Tahun terakhir SMA, sebentar lagi ia lulus. Namira lanjut mengerjakan kumpulan soal-soal ujian nasional. Ia harus lulus dengan nilai terbaik. Ia harus bisa masuk universitas itu. Meneruskan cita-cita Yas menjadi guru. Cita-cita itu pernah diteruskan oleh Theo. Namira menatap foto yang senantiasa terpajang di meja belajar ini. Fotonya. Lelaki berkacamata yang merupakan pamannya--Theo. Foto yang selalu menjadi penyemangat utama. Supaya ia tetap rajin belajar. Tetap menjunjung tinggi cita-cita sang Ayah dan sang Paman. Suara pintu diketuk dengan brutal. Namun tak menggoyahkan konsentrasi Namira. Ia terus mengerjakan soal-soal tanpa goyah. "Nami ... buka pintunya, dong!" Suara Bu Alila, si tersangka penggedor pintu. "Buka aja, Bunda!

