Bab 15

1096 Words
Benua masuk kembali kedalam mobilnya dengan kantong besar. Ia mengambil sesuatu disana dan menyimpan kantong itu di kursi penumpang. Rachel hanya memperhatikan Benua saja. Benua membuka minyak kayu putih yang ia beli tadi. Benua pergi ke supermarket yang jaraknya lumayan jauh. Rachel juga lama menunggu Benua didalam mobil. "Sini lihat dahi nya," pinta Benua lembut. Rachel pun mendekati wajahnya ke Benua. "Maaf ya ngerem mendadak tadi. Jangan ngomong kayak gitu lagi," ucap Benua sambil memoleskan minyak kayu putih itu didahi Rachel. "Maaf." "Ngga papa. Gue ngerti kok. Kita lewati ini sama sama. Gue akan bimbing lo terus. Jangan mikir aneh aneh lagi. Anak ini nggak salah yang salah kita." Benua pun selesai mengusap dahi Rachel yang merah itu. Sekarang sudah tidak memerah lagi. Ya karna udah lama juga didiemin Rachel. "Tapi, aku lapar Ben." Benua mengambilkan cemilan yang ia beli tadi di supermarket. Ia juga membelikan salad buah dan mangga muda. Biasanya orang hamil suka mangga muda. "Nih, makan." Rachel tersenyum saat melihat cemilan dan salad buah. Ia lebih berbinar lagi ketika melihat mangga muda. Baru saja ia ingin minta pada Benua. Lelaki ini memang sangat peka sekali. "Makasih." "Sama sama." Benua kembali melajukan mobilnya ia akan terlambat sampai kebandung. Jika banyak singgah dan karna kejadian tadi juga. Rachel sangat bersyukur memiliki Benua yang penyayang padanya. Entahlah rasa sayang itu untuk Rachel atau anaknya saja. Percayalah cinta tumbuh seiring berjalannya waktu dan kebersamaan. ~ ~ ~ ~ Sedangkan para keluarga sudah datang. Perjalanan mereka cukup lama juga memakan waktu 3 jam. Namun calon pengantinnya belum ada lagi batang hidungnya. Alby pun memutuskan untuk kembali ke penginapannya saja. Setelah singgah ketempat orangtuanya Sarah. "AUNTYYYY DINDAAAA!" Caca langsung menghambur kepelukan Dinda. Ia sangat merindukan Dinda yang sibuk ini. Dinda datang bersama suaminya. Begitu juga dengan Qailla. Dinda melepas rindunya dengan Caca. Sudah lama tidak melihat Aunty nya setelah menyapa Dinda, Caca pun menyapa Qailla. Ia langsung beralih pada kedua Kakeknya dan duduk dikarpet bersama keponakannya yang lumayan banyak ini. Qailla memiliki dua anak. Daisy arrastya dan Zean deovano. Marsya kakaknya Kella memiliki anak bernama Teresha zefanya. Sedangkan dari keluarga Alby, Milya mempunyai anak bernama Tapasya gaessinya. Dinda masih rahasia. Baca aja cerita Dinda Troubleshit. *Fyi. Buat yang penjelasan di atas ini bagi yang baca Saquella aja ya. Yang baca langsung Rachusbend nggak usah dipahami ntar nggak ngerti hehe. "Daisy, ambil mainannya," suruh Caca saat Zean membuang mainan. Daisy sebagai kakaknya Zean pun mengambil mainan yang dibuang adiknya. Alby menceritakan semuanya kembali kepada keluarganya dan keluarga Kella. Caca hanya menjadi pendengar yang baik saja. Sedikit menguping juga. "Ad asrama untuk Caca. Disana fasilitasnya bagus dan terjamin. Harganya lumayan mahal juga. Tapi penjagaannya ketat," sahut Fedrik papanya Alby. "Iya By, Caca nya masuk disana aja. Pendaftarannya 897 juta lumayan sama fasilitasnya. Satu kamar diisi 3 orang. Kita ambil pembayaran pertahun aja. Setahunnya ya kisaran 500 sampe 600 juta. Setiap tahun naik sampai 5 atau 7 jutaan. Daerahnya juga jauh dari kota." "HAH! Berarti Caca jauh dari Mama dong?" kaget Caca saat mendengar kata jauh dari kota. Padahal ia sudah merencanakan rencana yang super licik. Kalo asramanya masih dikota. Ia akan mudah untuk kabur sebentar dan kembali lagi ke asrama. Kalo kayak gini bagaimana ia mau tawuran dan balapan liar lagi. Aish! "Jangan membantah!" tegas Fedrik. Caca hanya bisa cemberut saja. Kalo para Kakek dan Papanya kumpul susah meminta keringanan. Fedrik memang lebih tegas daripada Sergio. ~ ~ ~ ~ Sedangkan Benua dan Rachel belum sampai sampai lagi. Karna mereka banyak singgahnya. "Ben, gue lapar. Pengen sate," pinta Rachel. "Kita cari dulu ya orang jualan sate nya." Rachel mengangguk. Benua sama sekali tak ada mengeluh ketika Rachel meminta macam macam. Ia jadi bersyukur memiliki Benua. Benua menepikan mobilnya saat melihat penjual sate dipinggir jalan. Bukannya turun, Benua malah memandangi Rachel begitu lekat. "Dari tadi mau makan terus. Baby nya yang mau apa Mamanya?" goda Benua membuat pipi Rachel memanas. Rachel mengulum senyumannya saat Benua memanggilnya dengan Mama. Semburan merah terlihat dipipi Rachel. Benua gemas ingin menciumnya. Namun ia masih belum berani karna tak terikat hubungan apapun. "Ben, apa gue boleh bilang sesuatu?" tanya Rachel seraya menghilangkan gugupnya. "Apa? Lo suka sama gue? Hm." "Jangan ge-er. Gue mau narik kata kata gue kalo gue benci sama lo." "Mau diganti dengan kata kata apa?" "Nggak ada! Cuman mau bilang itu doang," acuh Rachel. "Yaudah ayo turun. Gue nggak mau anak gue jadi kurus. Anak gue harus sehat." Rachel terkekeh pelan. Ia pun turun setelah Benua membukakannya pintu mobil. Lelaki itu sangat perhatian sekali dengannya. Entah perhatian untuk anaknya atau untuk Rachel. Rachel tak mempermasalahkan itu. Biarkan saja, Benua juga selalu berusaha bersikap lembut kepadanya dan selalu mau menuruti keinginannya itu saja membuat Rachel sangat senang. "Mang sate 2 porsi." Benua pun duduk disamping Rachel setelah memesan makanan. "Minumnya enggak?" tanya Rachel. "Mau minum apa?" "Teh es." Benua pun pergi dari hadapan Rachel. Benua kembali kemobil dan mengambil sebotol air mineral dan memberikan kepada Rachel. "Gue mau teh es. Bukan air putih ini lagi," keluh Rachel. "Nggak baik buat kesehatan. Lo lagi hamil, minum yang ada aja." "Yaudah air mineral dingin boleh?" Rachel menunjuk pedagang kaki lima yang menjual minuman dingin. Helaan napas berat pun terdengar dari Benua. Ia pun menuruti keinginan Rachel. Benua menyeberang jalan dan membeli minuman disana tak lupa juga ia membelikan s**u milo untuk Rachel. Benua ada membelikan s**u hamil dengan dua rasa vanila dan coklat. Cuman butuh waktu lagi untuk diseduh dan ia tak memiliki persediaan itu semua. "Udah kan?" Benua meletakkan sebotol air dingin dan s**u milo. "Makasih." "Sama sama." Pesanan mereka pun datang. Rachel begitu semangat sekali memakan sate nya. Ia sangat suka sate untuk saat ini. Rachel tak ada kata kenyang untuk makan. Ia ingin selalu mengunyah terus terusan. Mereka pun selesai makan dan kembali kedalam mobil. Sudah terlalu banyak singgah dari membeli batagor, cilok, ketoprak, boba dan masih banyak yang lainnya. "Sekarang udah kenyang kan?" tanya Benua sambil melajukan mobilnya. Benua melihat jalan yang akan ia tuju melalui GPS mobilnya. Kalo bertanya sama Rachel terlalu ribet. "Udah, tapi-" Rachel menggantung ucapannya. "Mau apa lagi?" Rachel terdiam. Ia bingung mau apa tapi ia menginginkan sesuatu. Entah apa itu. Benua yang merasa Rachel diam pun tak menoleh. Tangannya terangkat mengelus kepala Rachel dengan lembut. "Tidur ya." Benua menepikan mobilnya lagi. Rachel menoleh ke Benua. Lelaki itu memundurkan sedikit kursi Rachel dan sedikit memundurkan sandaran kursi juga. Benua mengambil bantal Caca yang ada didalam mobilnya. Menyimpan bantal besar itu dikaki Rachel setelah melepaskan sendal Rachel. "Bersandar ya. Biar enak tidurnya. Perjalanan masih 1 jam lagi." Rachel mengangguk. Ia pun bersandar. Rasa nyaman menyelimuti dirinya. Benua kembali melajukan mobilnya setelah gadis itu bersandar di kursi mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD