Pagi pagi saja Rachel masih suka muntah. Setelah pulang dari london ia terus muntah setiap pagi.
Untung hari ini adalah hari minggu. Dengan lemas pun ia berjalan perlahan menuju kasurnya. Ia membuka laci dan mengambil testpack yang baru.
Ia membeli itu saat di london. Disamping hotelnya ada apotik. Jadi ia membeli disana. Karna orang disana juga sudah terbiasa melihat anak seusia Rachel membeli testpack. Orang disana tidak riweuh kayak orang di indonesia alias ibu ibu indonesia yang menyinyir tak jelas.
Ia Rachel tadi malam searching di mbah google tanda tanda hamil dan itu persis dengan apa yang ia alami. Morning sickness atau apalah itu dan Rachel selalu ingin merasakan hadir didekat seseorang dan selalu ingin merasakan dimanja.
Rachel kembali menyimpan testpack itu. Ia memilih sarapan dulu dan setelah sarapan ia akan mencobanya. Kata orang kalo mencoba dipagi hari hasilnya akan terlihat lebih jelas.
"Pagi Bun."
"Pagi sayang."
"Rachel, muka kamu pucat kenapa?" tanya Ayahnya. Saat Rachel duduk dimeja makan.
"Nggak papa Yah. Cuman kecapean doang," jawab Rachel. Padahal dalam hatinya sudah dag dig dug tak karuan.
Ia sangat cemas sekali jika benar ia hamil. Karna tanda tanda hamil itu menunjuk ke Rachel semua.
Setelah sarapan Rachel langsung kembali kekamar ia melihat tanggal di kalender. Seharusnya seminggu yang lalu ia sudah menstruasi. Namun ia tak menstruasi.
~ ~ ~ ~
Benua sedang sarapan bersama keluarganya. Kini Benua berada dirumah orangtuanya. Karna Papanya yang meminta Benua untuk tinggal beberapa hari disini.
"Papa bangga dengan prestasi dibidang olahraga kamu Benua. Jangan pernah membuat Papa kecewa." Benua tersenyum dan mengangguk.
"Benua akan selalu berusaha membahagiakan Mama dan Papa."
"Caca juga bisa kok bahagiakan Mama sama Papa," sahutnya yang tak terima jika Benua saja dipuji.
Alby memandangi anak perempuannya. "Apa yang gadis ini bisa lakukan untuk Papa? Sudah 2 kali Papa mengeluarkan kamu dari kantor polisi dan sudah 3 kali Papa nyeret kamu keluar dari club malam! Prestasi apa sekarang?"
Caca langsung menundukkan kepalanya. "Ya itu prestasi Caca. Caca kan beda dengan Bang Ben," cicitnya.
"Anak perempuan mu ini tidak ada yang bisa dibanggakan lagi. Hanya ada kenakalan saja," timpal Kella.
"Mamaaaa!" rengek Caca saat Mamanya malah menjelekkan dirinya didepan Papanya.
"Memang begitu. Selalu dihukum. Dan kemarin pulang babak belur, tuh muka masih kelihatan!"
Alby pun memperhatikan wajah anak perempuannya. Padahal make up Caca sudah cukup tebal. Namun Mamanya ini sangat tajam dalam penglihatan.
"Benar Ca?" tanya alby.
"Iya Pa."
"Bagaimana bisa?"
"Caca balap liar. Terus Caca berantem sama lawan Caca perempuan juga. Ya jadi gini."
"Jambak rambut iya?!"
"Dia yang jambak, Caca yang jotos."
"Sakit kan kepalanya?"
"Iya Pa."
"Yaudah terus aja adu jotos. Sekalian bunuh bunuhan. Jadi Papa tinggal nguburin kamu aja kalo udah mati. Gampangkan, anak bisa dibuat lagi."
"Papaaaa mah ih!" kesal Caca.
Benua dan Kella hanya menjadi pendengar yang baik ketika Papa dan Caca sedang beradu mulut dan argumen begini.
"Sampai kapan kamu kapok! Apa perlu Papa pukul kamu?! Kamu itu perempuan Caca! Pernah Papa bedain kamu. Caca kamu harus jadi kayak Abang kamu. Pernah? Enggak Caca, Papa nggak pernah bedain kamu sama Abang kamu. Apa perlu Papa bedain biar kamu sadar diri. Mau asrama?"
Caca menggeleng cepat ketika mendengar kata asrama.
"Nggak mau!"
~ ~ ~ ~
Rachel terduduk di closet nya. Ia menatap dua garis itu. Seketika air matanya mengalir deras menjadi isakan tangisnya.
Kenapa harus menjadi seperti ini. Cita citanya hancur dalam sekejap. Padahal kejadian itu satu bulan yang lalu. Ia sudah melupakan kejadian itu juga.
Rachel meraba perutnya. Didalam sana ada gumpalan darah yang tak lama lagi akan membentuk seorang manusia atau bayi.
Hanya ada tatapan kosong kedepan. Rachel masih menangis. Ia tak menyangka semuanya menjadi buruk seperti ini. Bagaimana ia akan mengatakan kepada orangtuanya.
Rachel bangkit lagi dan ia mencoba testpack satunya lagi. Rachel membeli 2 testpack. Mungkin aja testpack ini tidak akurat.
Saat mencoba nya lagi. Tetap sama hasilnya. Rachel pun terduduk lemas dilantai kamar mandi. Ia menyembunyikan kepalanya di sela kakinya dan memeluk kakinya.
"Hiks hiks hiks."
"Kenapa lo hancurin hidup gue!"
"Kenapa lo hancurin cita cita gue!"
"Gue ngga bisa ngugurin kandungan gue!"
"Karna gue udah berbuat dosa!"
"Gue harus gimana?"
Rachel langsung berdiri dari duduknya. Ia menghapus air matanya dan langsung kembali kekamarnya. Memasukkan testpack yang ia pegang kedalam tasnya tak lupa dimasukkan kedalam pouch kecil.
Benua twin Caca
Gue mau ketemu lo besok di koridor kosong jalan samping.
Setelah mengirim pesan itu. Rachel memilih beristirahat saja. Karna tenaga nya habis saat tadi pagi ia muntah muntah. Rasanya sangat tidak enak sekali.
~ ~ ~ ~
Rachel membawa pouch disaku roknya. Ia menuju koridor sepi sesuai janjinya pada Benua. Ternyata lelaki itu sudah menunggu dirinya dengan duduk dikursi dan memainkan ponselnya.
"Be-Benua."
Benua langsung berdiri ketika melihat Rachel. Rachel gugup mau berbicara ini dengan Benua.
"Gue minta pertanggungjawaban lo!"
"Pertanggungjawaban apaan?" tanya Benua tak mengerti.
"Karna lo! Karna lo gue harus berbadan dua!"
Benua masih tak mengerti arah pembicaraan Rachel kemana. Tanpa mereka sadari ada yang merekam kejadian ini. Tapi hanya menampakkan Rachel saja. Karna Benua membelakangi kamera.
Rachel membuka pouch nya dan mengeluarkan testpack. Membuat orang yang merekamnya kaget dan menutup mulutnya.
"Gue hamil," lirih Rachel.
Benua langsung merampas testpack ditangan Rachel. Setahu dirinya garis dua memang menyatakan seseorang hamil.
Rachel menangis. Bahunya gemetar, cita citanya lenyap seketika. Benua menatap testpack itu tak percaya. Padahal mereka hanya melakukannya sekali saja dan itu sama sama dalam keadaan tak sadar.
"PUAS LO! UDAH NGANCURIN HIDUP GUE HIKS! CITA CITA GUE LENYAP! GUE BENCI SAMA LO!" setelah mengatakan itu Rachel pun pergi dari koridor sekolah yang sepi. Karna ini berada di jam pelajaran.
Benua masih membeku ditempat. Bagaimana ia akan berbicara kepada kedua orangtuanya.
"Arrrghh!" Benua meninju tembok. Melampiaskan amarahnya. Ia tak bisa membayangkan wajah kecewa Mamanya. Ia pun terduduk di bangku koridor.
Ketika Rachel akan pergi. Orang itu cepat bersembunyi dan menyimpan videonya. Lumayan untuk mempermalukan Rachel.
"Racheeeelll!" pekik teman temannya saat melihat Rachel berlari dengan menangis menuju ke toilet.
Teman temannya pun menyusul Rachel ketoilet. Rachel masuk kedalam salah satu kamar mandi dan menangis disana.
Benua masih terdiam disana. Ia tak menyangka akan seperti ini. Padahal baru kemarin Papanya bilang jangan mengecewakan Papanya.
Tapi apa Benua malah mengecewakan Papanya. Benua menarik napasnya panjang dan bersandar pada kursi.
"Benua gue cariin lo!" kata Alfa dan duduk disamping Benua melihat lelaki itu memegang testpack.
Alfa mengambil testpack ditangan Benua. "Lo hamil Benua? Siapa yang ngehamilin lo. Kasi tau gue!"
"Itu punya Rachel," jawab Benua.
Alfa melototkan matanya. Ia melihat testpack itu dengan jelas. Dan ia pun membuka ponselnya. Apa salah garis kali ya. Ternyata garisnya benar.
"Ben, gimana sama Om Alby?"
Benua menggeleng. Ia pun memejamkan matanya dan air mata sialan itu turun. Baru kali ini Alfa melihat Benua menangis. Ingatlah jika tangisan lelaki itu adalah tangisan penyesalan atas apa yang ia perbuat.
"Gue udah ngerusak anak orang."
"Gue udah buat orangtua gue kecewa."
"Gue ngga tau harus apa."
Benua sudah berjanji akan menghormati wanita. Tapi ia malah menghamili anak gadis orang. Alfa tau Benua merasa sangat bersalah dengan kejadian ini. Tapi, ia juga tau ini adalah unsur tak sengaja juga.