6. Kenapa?

1054 Words
Pagi di hari sabtu, hari dimana akhir pekan bermula. Kaiden dan Mine sama-sama memutuskan untuk di rumah saja, mengingat selama senin sampai jum'at mereka selalu pergi keluar rumah. Mine sengaja tidak memasak sarapan, ia mencoba mengikuti langkah Kaiden dengan memakan sereal di pagi hari, hal itu karena ia berencana untuk berolahraga hari ini, tentu saja meminjam beberapa alat di ruang gym-nya Kaiden. Tidak berbeda dengan Kaiden, sejak bangun pagi, ia sudah dikejutkan dengan Mine yang sarapan hanya dengan sereal, dan sekarang ia bertemu lagi dengan gadis itu di ruangan gym. Kaiden berjalan mendekat ke arah treadmill lalu menyandarkan tubuhnya di alat yang saat ini tengah dipakai Mine. Ia menatap datar pada gadis yang saat ini sedang lari sambil mendengarkan musik dengan mata terpejam. Melihat Mine yang menikmati agenda larinya, jiwa jahil Kaiden mencuat, ia sengaja menekan tombol off pada treadmill sehingga mengakibatkan Mine terjatuh. Kaiden tertawa, sementara Mine yang masih terduduk langsung melepas earpod-nya, "iseng banget sih, kalo aku jatuhnya patah Kaki gimana?" omel gadis itu. Kaiden masih terkekeh, ia tidak menjawab, ia melangkah begitu saja menuju alat yang lain, sementara Mine mencoba berdiri sambil menatap jengkel ke arah Kaiden. Tanpa saling bicara, kini keduanya selesai berolahraga selama 30 menit, tidak begitu lama, karena tubuh mereka sudah lumayan berkeringat. Kaiden memilih melanjutkan aktifitas peregangannya di halaman belakang, sementara Mine bergegas ke dapur. Tangan gadis itu mulai lincah mengumpulkan bahan lalu membuat menu sarapan paginya dengan cekatan. Untuk pagi ini, ia memutuskan untuk memakan Kaya Toast, menu sarapan khas Singapura. Mine memanggang beberapa helai roti, lalu ia olesi dengan selai srikaya, setelahnya ia mengisi roti tersebut dengan parutan kelapa dan juga telur. Roti kaya buatan Mine juga dilengkapi dengan kopi, benar-benar sarapan ideal setelah lelah berolahraga. Mine membawa roti dan kopinya ke halaman belakang, tempat dimata Kaiden terlihat sibuk duduk sambil main tab-nya. "Mau roti?" tawarnya sambil duduk. Kaiden mem-pause gamenya, ia menoleh ke arah Mine yang masih belum mengganti sport branya. Matanya turun ke arah sepiring roti yang jelas merangsang indra penciumannya. "Apaan nih?" Mine yang sudah mengunyah rotinya ikut menoleh, "roti." "Tau kalo ini roti, maksudnya roti apa, isinya apa?" Mata Mine mengerjap pelan, "mau enggak? Kalo enggak, aku sanggup kok ngabisin semua." Kaiden dengan cepat meletakkan tabnya lalu mengambil Roti Kaya di piring, ia memakannya dengan hati-hati sampai gigitan pertama sudah ia kunyah, matanya curi-curi tatap pada gadis di sebelahnya bergantian dengan piring di atas meja. "Rotinya ada 5," kata Kaiden saat ia sudah selesai makan 1 roti. "Terus?" sahut Mine bingung. "Enggak Papa, ngasih tau doang." Mine mengerutkan dahinya bingung, namun sedetik kemudian, ia paham ke mana arah pembicaraan Kaiden, "abisin aja, Kak, Mine kenyang, kopinya mau lagi?" Kaiden reflek tersenyum tapi setelah menatap Mine, ia kembali mendatarkan wajahnya, "enggak, aku bisa bikin kopi sendiri kalo punyaku udah abis." "Ya udah, kalo gitu aku tinggal ke dalam ya, tolong sekalian cuci piringnya, aku mau mandi." Mine pun meninggalkan Kaiden setelahnya masuk ke dalam rumah. Sepeninggal Mine, Kaiden menatap 3 roti kaya yang masih tersisa dipiring, ia menatapnya dengan bahagia, "Perfect weekend morning." *** Kaiden menyadari satu hal setelah seminggu menjalani hari sebagai pasangan suami istri dengan Mine, gadis itu maniak memasak. Setiap Kaiden pulang dari bekerja, ia selalu menemukan Mine berada di dapur, terkadang gadis itu berbicara sendiri dengan hasil makanannya, membuat Kaiden tidak paham. Sebut saja seperti saat ini. Ketika jam makan siang tiba, Mine sengaja membawa mangkuk besar yang berisi makanan dengan warna cerah ke ruang tengah, ia ikut menonton TV bersama Kaiden yang saat itu terlihat sibuk menonton acara pertandingan bulu tangkis. "Indonesia main sama siapa?" tanya Mine sambil mengaduk makanannya. "China," sahut Kaiden sambil sesekali menatap mangkuk Mine. "Sektor apa yang bakal tanding setelah ini?" "Ganda putra." "Yang main minion? Musuhnya siapa?" tanya Mine lagi yang saat ini beralih dari TV menatap Kaiden. Kaiden kaget ditatap langsung tergagap, "tau, twin tower kali." "Waah, musuh bebuyutan dong mereka, seru pasti nih." Mine berseru dengan semangat. "Kamu makan apa sih, kok semua diaduk gitu." Mine batal menyuap makanannya saat mendengar Kaiden bertanya, "aah ini, Bibimbab, pernah denger enggak?" Kaiden menggeleng, "bisa enggak sih, makan tuh yang wajar-wajar aja, makanan lokal gitu, tiap hari perasaan yang kamu masak enggak ada satupun yang pernah aku coba." Mine terdiam, matanya mengerjap lalu setelahnya berdiri, ia berjalan meninggalkan ruang tengah sehingga membuat Kaiden bingung. "Yaah, ngambek." Kaiden terlihat panik. Namun kenyataannya, Mine tidak merajuk, ia pergi ke dapur mengambil sendok besar, seperti miliknya, ia memberikan sendok itu pada Kaiden, "mau nyoba, enggak?" tawarnya. Kaiden menoleh dan memberi tatapan heran, "hah?" Mine menarik tangan Kaiden lalu menyuruhnya duduk di lantai, ia menyodorkan mangkuk Bibimbabnya pada Kaiden, "coba!" Kaiden semakin bingung, Mine geregetan melihat Kaiden yang diam, ia pun mendesaknya secara halus, "mau sekalian aku suapin?" Kaiden menggeleng, ia menatap ke arah mangkuk yang penuh dengan sayur dan telur, ia bingung harus memakan atau tidak makanan buatan Mine tersebut, sampai akhirnya rasa penasaran mengalahkan segalanya. Kaiden menyendokkan Bibimbab sedikit lalu memakannya. Ketika Bibimbab itu masuk ke dalam mulut Kaiden, ia mengunyahnya perlahan, beberapa detik kemudian matanya terbuka lebar, "kok enak?" Respon Kaiden membuat Mine tersenyum lebar, "tuh kan, enak, siapa dulu yang bikin." Mine ikut menyendok Bibimbabnya di mangkuk lalu berseru senang saat makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya, Kaiden ikut tersenyum. "Aku enggak nyangka kamu masak sepintar ini, btw, belajar dari mana?" obrolan santai mulai diawali dari Kaiden. "Banyak, belajar dari Mama, Mama Saffa, Tante Ara, kadang diajarin juga sama Oma Kian Oma Resni." Kaiden mengangguk, "bukannya kamu baru lulus SMA, kok masaknya udah pinter?" Mine memutar matanya jengah, "itu karena aku suka masak dari kecil, jadi belajarnya juga dari kecil, pas udah SMP aku baru boleh bener-bener masuk dapur." Kaiden terlihat menikmati Bibimbab hingga lupa dengan pertandingan bulu tangkisnya, "terus kuliah, ngambil jurusan apa? Mending ambil bisnis kuliner, kamu punya bakat soalnya." Mine menelan makanannya sambil menggeleng, "aku enggak ambil bisnis, aku ambil seni kuliner." "Seni kuliner? Emang ada jurusan itu?" "Ada lah, ntar di sana bakal belajar gimana cara masak masakan dari berbagai dunia, seandainya aku udah lulus kuliah, aku mau bangun restoran aku sendiri, biar bisa segede CandleLight." Kaiden menyimak pembicaraan Mine dengan menatap gadis itu lekat, di tengah-tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba satu pertanyaan tidak sadar Kaiden lemparkan pada Mine, sontak membuat gadis itu bingung menjawabnya. "Mine," panggil Kaiden. Mine menjawabnya hanya dengan gumaman. "Kenapa mau nikah sama aku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD