Mereka pun berpamitan pulang kepada keluarga Rachel. Bersalaman dengan para keluarga Rachel.
"Hati hati Nak dijalan. Jaga ngebut ngebut," pesan Kakek kepada Benua saat lelaki itu menyalami punggung tangan Kakek.
"Iya Kek."
"Jaga kesehatan Nek. Benua dan Rachel akan menjenguk Nenek dan Kakek kalo ada waktu luang," kata Benua. Ia menyalami punggung tangan Nenek.
"Iya Nak. Kesini lah, Nenek dan Kakek akan merindukan kalian."
Acara pamitan pun selesai. Kini Rachel dan Benua sudah menuju jalan pulang kejakarta lagi.
Barang barang Rachel sudah dipindahkan kerumah Benua dan sudah disusun juga sama Bi Yumi dikamar Benua.
Sepanjang jalan Rachel hanya tidur saja. Waktu tidurnya kurang karna pesta pernikahan selesai sangat malam dan malam tadi juga ia habiskan untuk mengobrol dengan Benua.
Mobil benua sampai di rumah sakit. Ia akan mengecek kandungan Rachel. Benua melepaskan seatbel nya dan seatbel Rachel juga.
"Rachel," panggil Benua lembut.
"Ayo bangun. Udah sampai dirumah sakit. Cek kandungan dulu," ucap Benua.
Rachel mengerjapkan matanya ia melihat wajah Benua yang begitu dekat sekali dengan wajahnya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Benua tersenyum dan mengecup pipi istrinya dengan sayang.
"Ayo, cek kandungan dulu," ajak Benua.
"Aku ngantuk Ben."
"Bentar aja. Setelah itu baru kamu boleh tidur lagi."
Rachel pun mengangguk. Benua terlebih dahulu memberikan gadis itu minum biar kesadarannya terkumpul.
Benua mengambil nomor antrian dan menunggu di kursi tunggu didepan ruang dokter kandungan.
Benua duduk disamping Rachel dan mengenggam tangan gadis itu. Rachel menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan. Ia bersandar dibahu Benua. Disini banyak ibu ibu. Ini nih yang buat Rachel malas.
"Itu kan masih muda. Kok ngantri sama kita ya."
"Namanya juga anak jaman sekarang bu. Hamil diluar nikah palingan tuh."
"Perutnya juga nggak kelihatan hamil. Palingan cek kesehatan. Jangan suudzon."
"Gimana kita mau suudzon. Masa ngantri disini sih. Ya pastinya cek kandungan lah."
Rachel melirik ibu ibu yang membicarakannya ia menatap sinis ibu ibu itu. Benua mendengarnya ia hanya acuh saja.
"Pulang aja lah Ben." Rachel sudah malas dengan situasi seperti ini.
Benua menoleh ke Rachel dan membelai pipi gadis itu yang cemberut sekarang. "Jangan didengerin. Diam aja."
Rachel pun memilih diam. Tapi matanya tetap menatap ibu ibu itu sinis. Hingga akhirnya nama Rachel dipanggil masuk. Dokter terkejut melihat siapa yang masuk.
"Ayo berbaring dulu," ucap dokter.
Rachel menurut dan berbaring saja. Dokter menyingkap baju Rachel dan memoleskan gel diperutnya.
Dilayar monitor tampak hanya ada segumpal daging saja yang Rachel yakin itu adalah anaknya.
"Usia kandungan sudah memasuki enam minggu ya. Diusia hamil muda ini rentan sekali keguguran. Jadi saya sarankan Bapaknya harus menjaga istrinya lebih sabar lagi ya. Diusia hamil muda ini. Bisa jadi ibu hamil stres dan yang lainnya," jelas dokter.
Dokter pun banyak menjelaskan tentang ibu hamil kepada mereka berdua. Dokter hanya positif thingking aja mungkin menikah diusia muda.
Rachel tak begitu mendengarkan dokter hanya Benua saja yang mendengarkan dokter dan selalu bertanya. Mood Rachel sudah hancur saat ibu ibu itu membicarakan dirinya.
Rachel menunggu dikursi tunggu. Benua menebus obat dan vitamin untuk Rachel.
"Rachel kan?" Rachel yang sedang memainkan ponselnya mendongakkan kepalanya menatap lawan bicaranya.
"Iya, siapa ya?"
"Gue Tama."
"Oh, gue ingat."
Rachel hanya tersenyum saja.
"Ngapain disini?" tanya tama.
"Lagi nungguin obat. Lo sendiri?"
"Mau jenguk sepupu gue. Duluan ya."
"Oke."
Tama pun pamit duluan. Setelah Tama hilang tak bisa dipandang Rachel lagi. Benua datang dengan sekantong obat ditangannya. Rachel tak bertanya lagi.
"Singgah ke cafe dulu. Mau beli kopi," ujar Benua. Rachel hanya mengangguk.
Mereka pun menyebrangi jalan menuju cafe disebrang sana. Gadis itu masih memasang wajahnya cemberut dan duduk didepan cafe.
"Ayo masuk," ajak Benua.
"Nggak mau!"
"Kok gitu?" Benua pun duduk disamping Rachel.
"Kan aku bilang jangan dipikirin omongan ibu ibu tadi," sambung Benua.
"Tapi kan aku kesal! Masa omongannya nggak difilter dulu. Aku tersinggung loh Benua."
"Buat apa tersinggung memang kenyataan begitu."
Rachel semakin bete banget. Selalu saja mengatakan memang kenyataan begitu. Rachel tak terima aja kenyataannya begitu.

"Yakin mau nunggu disini?" tanya Benua.
"Iya sana masuk!" usir Rachel.
Benua malah memegang dagu Rachel membuat gadis itu semakin kesal. Rachel menepis tangan Benua.
"Ngambek terus," cibir Benua.
"Biarin! Sana masuk. Aku tunggu disini!"
Benua pun memilih masuk kedalam memesan kopi nya. Rachel memandangi jalan raya. Ia merasa bosan sekali.
Setelah memesan kopi. Mereka kembali ke dalam mobil dan Benua melajukan mobilnya. Rachel kembali tertidur. Ia cukup mengantuk sekarang. Akhir akhir ini ia sering merasakan lelah.
~ ~ ~ ~
Benua pun sampai dirumahnya. Ia tak tega membangunkan Rachel. Ia menggendong tubuh gadis itu ala bridal style dan membawa nya kedalam kamar Benua.
Benua membaringkan Rachel dikasur. Gadis itu hanya sarapan pagi saja dan ini sudah siang. Benua menarik selimut untuk menutupi tubuh Rachel yang memakai baju pendek dan mengecilkan AC nya.
Ia pun turun kebawah melihat Bi Yumi sedang memasak.
"Bi, makanan bagus untuk ibu hamil apa ya?" tanya Benua sambil memperhatikan Bi Yumi masak.
"Sayuran bagus kok untuk ibu hamil. Bibi buatkan sop aja mau enggak?"
"Boleh Bi. Benua nunggu sambil makan ya," kata benua.
"Siap Den."
Benua menunggu sambil memakan nasi yang sudah siap di atas meja. Setelah ia makan. Benua akan membawakan makanan untuk Rachel. Gadis itu cukup lama juga tidurnya.
"Bibi potongkan buah mau Den?" tawar Bi Yumi.
"Boleh Bi."
"Oh iya Bi. Kalo kayak Rachel itu gimana ya Bi, dia susah banget minum s**u ibu hamil. Katanya rasanya nggak enak. Memang benar sih rasanya itu aneh."
"Oh kalo itu memang ada yang gitu Den. Ada yang suka ada yang enggak Den. Kalo Non Rachelnya nggak mau minum s**u ibu hamil diganti dengan jus buah aja Den. Tapi nggak usah sering juga. Karna s**u ibu hamil itu juga penting Den. Diselingi aja biar nggak bosan."
Benua mengangguk ada benarnya juga kata Bi Yumi. Setidaknya ia sudah tau sedikit mengenai ibu hamil. Dia belum terlalu mengerti soal wanita dan kemauan wanita. Ia akan mempelajari itu semua. Biar bisa menjadi suami yang baik dan idaman.