Bab 16

1108 Words
Mobil Benua pun memasuki perkampungan yang begitu asri. Kiri kanannya di d******i dengan kebun teh dan orang bersepeda. Jam juga sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ya Benua singgah ke hotel dulu saat gadis itu muntah muntah dan biar lebih enak istirahatnya Benua mencari hotel. Biar Rachel tak merasa kesakitan ditubuhnya kalo lama lama duduk. Setelah melewati perkebunan teh. Kini mobil Benua memasuki perkampungan. Banyak orang yang melihat mobil Benua. Karna mobil lelaki itu mahal dan keluaran terbaru tak seperti keluarganya yang membawa mobil keluarga dan ada yang membawa mobil alphard. Rachel. Gadis itu tertidur. Mungkin tenaga nya terkuras habis karna terlalu banyak muntah. Setelah muntah tadi Rachel menolak untuk makan. Benua pun sampai ditempat keluarga Rachel. Ia tau karna ada Lucas bersama seorang pria paruh baya yang cukup tua dari Lucas dan diyakini Benua adalah Kakeknya Rachel. Benua keluar dari mobil dan memutari mobilnya. Ia menggendong Rachel ala bridal style. Gadis itu masih anteng tertidur. "Benua, Rachel kenapa?" tanya Lucas. "Dia tidur Om. Mungkin capek perjalanan jauh." "Yaudah bawa ke kamarnya dilantai 2. Di depan kamarnya ada namanya." Benua mengangguk dan langsung membawa gadis itu masuk kedalam rumah. Ternyata disana ada Sarah, Neneknya Rachel dan Aunty nya Rachel. Benua membuka pintu yang bewarna coklat itu. Dikamar ini di d******i warna abu abu dan putih. Benua langsung membaringkan Rachel dikasur dan menarik selimut gadis itu. Ia tersenyum dan tangannya terulur mengusap rambut Rachel. "Selamat istirahat." Benua turun kebawah lagi. Ia memilih bersalaman dulu dengan keluarga Rachel. Setelah itu ia keluar rumah dan menyalami Kakek dan Ayahnya Rachel. "Duduk dulu Nak. Kamu pasti capek dari perjalanan jauh," ucap Kakek. Benua mengangguk dan duduk disana. Kursinya juga, kursi jati jaman dulu yang bisa diduduki satu orang saja. "Kenapa lama Nak? Apa kamu tersesat?" "Tidak Kek, saya dan Rachel berhenti di hotel dulu. Rachel nya muntah muntah Kek. Saya tak mau dia kecapean dan memilih menyewa kamar hotel untuk sebentar saja, untuk beristirahat," jelas Benua. Terlihat senyuman dari pria tua itu. Sarah pun menghidangkan makanan dan minuman kepada Benua dan bergabung disana. "Benua," panggil Sarah. "Iya Tante." "Minumlah." Benua mengangguk dan meminum minuman yang dihidangkan. "Benua, Rachel itu anaknya manja. Jadi Bunda mau kamu harus sabar menghadapi sikap Rachel. Waktu Bunda hamil Rachel, Bunda mabuk kuat banget dan sering muntah sehingga Ayah harus siap siaga 24 jam. Percayalah Rachel akan berada di posisi itu. Apalagi dia hamil muda dan itu akan membuatnya mudah lelah," jelas Sarah. "Tenang aja Tante. Insyaallah Benua akan menjadi suami yang siap siaga dengan Rachel. Lagian Benua baru pertama kali mengenal perempuan selain adik, Mama dan aunty aunty Benua. Insyaallah Benua bisa Tante," tutur Benua. Kakek Rachel seperti sangat bernapas lega sekali. "Benua, Rachel itu cucu perempuan Kakek satu satunya. Jangan pernah menyakiti hatinya. Sesungguhnya Kakek tak pernah melukai hati Neneknya. Jadilah imam yang baik. Kalo ada masalah selesaikan dengan kepala dingin. Jangan dalam keadaan emosi, kalo selesaikan dalam keadaan emosi. Masalah akan bertambah dan perkataan yang tak harusnya disebutkan akan keluar. Disitulah rumah tangga kalian di uji." ~ ~ ~ ~ Dinda melihat Benua yang baru datang ke penginapan keluarga. Ia langsung pamit masuk kedalam kamarnya. Dinda pun mengikuti Benua masuk kedalam kamar dan duduk ditepi ranjang. Benua membuka kopernya dan memilih masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Ia tau akan ada pertanyaan tidak bermutu dari Aunty nya ini. Dinda masih setia menunggu Benua keluar dari kamar mandi. Benua pun keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil laptopnya. Membuka laptopnya dan membalas email disana. "Benua," panggil Dinda. "Apa, Aunty?" "Kamu orangnya nggak sabaran ya?" tanya Dinda. "Apasih!" kesal Benua. "Masa teman Caca kamu perawanin sih. Gimana rasanya waktu bikin enak nggak?" "Aunty keluar dari kamar Benua," usirnya dengan halus. "Sempit enggak?" "Aunty!" "Yaelah Benua jadi orang sabaran napa. Entar bakal ada gilirannya. Ini malah langsung dibawa kekamar. Kasi tau Aunty dong. Rasanya gimana?" goda Dinda. "Papa Aunty Dinda nih gangguin Benua. Nanya nanya yang aneh!" teriak Benua. "DINDAAAAA!" Dinda mendengus sebal. Ia pun keluar dari kamar Benua dan membanting pintu itu cukup keras. Aunty Dinda nya ini memang super rese. Benua pun memilih menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Sedangkan keluarganya sudah dirumah keluarga Rachel untuk makan disana. Selama menginap dikampung Kakek Rachel. Mereka akan makan disana bukan di penginapan. ~ ~ ~ ~ Rachel mengerjapkan matanya berkali kali menyesuaikan cahaya lampu yang masuk kedalam retina matanya. Ia melihat sekelilingnya ternyata sudah didalam kamar. Ah ia lupa bahwa dirinya tertidur di mobil. Entah kenapa Rachel merasakan rindu dengan Benua. Ia ingin terus berada di samping lelaki itu. Apa karna anaknya ini. Rachel pun memilih untuk masuk kedalam kamar mandi. Membersihkan dirinya karna hari sudah malam. Ia lama tertidur setelah muntah muntah tadi. Rachel keluar dari kamar mandi. Ia menggosok rambutnya dengan handuk dan duduk dimeja rias. Banyak pesan masuk diponsel gadis itu. Rachel pun berinisiatif membuka roomchatnya. Ia penasaran dengan salah satu nomor yang mengirimnya pesan. +6287410****** Hai Rachel Siapa ya? Rachel mengernyitkan keningnya bingung. Baru juga ia meletakkan ponselnya. Pesan aneh itu ada balasan juga. Gue Tama. Oh Lagi apa? Dapat nomor gue darimana? Ada deh Gajelas Boleh gue kenal lo lebih dekat? Maaf Rachel hanya membalas pesannya itu saja. Ia juga masa bodo dengan orang itu. Tama? Ya cowok yang mengajak dirinya kenalan. "RACHELLL!" pekik Arion dengan membawa nampan berisikan makanan. Rachel menatap Arion tajam. Lelaki itu menutup pintu kamarnya. "Bisa nggak masuk itu ketuk pintu dan ucapkan salam?!" "Assalamualaikum mama muda," ucap Arion dengan senyuman semanisnya. "Telat!" "Makan dulu, Hel. Di bawah lagi ramai banget sama keluarga nya Benua." Rachel pun duduk ditepi ranjang. Arion meletakkan nampannya disana dan meletakkan segelas air putih di nakas agar tak tumpah. "Dibawah ada Benua?" tanya Rachel. Arion menggeleng. "Nggak ada. Kenapa lo kangen sama Benua?" goda Arion. "Apaan sih gaje tau nggak!" sungut Rachel dan memilih makan saja. Arion mengedikkan bahunya acuh. Ia beralih kemeja rias Rachel dan mengambil liptint memakaikan dibibirnya. "Yon, itu punya cewek. Ngapain pakai dibibir lo sih?!" Arion mendekati Rachel dengan membawa ponsel gadis itu. "Biar bibir gue nggak pucat." Rachel menatap Arion sendu. Arion adalah anak angkat di keluarganya. Tetapi Rachel selalu menganggap Arion adalah bagian dari keluarganya juga biarpun cuman anak angkat. Arion sepupu kesayangan Rachel. "Yon," panggil Rachel. "Apa?" "Dia masih ada didalam tubuh lo?" Arion yang memainkan ponsel Rachel pun terdiam. Ia menatap kosong ponsel itu. Untuk mencairkan suasana. Ia membuka w******p ponsel Rachel. "Oh jadi Tama udah dapat nomor lo?" tanya Arion sambil menunjukkan isi chat yang tak dibalas Rachel. "Iyon, kebiasaan deh. Jangan suka buka buka aplikasi ponsel Rachel sembarangan!" Rachel merampas ponselnya. Ia tahu bahwa Arion mencoba menghindar dari pertanyaannya. Penyakit itu memang membuat Arion terlihat lemah. Agar tak terlihat lemah. Arion selalu berusaha tegar dan selalu ikut tanding basket. Padahal fisiknya tidak begitu kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD