8. Sumpek

1117 Words
Kaiden memapah Mine menuju mobilnya. Di dalam, sudah ada Disty yang terkejut ketika melihat Kaiden datang tapi tidak sendirian. Disty menoleh ke belakang saat Kaiden memasukkan gadis yang sempat ia temui di toko aksesoris beberapa saat lalu, ketika Kaiden kembali duduk di kursi kemudi, Disty pun bertanya, "Kenapa dia?" Kaiden menatap Mine dari kaca depan, "Jatuh," sahutnya pendek. Disty masih mengernyitkan dahinya, ia kini menoleh ke arah Mine, "Dia luka, lukanya harus cepat dibersihkan." Gadis itu terlihat khawatir. Kaiden mulai menyalakan mobilnya, ia mengemudikan dengan pelan. Di dalam terasa lengang, karena mereka bertiga tidak terlibat percakapan. "Gue bakal anter lo pulang duluan," kata Kaiden ke arah Disty. "It's okay, Kai, dia yang harus kita anter pulang duluan," Disty menoleh ke arah Mine, "Alamat kamu di mana?" Mine yang malas berbicara mau tidak mau harus menjawab, "Antar ke CandleLight aja." Kaiden kembali melirik ke arah Mine, keningnya mengerut, "Enggak, tahan bentar, nanti dikasih obat, gue anter lo dulu, enggak Papa kan Dis, kita batalin hari ini?" Disty terlihat murung seketika, "Batal ya, ya udah deh, lain kali harus jadi ya." Kaiden tersenyum sambil mengangguk. Mine yang melihat jelas adegan itu merasakan dirinya mulai gerah, "Antar aku ke jalan Trisakti aja, rumah aku ada di sana." Kaiden kembali menatap Mine, ia berusaha untuk tidak menanggapi dan membiarkan Mine berkicau sendiri. Ia melajukan mobilnya cepat hingga tanpa terasa kini tiba di depan rumah Disty. "Gue enggak mampir, salam sama Tante Om ya," kata Kaiden setelah membuKakan pintu untuk Disty. Disty mengangguk pelan, "Lo beneran bakal anter dia ke rumahnya kan?" Kaiden lagi-lagi melirik Mine yang terlihat meringis sambil memegang siku berdarahnya, "Iya, aku bakal anter dia ke rumahnya, ya udah, kalo gitu lo masuk gih, gue langsung pergi." Kaiden masuk mobil lalu membuka jendela, ia melambaikan pelan tangannya ke arah Disty sambil tersenyum, "Nanti gue telpon." Mine yang sekali lagi dipertontonkan dengan jelas adegan menyebalkan itu, hanya bisa menghela napasnya pelan, ia tidak sadar jika matanya mulai berair, entah sakit apa yang ia tahan, hati atau luka di tangan dan di kaki. Kaiden dan Mine tiba di rumah mereka. Tanpa menunggu Kaiden keluar mobil, Mine sudah membuka pintu dan berjalan sambil membawa 2 paper bag miliknya. Kaiden menatap gadis itu tidak percaya, dalam kondisi luka, Mine masih bisa berjalan cepat seolah ia tidak merasa sakit sama sekali. Setibanya di ruang tengah, Kaiden menarik tangan Mine pelan, membuat gadis itu menoleh, "Kenapa?" responnya datar. "Tangan sama Kaki kamu harus dibersihkan, sini, duduk dulu, tunggu aku ambil p3k." "Enggak usah, aku bisa kok kasih obat sendiri, lagian enggak parah juga kelihatannya," sahut Mine mencoba untuk terdengar tenang. Kaiden menatap lekat ke arah Mine, dalam pandangannya gadis di depannya saat ini terlihat sangat kacau. Rambut yang tadinya terurai rapi sudah berantakan. Tas yang dipakainya melingkar ditubuh kini sudah ada di paper bag-nya, bahkan salah satu paper bag-nya ada yang robek. Kaiden perlahan mendekat, ia mengambil 2 paper bag dari tangan Mine lalu meletakkannya ke bawah. Ia menarik perlahan Mine agar mau duduk di sofa lalu ia berjongkok di bawah agar bisa sejajar dengan gadis itu. Kaiden mengangkat tangannya untuk membenarkan anak rambut Mine yang berantakan di sekitar wajahnya, gadis itu masih memasang ekspresi datar walau mata mereka masih saling tatap dengan lekat. "Jangan bersikap seolah-olah kamu peduli, kita hanya 2 orang yang tidak menginginkan hidup bersama tapi harus terjebak disituasi yang sulit, jadi jangan semakin mempersulit." Mine ingin berdiri namun Kaiden kembali menarik pelan agar gadis itu kembali duduk. "Kalau bukan sebagai Suami kamu, kamu bisa lihat aku sebagai Kakak, kamu lupa kita tumbuh sama-sama? Bagaimana pun Mine itu Adiknya Kak Kaiden, sama kayak kamu ngerasa kalo Yara itu Kakak kamu." "Beda Kak, gimana pun, dilihat dari sudut mana pun, bagi Mine, Kak Kaiden sama Kak Yara itu beda, jadi jangan sekali-kali usaha buat ngeyakinin aku kalo kalian setara." Mine masih mencoba membantah doktrin yang akan dimasukkan oleh Kaiden. Kaiden terdengar menghembuskan napasnya pelan, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan lalu kembali menatap Mine, "Kamu sekarang lagi sakit, kita obati dulu, baru setelahnya istirahat, kamu sekarang kelihatan capek." Mine lelah, ia sudah kehabisan tenaga untuk berdebat, ia memilih menyandarkan tubuhnya di sofa sementara Kaiden mulai bangun lalu berjalan ke arah di mana kotal p3k berada.  Kaiden kembali ke posisi dimana ia duduk di bawah sementara Mine dibiarkan bersandar pada sofa, ia mulai membersihkan luka Mine perlahan. Sesekali Mine meringis saat Kaiden tidak sengaja menekan luka pada lutut gadis itu, ia dengan cepat menjauhkan tangannya lalu menatap Mine dengan khawatir, "Sakit banget ya?" Mine tidak menyahut, ia hanya mendengus pelan, "Sini, aku bisa sendiri," katanya sambil berniat merebut kapas dari tangan Kaiden. Kaiden yang cekatan dengan cepat menarik tangannya lagi, "Diem dulu, aku dokter, aku yang bakal bersihin luka kamu." Usai membersihkan luka Mine, kini keduanya duduk bersisian, mereka sama-sama menatap lurus tanpa berniat saling bicara. Mine menoleh ke arah jendela besar di sisi kanannya, dilihatnya langit sudah gelap hawa dingin kini mulai menyapa permukaan kulitnya. "Kakak mau makan malam apa?" tanya Mine yang terlihat sudah sedikit tenang. Kaiden menoleh, "Kamu mending mandi dulu, biar aku yang pesan makanan." Mine menggeleng, "Aku yang masak, enggak usah pesan makan." Kaiden mendesah gusar, "Keadaan kamu yang kayak gini mau masak? Enggak aku izinin, muka kamu merah," tangan Kaiden mendarat di dahi Mine lalu merasakan suhunya, "Kamu juga demam." "Aku enggak papa, ntar kalo enggak gerak, badan aku bisa tambah sakit." "Alasan, enggak, pokoknya kamu istirahat, malam ini kita pesan makan aja, enggak ada acara masak-masakan." "Tapi Kak-" "Jasmine Kaniour Mahardika, nurut." Merasa nama panjangnya disebut oleh Kaiden, Mine ciut seketika, ia mulai berdiri kemudian berniat untuk ke kamarnya, saat melewati Kaiden, gadis itu sempat menggerutu dan membuat Kaiden menahan senyum. "Namaku Hakim, kenapa diganti Mahardika."  *** Mine dan Kaiden kini ada di meja makan. Kaiden sudah memasak nasi dan pesanan beberapa lauk juga sudah datang. "Sebanyak ini, siapa yang ngabisin?" Mine menatap tidak percaya ke arah meja makan. Ada ayam kluyuk, ada ayam kremes, ikan panggang dan beberapa sayur seperti cah kangkung dan osengan tahu ada di atas meja. "Kita, kan cuma ada kita berdua," sahut Kaiden enteng. "Tapi ini kebanyakan, makan segini tuh bisa bikin gendut, mana semua makannya berat lagi." Kaiden mendecak pelan, "kamu itu harus banyak makan, biar badan kamu berisi sedikit, kamu enggak ngerasa kalo kamu itu kurus, kamu kalo berdiri di depan rumah terus ada angin, pasti kebawa." Mine membalas Kaiden dengan mendecak pelan, ia menatap jengkel ke arah pria di hadapannya ini, "Enggak boleh body shaming, aku tuh sering sakit, makanya enggak bisa gendut." "Udah tau sering sakit, harusnya di rumah aja, jangan ke mana-mana, apalagi sendiri." "Itu karena aku manusia, perlu udara tambahan dari luar, di rumah sumpek, apalagi ada Kakak, aku enggak bisa gerak bebas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD