love in mission 4 *

3013 Words
Semua tatapan tertuju pada Cally, gadis itu hanya menghela nafas sambil menebak apa yang akan dilakukan Max di kelas. "Saya mau duduk di sebelah gadis itu Mr. Clark" seru Max. Mendengar penuturan dari Max, semuanya terkejut, mengapa Max yang sangat badboy dan bahkan hampir menganggap bahwa semua wanita itu adalah mainannya, namun kini ia meminta agar duduk di sebelah Cally, sepertinya ada sesuatu yang berbeda. "Kau bebas untuk duduk dimana saja Max, silahkan mengambil tempat dan jangan mengacaukan kelas pagiku!" Max duduk di sebelah Cally, mengambil buku tebalnya, dan selama pelajaran Max mendengarkan Mr.Clark dengan serius, Bahkan Leo dan Christian sampai melebarkan mulutnya ketika Max bisa menjawab setiap pertanyaan yang diberikan oleh Mr.clark . "Kau tidak merasa ada yang berbeda dengan Max?" seru Leo sambil terus berjalan bersama dengan Christian dan Calvin. Mereka memperhatikan Max yang berjalan bersama dengan Cally si murid baru dan Stephan, pemuda yang cukup misterius itu setelah menyelesaikan kelas pagi mereka. "Aku tidak tau apa yang terjadi, apa Max mengenal gadis itu dan tiba-tiba berubah menjadi murid baik untuk mencari perhatian si murid baru!" seru Christian. Leo menggelengkan kepalanya heran, ini sama-sekali tidak masuk di akal. Gadis itu terlalu misterius dan terlalu kuat. "Cagaimana pendapatmu Vin?" seru Leo. Christian dan Leo bersamaan menatap Calvin yang masih menatap punggung gadis itu. Bahkan tanpa sadar, Calvin terus mengikuti arah perginya mereka bertiga. "Jangan bilang kau menyukai gadis aneh itu!" seru Leo. Calvin mendadak sadar. Ia menatap Leo cuek, lalu meninggalkan mereka di koridor. Leo dan Christian hanya bisa melongo, ada apa dengan Calvin? Lelaki itu sepertinya tidak sehat juga. Calvin mempercepat langkahnya, ia masuk ke dalam perpustakaan. Membuka laptopnya dan mengetikkan beberapa baris code di sana, yang tidak semua orang mengerti. Calvin menyungingkan senyumnya, tebakannya pasti benar. Cally bukan orang biasa, Calvin tidak menemukan data apa-pun tentang diri gadis itu meski ia sudah meretas data gadis itu. Calvin memejamkan matanya, sebenarnya ada apa dengan gadis itu, mengapa hati Calvin seolah memintanya untuk mencari tahu tentang gadis itu? Mengapa ada sesuatu yang berbeda pada dirinya ketika ia menatap manik teduh gadis itu? Rasanya ini seperti mirip sesuatu, tapi ia tidak bisa mengingat nya sama-sekali. *** "Kau mendapatkan alamatnya Steph?" tanya Cally setengah berbisik, mengingat keberadaan mereka sekarang adalah di perpustakaan yang cukup sepi. Sepertinya mahasiswa Oxford tidak mau repot-repot untuk melakukan eksperimen seperti Yale palto. "Sudah Cal, seperti dugaanmu, putri Mr.Clarck memang benar-benar di culik dan sepertinya ini bukan kabar yang baik untuk kita, karena alamat IP ini adalah alamat IP yang selalu berganti-ganti, mereka cukup pintar menyembunyikan keberadaan gadis itu!" Cally menatap layar monitornya, lalu mengamati alamat IP yang sudah dikirim oleh Stephan. Ini memang benar-benar sangat berbahaya. Max yang berada di sebelah Cally juga ikut memperhatikan. "Sepertinya aku pernah melihat barisan alamat IP ini!" ujar Max. Cally dan Stephan langsung menatap Max "Kau pernah melihatnya?" tanya Stephan. "Jangan bertanya dulu, aku bermasalah ketika mengingat! Ahhh...ia. Alamat IP ini adalah alamat yang sama dengan pelaku semalam, aku sempat membaca data mereka!" Stephan mengangguk, ia langsung mengetikkan barisan kode di dalam laptopnya, ia tersenyum miring. Ternyata ucapan Max memang benar, alamat IP penculik Theresia adalah alamat IP yang sama dengan yang dimiliki para mafia yang mereka hancurkan semalam. "Kita harus segera pergi, aku punya rencana!" seru Cally. Gadis itu langsung membereskan laptopnya dan langsung berjalan menuju area parkiran diikuti oleh Max dan Stephan. Mereka bahkan tidak menyadari keberadaan seseorang yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka meski tidak jelas. Calvin hanya menatap kepergian mereka bertiga dengan alis saling bertaut. Ia kembali menghela nafas, gadis itu terlalu membuatnya merada deja vu, karena rasanya, Calvin seperti mengenal gadis itu. Tapi ia bahkan tidak mengingat apa pun. Calvin menggelengkan kepala, ia tidak boleh ikut campur dengan masalah orang, ia harus fokus pada dirinya sendiri dan harus cepat menyelesaikan kuliahnya. *** "Ku dengar beberapa dari mereka sudah tertangkap!" "Siap,iya komandan" "Apakah gadis itu pelakunya?" "Siap, iya komandan." "Panggilkan dia." seru pemuda itu "Siap, dia ada di dalam ruangan penyelidikan komandan" "Baik, kau boleh pergi". "Terimakasih komandan" seru prajurit itu dan berlalu dari ruangan pemuda itu. Setelah percakapan singkat itu orang yg dipanggil Tuan itu pun pergi ke ruangan penyelidikan. Untuk bertemu dengan gadis itu. Ruang penyelidikan Suasana di rungan itu nampak sepi karena semua sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan Cally pun tak menyadari bahwa seseorang sudah menunggunya sejak tadi karena sudah larut meretas data dari mafia yang sudah mereka selesaikan subuh ini, Stephan dan Max juga sama. Mereka juga sibuk dengan komputer mereka masing-masing. "Apa urusan mu itu lebih penting dariku?" Seru suara bariton dari belakang Cally. Gadis itu langsung berbalik dan mendapati laki-laki berjas hitam lengkap dengan lencananya, dan hidung mancung yg sudah terpahat sempurna menambah kesan ketegasannya, sedang berdiri sambil memperhatikannya lekat. Stephan dan Max kompak berdiri sambil memeberikan salam kehormatan. Cally hanya mendengkus, lelaki ini selalu saja gila hormat. "Maaf aku hanya sibuk saja!"seru Cally datar. "Kau tidak pernah berubah" seru lelaki itu. "Sama seperti orang yg juga tidak pernah merubah sikapnya juga, dan orang itu tepat berada di hadapanku!" seru Cally menatap pemuda itu malas. "Seformal itu ly?" "Tentu jack !" "Oh ayolah ly , kapan kau akan tersenyum kepadaku. Apakah waktu ibumu mengandungmu dia tidak pernah tersenyum?" Ledek jack "Dan apakah ayahmu ketika membentukmu selalu tersenyum?" Balas cally. "ha...ha kau memang selalu sama!" seru Jack sedikit mengacak puncak kepala cally. Semua yg melihat itu hanya bisa senyum-senyum sendiri, bagaiman tidak? Jack yg terkesan dengan aura kedinginan dan ketegasannya bisa bersikap seperti anak-anak di hadapan Cally layak nya seekor anak anjing yg mengikuti kemauan majikannya. Dan Jack juga tidak mendapat perlakuan yang sama seperti kebanyakan orang ketika mereka menyentuh kepalanya. "Jadi kau yang melakukannya?" Seru jack dengan nada mengintimidasi. "Stephan dan Max juga ikut membantu ku sebagai Team!" jawab Cally sambil memperhatikan Stephan yang sudah kembali fokus pada layar monitor di depannya. "Huh ,kapan kau akan mengajakku untuk melakukannya bersama?" "Kalau kau bersedia meninggalkan jabatanmu, Jack!" "Apapun demimu, Ly!" Stephan yang mendengar ucapan Jack hanya mencibir tidak suka. Setelah kematian Ender, kekasih Cally, Jack memang sangat gencar-gencarnya mendekati gadis itu. Tapi Stephan bersyukur, Cally bukanlah gadis yang mudah untuk jatuh cinta. Ia bahkan masih mengingat bagaimana perjuangan Ender dulunya untuk merebut perhatian Cally, dan ya...Ender memang berhasil, mereka bahkan menjadi sepasang kekasih ter-complete di satuan agensi. Meski Jendral sudah beberapa kali menghukum mereka berdua, tapi Cally dan Ender memang sangat sempurna, selain dalam misi, mereka juga saling melengkapi untuk bisa terus bertahan. "Masih belum bisa move-on dari Ender, Ly?Ayolah, dia bahkan sudah menjadi tanah dan dagingnya sudah habis di santap para cacing dan sejenisnya, untuk apa lagi kau masih memikirkannya? Memangnya kau mau menjadi perawan tua selamanya?" "Kau berkata seolah kau yang merencanakan pembunuhan Ender saat itu Jack!" ucap Stephan Jack menoleh pada Jack. "Ternyata mulutmu memang harus di beri pelajaran untuk menghormati atasan, begitu mau mu Stephan?" "Kau masih memakai otak udang ini, Ly? Aku harus mengganti team mu, kau ini ketua Team alfa, bagaimana kau bisa memiliki angggota seburuk dia?" seru Jack "Aku bukan anggota saat ini Jack, kalau kau lupa, biar kan aku mengingatkanmu lagi. Aku hanya membantu Cally dalam misinya kali ini!" Stephan membela diri. "Cukup...kau kembali ke dalam pekerjaanmu Steph, dan kau Jack, tolong jangan menggangguku, atau kau tau apa konsekuensinya, dan jangan pernah lagi mengungkit soal Ender di hadapanku, apalagi kau berani menghinanya, itu semakin membuatku percaya bahwa kematian Ender ada hubungannya denganmu!" Wajah Jack memerah, ia menatap Cally nyalang. Gadis ini selalu saja menolak dirinya dan menganggap ia ada hubungannya dengan kematian Ender. "Kau tau cara berjalan menuju pintu bukan?" seru Cally Jack mendengkus, ia menendang meja Stephan lalu berlalu dari markas Cally. Ia benar-benar emosi mengingat bagaimana Cally memperlakukan dirinya. Stephan hanya terkekeh melihat Jack pergi dengan emosi, ia sangat membenci pemuda itu, kelakuannya hampir sama denangan Reymond, sangat menyebalkan, Mereka bertiga kembali lagi dalam kegiatan mereka, Max sepertinya cepat belajar, ia bahkan sudah tau bagaimana Stephan bekerja. Cally hanya tersenyum dalam hati, semua robot hasil modifikasinya memang berhasil, mereka menjadi pribadi yang baru dan hampir semuanya melakukan kegiatan yang baik. Karna tujuan awal Cally memutasi mereka adalah untuk mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih berguna dan lebih baik, karena Cally benci dengan spesies orang jahat, yang bahkan hanya bisa menghancurkan apa yang orang lain miliki. "Cal, aku mendapat lokasi mereka!" seru Stephan. Cally mendekatkan duduknya pada stephan. Ia mengamati lokasi yang sekarang tertera dalam layar laptop Stephan. "Siapkan perlengkapan Steph, kita akan menuju rumah Mr.Clarck, kita harus mengikutkan dia untuk memancing para buronan itu!" Stephan mengangguk, ia segera bangkit berdiri diikuti oleh Max. sampainya di kediaman Mr.Clark, mereka langsung menyelinap dari pintu belakang. Berjaga-jaga agar pengawal Mr.Clark tidak mengetahui keberadaan mereka. Max melangkah menuju ruangan atas, Stephan berjalan mengendap-endap. "Mencariku anak muda?" Stephan, Max, dan Cally langsung berbalik badan, mereka menemukan Mr.Clark yang duduk sambil menatap mereka. Tangannya memegang sebuah buku, terlihat memiliki aura yang elegan. "Pintuku selalu terbuka untukmu, Nona Dominic. Tidak perlu menjadi seperti maling!" seru paruh baya itu "Maafkan kami Mr.Clark, tapi kami yakin bahwa rumahmu ini dipasangi alat pelacak!" ujar Cally . Mata paruh baya itu nampak terkejut, ia bangkit dari duduknya lalu mengisyaratkan agar mereka mengikutinya. Mereka mengikuti Mr.Clarck memasuki sebuah ruangan kedap suara. "Ini ruangan pribadiku dulu ketika aku masih aktif dalam satuan FBI! Dan kalian tenang saja, aku tidak akan terdeteksi jika berada di sini, kalian bebas mengatakan apa yang ingin kalian lakukan, kita memiliki waktu 30 menit, apa itu cukup?" seru Mr.Clark Cally dan Stephan mengangguk, mereka langsung membuka layar monitor laptop mereka. "Kami berhasil melacak kebaradaan Theresia dimana!" ujar stephan. Wajah Mr.Clark nampak terkejut, ia langsung bersikap antusias. "Aku bisa meningkatkan waktunya, kita punya waktu satu jam. Tapi aku ingin bertanya sebelumnya, apa Max itu adalah hasil mutasi Anda, nona Dominic?" "Seperti yang Anda lihat, sekarang Stephan akan menjelaskannnya." seru Cally "Baik, jadi kami menemukan alamat IP setelah mengetahui bahwa kau akan terlibat dalam misi kali ini Mr.Calrk. Awalnya aku bahkan tidak tau masalah putrimu, tapi Cally yang memberitahu ketika pertama kali melihat Anda saat itu!" seru stephan. Mr.Clarck mengangguk, ia memang mengakui kehebatan gadis muda pembunuh berdarah dingin itu. Tidak salah ia memiliki darah keturunan seorang Dominic dan ia tahu, bahwa gadis itu sedang memiliki misi sehingga harus menjadi mahsiswi lagi. "Lanjutkan!" seru Cally. "Jadi setelah itu, kami mulai mencari informasinya. Alamat IP ini adalah alamat IP yang sama dengan yang tertanam di dalam tubuh Anda. Lokasinya berada tidak jauh, dan sepertinya misi ini membutuhkan Anda sebagai umpan. Tapi yang paling kami takutkan adalah, Theresia sudah mereka modifikasi menjadi pembunuh bayaran!" seru Stephan "Tidak...terakhir aku berbicara dengan putriku, dia masih nomal. Hanya diperintah untuk membuat sebuah boom nuklir yang cangggih!" "Baik, kita akan beraksi malam ini Mr.Clark, siapkan mentalmu. Karena kemungkinan terbesar, kau akan terbunuh dan kemungkinan terkecilnya kau hanya akan terluka parah!" "Aku siap untuk menyelesaikan apapun itu, bahkan ketika aku harus merenggang nyawa nantinya, yang terpenting, putriku Theresia bisa kembali menjalani hidupnya dengan baik!" Cally,stephan dan Max mengangguk. "Kalau begitu, misi ini kita mulai!" ujar Cally *** "Hey Le cepatlah, kita harus menyelesaikannya malam ini, jangan ceroboh! Calvin sudah hampir selesai!" ujar Christian . "ini hampir selelsai bodoh!" Chritian dan Leo masih sibuk mengerjakan laporan mereka, lain halnya dengan Calvin. Ia sebenarnya sudah selesai mengerjakan tugasnya, dan memandangi bangunan di sebelah rumah Leo. Calvin pikir, rumah megah itu terlalu mencurigakan, tidak ada aktifitas yang mereka lakukan ketika siang hari. Tapi ketika sudah malam hari begini, rumah itu sepertinya sangat ramai. Banyak orang-orang berpakaian hitam yang berjaga di luar. Calvin mengedikkan bahunya, itu bukan urusannya. Ia berjalan menuju atap. "Sudah selesai?" seru Calvin pada Leo dan Christian yang nampaknya masih sangat sibuk. "Sudah lama!" seru Leo. "Apa kau mendapat informasi terbaru tentang gadis itu?" seru Calvin Chritian menggeleng, sama halnya dengan Leo. "informasinya sama saja, dia tertutup!" seru leo frustasi. Sudah terhitung sejak 6 bulan lalu ia tidak mendapat informasi apa pun tentang Theresia, gadis itu memang benar-benar menghilang, bahkan ketika ia bertanya kepada Mr.Clarck sang ayah, beliau juga mengatakan belum mendapatkan Clue. "Kita harus lebih bersabar, aku akan ikut membantu!" seru Calvin sambil ikutan membuka Laptopnya. Meski suasana dingin ketika berada di atas gedung, sama-sekali tidak menyulutkan tekad mereka bertiga untuk mencari keberadaan Theresia, sahabat mereka sekaligus kekasih Leo. Mereka memang mengakui kehebatan dari Theresia, gadis itu memang sangat pintar, dan sudah pernah menciptakan sebuah boom nuklir yang sangat dasyat, mereka yakin dia diculik untuk sesuatu yang buruk. Bahkan para pasukan polisi yang Mr.Clarck percaya pun masih saja belum memberikan hasil apa-apa, bahkan setelah 6 bulan lamanya. *** Stephan mengawasi pergerakan di dalam gedung dari layar monitor laptopnya. Semakin malam menjelang, aktifitas di dalam sana sepertinya semakin sibuk. Benar-benar seperti dunia malam sesungguhnya, mereka akan beraktifitas ketika malam hari telah tiba. "Cally, kau harus bersama dengan Mr.Clarck, lawan kita tidak semudah semalam!" ujarnya memalui earphone yang terhubung dengan teamnya. "Max? kau mendengar aku?" seru Stephan "Aku, siap!" "baiklah, kau akan memusnakan mereka yang berjaga di luar, Cally, dan aku akan memasuki kawasan dalam!" tambahStephan. Max mengangguk, ia berjalan mengendap-endap. krekk Max mematahkan leher penjaga di gerbang dengan mudah. Benar-benar mudah, Max terkekeh dalam hati, "Hey...siapa di sana?" Max lekas bersembunyi di balik tembok, para penjaga itu mendekatinya. Mereka langsung menghajar Max, lelaki itu menghindar dengan mudah. Dan mengalahkan mereka, ia juga melakukan hal yang sama dengan semua penjaga yang berada di luar. "Aman!" seru Max melalui earphonenya. Cally dan Mr.Clarck memasuki ruangan, "Anda harus berhati-hati Mr.Clarck!" seru Cally , pria paruh baya itu menganggukan kepalanya. mereka tetap mengendap-endap, menghindar di antara tembok ketika beberapa bodygoard berlalu lalang. "Cal, di belakangmu!" ujar Stephan Cally langsung siaga, mereka sudah sampai di ruangan yang mengurung sepertinya ada 10 orang. Salah-satu dari mereka adalah Theresia. "Ayah?? Ayahhh, lepaskan aku ayah, aku tidak mau di siksa terus-terusan ayah!" seru gadis itu ketika mendapati mereka yang sudah sampai. Mr.Clarck tak kuasa untuk menahan air matanya, ia menatap keberadaan putrinya yang mengerikan, rambut gadis itu sudah pendek. "Wah-wah...ternyata keamanan di rumah ini memang harus segera di perketat ya, para kancil ini saja bisa masuk!" Cally dan Mr.Clarck terkejut mendengar suara seorang pemuda bertopeng sama seperti orang-orang yang mereka habisi semalam. Cally menghela nafas malas, mereka ini bukan hanya sebagai p**************a, tetapi juga melakukan perdagangan manusia. Cally tebak, mereka yang tidak di jual ini adalah mereka yang memiki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang berguna untuk mereka. "Ada apa? Terkejut melihat kancil ini bisa menembus keamanan rumah ini?" kekeh Cally Ia mendekati mereka dengan tenang, salah-satu dari mereka langsung menyerang Cally. Gadis itu langsung menghindar dengan mudah. Sepertinya mereka bukanlah ketua dari dunia gelap mereka ini, karna rasanya melawan mereka tidak ada apa-apanya bagi Cally. Shrett Cally langsung menghunus pisaunya pada leher pemuda itu, lelaki itu langsung tumbang. "Hanya segini kemampuan kelompok paling berbahaya ini?" kekeh Cally "Dasar sialan, aku akan membunuhmu sialan!" Sementara Cally melawan mereka, Mr.Clarck membuka semua jeruji yang menawan para manusia itu, Theresia langsung memeluk sang ayah. bugh Cally lengah, pemuda yang menjadi lawannya itu berhasil memukul perutnya. Cally berdecih, ia langsung melayangkan kakinya, tepat mengenai kepala pemuda itu, tak hanya sampai di situ, Cally juga menusukkan pisaunya tepat mengenai saraf lelaki itu, darah merembes kemana-mana. Para gadis itu berteriak histeris sambil menangis. Sementara di luar, Stephan masih sibuk melawan beberapa orang berbaju hitam. Ia paling benci bertarung jarak dekat, karna sudah dipastikan ia pasti akan kalah. bughhh Stephan memegangi sudut bibirnya yang kena pukul. Ia hendak berdiri dan melawan, tapi tiba-tiba dorr.. Stephan meringis, lengannya tertembak, ia menatap si pelaku. lelaki itu kembali lagi mengacuhkan pistolnya, menarik pelatuknya. Dorr Stephan tidak sempat untuk menghindar. Lututnya kena tembak lagi, "dasar polisi tidak berguna, kau polisi hah? Kau itu tidak pantas untuk berada di sini b******n, kau harus terima akibatnya!" kekeh pemuda itu. lelaki bertopeng itu mengacuhkan lagi pistolnya dorr Darah merembes kemana-mana, Stephan meringis, ia memejamkan matanya menahan rasa sakit dari peluru yang bersarang di lengannya. brukk pemuda yang tadi mengacuhkan pistolnya itu pada Stephan hanya membelakkan matanya terkejut. Ia terjatuh ke lantai, darah merembes dari kepalanya, Cally mendekati Stephan yang masih merintih kesakitan. Beruntung ia datang tepat waktu. Kalau tidak, Stephan pasti sudah menjadi mayat tak berguna jika sedetik saja ia terlambat. "Kau masih bisa bertahan sebentar lagi?" tanya Cally. Stephan mengangguk. "Baiklah, Max, bantu Stephan. Mr.Clarck bawa anakmu dari sini, mereka...biar aku yang menangani!" ujar Cally. Mereka mengangguk, sebelum keluar dari dalam, ternyata di luar sudah ramai, Cally sangat membenci misi kali ini, karna selain posisi mereka yang pasti akan mengundah kehebohan dari warga sekitar, polisi juga semakin mudah untuk melacak mereka, terlebih ketika rencana awal mereka untuk tidak menggunakan senjata hancur sudah. "Cepat pergi dari pintu belakang!" seru Cally. Mereka menuruti Cally , sementara gadis itu masih tetap berada di dalam. Bunyi tembakan yang begitu ketara, membuat Christian dan Leo heboh, mereka berdua langsung menuju ke bawah. Meski sudah larut malam, ternyata banyak warga yang juga sudah mengerumuni rumah megah itu. Berbeda dengan Calvin, ia menatap apa yang terjadi dari atas. Matanya terkejut ketika mendapati gadis yang akhir-akhir ini menyita perhatiannya, gadis itu adalah Cally. Dia melihat para polisi yang memasuki rumah itu menghormat kepada gadis itu. Apa gadis itu seorang polisi? Batin Calvin. Ia masih menatap gadis itu yang memarahi beberapa polisi yang masih menghormat ke arahnya. Rasanya sedikit familier dengan segala macam senjata dan perlakuan gadis itu. Cally yang merasa kesal, ia akhirnya membentak para polisi itu, "Aku akan memecat kalian semua jika terus bertindak bodoh, segera bawa mereka!" teriak Cally "Siap, perintah dilaksanakan komandan!" Mereka langsung bergerak cepat, Cally juga kembali menutupi wajahnya. Gadis itu menatap ke atas, hari sudah mulai subuh lagi, dan pastinya ia akan kekurangan waktu tidurnya lagi, karena misi sialan ini. Tapi mata tajam Cally tanpa sengaja bertemu pandang dengan sosok pemuda yang juga sedang menatapnya dari atas gedung. Cally menghela nafasnya, semoga pemuda itu tidak melihat wajahnya, karna cally juga tidak mengetahui siapa jelasnya lelaki itu karena mengingat hari yang sudah malam, perhatian Cally teralih dari pemuda itu, karena handphonenya bergetar, ia mengangkat gawainya lalu mengangguk. "Aku menunggu dari pintu belakang!" ujar Cally. Ia melirik lagi ke atas atap, pemuda itu sudah menghilang. Cally menyeringai dalam hati, sepertinya ia harus melakukan sesuatu sebelum ia benar-benar pergi dari tempat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD