5. Papa's Pide

1200 Words
Mine terlihat sibuk memperhatikan Mas Pur mengolah makanan, matanya fokus menatap ke arah tangan Mas Pur, sementara tanyannya sendiri lincah bergerak mencatat step-step masakan ala Mas Pur. Mine bahkan tidak menyadari jika sedari tadi ponselnya terus berbunyi, hingga ia disadarkan oleh Star, adik sepupunya. "Kak Mine, hapenya bunyi terus." Mine teralihkan, ia merogoh ponselnya di apron lalu menekan tombol hijau, tanda jika ia menjawab panggilan. "Halo, Mine di sini, enggak ada yang perlu bantuan." Tawa renyah terdengar dari seberang telpon, "kalo gitu, Papa yang perlu." Mine ikut tersenyum, "ada apa Papa, kangen Mine ya, belum juga seminggu." Arkan kembali terkekeh, "iya nih, Papa kangen, Papa tiba-tiba inget roti Pide kamu, kamu sibuk enggak sayang, buatin Papa pide dong buat makan siang." Tawa Mine seakan bersambung dengan sang Papa, "Mine kebetulan lagi di CandyLight, semoga aja bahannya lengkap ya, Pa, jadi Mine bisa cepet buatnya, nanti kalo selesai, Mine langsung ke rumah sakit." "Beneran ya, Papa tunggu lho, bye sweetheart." Mine menutup sambungan telponnya, ia kembali memasukkan ponselnya lalu menatap Mas Pur, "nanti aku tanya-tanya lagi ya Mas, sekarang mau buatin Papa makan siang dulu." Mas Pur, si Koki utama CandyLight membalas dengan anggukan, Mine pun berlalu dan berjalan menuju ruang penyimpanan, ia mulai mengumpulkan beberapa bahan untuk membuat Roti Pide, makanan khas Turki kesukaan Papanya tersebut. Selesai berburu bahan, kini Mine siap memasak. Jam di dinding masih menujukkan pukul 10 pagi, menurut perkiraannya, jika ia mulai memasak Pide sekarang, maka ia akan sempat memberinya pada Arkan dijam makan siang. Tanpa basa-basi, Mine langsung mengikat rambut panjang bergelombangnya ke atas, ia mulai konsentrasi bergulat dengan berbagai bahan hingga ia lupa waktu. Langkah pertama untuk membuat Pide, Mine perlu mengolah adonan, ia memerlukan tepung, ragi instan, gula, garam dan sedikit minyak zaitun, kemudian ia menguleni adonan hingga tidak lengket di tangan. Selesai dengan adonan, Mine menyisihkan adonannya untuk didiamkan selama 50 menit. Lelah bermain game dan menjaga Star, 50 menitnya berlalu tanpa terasa, adonan siap dimasak. Mine membagi adonan menjadi 4, ia menyisipkan mozarella di ujung-ujung roti kemudian memilinnya dengan kecil seperti pinggiran pizza. Mine mengisi permukaan roti Pide dengan berbagai macam isian, ia meletakkan potongan daging, bawang bombay yang sudah dicincang halus, bawang putih, tomat dan seledri yang dicincang kasar. Tanpa terasa, lebih 1 jam Mine membuat roti Pide, akhirnya selesai juga. Menunggu proses memanggang yang tidak terlalu lama, akhirnya menu makan siang Papanya siap meluncur ke Rumah Sakit Medica. Mine berangkat menggunakan mobil Xabara, ia sengaja tidak naik taksi karena malas menunggu atau memesan jasa taksi online. Tidak terlalu jauh jarak antara CandleLight dan Rumah Sakit, Mine tiba saat jam makan siang, tepat sekali. Ia berjalan dengan langkah ringan menuju ruangan Papanya, melewati beberapa perawat yang sudah ia hapal, gadis itu kini tiba di depan pintu ruangan Arkan. Ia mengetuknya pelan sebelum membuka pintu. "Masuk." Suara dari dalam menginstruksikan dirinya untuk membuka pintu. Mine membuka pintu perlahan lalu tersenyum saat memasukkan kepalanya, "Papa, Mine datang." Arkan tersenyum cerah seketika, "Roti Pide Papa dataaaang," serunya senang. Mine masuk sambil menekuk wajahnya, "jadi ceritanya Papa kangen cuma sama masakan Mine, bukan sama Minenya?" Arkan tertawa, ia berdiri lalu memeluk erat Putri semata wayangnya tersebut, "Roti Pide tuh cuma alibi, Mine, Papa itu sebenarnya kangen kamu." Mine mendecih pelan, "alasan, aku udah hapal sama Papa yang candu banget sama Roti Pide buatan aku." "Ya, ya, okelah, bisa dibilang iya, kayak gitu, jadi kita mau makan di mana? Kantin atau di ruangan Papa?" "Di kantin aja, kalo Papa makan di ruangan, nanti ruangannya bau Pide, kasian pasien," sahut Mine. Arkan mengangguk lalu melepas snellinya, ia menggandeng Mine untuk berjalan ke arah kafetaria Rumah Sakit. Saat mereka berdua berjalan memilih kursi, tanpa sengaja mata Mine bertemu dengan Kaiden yang juga makan siang bersama teman-temannya. Arkan yang juga sempat melihat ke arah menantunya itu nyaris menyapa sebelum dicegah oleh Mine. "Papa, di sana, kita duduk di sana." Tariknya pada Arkan. Arkan heran, "lho, tapi di sana-" "Udah, di sana aja, jangan ganggu Kak Kai makan sama temennya." Arkan pun menurut, ia berjalan menuju meja di mana menurut Mine strategis. Mereka pun kini mulai makan setelah selesai memesan minuman. Jika Mine dan Arkan sibuk berbincang ringan ditemani Roti Pide, maka Kaiden dan temannya kini sedang berbincang dengan topik dr. Arkan yang tengah makan bersama anak gadisnya. Tama terlihat bersemangat membahas topik tersebut. "dr. Arkan didatengin sama anaknya tuh, enggak nyangka, anaknya secantik itu." Disty menoleh sebentar, "ngapain sih ngelirik anaknya dr. Arkan, masih kecil gitu." "Dia baru lulus SMA, kecil dari mana sih, Dis, kalo dikawinin udah pas tuh." Sahutan Tama berhasil membuat Kaiden tersedak, ia menepuk pelan dadanya sementara Disty sigap memberi segelas air. "Tam, kalo ngomong ditakar dulu dong, enggak lihat nih, temen lo kagetnya sampe kayak gini," tegur Disty. Tama menatap heran Kaiden, "kenapa lo, kok keselek?" Kaiden melempari Tama dengan gumpalan tisu, "mulutnya enggak dipasang rem." "Lah, gue emang salah? Bener kali, lulus SMA, cewek udah masuk usia legal nikah, dimana kelirunya." Tama membantah dirinya ketika disalahkan. "Ya enggak salah sih, omongan lo bener, cuma enggak pantes aja lo ngomong gitu untuk orang yang enggak lo kenal," sahut Kaiden mencoba meluruskan. "Tapi gue bilang benerkan, anaknya dr. Arkan cantik." Disty memutar matanya jengah, "serah lo deh." Sementara Kaiden hanya diam, ia sesekali melirik ke arah meja dimana Mertua dan Istrinya duduk, terkadang sesekali perasaan bersalah juga menghinggapinya, hal itu karena ia menyembunyikan fakta besar dari para sahabatnya, yaitu tentang statusnya yang sudah berubah. Jam makan siang sudah berlalu, kini Kaiden dan kedua dokter muda sahabatnya itu kembali ke ruangan. Mine yang masih di ruangan Papanya kini mulai berdiri dari posisi duduk nyamannya di sofa kecil, ia berniat untuk pulang karena tugasnya mengantar makan siang serta menemani sang Papa makan sudah selesai. "Pa, Mine pulang ya." Arkan memeluk sebentar putrinya erat, "hati-hati di jalan, jangan ngebut." Mine mengangguk lalu berjalan keluar ruangan, masih membawa sisa Roti Pide di tangan kanannya, ia tidak sengaja bertemu Kaiden di lorong Tulip, lorong dimana ruangan Papanya berada. Kaiden tidak sendiri, ia ditemani oleh salah satu temannya yang tadi Mine lihat makan bersama di kafetaria. Ketika Mine berjalan melewati Kaiden, pria itu reflek menarik pelan tangannya, hal itu membuat Mine kaget dan terlonjak. "Apa?" ia merespon dengan dingin. "Ngapain kesini?" tanya Kaiden tanpa basa-basi. Tama bahkan melongo melihat adegan tidak terduga di depannya saat ini. Mine mengangkat lunch boxnya agar Kaiden melihat, "see, Papa minta masakkan Pide sama aku, terus aku dateng buat nganter." Kening Kaiden mulai menyerngit, "kesini naik apa?" tanyanya yang terdengar posesif. "Bawa mobil Onty Xa, emang kenapa?" Kaiden melepas tangan Mine, ia menatap gadis itu datar, "setelah ini langsung pulang." Mine lelah jika harus meladeni Kaiden sekarang, ia pun hanya meresponnya dengan anggukan lalu berjalan keluar ruangan tulip. Ia langsung memasuki lift dan menekan tombol dimana basement berada. Setelah sampai, ia langsung bergegas masuk mobil kemudian menyalakannya dan pulang. Sementara itu, tindakan pura-pura Kaiden dapat terdeteksi oleh Tama dengan jelas, ia pun tidak segan untuk bertanya, "Kai, itu tadi, anaknya dr. Arkan kan?" Kaiden sempat terdiam beberapa waktu sebelum menyahut singkat, "iya, kenapa emang?" Tama menatap heran Kaiden, "kok lo bisa kenal? Jangan-jangan-" Kaiden memilih pergi begitu saja meninggalkan Tama yang belum menyelesaikan kalimat dugaannya, "Yaah, main tinggal aja, eh, Kai... Kai!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD