Rachel tetap diam. Ia tak mengeluarkan suara apapun itu. Ia akan berbicara ketika Benua ingin bertanggungjawab. Itulah janjinya pada dirinya sendiri.
Jika Benua tak mau bertanggung jawab maka ia tak akan pernah mau berbicara. Sarah dan Lucas sudah menyerah. Ia bertanya kepada anaknya siapa yang menghamili namun anaknya tetap diam
Kalo Benua lelaki sejati. Ia pasti akan bertanggungjawab dan tak akan membiarkan Rachel membesarkan anaknya sendirian.
"Sudah lah, Yah. Mungkin Rachel butuh waktu," ucap Sarah menenangkan suaminya.
"Bagaimana Ayah ngga tenang Bun! Bapak dari anak yang ia kandung saja kita tidak tau!"
Sarah tersenyum dan mengelus perut anaknya dengan sayang. Tatapan gadis itu kosong kedepan.
"Rachel, bicara sama Bunda sayang. Siapa yang ngehamili kamu. Bunda dan Ayah ngga akan marah." namun tak ada tanggapan dari gadis itu bahkan gelengan pun tidak ada.
~ ~ ~ ~
Bagaimana pun Benua harus mengabari Papanya. Karna ini menyangkut masa depan Rachel sendiri.
Karna ulahnya. Gadis itu harus kehilangan sekolah dan cita citanya. Benua tak mau itu terjadi. Karna ia sangat menghormati dan menyayangi perempuan apalagi Mama dan adiknya Caca.
Benua menghembuskan napas pelan. Ia pun melangkah masuk kedalam rumahnya. Disana ada orangtuanya dan caca.
"Pa, Benua mau ngomong," ucap Benua tanpa duduk dan memilih berdiri saja.
"Sini Sayang," ajak Kella.
Caca sudah tau apa yang akan dikatakan Abangnya ini. Caca sangat was was sekali.
"Disini aja." Alby mengernyitkan keningnya bingung. Alby dan Kella pun menghampiri Benua begitupun Caca memilih berdiri di kejauhan saja.
"Ada apa Benua?" tanya Alby.
"Benua ngehamilin Rachel Pa."
Plakk
Suara tamparan menggema dirumah keluarga Benua. Caca sudah tau tetapi memilih diam saja. Ia tak berani menatap Papanya. Kella menutup mulutnya tak percaya. Ia membebaskan anaknya bukan berarti begini.
Alby memijit sedikit pelipisnya yang terasa pening. Ia tak bisa berkata kata lagi. Hanya ada amarah yang menggebu di hatinya. Alby kembali menatap anaknya tajam.
"KAMU NGERUSAK PEREMPUAN IYA! BAYANGKAN KALO PEREMPUAN ITU ADIK ATAU MAMA KAMU BENUA!"
Benua terdiam. Ia tak tau harus mengatakan apalagi. Intinya ia sudah jujur kepada kedua orangtuanya. Kella kecewa, Kella memilih masuk ke dalam kamarnya saja. Benua menatap punggung Mamanya dengan perasaan sedih. Ia sudah melukai hati Mamanya yang membebaskan dia dalam segala hal. Dan dirinya lah yang berjanji akan selalu membuat Mamanya bangga.
"Kamu tau apa yang kamu lakukan itu memalukan Papa Benua! Kami sebagai orangtua gagal mendidik kamu!" Benua hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Itu juga salah Caca Pa," sahut Caca.
Alby menatap kedua anaknya tak percaya. Dua anaknya langsung mematahkan kepercayaannya.
"Karna alkohol Caca dan karna pesta dirumah Bang Ben yang Caca buat dan karna obat itu. Semuanya terjadi Pa."
Caca harus memberikan keadilan juga untuk Rachel. Karna Rachel adalah temannya.
"Sekarang apa?" tanya Alby.
"Benua siap menerima hukuman Papa."
Alby pergi keruang kerjanya. Ia malas menatap anaknya. Benua pun menaiki tangga mencari Mamanya dikamar. Terlihat punggung Mamanya bergetar. Kella tau Benua masuk kedalam kamar.
"Ma, maaf," lirih Benua.
"Kamu bikin Mama gagal jadi orangtua Ben! Dia perempuan, apa kamu ngga mikir bagaimana perasaan orangtuanya ketika mendengar anaknya hamil! Ayah Rachel itu teman Papa kamu! Dan Rachel teman adik kamu Ben! Kamu menyakiti Mama, Mama gagal jadi ibu yang baik buat anak anaknya hiks. Apa saat kamu renggut semuanya kamu tidak memikirkan dampak dan memikirkan masa depan dia?"
Benua langsung mendekati Kella dan memeluk Kella begitu erat.
"Kamu nyakitin hati Mama Ben! Mama memang membebaskan kamu. Tapi, kamu janjikan sama Mama akan menghormati perempuan bukan merusak perempuan."
"Maaf Ma. Semuanya kecelakaan."
Caca hanya berdiri diambang pintu kamar orangtuanya. Alby masuk kekamar dengan perasaan kesal.
"KEMAS SEKARANG KITA AKAN KERUMAH LUCAS! DAN KAMU CACA!"
Caca menatap Papanya takut takut. Baru kali ini ia melihat Papanya sangat marah.
"Papa nggak nyangka sama kamu! Papa akan masukkan kamu ke asrama. Biarkan anak papa jauh dari orangtuanya! Kalian sudah menyakiti hati Mama kalian sendiri! DIBEBASKAN BUKAN BERARTI KALIAN MELUNJAK BEGINI! HARUS TAU LETAK BATASAN KALIAN ITU DIMANA! BENUA JUGA KAMU UDAH BESAR! KENAPA MELALUKAN HAL MEMALUKAN!"
Kella mendekati Alby dan memeluk Alby. "Sudahlah, jangan marah."
Kella menenangkan Alby. Alby membalas pelukan Kella. Sikembar hanya bisa terdiam saja.
"Papa malu punya anak seperti kalian!"
Alby membawa Kella ke walk in closet untuk berganti pakaian. Caca jadi semakin merasa bersalah.
"Bang Ben, maaf." Benua tersenyum dan memeluk adiknya.
"Papa hanya marah saja. Sudahlah, Bang Ben akan tanggungjawab."
~ ~ ~ ~
"Bundaaa! Masak ya. Keluarga pak Alby akan datang!" teriak Lucas dari arah tangga.
"Ada apa ya Yah, datangnya mendadak?" tanya Sarah.
"Ayah tidak tau, katanya ada hal penting yang mau dibicarakan. Caca kan anaknya Pak Alby, mungkin kalo sama Caca. Rachelnya mau bicara."
Sarah mengangguk. Boleh juga, ia sudah mengajak Rachel berbicara namun anaknya tak mau menjawab. Bahkan saat diberikan makan pun Rachel hanya tetap diam dan mengunyah makanan dengan pandangan kosong kedepan.
Rachel berbaring disisi kasurnya. Ia mengeratkan selimutnya dan berbaring dengan memiringkan tubuhnya. Ia masih enggan mau bicara.
Alby memberitahu kejadian ini pada keluarganya dan keluarga Kella. Ia menyuruh memberitahu berita ini kepada Sergio dan Fedrik para Kakek itu secara perlahan saja dengan berbicara baik baik.
~ ~ ~ ~
Keluarga Alby datang bersama anaknya. Lucas menyambut hangat temannya ini dan mempersilahkan masuk.
"Tante, Rachelnya ada?" tanya Caca.
"Dikamar Ca. Masuk aja sana."
Caca dengan senang hati pun kekamar Rachel. Pintu kamar Rachel terbuka namun gadis itu enggan beranjak dari tempat tidurnya.
"Rachel," panggil Caca namun tak ada jawaban dari Rachel. Caca pun mendekati Rachel dan duduk dikarpet berhadapan langsung dengan gadis itu.
"Lo marah sama gue?" tanya Caca. Rachel tak menjawab.
"Maaf Hel. Gue datang kesini sama keluarga. Mau ngelurusin masalah ini."
"Maaf, soal minuman itu. Gue nggak maksud bikin lo kayak gini. Cuman mau nyuruh lo nyobain aja minuman itu."
"Gue juga udah terima hukuman dari Papa."
"Gue bakal masuk asrama Hel."
Caca masih mencoba tersenyum Rachel tak menjawab pertanyaan bahkan membalas ocehan Caca. Gadis itu menatap lurus kedepan saja. Pandangannya kosong.
Sedangkan dibawah. Sarah menghidangkan makanan dan minuman. Mereka sedikit mengobrol sebelum berbicara serius.
"Jadi gini Pak Lucas saya langsung ke intinya saja," kata Alby.
"Memang ada apa ya Pak Alby?"
"Mengenai perihal hamilnya Rachel." Sarah terkejut. Bagaimana keluarga Alby bisa tau.
"Anak saya sendiri pelakunya. Benua, mereka melakukan ini karna kecelakaan Pak Lucas. Tidak ada unsur sengaja ataupun paksaan. Saya tau anak Pak Lucas sangat pintar dan tak mungkin melakukan hal itu. Jika dipaksa pun ia akan mencari pertolongan. Namun mereka berdua melakukannya karna sama sama tak sadar."
Benua pun memberanikan diri menjelaskan kepada Lucas. Lucas bernapas lega setidaknya yang menghamili anaknya adalah keluarga baik baik.
Ia kira anaknya hamil oleh lelaki berandalan. Ternyata itu adalah benua sendiri. Ia senang bisa berbesan dengan Alby.
"Saya akan bertanggungjawab Om. Saya juga akan melanjutkan pendidikan Rachel dengan homeschooling. Om tak perlu memikirkan biaya nya. Saya bisa membiayai hidup Rachel. Saya akan berusaha menjadi suami yang baik buat Rachel."
Sarah sangat bernapas lega. Ia tau bahwa benua memang anak baik baik dan sudah bekerja di perusahaan Sergio. Kella tersenyum dan mengenggam tangan Sarah.
"Aku sangat senang mendengarnya. Biarpun kita besanan melalui cara tak wajar dari anak kita."
Lucas dan Alby berpelukan layaknya seorang pria yang senang mendengar kabar saham besar. Padahal mereka senang mendengar kalo mereka besanan. Baik Alby maupun Lucas memang berharap bisa menjadi besan. Namun untuk menjodohkan anaknya itu tidaklah mungkin. Akhirnya keinginan mereka terkabulkan.