Mine terbangun saat jam weker yang ia setel berbunyi tepat di jam 05.00 subuh. Ia menyibak selimutnya, lalu memilih mandi. Selesai dengan ritual bersih-bersih, ia bergegas mengambil wudu dan melaksanakan salat subuh, tentu saja sendiri, ia tidak berharap banyak Kaiden akan mengajaknya untuk salat berdua.
Mine menyelesaikan urusannya dengan Tuhan hanya 10 menit, setelah itu, ia bergegas keluar kamar dan turun ke dapur, ia berencana membuat sarapan.
Ketika sudah di dapur, Mine menemukan bahan untuk membuat sandwich. Tanpa banyak pikir, tangannya langsung bergerak dengan lincah. Lima belas menit berlalu, kini jam sudah menunjukkan pukul 06.45 WIB, sandwichnya sudah jadi dan ia juga sudah selesai mengganti pakaian.
Di dapur, Mine melihat Kaiden duduk di kursi sambil memakan sarapannya. Ketika ia melintasi suaminya tersebut, matanya menatap datar ke arah mangkuk sereal Kaiden yang terlihat lahap ia santap.
“Serius, kenyang cuma sama sereal?” tanya Mine.
Kaiden mendongak. “Makan sarapan kamu, kita berangkat lima belas menit lagi.”
Kening Mine mengernyit. “Tapi aku masuk jam Sembilan. Kepagian kalo nganter sekarang.”
Kaiden yang tadinya fokus ke tab kini menatap Mine. “Kalo gitu naik taksi.”
Mine mendengkus sambil memakan sandwichnya. “Berarti uang aku dilebihin, soalnya aku harus naik taksi.”
Kaiden berdiri lalu mengambil dompetnya, ia menyerahkan uang sebanyak 200 ribu pada Mine setelahnya berlalu. Melihat Kaiden pergi begitu saja, Mine sontak berseru, “Rules number four, cuci piring masing-masing.”
Langkah Kaiden terhenti, ia berbalik arah dan meletakkan tab serta jasnya di meja dengan tatapan datar. Ia mengambil mangkuk bekas serealnya dan membawa ke westafle.
Dalam diam, Mine berusaha menahan senyumnya. “Siapa suruh punya peraturan.”
***
Kaiden tiba di rumah sakit Medica, ia langsung masuk ke ruangannya. Di sana sudah ada Tama dan Adisty; dua sahabatnya.
“Kok, kelihatannya murung gitu, nggak sarapan, ya?” tanya Disty sambil menghampiri.
Kaiden tersenyum. “Sarapan, kok, tadi, sama sereal.”
Tama ikut mendekat. “Kita sudah di Indo, Kai. Cuma perut Lo yang masih tahan sarapan pakai sereal. Lo punya jadwal bareng dokter Arkan, kan, ntar?”
Kaiden mengangguk. “Hari ini gue punya dua jadwal operasi, dua-duanya bareng dokter Arkan.”
Tama memutar kursinya sambil mengetuk-ngetukkan pensil di kepalanya, ia menatap Kaiden lekat. “Enak, ya, jadi orang pinter. Perasaan Dr. Arkan sering banget minta Lo buat jadi asistennya.”
Disty mengangguk seraya mengiyakan. “Direktur juga kayaknya jadiin Lo anak emas gitu.”
Kaiden hanya bisa terkekeh. Tama kembali bersuara, “Eh, Lo pernah lihat anaknya Dr. Arkan, nggak?”
Kaiden sontak menoleh. “Kenapa emang?”
Disty ikut menoleh. “Tumben Lo bahas Dr. Arkan sampai ke anaknya. Lo pernah ketemu?”
Tama menggeleng. “Nggak pernah ketemu langsung, sih, gue cuma dengar dari bagian bedah umum, katanya yang pernah ketemu anaknya Dr. Arkan, anaknya cantik. Kemarin, gue masuk, kan, ke ruangan Dr. Arkan, gue nggak sengaja lihat fotonya, beneran cantik, weh, serius,” jelasnya terlihat bersemangat.
Merasa topik pembicaraan mereka sudah terlalu jauh, Kaiden dengan cepat mengalihkan, “Lo nggak ada jadwal keliling pagi, Tam?”
Seakan tersadar, Tama menepuk dahinya pelan. “Untung Lo ingetin gue. Dah, lah, gue pergi, deh, ntar makan siang bareng, ya.”
Disty dan Kaiden tertawa pelan melihat tingkah Tama. Kini di ruangan, hanya tersisa mereka berdua. Kaiden masih sibuk membaca berkas pasien, sementara Disty ikut duduk di sebelah Kaiden sambil menyodorkan kotak makan berwarna ungu. “Gue tadi bikin sandwich, lo mau?”
Kaiden menoleh ke arah Disty, setelah itu ia tatap sandwich di kotak makan tersebut. Tiba-tiba wajah datar Mine terbayang, ia pun menggeleng pelan.
“Lo nggakpapa?” Disty menatap Kaiden bingung.
Kaiden menggeleng lalu mengambil sepotong sandwich olahan Disty lalu memakannya. “Makasih, ya, sandwich Lo enak.”
Disty tersenyum. Tidak bisa dipungkiri, Kaiden tersenyum karena sandwichnya adalah sebuah mood baik di pagi hari. “Besok gue bakal bikinin sandwich spesial lagi buat Lo.”
***
Mine sudah menyelesaikan kegiatan daftar ulangnya. Ia memutuskan untuk memilih jurusan Culinary Art atau seni kuliner. Hobi memasaknya harus bisa menjadi sesuatu yang menghasilkan uang, karena ajaran dari sang Mama yang selalu menanamkan kebahagiaan saat kita mendapat hasil dari hal yang kita suka.
Mine mencintai dapur, ia memuja setiap aroma masakan yang selalu berhasil membuat matanya terbuka lebar. Kemampuan memasak Mine tidak bisa dianggap kaleng-kaleng, ia bahkan bisa meniru masakan dan penyajian hanya dengan sekali melihat. Lebih jelasnya, Mine berbakat dalam hal memasak.
Selesai urusan di kampus, Mine bergegas mencari taksi, ia memutuskan untuk pergi ke CandleLight, restoran milik orangtuanya. Lima belas menit dari kampus, kini Kaki Mine sudah menginjak CandleLight. Dekat dengan jam makam siang, CandleLight kafe terlihat ramai, Mine pun masuk. “Selamat siang, Mbak Agnes,” sapa Mine pada salah satu pegawai CandleLight.
“Siang, Mine. Datang dari mana?”
“Dari kampus, Mbak, baru selesai daftar ulang.”
Saat Mine berjalan menuju lantai atas, dari arah dapur, seseorang terdengar menyeru namanya, “Kak Mineeee.”
Mine menoleh dan tersenyum lebar. “Staaaar.”
Star, gadis berusia lima tahun itu langsung menghambur memeluk Mine. “Kak Mine, kangen.” Star menepuk punggung Mine pelan, ia merasa tercekat karena dipeluk erat.
“Star sudah makan?”
Star menggeleng. “Tadi Kak Yara buatin Star pizza, tapi gosong, nggak jadi makan, deh.”
Kayara datang di tengah perbincangan Star dan Mine. “Iya, deh, Kak Yara, kan, masaknya nggak sejago Kak Mine.”
Star menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tertawa. “Tapi nasi goreng sosis Kak Yara juara, Star suka.”
Senyum Kayara kembali mengembang. “Kalo gitu, gimana kalo makan siang? Kak Yara bikinin nasi goreng sosis, mau?”
Star berseru senang, “Yeaaayyy,” matanya beralih ke Mine, “Kak Mine makan siang di sini, kan?” Mine mengangguk, Star semakin senang.
Kayara menepuk pelan pundak Mine lalu tersenyum. “Oma ada di atas, katanya dia minta kamu buat naik kalo sudah datang. Ke atas, gih.”
Mine mengangguk lalu bergegas berjalan menaiki tangga. Di sana ia sempat bertemu dengan Tantenya, Xabara.
“Halo manten baru, cantik banget.”
Mine tersenyum dan menghambur memeluk Xabara. “Tante, Mine kangen.”
Xabara mengusap lembut pundak Mine. “Sudah ketemu Star? Dari tadi malam dia ngamuk minta telepon kamu, untung papanya bisa buat dia tidur.”
Mine melepas pelukan Xabara. “Kenapa nggak nelepon aja, sih? Aku bisa, kok, angkat panggilannya.”
“Eiii, mana boleh, masa pengantin baru diganggu.”
Mine mendesis pelan.
“Oiya, Oma ada di ruangan Yara, kamu masuk aja, dari tadi beliau nunggu kamu.”
Mine kembali bergegas berjalan menuju ruangan Kayara, setelah tiba, ia mengetuk pelan pintunya lalu membuka secara perlahan. “Siang, Oma.”
Kiandra dan Resni sama-sama mendongak. “Cucu Omaa, cantik banget. Sini, dong.”
Mine berjalan mendekat lalu memeluk Kiandra lebih dulu, ia duduk di antara keduanya yang saat ini menatap dari atas sampai bawah.
“Kamu, kok, kurusan, sih, Mine. Nggak dikasih vitamin, ya, sama Mama kamu?” Resni dengan segala kerempongannya gelisah melihat Mine yang menurutnya kurus.
“Tapi kalo sudah nikah bakal berisi, kok, Res. Kayak kita dulu,” sahut Kiandra membela sang cucu.
“Iya, juga, sih. Oiya, gimana kuliah kamu, lancar?”
Mine mengangguk sopan. “Lancar, kok, Oma, tadi baru aja selesai daftar ulang.”
Kiandra menghela napasnya pelan. “Kenapa nggak ambil jurusan desain aja, sih, Mine? Kan, biar bisa nerusin butik Oma, nggak kamu, nggak Kayara, semua pilih CandleLight.”
“Tuh, nggak bersyukur. Kan, butik kamu udah di-handle sama Saffa.” Resni mencoba mengingatkan Kiandra.
“Iya, sih. Tapi, kan, yang ngerti mode anak muda, tuh, ya, mereka-mereka ini, Res, Yara sama Mine.”
Lelah mendengar keluhan Kiandra, Resni dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan. “Udah-udah, jangan bahas itu lagi, kita ke sini, kan, tujuannya mau ngasih ini sama Mine, mana punya kamu, coba keluarin.”
Kiandra seakan tersadar, ia mengeluarkan sebuah botol kecil dari tas Hermes birunya. “Nih, punya aku,” katanya.
Resni kini menatap Mine lekat, ia menyerahkan dua botol kecil yang terlihat seperti obat pada cucunya. “Ini obat penyubur. Kamu minum rutin, kalo abis terus belum hamil, bilang sama Oma, biar Oma bawakan lagi.”
Mine menatap kaget ke arah botol kecil tersebut. “Hah, ini buat Mine?” Kedua omanya mengangguk.
“Supaya cepat hamil?”
“Iya....”
***