9. Angry Mom

1213 Words
"Hah, Mama Saffa nyuruh kita ke rumah? Maksudnya?" Kaiden yang saat ini sibuk menyisir rambut Mine menyahut, "Tadi pagi Mama nelpon aku, katanya kangen, terus besok nyuruh aku sama kamu ke rumah." "Nginap?" "Maybe." Kaiden selesai mengikat rambut Mine lalu tersenyum bangga, "Selesai." Mine membalik tubuhnya menghadap Kaiden, entah sejak detik kapan keadaannya bersama Kaiden seolah mencair setelah beberapa hari sempat tidak begitu akur. "Kalo disuruh nginap, gimana?" Mine menyuarakan kecemasannya. "Ya nginap, kenapa mesti mikir." Mine memutar matanya malas, "Kan kita enggak tidur se kamar." Kaiden lantas tersadar, "Iya ya, ya udah, enggak usah nginap." Mine menggeleng pelan, "Enggak mungkin, Mama Saffa sama Kak Yara pasti maksa kita buat nginap." Kaiden berpikir sejenak, ia menepikan anak rambut yang jatuh di pelipis Mine dan membawanya ke telinga gadis tersebut, "Kalo gitu, ya tidur di kamar aku, di sana aku punya sofa kecil, muat kok buat badan kamu." Mine menangkis tangan Kaiden pelan sambil mendengus, "Ishh, terus Kak Kaiden di kasur, gitu?" "Iyalah, kan kamar aku," sahut Kaiden niat bercanda. "Tega ya, aku udah luka-luka kayak gini, ntar disuruh tidur disofa, mending aku tidur di kamar tamu, atau enggak sama Kak Yara." Melihat ekspresi merajuk Mine, Kaiden lantas tertawa, ia reflek mengacak rambut gadis itu lalu mencubit pipi chubby-nya, "Jangan ambekan, ntar skincare kamu nambah jadi perawatan anti keriput." Mine lagi-lagi melepaskan tangan Kaiden di pipinya, "Becanda ya? Garing tau!" Mine lantas berdiri lalu berjalan menuju tangga, Kaiden masih terkekeh, "Mau ke mana?" "Tidur, enggak lihat noh, udah jam 11." Kaiden kembali memecah tawanya, entah apa yang membuatnya seperti sekarang, ia merasa senang untuk beberapa saat dengan adanya Mine, tiba-tiba sekelebat pikiran mulai merasuki otaknya, menolak sadar, Kaiden menggelengkan kepalanya lalu ikut berdiri, ia juga berjalan ke arah kamar dan berniat tidur. *** Pagi tiba, Kaiden baru selesai beres-beres kamar dan bersiap hendak pergi, sementara Mine sudah terlihat di dapur. "Kan aku udah bilang, jangan masak dulu, kamu masih sakit." Mine menoleh ke arah Kaiden, "Aku udah enggak sakit lagi, kan udah dikasih obat." "Tapikan pasti masih nyeri, bandel banget sih kalo dibilangin," Kaiden mendekat lalu meletakkan tangannya didahi Mine, "Tuh, masih demam." Mine menggeleng agar tangan Kaiden terlepas dari dahinya, "Ini panas karena aku dari tadi ngadepin wajan, bukan karena aku demam." Kaiden masih menatap Mine lekat, "Ya udah sini sutilnya, biar aku yang aduk." Dia merebut sutil di tangan Mine paksa lalu menggeser pelan tubuh Mine. Mine yang terdorong pun mendengus, "Ah, kenapa direbut sih, ntar kalo enggak selesai masak, aku dapet suami yang brewok." Kaiden menoleh dengan ekspresi bingung, "Sejak kapan aku punya jambang?" Mine lagi-lagi mendengus, "Tau ah, nyebelin," melihat Kaiden mengaduk nasi goreng di wajan, Mine langsung melepas apronnya lalu memakaikannya pada Kaiden. Kaiden sempat membeku beberapa detik karena dipasangkan apron oleh Mine, bahkan gadis itu sempat berjinjit kecil agar bisa mengalungkan apron di lehernya. "Udah rapi, kalo kecipratan kan sayang bajunya," gumam Mine lalu berlalu menuju rak piring. Kaiden masih terdiam, ia menatap punggung Mine yang sibuk memilih piring dan mengambil 2 gelas. Lagi-lagi isi pikirannya mulai tidak karuan, Kaiden pun menggeleng pelan lalu kembali fokus pada nasi gorengnya. Agenda sarapan kali ini terasa lebih lama karena Kaiden yang menunggu Mine untuk menghabiskan nasinya. Mine mengeluh tidak ingin sarapan pada awalnya tapi Kaiden memaksanya makan. Karena merasa tidak enak badan, Mine pun enggan membantah, ia pun memutuskan untuk makan walaupun sedikit. Melihat porsi sarapan Mine terlalu sedikit, Kaiden lantas menambahkan nasi goreng ke piring Mine dan memaksanya untuk menghabiskan. Semua Kaiden lakukan karena mengingat Mine terlalu sedikit makan sejak tadi malam, hal itu membuat Kaiden mau tidak mau harus mengontrol makan Mine selama dia sakit. Selesai sarapan, Kaiden dan Mine langsung pergi menuju rumah orang tua mereka. Berjarak tidak terlalu jauh, kini perjalanan singkat mereka usai dalam waktu 25 menit. Saffa dan Alvin tersenyum lebar ketika melihat Kaiden dan Mine tiba di rumah. Mereka pun berseru sambil menyambut di depan rumah. "Anak ganteng sama menantu kesayangan Mama dateng, sini peluk dulu." Saffa memeluk dan mencium Kaiden serta Mine secara bergantian. Begitupun dengan Alvin, ia juga memeluk keduanya secara bergantian. Mine menahan ringisannya saat Saffa dan Alvin memeluknya, ia tidak ingin memberi tahu jika ia punya luka yang belum kering di beberapa titik di tubuhnya. Kaiden menarik tangan Mine pelan untuk berjalan menuju ruang tengah, di sana sudah ada Yara dan juga Star yang kebetulan sejak hari jum'at menginap di rumah. "Kak Mine." Star berseru sambil memeluk. Mine membuka lebar tangannya lalu memeluk gadis kecil tersebut. Semua tampak senang dengan kedatangan Kaiden dan Mine, sampai waktu tidak terasa bergulir dijam makan siang. Tadinya Saffa berniat minta bantuan Mine untuk memasak, tapi Kaiden dengan cepat memberi tahu Mamanya tentang sesuatu sebelum Saffa bertindak. "Boleh enggak, Mine istirahat bentar, Ma, ntar kalo makan siang baru dipanggil." Saffa mengerutkan keningnya bingung, "Lho, kenapa emangnya, dia baik-baik aja kan, Kai?" Kaiden mendekat ke arah Saffa dan berbicara pelan, "Mine kecapekan, Ma, dia juga abis jatuh kemaren, badannya masih panas, kalo enggak masak kali ini, enggak Papa kan?" Saffa awalnya menatap Kaiden datar, tapi setelahnya pikiran kotor mulai mendominasi otaknya, "Hayo ngaku, abis ngapain emang sampai jatuh?" Kaiden memutar matanya malas, "Jatuh yang beneran jatuh Mama, lutut sama sikunya juga luka." Mendengar menantu kesayangannya luka, Saffa mendadak panik, "Ya ampun, Kaiden, kamu gimana sih, jaga Istri kamu kayak apa, kenapa sampai jatuh kayak gitu, mau Mama aduin Onty Rose sama Om Arkan kamu? Atau mau kena bogem sama Om Angga?" Kaiden tidak kalah panik, ia berusaha meredam suara lantang Saffa yang sudah siap mengomel padanya, "Ma, Mama, aduh, jangan kenceng-kenceng, nanti Mine-nya dengar, ah gimana siiih." "Abis kamu, masa sampai Istri jatuh gitu, emang enggak kamu perhatiin?" Saffa mulai memdaratkam cubitan kecil diperut anak prianya, "Dengar ya Kaiden, kalo sampai Mama tau kamu bikin nangis Mine, Mama gantung kamu di pohon toge, mau?" "Iya, iya," Kaiden sontak cemberut, "Sebenarnya anak Mama tuh siapa sih, Mine atau aku, kok aku yang dimarahin." *** Mine saat ini sedang duduk di lantai dengan karpet bulu lembut di kamar Kayara. Setelah lelah menemani Star bermain, akhirnya gadis kecil itu terlelap tidur setelah minum obat penurun panas. "Star kenapa sampai sakit sih, Kak?" tanya Mine. Kemaren main air sama Papa, Papa nyiram tanaman di halaman belakang, dia ikut nimbrung, malamnya demam deh." "Tante Ara tau kalo Star demam?" Yara mengangguk, "Katanya sore ini bakal dijemput." "Yaah, berarti malam ini Star enggak tidur disini dong," keluh Mine. Kayara tersenyum, "Walaupun dia enggak demam, dia tetap bakal dijemput sore ini, Ne, kan besok sekolah." "Iya juga sih." Keduanya masih asik berbincang sampai mereka dikejutkan oleh ketukan pelan pada pintu kamar Kayara. "Masuk!" Seru Kayara dari dalam. Kaiden membuka pintu, ia kemudian masuk lalu duduk di hadapan Mine, "Kenapa enggak istirahat, kan tadi aku suruh tiduran di kamar, nih obat, minum dulu, setelah itu langsung tidur." Mine patuh, ia menelan obat yang tadi diberi Kaiden lalu menimpanya dengan air putih. Melihat Kaiden menatap Mine dengan raut khawatir, Kayara berusaha menahan senyumnya. Sadar jika saudara seperutnya sedang menahan tawa, Kaiden pun menatap malas ke arah Kayara. "Mulut lo kenapa, kram?" Kayara menggeleng, "sialan, nyumpain lo!" "Terus itu apa? Kalo mau ketawa, ketawa aja, enggak usah ditahan." Kayara pun tertawa sambil menutup mulutnya, "iya deh, yang sekarang udah mulai perhatian." Mine terlihat salah tingkah, sementara Kaiden sibuk mengelak, "apaan sih lu, ngelawak? Garing!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD