengan headset dan memutar lagu melow. Kali aja jadi ngantuk. Ketika sedang menikmati bait demi bait lagu yang liriknya puitis banget, ada telepon masuk. Siapa, sih? "Mario!" Aku berseru saat melihat nama kontak seseorang di ponselku. Di situ tertera nama Super Mario (Pahlawan Dunia) is calling. Eh, itu bukan buatanku, ya! Mario yang menamai kontaknya seperti itu. Aku menggeser tombol hijau. "Halo?" "Malam, Sha." "Ada apa, Mar?" Aku bertanya malas. "Lo kena insom, kan?" tanyanya. "Iya. Terus kenapa?" "Gue hanya akan buat lo tidur lebih cepat." Ucapannya membuatku langsung menegakkan badan. "Serius? Caranya gimana?" "Hm. Gue akan bacain dongeng buat lo." Aku spontan tertawa. "Dongeng? Heh, gue udah gede kali!" "Tapi, ini dongengnya beda. Bukan tentang si kancil dan buaya atau sejenisnya." Aku tertawa. Mulai penasaran juga. "Oke, cepat bacain. Gue gak sabar pengin tidur. Kali aja mimpi dilamar Shawn Mendes." Dia tertawa sebentar lalu mulai mendongeng. "Judulnya Cinta Tak Bicara. Lo tahu gak kenapa judulnya itu?" Mario mulai bertanya. Aku berpikir sejenak. "Karena cinta itu gak bisa bersuara? Cuma bisa dirasakan," jawabku. "Salah!" cetus Mario. "Eh, terus apa dong?" "Karena si Cinta itu bisu. Makanya dia gak bisa bicara," kata Mario. Aku melongo sejenak. Mencoba mencerna ucapannya. Lalu tertawa terbahak-bahak. "Oh, jadi Cinta itu nama orang?" "Iya, gue lanjut ya," ucap Mario, "si Cinta sangat suka musik. Dia punya mimpi, kalau suatu saat dia pengen nyanyi di depan orang yang dia suka. Tapi dia tahu, kalau hal itu sangat mustahil untuk dilakukan. Karena dia bisu." Aku masih mendengarkan dengan baik. Eh, tunggu dulu deh. Kenapa sih Mario mau repot-repot begini? "Sha ... lo udah tidur?" "Hah? Eh, belum." "Oke, gue lanjutin," kata Mario, "tapi keberuntungan berpihak pada gadis itu. Di saat dia mulai putus asa karena yakin banget mimpinya gak akan tercapai, datanglah seorang cowok yang mau menerima dia apa adanya. Dan cowok itu juga pandai bermain musik dan menyanyi." Aku mulai menguap tapi masih ingin mendengarnya bercerita. "Terus, terus?" "Tepat di hari ulang tahun Cinta, si cowok bawain lagu yang judulnya Marry Your Doughter. Yap, si cowok ngelamar cewek itu. Cowok itu mau menerima Cinta yang gak bisa bicara. Karena dia gak mau terlalu pemilih jika dia sendiri aja belum sempurna. Intinya Sha, cinta dan hati kita selalu tahu tempat terbaiknya untuk berlabuh." *** Aku menguap lebar dan langsung menyesuaikan penglihatan dengan cahaya lampu kamar ketika membuka mata. Eh ... aku terbangun dengan posisi aneh dengan tangan yang masih menggenggam ponsel. Astaga, Mario! Aku buru-buru membuka ponsel. Hm. Di situ ada pemberitahuan kapan Mario mematikan telepon. Dan berapa menit waktu yang kami habiskan untuk bertelepon ria. Pukul delapan lewat lima belas menit. Oke ... dia bercerita selama dua puluh menit. Tanpa bisa dicegah, bibirku melengkung ke atas. Membentuk sebuah senyuman haru. ***** Saat itu, aku sangat merasa senang karena dia ingin repot-repot begitu. Panggilan yang sengaja aku rekam itu, tak pernah bosan untuk kudengarkan berulang-ulang ketika aku susah tidur. Aku sampai hapal jalan cerita Cinta Tak Bicara. *** Besok paginya, aku datang dengan wajah cukup riang ke sekolah. Aku sendiri tidak tahu hal apa yang bisa membuatku sesemangat itu. Ketika melihat Mario sedang menulis, aku langsung heboh menghampirinya. "Mar, thanks ya semalam!" Aku berseru sambil menatap wajahnya yang tampak serius. "Iya," sahutnya pelan. Aku melirik bukunya. Eh ... tunggu. Sejak kapan buku Mario berubah jadi warna pink begitu? "Nih, buku lo." Hah? "Gue udah selesai salinin catatan lo yang ketinggalan." Dia memperjelas kelakuannya. Tapi aku masih belum mengerti. "Sha, gue ngerasa lo insom gara-gara gue." "Heh! Gak usah ge'er deh. Gue gak mikirin lo!" sahutku ketus. "Bukan, bukan masalah itu. Gue tahu lo insom karena di banyak pelajaran, lo belum nulis materi karena harus nulis di depan. Iya, kan? Makanya gue kemarin sengaja nyopet buku lo dan tulisin materi di buku itu." Yaampun Mario ... aku mengecek bukuku. Iya. Dia betul-betul menyalinkan catatannya untukku. Terbukti dari bedanya tulisan di dalam buku itu. Tulisanku kecil-kecil sedangkan tulisan Mario sangat besar. Tapi, tidak apa-apa. "Eh ... padahal gak usah kali." Aku melirik Mario namun dia tersenyum tulus. "Lo, kan, kepilih jadi sekretaris gara-gara gue." "Oke, makasih ya." Aku memasukkan buku catatan itu ke dalam tas. Saat itu, aku mati-matian untuk tidak ge'er! Aku berkali-kali menegaskan pada hatiku jika dia melakukan itu demi menebus rasa bersalahnya. Ya ... tidak lebih dari itu. Varsha, memangnya apa yang mau diharapkan? "Sha, lo udah sarapan?" Mario bertanya. Aku mengangguk. "Oh yaudah gue keluar ya." Mario berdiri dari duduknya. "Mau ke kantin? Gue boleh nitip permen?" Aku mencegah langkahnya. "Enggak, gue mau ke kelasnya Oliv. Tapi, kalo lo emang mau permen, nanti gue mampir ke kantin." "Eh, enggak deh. Gak usah, Mar. Nanti gue pergi sendiri aja." "Oke. Gue duluan ya." Mario melengang pergi. Aku menghembuskan napas pelan. Mendadak aku ingin punya pacar. Aneh sekali memang. Kenapa aku jadi begini? Mungkin aku iri pada Oliv yang setiap hari selalu disamperin ke kelas dan dikasih makanan. Eh? Apaan sih. Kok aku mikir gini. Aku menepuk dahi. "Varsha!" Aku mendongak ketika mendengar namaku dipanggil. Seorang cowok yang lumayan ganteng. Eh, bukan lumayan lagi sih. Tapi emang ganteng. Seragamnya tidak dimasukkan dan rambutnya berantakkan. Dia tersenyum ke arahku lalu duduk di kursi Mario. "Hai," sapanya. Aku tersenyum canggung. Dia siapa? Dan ada apa? "Gak kenal gue, ya?" Dia menangkap kebingunganku. "Hm." Aku nyengir lalu mengangguk. Ya, aku itu termasuk orang yang kudet. Jadi kadang aku tak tahu apa-apa tentang sekitarku. Aku juga malas untuk mencari tahu sih. "Nama gue Axel," ucapnya, "ternyata gue belum cukup terkenal. Buktinya, lo gak kenal gue." Dia tertawa. "Eh, gue emang kudet sih. Jarang keluar kelas." "Iya, gue cuma sesekali lihat lo berkeliaran di kantin atau lapangan. Padahal lo harus sering-sering keluar, Sha," jelas Axel. Aku mengerutkan dahi. "Kenapa gitu?" "Ya biar gue bisa lihat lo terus," sahutnya lalu tersenyum manis. Aku hanya melongo. "Oh iya, dalam rangka apa lo temuin gue? Ada perlu?" Aku menanyakan kebingunganku. Dia terlihat salah tingkah. "Gue ... mau ngajak lo pulang bareng." Hah? Kok mendadak gitu? Kenal aja baru sekarang. "Gak bisa. Sore ini Varsha mau kerja kelompok. Dia gak akan pulang dulu." Aku menatap Mario yang baru datang dengan bingung. Setahuku, hari ini tak ada jadwal kerja kelompok. "Yaudah gue anterin dia ke tempat kerja kelompok." Axel menyahut. "Varsha berangkat sama gue," tukas Mario dengan nada tegas. "Lo siapanya, sih?" Axel mendelik kesal. Mario melotot. "Gue siapanya? Gue temannya!" "Teman doang, kan, bukan pacar. Ribet amat. Yaudah Sha, lain kali aja mungkin gue anterin lo." Axel berlalu pergi. Matanya menyorot Mario sinis. Aku menatap Mario geram. Namun cowok itu malah meletakkan lima permen dan satu bungkus beng beng di depanku. Kekesalanku menguap. "Sha, jangan mudah percaya dengan orang. Axel itu cowok nakal. Nanti lo di apa-apain." "I-iya." Pipiku memanas melihat tulisan di bungkus beng beng. 'Pacar Terbaik'. Hah? Eh? Apa sih. "Seperti biasa. Oliv nolak jajanan yang gue kasih karena murahan." Ucapan Mario mampu membuat bunga yang tadinya bermekaran itu layu dan mati seketika. Sha, apa yang kamu pikirkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD