Bab 13

1163 Words
Caca menuruni anak tangga dengan perasaan kecewa. Karna Rachel sama sekali tak bergeming dan tetap diam. Caca menghampiri orangtuanya dan duduk disofa samping Benua. "Rachel marah sama Caca. Caca ajak ngomong Rachelnya diam aja," keluh Caca dengan memanyunkan bibirnya. "Rachel tidak marah Ca. Setelah Om dan Tante menjemputnya. Ia sama sekali tak mau berbicara. Sampai sekarang ia tak mau berbicara. Entah apa yang membuat Rachel seperti itu," jelas Sarah. "Apa boleh Benua melihat Rachel?" tanya nya pada Sarah. "Boleh Benua. Silahkan aja, pintu kamar Rachel yang warna coklat." Benua mengangguk. Ia pun menaiki tangga. Jantungnya berdebar, ia baru pertama kali merasakan ini. Sebelumnya tidak. Karna Benua baru pertama kali mendekati seorang gadis selain Mama, Caca dan para Aunty Aunty nya itu. Glowy? Ah gadis itu memang selalu menganggu Benua dari awal masuk SMA. Benua menarik napasnya sebelum memegang knop pintu. Benua membuka pintu kamar Rachel. Kamar itu didominasi warna putih dan abu abu. Serta ada banyak boneka beruang putih, beruang coklat dan panda. Ya itu salah satu kartun. Ia bisa melihat punggung Rachel. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada selimutnya. Benua memberanikan diri menghampiri Rachel tak lupa menutup pintu kamar gadis itu. Benua duduk dikarpet berhadapan dengan Rachel langsung sama dengan yang dilakukan Caca. "Kenapa nggak mau berbicara?" tanya Benua lembut. Rachel masih memandang kedepan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Gara gara lo. Gue harus rela kehilangan sekolah." Benua bernapas lega. Rachel mau berbicara dengannya. "Gue kesini mau tanggungjawab." "Syukurlah. Gue kira, gue akan melahirkan anak tanpa Ayah." masih dengan memandang lurus kedepan tanpa menatap Benua. Benua terdiam sebentar sambil memperhatikan wajah gadis itu. Ia baru tau ternyata disekolahnya ada cewek secantik Rachel. Entah kemana ia dulu tak pernah memperhatikan gadis di sekitarnya. Ia menyesal mengenal Rachel begitu lama dan ia menyadari ketika sudah kelas 2SMA. Apa apaan ini, bisa bisanya ia tak melihat Rachel. Maksudnya ia tak melihat pesona kecantikan Rachel. Ia hanya tau Rachel gadis yang pintar dan selalu mengikuti olimpiade. Wajah cantik, hidung mancung, bibir tipis dan bewarna pink sedikit pucat, mata yang indah, dan lekuk wajah yang cantik. Mempunyai kulit putih mulus. Rachel yang merasakan Benua diam pun memberanikan dirinya menoleh ke Benua. Seketika matanya bertumbrukan dengan mata lembut namun tetap tajam itu. "Masih kesal?" tanya Benua, Rachel menggeleng. Benua pun berdiri dari duduknya dan membantu gadis itu untuk duduk juga. Ia duduk dikasur Rachel berhadapan langsung dengan gadis itu. "Gue malu Ben. Gue malu, mereka ngejelek jelekin gue hiks. Mereka nuduh gue cewek ngga benar." Benua menarik Rachel kedalam pelukannya. Benua grogi karna ia memeluk gadis selain keluarganya. Gadis ini tak lama lagi akan menjadi bagian dari hidupnya. "Jangan nangis lagi. Nggak baik buat baby nya ya. Jangan pikirin omongan mereka." Rachel mengangguk. Setidaknya hati gadis itu sedikit menenang. Ia sudah memikirkan hidup sendiri dengan membesarkan anaknya sendiri. Ia sudah memikirkan jika benua tak mau menerimanya dan anaknya ini. "Sekarang tidur ya. Gue akan nungguin lo sampai tidur disini." Rachel mengangguk. Ia pun kembali merebahkan tubuhnya dibantu Benua. Benua tersenyum kepada Rachel. Ia tak pernah membayangkan akan menjadi orangtua di usia muda nya ini. Ia juga tau bahwa Rachel memiliki cita cita yang tinggi. Ia tau Rachel belum siap menjadi orangtua di usia mudanya. Tapi mau bagaimana lagi. Mereka sudah melakukannya dan tuhan sudah menitipkan satu nyawa dirahim Rachel. Dari hasilnya sendiri dan Rachel juga. "Ben, lo nggak akan pernah ninggalin gue kan sama anak ini?" tanya Rachel takut takut. Ia takut menjadi janda di usia muda. Bisa sajakan setelah Rachel melahirkan. Benua menggugatnya untuk cerai. "Hel, dengerin gue. Gue akan berusaha menjadi yang terbaik buat lo dan anak kita. Memang ini karna kecelakaan. Tapi, gue sangat menghormati perempuan sama seperti gue menghormati Mama dan Adik gue. Gue nggak akan ngelepaskan lo. Gue hanya mau menikah sekali seumur hidup gue." "Lo nggak akan berniat ceraikan gue kan setelah gue lahiran?" "Nggak akan Hel. Gue nggak akan ninggalin anak gue dan lo. Gue berharap maut yang memisahkan kita bukan orang ketiga atau apalah itu." "Ben lo-" "Tidur Hel, udah malam. Gue juga mau pulang," potong Benua saat Rachel ingin bertanya lagi. Rachel benar benar takut ditinggal Benua. Karna banyak kejadian diluar sana yang hamil karna rasa suka maupun unsur paksaan dan berakhir menikah diusia muda namun banyak yang bercerai diusia muda juga. Bahkan banyak yang memilih membuang anaknya setelah melahirkan. Rachel tak bisa membayangkan itu semua. Rachel juga belum siap untuk menjadi seorang ibu diusia muda. Ia takut gagal aja jadi orangtua atau ia takut tak bisa mendidik anaknya. Ini benar benar butuh tanggungjawab besar sekali. Berumah tangga itu tak akan mulus. Pasti ada konfliknya sendiri entah dalam bentuk apapun itu. "Kenapa belum merem lagi?" tanya Benua. "Ben, gue rasa-" Rachel menggantung ucapannya. "Apa?" "Gue nggak bisa tidur. Biasa pagi pagi gue suka muntah juga. Itu benar benar bikin gue sakit. Gue ingin ngeluh, tapi semuanya sudah terjadi Ben. Itu semuanya sakit dan selalu bikin gue lelah." Memang terkadang kalo Rachel muntah ia akan kehilangan daya tahan tubuhnya sedikit. Dan itu menyebabkan ia menjadi mudah lelah. Apalagi Rachel hamil diusia muda. Rentan sekali keguguran. "Maaf gue lancang." Benua menyingkap baju Rachel sedikit dan mengelus perut Rachel. "Enakan?" Rachel mengangguk. Ia tak berbohong memang merasakan sangat enak dan lebih tenang saja. Ia rasa anaknya memang sangat manja dengan Benua. Ia merakasan hal yang sama saat Juan juga mengelus perutnya. "Sekarang tidur," perintah Benua. Rachel mengangguk. Ia pun memejamkan matanya dan tak lama pun Rachel terlelap tidur. Benua bernapas lega. Rachel bisa terkena stress diusia muda karna kehamilan dan beban pikiran. Benua berusaha selembut mungkin dengan Rachel. Karna papanya melarang Benua untuk menyakiti hati perempuan. Tapi, ia sudah menyakiti hati Mamanya. Benua sangat merasa bersalah lagi. "Maaf Hel. Gara gara gue lo harus begini. Gue akan berusaha menjadi suami yang baik buat lo. Selamat malam." ~ ~ ~ ~ Benu menuruni anak tangga. Keluarganya sudah menunggu dirinya. Caca sudah sangat mengantuk. Matanya tinggal 3 watt lagi yang berarti gadis itu akan tertidur. "Benua, sudah selesai? Bagaimana dengan Rachel?" tanya Kella. "Sudah Ma, Rachel sudah tidur. Dia juga bicara banyak sama Benua." "Syukurlah. Mama senang dengarnya." "Oh iya Pak Lucas. Kita pamit dulu ya. Besok kita akan ke bandung untuk melangsungkan pernikahan anak kita," pamit Alby. "Baik pak Alby. Saya sangat senang berbesan dengan anda. Sudah keinginan kita sejak lama." Benua mendekati Sarah. "Maaf ya Tante, kesalahan Benua membuat anak Tante harus menanggungnya," ujar Benua sopan. "Tidak apa apa Benua." Benua menyalami tangan Sarah. Ia pun beralih kepada Lucas. "Maaf Om." Lucas tersenyum dan langsung memeluk benua. "Tidak apa apa Benua. o*******g kalo anak Om baik baik saja jika berada bersama kamu. Ini hanya kecelakaan saja." Setelah itu keluarga Alby pun pulang. Setidaknya Alby bernapas lega karna Lucas tidak marah dan tidak menuntut macam macam. "Ayah sangat berterimakasih kepada tuhan. Biarpun caranya salah yang dilakukan anak kita," kata Lucas bernapas sangat lega. "Bunda juga begitu Yah. Ternyata ini kecelakaan saja. Setidaknya Rachel bisa sedikit tenang dan kita tak akan khawatir dengan Rachel. Rachel sangat beruntung memiliki Benua yang baik dan sudah bekerja di usia muda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD