"Nami ...." Nada bicara Yonas melembut. "Apa yang akan kamu lakuin, ha?" Berbanding terbalik dengan nada bicara Yonas. Intonasi Namira justru meninggi. Ia sama sekali tak dapat menahan emosi lagi. Akumulasi rasa lelah setelah menaiki ratusan anak tangga. Setelah sampai tujuan ia malah disuguhi adegan seperti ini. Pemuda yang ia cintai setengah mati, dipegangi oleh tiga pemuda tak jelas, dan akan ditusuk oleh sang sahabat. Ralat, mantan sahabat. "Nami ... kali ini aja. Tolong jangan ikut campur urusan kami. Oke?" "Gimana bisa aku nggak ikut campur? Sementara kamu akan menyakiti orang yang aku sayang." Emosi Yonas kembali tersulut. Namun ia tahan mati-matian. Namira memberanikan diri untuk mendekat. Tak peduli dengan fakta bahwa saat ini seluruh tubuhn

