Jalan pagi akan membuat tubuh kita menjadi sehat. Ini juga bagus untuk ibu hamil. Benua pagi pagi sudah bangun. Setelah melaksanakan sholat subuh. Ia pun membuka google dan mencari tau tentang ibu hamil.
Ia mau anaknya dan Rachel sehat. Biarpun anak itu adalah kesalahannya. Tapi tuhan sudah menitipkan kepada mereka berdua dan akan dijaga dengan baik.
Memiliki anak diusia muda memang terdengar aneh ditelinga mereka berdua apalagi menikah muda dan menjadi orangtua muda.
Tak pernah terbayangkan oleh mereka. Biarpun Benua pernah sesekali membayangkan menikah muda.
Desa yang begitu asri. Penduduk ramah dan suasana yang sangat menyejukkan membuat Rachel mengeratkan jaketnya dan mengenggam tangan Benua begitu erat.
Sesekali mereka membalas sapaan warga kampung. Semua desa juga tau sama keluarga Rachel. Karna Kakek Rachel berpengaruh besar di desanya dan desa sebelah.
Kakek Rachel merupakan orang terkaya di desa ini selain kaya Kakek Rachel terkenal dermawan dan ramah. Tidak memandang kasta, bahkan Kakek dan Nenek Rachel masih suka ke ladang ataupun ke kebun.
"Wah Rachel katanya mau menikah ya. Enak ya menikah di usia muda. Semoga tamat sekolah langsung dapat momongan," sahut salah satu warga desa yang sedang menyapu halaman rumahnya.
"Makasih mbak Wati," balas Rachel.
Banyak bisikan dari gadis desa saat melihat Benua. Lelaki itu sangat tampan sekali. Gadis desa, mereka saling berbisik bisik. Namun Benua hanya acuh saja dengan tampang datarnya.
"Ben, kok diam?" tanya Rachel.
Benua tersenyum. "Ngga papa."
Mereka berdua melanjutkan jalannya. Benua hanya risih saja saat gadis desa terang terangan menggoda dirinya. Namun Rachel malah tertawa saat melihat wajah bete Benua.
Jika Rachel tidak hamil dan malam itu tidak terjadi. Ia tak akan sedekat dengan lelaki lembut ini yang susah didekati perempuan manapun.
Saking tak pernah dekat dengan perempuan. Rumor disekolah sering beredar tentang Benua. Banyak yang bilang Benua gay atau Benua menyukai adik perempuannya Caca secara diam diam. Karna memang Benua dan Caca sering terlihat romantis. Ya wajar saja mereka adik kakak. Cuman sudut pandang orang beda beda.
Dan baru kali ini Benua sedekat ini dengan perempuan lain atau Rachel. Wajar saja ia bersikap lembut dan perhatian pada Rachel. Selain menghormati perempuan, Rachel adalah ibu dari anak anaknya.
"Capek nggak?" Benua memandangi Rachel. Gadis itu menggeleng.
Rachel sangat asyik sendiri saat mendapat sapaan dan ajakan ngobrol dengan warga desa. Benua nimbrung ngobrol ketika ditanya saja dan lebih memilih murah senyum dan itulah yang membuat gadis desa kegirangan.
"Itu si cowoknya kasep pisan euy. Apa cowok di jakarta semuanya kayak dia?"
"Kata Rina yang tinggal dijakarta. Kalo cowok jakarta emang ganteng ganteng banget."
"Tuh, ceweknya aja cantik. Wajarlah cowoknya ganteng."
"Itu cewek cucunya Kakek Wijaya. Mereka kesini mau melangsungkan pernikahan."
"Oh, kenapa nggak dikota? Kenapa milih dikampung apa dia hamil?"
"Bukan gitu. Nenek Yuni yang mau kalo cucunya menikah itu di desa."
"Oh gitu. Kirain ada hal lain."
"Yah sayang banget ya. Kirain mereka kakak adik. Kalo Kakak adik sih jadi kita bisa deketin Kakaknya."
Rachel mendengar gosipan gadis desa ini. Ia tersinggung saat gadis desa bilang bahwa ia hamil. Semuanya memang benar. Tapi bukan berarti gadis kota itu tidak baik. Cuman ia saja yang tidak baik. Karna kesalahan pada malam itu saja.
"Jangan didengerin," kata Benua tanpa menoleh ke Rachel.
"Tapi gue tersinggung Ben."
"Buat apa tersinggung memang kenyataannya lo hamil. Udahlah jangan diambil hati. Ambil hal postifnya aja."
Rachel hanya mengangguk saja. Ia tak mau memperpanjang masalah juga. Saat berjalan jalan didesa. Rachel melihat orang jual bubur ayam dan berinisiatif untuk singgah sekalian mengisi perut yang kosong ini.
Benua pun memesan bubur ayam. Mereka makan dengan tenang. Udara pagi begitu menyegarkan bagi Rachel. Tidak seperti dikota yang sudah dipadati dengan gedung tinggi dan kendaraan yang banyak sekali.
Dirumah Kakek Rachel sudah dipasang tenda pernikahan. Mereka begitu antusias sekali dalam membuat pesta pernikahan Rachel dan Benua.
Pesta ini sangat meriah sekali dan harus menjadi kenang kenangan juga.
~ ~ ~ ~
Semua teman teman Rachel dan Benua sudah sampai. Mereka memilih ikut dirombongan benua untuk menuju ke rumah orangtua Rachel.
Pakaian pernikahan mereka adalah adat sunda. Sesuai dengan adat Kakek Rachel dan Sergio juga. Mereka memang sepakat memakai adat sunda yang lebih adem dipandang mata.
"Hapalin ijab kabulnya." Alfa melemparkan kertas kepada Benua yang sedang memainkan ponsel.
"Udah hapal gue," kata Benua.
Alfa, Marvel, dan Vinno duduk di depan Benua yang tampak enteng. Sedangkan didalam rumah mereka sangat sibuk berdandan. Maklumlah namanya perempuan ya rempong.
"Gugup nggak sih Ben?" tanya Vinno.
Benua pun memasukkan ponselnya kedalam saku celana nya dan memandangi temannya satu persatu.
"Juan mana?" tanya Benua saat tak melihat lelaki itu.
"Kumpulan dia cewek cewek. Lagi make kebaya dia nya. Karna dia ada bawa wig. Gilaaa gue pangling lihat Juan sumpah! Dia kayak cewek banget cuman sayang dibawahnya pedang," tutur Vinno.
"Gugup? Iya sih. Namanya juga ijab kabul," jawab Benua.
Juan lelaki itu persis perempuan banget. Ya gitulah Juan. Dia itu perempuan nggak jadi.
Rachel sedang didandan sama tukang rias. Alhamdulillah hari ini ia tak ada muntah muntah. Mungkin anaknya tau kalo orangtuanya akan menikah hari ini.
Rombongan Benua pun turun dari rumah diikuti 2 penari jaipong didepannya dan suara sinden sunda yang membuat benua semakin gugup. Benua didampingi orangtuanya.
Teman dan keluarganya ada yang membawa seserahan untuk Rachel. Benua dipayungi oleh tukang payung yang memang bertugas membawa payung.
Penduduk desa banyak yang keluar rumah saat melihat arak arakan ( perjalanan pengantin pria menuju ke rumah pengantin wanita )
Mereka sampai dengan disambut tarian jaipong terlebih dahulu. Setelah itu mereka baru dipersilahkan masuk.
Rachel yang mendengar bahwa rombongan benua sudah sampai semakin gugup.
"Diluar udah ramai Aunty?" tanya Rachel kepada Aunty nya.
"Udah, rombongan Benua udah datang. Tinggal ijab kabulnya dan baca surah arrahman dulu. Baru kamu keluar."
Rachel mengangguk. Lagian dandanannya belum selesai juga. Ijab kabul pun berlangsung. Setelah ijab kabul pembacaan surah arrahman dari Benua. Barulah Rachel keluar dari rumahnya menuju pelaminan.
Benua terpanah dengan kecantikan Rachel begitu juga yang lainnya. Rachel yang mendapatkan tatapan seperti itu menjadi semakin gugup.
Rachel duduk disamping Benua saat Aunty nya membantu dirinya untuk menuju ke pelaminan.
"Cantik," bisik Benua tepat ditelinga Rachel membuat semburan merah dipipi Rachel.
Mereka bertukar cincin. Setelah itu Rachel mencium punggung tangan suaminya begitupun benua mengecup dahi istrinya cukup lama membuat jantung Rachel tak henti hentinya berdisko sama seperti Benua.
Setelah acara itu. Mereka melanjutkan dengan sungkeman kepada keluarga dengan iringan sinden sunda dan ucapan membuat suasana semakin haru.
"Papa pesan sama kamu. Jangan pernah kamu lukai hati istri kamu bagaimanapun. Percayalah bahwa seorang istri hatinya sangat lembut sekali. Jika tergores sedikit saja, itu akan membekas biarpun kamu tidak mengetahuinya. Istri bisa menyimpan rasa sakitnya sangat rapat sehingga yang kamu tau dia hanya bahagia. Perempuan itu hatinya lembut. Papa nggak suka kalo anak Papa main tangan. Bicara baik baik," pesan Alby.
Benua memeluk Papanya. Ia tidak akan pernah melukai hati istrinya. Ia akan menjaga Rachel sama seperti Papanya menjaga Mamanya dengan selembut mungkin.
Sungkeman ini diiringi tangisan dari pengantin maupun keluarga yang bersedih. Penduduk desa hanya tau ini pernikahan muda. Namun keluarga sudah tau kalo kesalahan lah yang membuat mereka menikah muda.