Ini sudah 5 tahun berlalu sejak Robert dalam keadaan terpuruk, setiap tahunnya Joyceline masih terus mengunjungi Robert meskipun hanya beberapa hari. Kondisi Robert juga sudah jauh lebih baik, karena dorongan darinya dan David, Robert kini mulai bangkit dan mau berjuang kembali. Joycelline lebih suka sosok Robert yang sekarang, jauh lebih perhatian dan peduli meskipun sering kali masih bersikap dingin. Hari ini adalah jadwal rutinnya untuk mengunjungi Robert. Berbeda dengan biasanya, Joycelline ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan Robert. Kali ini dia memutuskan untuk menetap.
Joycelline mengedarkan pandanganya karena tak melihat supir atau Robert yang menjemputnya, padahal sebelum berangkat dia sudah mengirimkan pesan pada Robert jika akan berangkat ke New York. Biasanya Robert akan menjemputnya sendiri atau paling tidak mengirimkan supirnya kemari, tapi sudah menunggu lebih dari setengah jam, masih belum ada orang yang menjemputnya. Joycelline sudah mencoba menghubungi Robert, tapi tak juga di jawab. Bahkan setelah percobaan beberapa kali, Robert justru sengaja mematikannya. Joycelline lalu berbalik menelepon David dan memintanya untuk menjemputnya sekarang juga.
***
Selama dalam perjalanan, baik David maupun Joycelline masih sama-sama diam. Joycelline yang masih menyimpan rasa kesal pada Robert dan David yang memang pendiam. Tapi Joycelline yang memang sudah tak kuat menahan rasa kesalnya, kini mencoba untuk bertanya pada David.
"Apakah Kak Robert sedang sibuk?" tanya Joycelline membuka pembicaraan.
"Tidak juga," jawab David dengan jujur.
"Tidak? Lalu mengapa Kak Robert tidak mau menjemputku! Dia bahkan juga dengan sengaja menolak panggilanku!" ujar Joycelline dengan kesal. David melirik Joycelline sekilas lewat kaca dashboard. "Tadi Robert bertemu dengan Damien dan Nyonya Jeslyn," jawab David singkat. Tubuh Joycelline seketika menengang. Bagaimana bisa Kak Robert menemukan Kak Jeslyn, lalu kapan Kak Jeslyn kembali ke New York?
"Kapak Kak Jeslyn kembali? Dia mau bertemu dengan Kak Robert?" tanya Joycelline dengan terbata. Tubuh Joycelline semakin menegang kala David menepikan mobilnya dan berhenti di sisi jalan. "Ada apa?" tanya Joycelline dengan ragu.
"Apakah ada yang kamu sembunyikan dari kami, Joycelline?" tanya David dengan intonasi suara yang serius. David memang tidak membalikkan tubuhnya, tapi hanya dengan mendengar suara David yang dingin itu sudah membuat Joycelline ketakutan.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan, David," kilah Joycelline lalu mengalihkan tatapannya ke arah jendela.
"Baiklah jika kamu tidak ingin memberi tahuku, tak masalah. Aku juga tidak perlu memberi tahu apa alasan Robert tak ingin menjemputmu!" ucap David dengan dingin.
"Apakah Kak Jeslyn mengatakan sesuatu?" timpal Joycelline dengan cepat.
"Lebih baik kamu mengakuinya, sebelum terlambat." Joycelline sekarang justru takut untuk bertemu dengan Robert.
"Apakah Kak Robert tau jika aku selama ini tau di mana keberadaan Kak Jeslyn?" cicit Joycelline dengan pelan tetapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh David.
"Ya, Robert sangat marah. Dia membanting ponselnya saat kamu terus mencoba untuk menghubunginya," ujar David untuk memancing Joycelline bercerita padanya.
"Aku yakin Kak Robert pasti sangat marah. Aku juga tidak sengaja saat mengetahuinya," jawab Joycelline dengan lesu.
"Bahkan Robert sangat marah. Lalu bagaimana caramu mengetahuinya?" tanya David yang kini menoleh untuk menatap Joycelline.
"Daddy dan Mommy yang mengajakku, mereka bilang tau di mana keberadaan Kak Jeslyn. Aku hanya ikut saja dan benar ternyata Kak Jeslyn selama ini bersembunyi di Sisilia. Bahkan jaraknya tidak jauh dari mansion," jelas Joycelline dengan lesu.
"Lalu saat kamu mengatahui keberadaan Nyony Jeslyn, mengapa tidak kamu katakan pada Robert? Bukankah kamu lebih tau kondisinya dari pada orang lain?" tanya David dengan datar yang membuat Joycelline kembali ketakutan.
"Kami sudah mencoba, Daddy bahkan sangat antusias untuk memberi tahu Kak Robert jika kami sudah menemukan Kak Jeslyn, tapi Kak Robert benar-benar menutup akses kami untuk berkomunikasi. Terlebih, aku juga sudah berjanji pada Kak Jeslyn untuk tidak memberi tahu Kak Robert di mana tempat persembunyiannya," jelas Joycelline. David menghela nafasnya karena paham bagaimana posisi Joycelline yang serba salah. "Bisakah kamu bujuk Kak Robert untuk tak lagi marah?" tambah Joycelline.
"Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha. Aku tidak berhak untuk mengatur bagaimana perasaan Robert," jawab David dengan dingin lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju mansion.
***
Hari sudah larut, tapi Robert tak kunjung pulang yang membuat Joycelline khawatir. David serius dengan ucapannya jika Robert saat ini tengah marah padanya.
Robert terkejut mendapati Joycelline yang masih asyik menonton tv di ruang keluarga. Robert yang sedang dalam mood yang tidak bagus, memilih untuk melewati Joycelline begitu saja. ‘’Kakak!’’ panggil Joycelline, tapi panggilan itu tak berhasil menghentikan langkah kaki Robert.
‘’Kita harus bicara,’’ ucap Joycelline yang kini sudah berdiri di belakang Robert dengan berhasil mencekal tangan Robert.
‘’Aku lelah, besok saja!’’ jawab Robert dengan dingin. Robert bahkan enggan hanya untuk membalikkan tubuhnya untuk menatap Joycelline yang membuat hati adiknya itu terluka.
‘’David sudah menjelaskan alasan kenapa Kak Robert marah padaku, tapi bisakah Kakak mendengarkan penjelasanku dulu, aku tidak mau Kakak terus bersikap dingin dan acuh seperti ini padaku,’’ ucap Joycelline dengan memberanikan diri kembali mencekal tangan Robert yang akan melangkah pergi.
"Aku mohon dengarkan aku," ucap Joycelline karena Robert masih saja bungkam.
‘’Aku bilang besok, Joycelline!’’ ucap Robert dengan tegas. Joycelline yang keras kepala tetap pada pendiriannya untuk berbicara dengan Robert, dia ingin meluruskan kesalah pahaman itu saat ini juga. Joycelline bahkan dengan berani masih tetap mencekal tangan Robert, meskipun dirinya tau jika Robert tengah menahan emosi padanya saat ini.
Robert dengan tiba-tiba menyentak cekalan tangan Joycelline lalu memilih pergi menuju kamarnya, mengabaikan Joycelline yang akan segera menangis karena penolakan Robert padanya. ‘’Robert butuh waktu, jangan memaksanya,’’ ucap David yang berdiri di belakang Joycelline dengan iba.
‘’Bagaimana jika Kak Robert marah padaku dan membenciku. Hubungan kakak sudah buruk pada Mommy dan Daddy, aku takut kakak juga akan memutus hubungan denganku,’’ ucap Joycelline dengan matanya yang berkaca-kaca. Hanya menunggu tetesan air mata itu membasahi pipinya. Joycelline berusaha dengan keras untuk menahan air matanya karena masih ada David di sana.
‘’Robert hanya kecewa, aku harap kamu juga bisa memahaminya. Kamu jelas tau bagaimana kondisi Robert setelah kehilangan Nyonya Jeslyn, maka seharusnya kamu bisa memperkirakan bagaimana kecewanya Robert saat ini padamu,’’ jelas David memberikan pengertian pada Joycelline jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memaksa Robert.
‘’Padahal aku tidak bermaksud untuk menutupi ini semua dari Kak Robert. Aku juga terpaksa melakukanya. Aku tidak sengaja dan ini juga bukan kehendakku untuk memutuskanya.’’ Joycelline mununduk untuk menutupi air matanya yang kini mulai mengalir. Dirinya tidak mau jika David melihatnya tengah menangis, itu menjatuhkan harga dirinya.
‘’Kamu bisa jelaskan hal itu padanya besok. Aku tidak memiliki hak untuk ikut campur urusan kalian,’’ ucap David yang membuat air mata Joycelline semakin deras mengalir.
‘’Bagimana jika Kak Robert tidak mau mengerti?’’ jawab Joycelline dengan susah payah menahan isakannya.
‘’Jelaskan semuanya saat hatinya kembali dingin. Sekarang bukanlah waktu yang tepat. Robert tidak akan mendengarkanmu,’’ ucap David dengan nada lembut, tidak seperti biasanya. Joycelline yang tak bisa menahan rasa sesak di dadanya, dengan tiba-tiba memeluk tubuh David dengan erat.
Pria kaku yang selalu menunjukkan ekspresi datar itu sampai menegang karena gerakan Joycelline yang tiba-tiba memeluknya.
"Aku harus bagaimana supaya Kak Robert tidak lagi marah padaku," ucap Joycelline sembari terisak di d**a David. Tangan David ingin membalas pelukan Joycelline, tapi selalu ragu karena merasa tidak pantas. Tapi jauh di dalam hatinya yang dingin itu, kini perlahan mulai terasa cair karena sentuhan Joycelline. Dan untuk pertama kalinya, David berharap jika waktu berhenti kali ini saja, supaya dia bisa merakan euforia kebahagiaan ini lebih lama.
Setelah mempertimbangkan keputusannya, David lalu memberanikan diri mengusap punggung Joycelline untuk meredakan isak tangisnya. "Semua akan baik-baik saja, aku akan membantumu untuk berbicara dengan Robert," bisik David dengan lembut.
Karena melihatmu menangis sedih, aku juga akan ikut merasakan pedih.