Rachel keluar dari toilet dengan perasaan lega karena teman temannya menasehati dirinya. Namun saat keluar toilet Rachel malah mendapatkan tatapan sinis dari anak di koridor sekolah.
Rachel tak mengerti apa maksudnya ini. Ia bisa mendengar bisikan dari mereka.
"Ih nggak nyangka ya. Anak pintar tapi kelakuan nakal."
"Iya, masa hamil pas sekolah sih."
"Kelihatan aja diluar polos padahal didalamnya sudah los."
"Gila sih gue ngga nyangka. Kalo dia hamil."
"Siapa sih cowoknya yang ngehamili dia. Nggak kelihatan jelas."
"Iuww ternyata udah nggak bersegel perawan lagi dong."
Glowy datang bersama teman temannya dan langsung menghadang Rachel dan temannya.
"Guys ini nih yang mukanya polos tapi udah nggak perawan," ejek Glowy.
"NIH MUKA ORANG YANG HAMILLL!" teriak Celine.
"Woy anjing lo!" Caca tersulut emosi. Celine dan Caca pun beradu mulut. Anna melerai mereka berdua.
"Memang kenyataan kalo Rachel ini sok polos. Gue punya buktinya dan udah tersebar seantaro sekolah! Bentar lagi lo bakalan di keluarin dari sekolahan ini!"
Mata rachel memanas. Viona dengan cepat mengecek grup kelas dan benar ada Rachel disana bersama seorang lelaki yang hanya memperlihatkan punggungnya saja. Bahkan di grup guru pun ada. Rachel melihat video nya.
"Dasar b***h!" umpat Glowy.
"Lo diam mulut anjing!" bentak Caca yang tak terima.
Kini mereka dikerumuni anak sekolahannya. Rachel malu, ia malu karna video itu nyebar ke sekolahannya. Banyak yang menatap Rachel jijik dan berdesis.
"Oh jadi ini yang hamil."
"Cih, ngga guna banget prestasi nya ternyata aslinya nakal!"
"Palingan prestasi sebagai caper ke guru."
"Dia ngga perawan lagi guys."
"Mau diapain tuh anaknya tanpa bapak."
"Alamat ya ke dukun lah ngugurin kandungannya."
"Namanya juga b***h! Jalang!"
Rachel langsung keluar dari kerumunan itu. Ia sudah tak sanggup mendengar makian, hinaan, dan ejekan yang ia dapatkan.
"DASARRR PEREMPUAN PERUSAK NAMA BAIK SEKOLAH!" teriak Windy.
Caca yang geram meremas mulut Windy dan mendorong gadis itu.
"Lo semua iblis!" Caca mengacungkan jari tengahnya dan berlari mengejar Rachel.
~ ~ ~ ~
Berita video itu sampai ke guru. Kini Rachel berada diruang kepala sekolah. Saat melewati ruang guru banyak guru guru yang kecewa dengan Rachel.
Rachel meneteskan air matanya. Ia menangis, dirinya malu ketika teman sekolahnya sudah tau.
"Rachel Bapak kecewa sama kamu. Bapak sudah melihat video tadi. Bilang ke Bapak kalo itu bohong."
Rachel menggeleng. "Itu benar Pak hiks."
"Tunggu lah disini. Bapak akan memanggil orangtua kamu."
Hati Rachel teriris. Ia tak bisa membayangkan wajah kecewa kedua orangtuanya.
~ ~ ~ ~
Sarah masuk kedalam kamar anaknya. Membersihkan kamar anaknya. Karna pembantu dirumahnya lagi sakit.
Ia masuk kedalam kamar mandi anaknya dan menemukan testpack dengan dua garis.
"Testpack siapa ini?"
Deg. Jantung Sarah seperti berhenti berdetak. Ini kamar anaknya dan pasti itu testpack anaknya. Rachel lupa membuang testpack itu ia meninggalkannya di atas meja kamar mandi. Tak selang berapa lama kepala sekolah menelpon orangtua Rachel.
Rachel semakin menangis. Ketika orangtuanya sudah datang. Sarah terkejut kenapa anaknya menangis.
"Rachel kamu kenapa?" Sarah mendekati anaknya yang duduk disofa.
"Ada apa ya Pak?" tanya Lucas to the point.
"Maaf pak saya tau anak Bapak sudah membanggakan sekolah ini dan membuat sekolahan ini menjadi dipandang luas. Dengan berat hati saya harus mengeluarkan Rachel dari sekolah ini."
Rachel semakin terisak. Ia tak terima jika berhenti sekolah dan dikeluarkan dari sekolah. Sarah dan Lucas menatap kepala sekolah tak percaya.
"Tapi kenapa Pak?" tanya Lucas.
Pak kepala sekolah pun menunjukkan video kepada kedua orangtua Rachel. Ayahnya Rachel menatap video itu dengan tak berkedip. Ketika video itu selesai diputar. Lucas semakin marah, puncak amarahnya sudah di ubun ubun. Namun sebisa mungkin ia tahan. Karna ia tak pernah membentak Rachel.
"Rachel, siapa yang ngehamili kamu?" tanya Lucas berusaha lembut.
Rachel tak menjawab. Ia semakin terisak. Ia tak bisa berkata kata lagi.
"Bilang sama Ayah."
"RACHEL SIAPA YANG NGEHAMILI KAMU?!"
Rachel semakin menangis. Ketika Ayahnya membentak dirinya untuk pertama kalinya.
"Kamu udah maluin keluarga Rachel. Nama keluarga kita jelek, Ayah nggak menyangka sama kamu! Kamu bikin Ayah malu."
Lucas berdiri dari duduknya. Ia berhadapan dengan Rachel. Sarah tak bisa berkata kata lagi hanya tangisan yang ada. Lucas meraih wajah anaknya.
"Siapa Rachel?" tanya Lucas dengan bergetar.
Anak satu satunya mengecewakan dirinya. Namun Rachel tetap diam tanpa menjawab sepatah katapun.
"Sudah lah Pak. Biarkan dia tenang dulu. Nggak baik untuk kandungannya sekarang. Saya akan mencoba mencari pelakunya."
Dengan perasaan kecewa. Orangtua Rachel membawa Rachel pulang. Tak ada guna nya lagi prestasi Rachel sekarang. Kalo sudah membuat nama keluarganya jelek.
Rachel tetap masih diam di dalam mobil. Ia sudah tak menangis lagi tapi masih sesegukan saja. Mulutnya seperti di lem. Ia tak bisa mengeluarkan kata kata.
Maaf Bun, maaf Yah. Udah buat kalian kecewa. Rachel minta maaf.
~ ~ ~ ~
Caca langsung mencari kemana Abangnya pergi. Hingga ia menemukan abangnya bersama Alfa di koridor kosong.
"Bang Ben, Rachel dikeluarin dari sekolah!"
Benua kaget begitu juga Alfa.
"Kenapa bisa?" tanya Benua.
Caca yang ngos ngosan pun langsung memberikan video kepada Benua dan Alfa. Benua dan Alfa sama sama terkejut melihat itu karna video itu terletak di grup guru guru disekolahan ini.
"Glowy, Caca percaya Glowy yang ngerekam dan membagikannya ke grup. Rachel udah pulang juga. Dijemput orangtuanya karena dia dikeluarin dari sekolah. Caca nguping tadi. Dan Caca juga yang disuruh ngambil tas Rachel. Rachel ngga bicara apa apa lagi. Jadi harus gimana Bang?"
"Lo laki kan? Lo harus tanggungjawab. Bicara baik baik sama Om Alby."
"Bang Ben nangis?" tanya Caca saat melihat wajah lelaki itu sembab.
Benua tak menjawab. Ia memilih pergi saja darisana. Dan benar ia masih bisa mendengar omongan dari warga sekolah yang masih membicarakan Rachel yang sudah dikeluarkan dari sekolah.
Ini semua karna dirinya. Kalo saja malam itu ia tak mengizinkan Caca buat pesta kecil kecilan dan ia tak meminum air itu. Maka semuanya tidak akan seperti ini. Tapi semuanya sudah kejadian. Tidak ada yang perlu disesali lagi. Jika menyesal pun tak akan kembali seperti semula.
Nasi sudah menjadi bubur ayam!