Tidak ada yang pasti dari sebuah kepastian
***
"kau melihat gadis itu? Sepertinya gadis itu, hey,tunggu dulu, sepertinya aku mengenal gadis itu!"
"kau mengenal nya? Bisa kau jelaskan lebih spesifik?"
"Ternyata tidak, aku pikir dia artis Bollywood dalam impian ku!"
Calvin dan Christian kompak menoleh ke arah Leo, lalu menjitak kepala lelaki itu.
"awww, lu semua pada kenapa sih? Kepala gue lecet, gue laporin lu pada sama kesayangan gue, biar lu semua pada di mutasi!" ujar nya sambil mengusap kepalanya.
"laporin sono, laporin, dasar banci Thailand!" seru Christian sambil keluar dari tempat persembunyian mereka dan diikuti dengan leo. Mereka langsung menaiki motor nya, "kau masih akan tetap berada di sini Vin? Ini sudah hampir pagi, setan akan lebih banyak gentayangan dan mereka akan menjadikan mu tumbal!" seru Christian melihat Calvin yang belum beranjak dari tempat persembunyian mereka tadi.
Calvin, lelaki itu membalikkan badannya sebentar lalu kembali fokus pada target mereka. s**t, Calvin mengumpat saat menyadari target mereka sudah menghilang dalam sekejap. Apa mereka? Mengapa bisa menghilang dalam sekejap saja? Akhirnya Calvin keluar dari tempat persembunyiannya lalu menghampiri Leo dan Christian yang sudah stay di atas motor mereka.
"sudah selesai dengan acara menguntit mu?" seru Leo seolah meledek, dan seolah lupa bahwa dia lah dalang dari rencana gila mereka. "sudahlah vin, tidak ada gunanya bicara dengan orang seperti dia, cepatlah naik ke atas motor mu, jika kita ketahuan, kita akan tamat!" seru Christian mencoba untuk mengambil keputusan tercepat.
Leo hendak kembali ingin protes, tapi mata elang nya tiba-tiba melihat pergerakan dari arah jalan yang sudah kosong. "Calvin, awas!"
Calvin langsung menghindar ketika mendengar teriakan Leo. Ia menatap benda yang baru saja hampir mengenai kepalanya, sedetik saja ia lengah, pasti benda tajam itu akan menghunus lehernya. Calvin berjalan mendekati sumber datangnya benda itu, karena ia yakin, benda itu pasti dengan sengaja di lemparkan padanya.
"hey, Vin. Ayolah, jangan pergi ke sana, itu berbahaya!" seru Christian yang merasa sesuatu yang buruk akan terjadi ketika melihat Calvin yang mendekati arah datangnya benda itu.
Calvin masih terus berjalan mendekati arah datangnya benda itu, semakin berjalan mendekati, bulu kuduk Calvin tiba-tiba berdiir, ia punya firasat yang kurang baik. Hingga tiba-tiba, meongg,
"aaaaa, setan baru datang, lariii-lariiiii" Teriak Leo alay
Calvin meraih kucing itu, lalu menatap sekeliling, tidak ada yang mencurigakan. Ia menatap leo yang sudah histeris sambil memeluk Christian, sungguh tidak etis sekali. Mirip dengan tante girang ketika akan diperawani oleh om-om m***m.
"hey, kau takut dengan hewan imut berbulu ini?" seru Calvin sambil mengangkat Kucing hitam di tangannya. Bukannya berhenti berteriak, leo malah semakin histeris. " Aaaaaa, wonder womann, jauhkan itu dari ku, dasar sialan, Calvinnnn, aku akan benar-benar membunuh mu!" teriak Leo semakin histeris ketika Calvin malah memanfaatkan keadaan itu untuk menakut-nakuti Leo.
"dasar sialan, mengapa aku bisa berteman dengan lelaki banci seperti mu?" kesal Christian sambil menjauhkan Leo yang sejak tadi memeluknya erat. Chritian lalu membersihkan tubuhnya, amit-amit saja dia dipeluk sama cowok, najis, dia bukan gay cap kakap.
"alay banget sih lo!" seru leo sambil menatap Christian yang tadi mendorongnya sampai terjatuh dengan tidak etisnya, memalukan sekali.
"kau tidak takut lagi?" seru Calvin tiba-tiba sudah berada di depan Leo.
"aaaaaaaaaaaaa!" teriak Leo lebih histeris, dan langsung berlari menuju Christian, memuluk erat lelaki itu sampai mereka terjatuh saling menindih. Andaikan adegan ini antara dua manusia berlainan jenis, pasti akan sangat romantis, terlebih membayangkan ketika gadis itu memeluk erat sang pria. Tapi, masalahnya ini adalah sesama jenis, bukannya adegan romantis yang di dapat, melainkan rasa jijik.
Calvin sudah tertawa terbahak-bahak sambil melihat ekspresi jijik Christian. Merasa sudah puas tertawa, ia membantu mereka untuk berdiri.
"aku benar-benar akan membunuh mu!" seru Christian sambil menatap Leo dengan emosi.
"sudahlah, kita pergi saja, aku tidak mau melihat Leo kembali memelukmu lagi ketika melihat kucing liar itu lagi!" seru Calvin sambil menaiki motor nya.
Christian yang menatap Leo tajam sejak tadi langsung mematuhi perintah Calvin, ia menaiki motor nya lalu bergegas menyusul Calvin. Leo masih berdiam diri di atas motornya, ia merasakan bulu kuduknya tiba-tiba berdiri. Calvin dan Christian sudah tidak terlihat lagi. Ketika hendak melajukan motornya, tiba-tiba seseorang memukul kepalanya.
brukk
Leo terjatuh dari atas motornya, ia tidak sempat melihat siapa pelakunya, yang terakhir ia rasakan. Ia dibawa dan motornya ditinggalkan begitu saja.
***
Suasana pagi di kampus di hebohkan dengan berita hilangnya salah seorang mahasiswa paling famous di kampus. Tidak ada jejak yang ditinggalkan, semua seolah tersusun rapi. Bahkan saat ini,Calvin, Christian dan Naura sedang di-interogasi di ruangan rektor sebagai tersangka karena mereka yang terakhir kali bersama dengan korban, kecuali Naura, adik Leo itu hanya menatap Calvin dan Christian tidak suka.
"kalian harus bertanggung jawab, karna kemarin malam, bang Leo ijin pergi karena ingin bermain dengan kalian!" teriak naura marah sambil menangis.
"hey, kau pikir kami sengaja melakukannya? Kami juga berusaha mencari tahu!" kesal Christian
"kau! Sepertinya kau yang merencanakan,...!"
"jangan berisik di ruangan ku, atau kalian bertiga akan kumasukkan ke dalam penjara!"
Naura dan Christian langsung membungkam mulut mereka masing-masing karena mendengar instruksi dari Mr.Fernandes, hanya Calvin yang masih tetap tenang dan berusaha untuk tidak terpancing emosi. Mr.Fernandes,ditemani oleh Mr.Clark kembali mengajukan pertanyaan pada mereka bertiga.
"baiklah, Leo menghilang setelah kalian semalam selesai ikut balapan liar, benar begitu?" seru Mr.Fernandes dengan nada tetap sedikit tenang.
"ya!" seru Calvin sambil menceritakan detail kejadian malam itu dengan detail.
Mereka semua kembali terdiam, Mr.Clark juga masih menganalisa masalahnya, kasus ini jelas beda sekali dengan kasus putrinya , tapi tunggu dulu. "apa ada sesuatu yang mereka tinggalkan?" seru mr.Clark tiba-tiba teringat akan sesuatu.
Calvin merenung sambil kembali mengingat kejadian itu, " tubuh kucing yang mengejutkan kami itu dibuat menjadi sekte sesat, tapi kepala kucing itu terpisah dari bagian tubuh yang lain!" ujar Calvin
"kasus ini hampir mirip dengan kasus putriku, bedanya di atas tubuh kucing yang dijadikan sama dengan kasus kali ini terdapat setangkai mawar merah di atasnya!" sambung Clarck
"aku kira-kira kau bisa melibatkan orang-orang yang terlibat dalam penyelamatan putri mu dalam masalah kali ini?" seru Mr.Fernandes. Calrck nampak gugup, ia tidak menjawab pertanyaan Mr.Fernandes, karena bagaimana pun, misi penyelamatan putrinya itu melibatkan orang yang tidak sembarangan.
"mengapa diam Clarck? Sesulit itukah pertanyaan ku ini?" ujar Mr.Fernandes.
Clark nampak masih gugup, ia mengalihkan perhatiannya. Jika ia mengungkapkan siapa yang membantu penyelamatan putrinya itu, maka nyawanya yang akan menjadi korban dan putrinya pasti akan terlibat dalam masalah besar lagi.
"sepert nya sesulit itu untuk menj--..."
Ucapan Mr.Fernandes tertahan ketika seeseorang memasuki ruangannya tanpa memberikan salam terlebih dahulu.
"ada apa kau memanggilku b*****h?"
Mr.fernandes menatap kehadiran Cally yang benar-benar mengacaukan suasana hatinya, bahkan sadar-atau tidak sadar, Cally bahkan sudah menjadi pusat perhatian mereka. Calvin, Christian dan Naura sampai membuka mulutnya sakin tidak percayanya mereka, seseorang dengan status sebagai mahasiswa berani berbicara lancang , bahkan memanggil rektor mereka dengan b*****h, apa rektor mereka sudah turun jabatan?
"setidaknya jaga ucapan mu nona muda!" seru Mr.Fernandes sambil memberikan kode pada Cally.
Gadis itu lalu menatap sekitar, Poor cally , ia baru sadar ternyata bukan hanya mereka berdua yang berada di ruangan ini. Mata teduh Cally berhenti pada manik milik Calvin, tapi buru-buru ia memalingkan wajahnya dan menatap MMr.fernandes seolah tidak bersalah.
"kau bisa membantu ku? kau pasti sudah mendengar ada murid kita yang hilang, kurasa aku bisa percaya pada mu!" ujar Mr.Fernandes. Sementara Cally nampak memasang wajah datar.
"maaf aku sibuk, tidak ada gunanya untuk melakukan tugas tidak berguna mu ini Mr.Fernandes, cari saja yang bisa!" ujar Cally lalu langsung berlalu dari ruangan rektor meninggalkan Calvin, Christian dan Naura yang masih belum menutup mulutnya.
Namun seolah tersadar, Calvin lalu angkat bicara. "Tunggu dulu Mr.Fernandes, mengapa anda melibatkan murid baru itu?" seru nya
Mr.Fernandes mengangguk, penilaianya pada lelaki itu tidak meleset. "dia punya jiwa pelacak yang bagus, kau bisa minta tolong padanya!" seru nya.
Calvin mengangguk, ia sagera keluar dari ruangan,jika gadis itu bisa membantunya, maka itu tidak terlalu buruk. Meski di sisi lain, ia sedikit menaruh kecurigaan pada gadis itu.
"mengapa si tua bangka itu memanggil mu bos?" seru Stephan sambil berjalan bersisihan dengan Cally.
"dia ingin kau ikut menyelidiki hilangnya lelaki itu!" ujar Cally malas.
"tunggu dulu Cal, bukannya itu tidak bagus untuk mu? Aku curiga dengan beberapa orang yang datang saat balapan itu!"
"kau lupa misi utama kita Steph? Kita bahkan tidak menemukan sedikit pun clue siapa pelakunya, ini membuat ku pening!" seru Cally
Stephan hanya mengangguk, Cally ada benarnya juga, urusan mereka juga belum sepenuhnya selesai. Jika harus terlibat misi baru lagi, maka konsekuensi nya pasti akan semakin besar nanti.
"Cally dominic!!!"
Cally dan stpehan berhenti ketika mendengar teriakan itu. Cally hanya menatap sosok Calvin yang berlari ke arah mereka. "ada apa?" seru stephan
"apa benar kau bisa membantu mencari leo?" seru Calvin penuh harap.
"tidak, si tua bangka itu hanya mengecoh saja, jangan kau dengarkan Vin!" seru Stephan menyadari jikalau bos nya itu tidak mau repot-repot menjawab.
"aku bertanya kepada nya, bukan kepada mu !" ujar calvin
"aku tidak bisa!" ujar Cally yang sejak tadi terdiam,ia langsung berbalik.
"tunggu!" seru Calvin memegan tangan Cally.
Cally menatap tangannya yang sedang dipegang lelaki itu. Mengapa ia jadi teringat ketika Ender yang sedang menahannya? Cally merasakan ada nya aliran listrik kecil yang menyengat kulitnya ketika disentuh pemuda itu. Tidak berbeda jauh dengan Calvin, ia menatap tangannya yang memegang tangan halus milik Cally, ia merasa pernah memegang tangan ini, tapi dimana?
Calvin tiba-tiba memegangi kepalanya. Sebuah bayang-bayang memaksa memasuki kepalanya. Ia merasakan sengatan kecil kecil. "hey, kau tidak apa-apa?" seru Cally sambil ikut berjongkok di depan Calvin. Ia juga tidak tau mengapa ia mau repot-repot menghawatirkan lelaki itu. Calvin menatap Cally, ia menatap wajahnya, wajah yang begitu familiar, tapi ia yakin tidak pernah melihat wajah ini.
"t-tidak, aku baik-baik saja!" seru nya sambil bangkit berdiri. Ia kembali menatap tangannya yang masih dipegang gadis itu. Ada rasa yang tidak bisa ia jabarkan saat menatap wajah gadis bermanik teduh itu.
"kalian bertatapan lama sekali, seperti di sinetron indosiar saja!" seru Stephan sambil memutar bola matanya malas.
Cally seolah tersadar, ia lalu melepas tangannya yang sejak tadi memegang lelaki itu. gadis itu lalu berlalu dan meninggalkan mereka berdua. Stephan ikut menyusul mengejar langkah Cally yang sangat cepat.
Calvin masih terdiam di tempat, ia menatap kepergian mereka seolah lupa hal apa yang akan ia lakukan. Setelah tersadar, Calvin segera mengejar mereka lagi, namun mereka sudah tidak terlihat lagi. Calvin mengumpat dalam hati, sudah tidak mendapat jawaban pasti, gadis itu juga meninggalkannya, malang sekali nasib nya.
"hey, kau mengapa? Terdiam sambil menatap tembok kosong itu?" seeru Christian menepuk bahu Calvin sambil menatap tembok itu.
"sudah lah, gadis itu tidak mau membantu kita. Kita harus lapor polisi saja, biar mereka yang membantu kita menyelidik kasus ini!" Ujar Calvin kembali meninggalkan Christian yang masih menatap tembok di depannya.
"dasar menyebalkan, Hey Vin, tunggu aku!"
***
"sialan, lepaskan aku b******n! Setan, lepaskan aku, jika ayah ku menangkap mu, ku pastikan kau akan menyesal!"
"sialannnnn, lepaskan aku, b******n!"
Suara itu tidak ada yang mau menyahut, seolah semua orang yang berada di sekelilingnya terprogram untuk tidak menjawab nya barang sedikit pun. Keadaan lelaki itu sama-sekali tidak mendukung untuk melakukan pembelaan diri. kedua tangannya dan kaki nya di rantai, mata nya ditutup, baju nya sudah dilepas hanya memakai celananya saja.
Tetesan air yang terus menetes di atas kepalanya membuat seluruh badannya serasa mati rasa. Lelaki itu adalah Leo.
Bunyi pintu yang terbuka membuat Leo mengalihkan perhatiannya, meski tidak bisa melihat sama sekali, tapi ia bisa merasakan bahwa seseorang mendekati nya dan berhenti tepat di depannya.
"kau berisik sekali anak muda, sepertinya aku perlu melakukan sesuatu pada mulut mu ini agar kau tidak ribut lagi dan membuat telingaku menjadi sakit!"
"b******n, sialan, lepaskan aku sialan, jika kau tertangkap, akan kupastikan kau akan mengalami hal yang sama, bahkan lebih parah dari ini!" ujar leo
" hahahah, ayah mu? Si tua bangka yang kau banggakan itu? Tidak berguna sekali Leo, kau harus tau bahwa aku bisa saja menghancurkan si tua bangka itu dengan mudah!"
ciuhh
Leo meludah, meski ia tidak tau apakah itu bermamfaat atau tidak, tapi setidaknya Leo memuaskan amarahnya,
"kau seperti nya ingin bermain sebentar ya! " seru nya.
Sosok itu membuka penutup mata yang mengingat mata Leo, ia tersenyum miring ketika menyadari Leo yang menatapnya seolah sedang melihat setan.
senang bisa melihat mu lagi Leonardo Ishak....