Kal El mematikan ponselnya. Ia genggam benda itu dengan segenap emosi yang membuncah dalam d**a. Ia ingin tinggal. Ingin tetap bersama mereka--bersama Namira. Namun tidak bisa. Karena ia tidak pantas. Sama sekali tak pantas. Jika ia sampai ngotot ingin tetap di sana, itu artinya ia tak tahu diri. Dengan sisa tenaganya, Kal El melempar ponsel di tangannya. Benda itu terlempar jauh. Sangat jauh melewati jendela tanpa kaca yang bingkainya usang. Melewati balkon kecil di luarnya, terjun bebas menuju tanah. Nantinya benda itu pasti hancur, mengingat Kal El saat ini berada di lantai 10. Ia tak ingin ditemukan siapa pun. Ia tak ingin kembali pada siapa pun. Ia hanya ingin menghilang. "Kal El ...." Seseorang memanggil. Kal El mencari-cari siapa gerangan.

