3. Di Benci

1388 Words
Joycelline yang beberapa waktu terakhir memiliki aktivitas baru untuk mengecek segala aktivitas Nelson melalui sosial medianya, kini sudah 2 bulan tak lagi dia lakukan. Joycelline benar-benar menuruti perintah Robert untuk melupakan rasa cintanya pada Nelson. Joycelline juga sangat sadar jika apa yang dia rasakan pada Nelson adalah hal yang salah. Joycelline tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika sampai Gilbert tau jika dia mencintai Nelson. Hari ini di hari pernikahan Jeslyn dan Robert, Joycelline sengaja menyibukkan dirinya supaya perhatiannya tak tertuju lagi pada Nelson. Bahkan hingga acara pesta pernikahan itu berakhir, Joycelline selalu menghindar kala dia menyadari Nelson berada dalam jarak yang cukup dekat dengannya. Joycelline malam ini ikut mengantar Jeslyn ke kamar pengantinya karena membawa ekor gaun yang panjang. "Aku sangat merindukan suaramu, Joycelline," ucap Jeslyn kala duduk di ranjangnya. "Kita sudah lama jarang mengobrol karena aku langsung kembali ke Sisilia setelah pesta pertunanganmu, Kak," jawab Joycelline dengan tersenyum. "Bukankah kamu bilang ingin pindah ke New York? Apakah kamu sengaja menghindariku? Karena apa yang aku ucapkan tempo hari?" ucap Jeslyn dengan menatap Joycelline curiga. Pasalnya saat Nelson mengantar Joycelline pulang setelah pesta pertunangan itu, Jeslyn mengirimnya pesan untuk tidak berbuat nekat dengan mengatakan pada Nelson jika dia menyukainya. Jeslyn juga melarang dengan tegas perasaan Joycelline pada Nelson. "Kak Jeslyn terlalu berpikir berlebihan. Aku hanya sedang menyadari perasaanku saja, jika apa yang Kakak ucapkan memang benar. Aku hanya terlalu terbawa suasana ketika melihat Kak Nelson yang tampan," jawab Joycelline dengan terkekeh. Meskipun hatinya ingin menangis, bahkan sampai sekarang rasa itu masih sama untuk Nelson. "Kakak senang jika kamu akhirnya mengerti. Sekarang ini kita sudah sah menjadi saudara, begitu pula dengan Kak Nelson yang sekarang juga menjadi Kakakmu juga, jadi kamu tidak boleh memiliki rasa khusus untuknya. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Joy. Karena kamu juga adikku," ucap Jeslyn dengan tulus. Joycelline yang terharu lalu memeluk tubuh Jeslyn dengan erat. Kamu benar, Kak. Ada begitu banyak orang yang akan tersakiti jika aku memaksa untuk mencintai Kak Nelson. *** Bertahun-tahun telah berlalu, Joycelline memantapkan dirinya untuk melupakan Nelson. Di mulai dengan dirinya yang menghindari untuk mengunjungi New York. Segala jenis pekerjaan yang di lakukan di New York, maka dia akan menolaknya. 4 tahun telah berlalu, tapi Joycelline masih menolak untuk mengunjungi New York jika bukan karena hal yang mendesak. Masih ada kalanya dua kali selama 4 tahun itu Joycelline mengunjungi New York karena pekerjaan yang tak bisa di tolak, tetapi Joycelline tetap tidak menginap, dia memilih untuk langsung kembali ke Sisilia ketika pekerjaanya telah selesai. Tapi kali ini, Joycelline tidak memiliki pilihan lain. Dia memang harus mengunjungi New York, karena Robert membutuhkannya. Hubungan rumah tangga kakaknya itu sekarang telah hancur karena perselingkuhan yang di lakukan Robert. Meskipun Joycelline selama ini merasakan sesuatu yang janggal pada hubungan Robert dan Jeslyn, tapi Joycelline tau jika kakaknya benar-benar mencintai kakak iparnya. Joycelline tidak berhak untuk ikut campur dalam hubungan kakaknya, tapi dia memiliki kewajiban untuk berada di samping kakaknya di saat terpuruk seperti sekarang. Keluarga Hamilton sekarang ini juga hancur, sama seperti hubungan pernikahan Robert dan Jeslyn. Robert tak mau lagi menemui kedua orang tuanya, karena masih menyalahkan Gilbert atas gagalnya rumah tangganya, karena Gilbert yang selama ini selalu membela Agatha, wanita yang menjadi penyebab rusaknya hubungan pernikahan Robert dan Jeslyn. Agatha telah berbohong jika hamil anak Robert, padahal nyatanya itu hanya jebakan saja supaya Robert bercerai dan memilih Agatha, sayangnya Gilbert mempercayai Agatha karena dia putri dari sahabatnya. Hingga Gilbert mendukung Agatha dan meminta Robert untuk menikahi putri sahabatnya itu. Setelah semua fakta terkuak, hal itu yang membuat Robert membenci Gilbert sekarang dan menyesali perceraiannya dengan Jeslyn. Sekarang Jeslyn menghilang, bersama dengan bayi yang berada dalam kandungannya. Hal inilah yang membuat Robert sangat terpuruk hingga hampir gila. Dia tidak lagi peduli pada apa pun, hanya menghabiskan waktunya dengan mabuk dan meraung memanggil nama Jeslyn. Joycelline yang mendengar kondisi kakaknya tidak bisa tinggal diam, dia lalu memutuskan untuk pergi ke New York, demi kakaknya. *** Joycelline masih berdiri di depan kamar Robert. Tidak ada suara yang terdengar, tapi dirinya masih merasa takut. Joycelline takut jika Robert tidak menerima kehadiarannya. Joycelline menatap nampan yang dia bawa berisi makanan untuk Robert, David bilang jika Robert enggan makan sejak kemarin. "Masuklah, Robert tidak akan mengusirmu," ucap David di belakang tubuh Joycelline. Ada kalanya memang David akan memperlakukanya sebagai teman, meskupun lebih banyak bersikap formal. Joycelline lalu mengetuk pintu kamar Robert dengan satu tanganya dan David membantu Joycelline membuka pintu. Saat Joycelline sudah masuk, David lalu kembali menutupnya. Kamar Robert sekarang ini gelap dan bau alkohol menyeruak di hidung Joycelline saat pertama kali menginjakkan kakinya di sini. "Kakak," panggil Joycelline. Tapi Robert hanya duduk diam sembari menatanya menatap kosong ke arah jendela. Beberapa botol minuman berserakan di kamar. Joycelline meletakkan makanan untuk Robert di meja nakas, lalu dirinya membereskan botol-botol yang berserakan. Setelahnya Joycelline berjalan menuju Robert dan berlutut di depan Robert. Mata Joycelline seketika memanas, sosok kakak yang selama ini Joycelline lihat sebagai pria yang gagah, tangguh, berhati dingin, berwajah tampan tapi sangat kharismatik itu, kini hanya diam seolah tak memiliki nyawa. Wajah Robert juga terlihat sayu, berewoknya juga tidak rapi. Joycelline menggenggam tangan Robert yang terasa dingin. "Kakak, aku ada di sini. Kakak tidak sendirian," ucap Joycelline dengan berkaca-kaca. "Kita cari jalan keluar bersama untuk mencari Kak Jeslyn." Setetes air mata Joycelline jatuh, dirinya tak bisa lagi membendung tangisnya. "Kakak, jangan membuatku takut." Joycelline tak kuat membendung tangisnya melihat keadaan Robert. Joycelline lalu berhambur memeluk Robert. Dia tak kuat melihat orang yang biasa memaksanya untuk kuat, sekarang justru terlihat sangat lemah. "Jangan menangis, Joy. Kakak baik-baik saja," ucap Robert dengan terbata. "Kak Robert bisa bangkit, ayo kita sama-sama berjuang. Jika Kak Robert seperti ini, kita tidak akan bisa menemukan Kak Jeslyn. Aku akan bantu Kakak." Joycelline menangkup kedua pipi Robert dengan tangan kecilnya. "Dia menghilang. Kakak tidak tau mencarinya kemana," ujar Robert dengan mata berkaca-kaca. "Kita cari sama-sama. Kakak punya segalanya, aku yakin Kakak pasti bisa!" ujar Joycelline dengan yakin. Karena hubungan persaudaraan yang erat itu, Robert akhirnya mau menuruti ucapan Joycelline. Joycelline membantu Robert untuk merapikan penampilanya dan menyuapi kakaknya. Joycelline bertekad untuk membantu Robert mendapatkan Jeslyn kembali. Setelah selesai mengurus Robert dan menunggunya tertidur, Joycelline baru berani pergi dari sisi Robert. Joycelline ingin memastikan jika Robert benar-benar tidur. Karena David bilang jika Robert belum tidur selama 2 hari. Maka Joycelline mengambil langkah serius kali ini, dengan berani dia mendatangi Addison Group untuk mendatangi Nelson. Beruntung dia di berikan izin untuk bertemu dengan Nelson meskipun tanpa janji terlebih dahulu. "Apa yang kamu lakukan di sini!" ucap Nelson dengan dingin. Ini pertama kalinya Joycelline bertemu dengan Nelson lagi setelah 4 tahun berlalu dan dirinya tidak menyangka jika Nelson akan bersikap sedingin ini padanya. Tapi bukankah ini bayaran yang setimpal setelah apa yang Kak Robert lakukan pada Kak Jeslyn. "Sebelumnya aku ingin meminta maaf atas apa yang terjadi dengan Kak Jeslyn. Tapi, bisakan aku meminta bantuan Kak Nelson untuk kali ini saja? Aku mohon beri tahukan keberadaan Kak Jeslyn, aku mohon," ucap Joycelline dengan memelas. Nelson lalu beranjak dari kursi kebesarannya dan berdiri di hadapan Joycelline dengan aura yang menyeramkan. "Setelah apa yang Robert sialan itu lakukan pasa adikku, lalu kamu berharap aku akan memberi tahu di mana keberadaan Jeslyn padamu? Aku rasa kamu memang sudah gila!" decih Nelson dengan sinis. "Tapi Kak Robert membutuhkan Kak Jeslyn. Kakakku terpuruk setelah kehilangan jejak Kak Jeslyn. Aku mohon bantu aku, Kak." Mata Joycelline sampai berkaca-kaca karena tak kuat melihat kilat kebencian di mata Nelson saat menatapnya. "Kamu pikir apa yang Jeslyn alami sekarang ini tidak jauh lebih menyakitkan dari Robert, hah!" Nelson yang emosi, bahkan dengan berani mencekik leher Johcelline dengan matanya yang berkilat tajam. "Sudah sejak dulu aku ingin membunuh Robert dengan kedua tanganku sendiri, tapi sekarang justru adiknya yang mengantar nyawa padaku!" Nelson masih belum melepaskan cengkeramannya meskipun Joycelline sudah meronta tak bisa bernafas. "Jadi jangan pernah meminta bantuan padaku lagi! Jangan merasa jika kesabaran kami hanya sebuah permainan, karena nyatanya untuk mengahancurkan Robert saja kami mampu!" Melihat wajah Joycelline yang sudah memerah membuat Nelson melepaskan cekikannya di leher Joycelline dan mendorongnya hingga tersungkur di lantai. Nelson lalu menelepon sekretarisnya untuk membawa Joycelline pergi dari ruangannya. Sebelum benar-benar pergi, Joycelline masih menatap Nelson untuk yang terakhir kalinya. Meskipun seburuk apa pun kamu memperlakukan aku, setajam apa kamu menghunus hatiku dengan tatapan penuh kebencian darimu, bodohnya aku masih merasakan getaran itu, kala aku menatapmu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD