4. Eksperimen Mine

1113 Words
Mine pulang ke rumah saat hari sudah petang. Setibanya ia di rumah, ia langsung membersihkan badan lalu ke dapur. Ketika ia sudah memakai apron, ia mulai menjelajah isi kulkas. Untuk makan malam, ia memutuskan untuk membuat nasi goreng dengan cara yang sehat, ia mulai mengeluarkan berbagai macam sayur, daging dan telur. Setelah semua sudah tersusun rapi, ia pun mulai memasak. Mine membunyikan lagu melalui ponselnya, ia bergerak pelan mengikuti irama sambil terus fokus pada masakannya. Ia bahkan tidak sadar ketika Kaiden sudah tiba di rumah dan menatapnya dengan pandangan aneh. Menghabiskan waktu kurang lebih setengah jam untuk memasak, Mine akhirnya selesai. Ia menata meja makan dengan 2 piring dan 2 gelas. Ia melepas apron kemudian menatap keluar jendela, hari sudah gelap, seharusnya Kaiden sudah pulang. Mine pun berjalan ke arah tangga, ia hendak memanggil Kaiden dan menyuruh pria itu makan malam, namun sebelum ia keluar dapur, Kaiden sudah lebih dulu berjalan ke arah meja makan. "Lain kali jangan terlalu banyak masak, aku bisa makan di luar," ucap Kaiden. Mine yang baru saja duduk lantas sedikit tersinggung, "aku wajib jamin perut kamu supaya selalu kenyang, jangan terlalu sering makan di luar, aku bakal sering masak." Ia tidak mau kalah argumen dengan Kaiden. Diluar dugaan, Kaiden tersenyum miring, "mencoba menikmati peran jadi istri, iya?" Mine mengunyah nasinya sambil menatap Kaiden sebal, "terserah mau ngomong apa, kalo lapar ya makan, enggak ya udah, taroh aja di sana." Kaiden terkejut dengan sahutan Mine, ia mendongak setelah memakan beberapa kali suapan nasi goreng masakan istrinya tersebut, "kamu nyuruh aku berhenti makan?" Mine memutar matanya jengah, "aku bilang terserah, mau makan, silahkan, enggak juga gak Papa, enggak ngerti bahasa manusia?" "Mine, itu keterlaluan." Kaiden meletakkan sendok dan garpunya lalu menatap tajam Mine. Mine terlalu malas meladeni, ia berhenti makan lalu pergi begitu saja meninggalkan Kaiden. "Gila, udah dibikin kenyang, masih aja ngomel, ada ya manusia kayak gitu." ***  Kaiden membuang rasa bosannya dengan cara berolahraga. Walaupun hari semakin gelap, ia tetap semangat untuk terus berlari bersama treadmill. Di salah satu ruang dalam rumahnya, Kaiden memang sengaja membuat area gym yang khusus ia isi dengan peralatan olahraga yang biasa ia gunakan. Menghabiskan waktu satu jam untuk berolahraga, Kaiden melanjutkan aktifitasnya dengan mandi. Selesai dengan agenda bersih-bersih, Kaiden berjalan ke dapur dengan niat mencari makanan. Tidak ia sangka, saat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Mine masih terlihat sibuk di dapur, membuat keningnya mengerut heran. "Nyapain masak malam-malam?" Kaiden datang mengagetkan Mine. Gadis itu mendongak, "lagi main." Ia menyahut pendek. Kaiden mendekat setelah mengambil sebotol air minum dari kulkas, ia melihat Mine menata makanan di dalam wadah berwarna merah muda. "Kamu mau piknik? Malam-malam gini?" Mine yang merasa terganggu langsung mendengus, "siapa yang mau piknik sih, aku lagi buat bekal, udah sana ah, jangan ganggu." Kaiden didorong pelan oleh Mine, namun dorongan itu tidak membuatnya menjauh, ia kembali mendekat dan melihat lagi apa yang dibuat oleh Mine, sepertinya ia tertarik. "Ujung kimbabnya mau diapain?" tanya Kaiden. "Disisihkan, aku cuma pakai tengahnya." Kaiden sontak tersenyum, ia menarik pelan piring yang di atasnya terdapat beberapa potongan ujung kimbab lalu memakannya tanpa izin dengan Mine. "Buat siapa?" tanyanya lagi. Mine masih terlihat sibuk menata kotak bekalnya, "Star, katanya dia susah makan, makanya aku bikinkan cemilan." Kaiden tiba-tiba terbatuk, ia menepuk-nepuk pelan dadanya, Mine pun reflek menyodorkan air pada pria itu. "Makanya, makan tuh izin dulu, jangan asal comot, kena azab kan." Kaiden mendengus pelan, "cemilan tuh penunda lapar, kenapa harus pakai kimbab." "Protes mulu deh, dia sukanya kimbab, gimana dong." Mine tidak mau kalah. Merasa di gas oleh gadis di depannya, Kaiden pun terkesiap sejenak, "udah sih, kenapa ngegas, pokoknya sebelum tidur dapur udah harus bersih." "Iya, ah, bawel deh." Kaiden menjauh dari dapur, ia berniat pergi ke ruang tengah, sementara Mine menatap punggung pria itu hingga ia menghilang dari balik tembok, "pergi sih pergi, ujung kimbabnya enggak usah dibawa semua juga kali, gue juga pengen." Masih dengan senyum yang mengembang, Kaiden duduk di kursi sambil membuka tabnya, ia meletakkan sepiring kimbab di samping ia duduk. Mulutnya terus bergerak mengunyah kimbab satu persatu hingga ia sadar jika piringnya sudah kosong. Kaiden menoleh dan menghela napasnya pelan, ia masih merasa lapar walaupun sudah banyak makanan yang masuk ke perutnya. Sadar jika jam tidur sudah tiba, ia pun bergegas mematikan tab lalu setelahnya kembali ke kamar.  *** Seperti pagi biasa, Mine bangun diawal hari dan bergegas menuju bagian rumah favoritnya, dapur. Mine tidak punya kesibukan hari ini, mengingat ia baru mulai kuliah 2 minggu lagi. Gadis itu memutuskan untuk kembali bereksperimen. Ia menemukan tortilla chips ada di dalam kulkas, sebuah ide pun muncul di benaknya, "kayaknya bikin Chilaquiles enak nih," gumamnya pelan. Mine segera mengecek bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat menu sarapan khas meksiko tersebut. Setelah semua ia dapatkan, senyum di wajah Mine mulai mengembang, ia senang karena semua bahan ada di lemari pendingin rumah Kaiden, ia pun memulai aktifitas memasaknya. Mine mulai menyiapkan wajan, ia mulai sibuk memasak tortilla dengan saus, ia terus mengaduk hingga lagi-lagi tidak menyadari jika Kaiden sudah ada di ruang makan. Kaiden mencium bau masakan enak dari balik tubuh Mine, tanpa sadar, ia pun duduk tenang menunggu. Mine selesai memasak, ia meletakkan Chilaquilesnya yang sudah matang ke atas piring, tidak lupa ia tambahkan keju, irisan bawang bombay dan telur. Ia juga bersemangat dengan menambahkan taburan kacang dan daging asap yang sudah dicincang halus. "Waah cantiknya." Ia berseru. Kaiden yang duduk tanpa sadar tersenyum, Mine berbalik dan terkejut mendapati Kaiden yang sudah ada di kursi, "enggak berangkat?" tanyanya ketika mata mereka saling bertemu. "Masih jam 7.15, kamu masak apa?" Pertanyaan Kaiden membuat Mine mengernyitkan keningnya, "Chilaquiles." Kaiden diam kemudian membuka piringnya, "sereal aku abis." Mine tahu Kaiden berbohong, jelas-jelas kemarin ia melihat pria itu membeli 3 kotak sereal dengan varian yang sama. "Aku masak Chilaquiles baru pertama kali, yakin mau sarapan pakai ini?" Kaiden tanpa ragu mengangguk, "kemungkinan terparah paling sakit perut kan, ya udah sini, i can handle it." Menemukan seseorang yang mau menilai rasa masakannya tanpa memandang siapa dirinya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Mine, mungkin mulai sekarang, ia akan lebih sering memakai Kaiden untuk diposisikan sebagai tester masakannya. Mine tanpa ragu menyerahkan Chilaquilesnya pada Kaiden, pria itu juga tidak segan-segan memasukkan makanannya dengan suapan besar. Mata Mine mulai menatap was-was, Kaiden sudah memakan masakannya, pria itu saat ini mulai mengunyah, keningnya mengerut dan jarinya ia garukkan pada pelipis yang Mine yakin tidak gatal. "Gimana? Enak?" Kaiden mendongak, ia terdiam sambil memberi mimik berpikir pada gadis di depannya, tanpa di duga, Kaiden menggeleng, "enggak." Mine menatap Kaiden tidak percaya, "serius, enggak enak?" Kaiden mengangguk lagi sambil masih berusaha memakan Chilaquilesnya. "Why?" tanya Mine lesu. Kaiden berusaha menelan lalu minum sedikit air putih, "porsinya terlalu sedikit, jadi kurang enak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD