love in mission 8

2016 Words
                                SEMUA TIDAK SELALU SAMA DENGAN APA YANG KITA HARAPKAN                                                                                               *** "Mengapa? Terkejut melihat ku hmmm?  Leo- leo, kau tidak secerdik nama mu ternyata!" "K-kau? Dasar b******n, lepaskan aku b*****h!" teriak Leo berusaha membuka rantai yang melilitnya.  "Melepaskan mu? Kau bernilai jutaan dollar leo, apalagi ayah sialan mu itu pasti akan melakukan apa pun demi membebaskan mu!"  "Ayah? Hahahha, bukan kah kau yang paling bersemangat jika sudah menyinggung soal ayah, Jerome?"  plakk  "aku kehilangan ayah ku karena ayah sialan mu itu b******n!" Seru Jerome, lelaki biadab yang telah menyulik Leo dan menelanjangi nya.   Leo sedikit meringis ketika menyadari tamparan Jerome cukup menyakitkan baginya dan merobek bibirya.  "kau benar-benar biadap Jer, sudah berapa lelaki yang kau culik hah? Tidak bisa kah kau hidup dengan normal dan ya, tentu saja tanpa menghancurkan sesama lelaki!" ujar Leo mencoba untuk bernegosiasi.  Jerome menatap Leo tajam, ia lalu sedikit memberikan jeda di antara mereka. Kewarasannya sudah semakin menipis.  "kau tau. aku sudah memodifikasi diri. Tidak hanya lelaki saja, tetapi wanita, anak kecil, remaja, semua yang bernilai uang dan semua yang masih berfungsi akan aku hancurkan, sama seperti ayah mu yang menghancurkan ayah ku!" ujar Jerome sambil mengelilingi Leo dan sesekali meraba wajah lelaki itu.  "kau lebih dari biadap Jer, aku tidak mengira kau akan melakukan hal sekeji ini padaku!"  Jerome kembali mendekat, ia menatap wajah Leo sambil mengelus nya.  "aku sudah kehilangan pacar genius mu Leo, setidaknya aku bisa memamfaatkan  mu!" bisik Leo  "b******n, dasar sialan, kau apakan dia? jadi  selama ini yang menyuliknya adalah kau? apa mau mu hah?" seru leo tersulut emosi, ia paling tidak suka jika pacarnya dilibatkan dalam urusannya.  "mau ku hmm?" seru Jerome  seketika ruangan yang tadinya gelap berubah menjadi terang benderang, Leo membulatkan matanya. Ternyata buka hanya dia yang ada di ruangan itu. Tetapi ada sekitar dua lelaki yang telanjang dan tak sadarkan diri, dan seorang wanita yang sama persis seperti mereka. "aku akan membangun sebuah rudal paling canggih, dengan tampilan alat yang hanya bisa dikontrol oleh pikiran ku, aku akan menguasai dunia bawah, pasar gelap, dan semua situs jejaring mafia, sayangnya, Pacar genius mu itu tidak mampu mengembangkan alat itu!" seru Jerome sambil menampilkan gambar alat-alat yang Jika Leo tebak, semua itu adalah sejenis bom dan alat navigasi.  jerome kembali memutar gambar yang ada dilayar. Sebuah Pulau, tujuan utama nya. "aku  ingin menguasai pulau ini Leo, asal kau tau. Dan jika kau mau bergabung dengan sukarela dengan ku tanpa paksaan, aku akan menjadikan mu tangan kanan ku, kita bisa hidup di pulau ini, kau bisa hidup aman dengan gadis mu, b******a setiap malam di hotel berbintang ku, menikmati setiap gaya b******a di kamar VVIP yang akan kau dapatkan, bahkan jika kau bosan dengan pacar genius mu itu, aku bisa memberikan semua gadis itu padamu!" seru Jerome. Dia kembali mendekati Leo, mengelus wajah, hidung dan juga bibirnya.  "Jadi bagaimana? Kau mau membangun alat navigasi ini untukku Leo, tentunya sebelum ayah mu mengarahkan anak buah nya untuk mencari mu!"  ciuhh Leo meludahi wajah Jerome, dan kali ini tepat mengenai wajah nya. Leo menatap wajah lelaki sialan di depan nya itu dengan pandangan tajam.  "sampai kapan pun, aku tidak akan pernah ikut dalam permainan gila mu itu, kau pikir harta, wanita, kesenangan yang aku cari dalam hidup ini? Kau salah Jer, kau bodoh, jika aku mau bermain wanita, sudah dari dulu aku meminta pada ayah ku, tapi, aku hanya mencintai satu wanita dalam hidup ku, tidak seperti mu, merusak seorang gadis dan meninggalkannya, kau b******n!"  Brukk Tubuh Leo ambruk, Jerome menatap tubuh di bawahnya. Ia menarik alat listriknya dari tubuh Leo.  "jangan menasehatiku b******n, ayah mu yang menjadikan aku menjadi seperti ini!" ujar Jerome, menendang tubuh Leo yang tidak berdaya dan berlalu dari ruangan itu.  Sementara Leo hanya memandang kepergian Jerome, sepupunya yang sudah berubah itu. Ia-ia bahkan tidak tau harus melakukan apa untuk saat ini, sengatan listrik di badannya masih membuatnya sangat lemah. Leo menutup matanya bersamaan dengan kegelapan yang mendatangi nya.  *** Calvin masih berdiam diri di parkiran kampus, Ia masih menunggu informasi  orang suruhan ayah nya yang ikut membantu mencari Leo. Ia jelas merasa bersalah, seharusnya ia tidak perlu merasa penasaran dengan yang terjadi semalam, jika ia tidak pergi, maka ini tidak akan terjadi, kehilangan Leo, sama saja seperti kehilangan ibundanya dulu.  Calvin merasakan ada suara yang mendekat ke arahnya, dengan Cepat ia menaikkan kaca mobilnya, berdiam diri di dalam mobil sambil mendengar percakapan itu.  "kau tak mau ikut mencari nya Cal? Bisa saja ini ada hubungannya dengan misi kita!"  "terlalu merepotkan Steph, kemarin saja  sama sekali tidak ada petunjuk, masalah ini semakin rumit, bukan hanya n*****a, tapi sepertinya ini mengarah ke sabotase!"  "aku juga berpikir demikian , bagaimana jika kau meminta tambahan team kepada ayah mu?"  "itu yang aku rencanakan, ku rasa aku butuh bantuan, negara ini semakin hancur!" ujar Cally sambil menaiki motor besarnya.  Sementara Calvin semakin merasakan rasa penasaran dengan gadis itu, dan juga Stephan, begitu juga dengan Max yang setia mengikuti mereka. Padahal, dulu, Max itu sangat brandalan, tetapi setelah gadis itu memasuki kelasnya, Max berubah.  Bukannya Calvin tidak senang jika Max menjadi orang baik dan selalu hadir dalam kelas. Tapi, itu terlalu mengejutkan semua orang dan bahkan beberapa dosen, menurut Calvin, perubahan tiba-tiba Max itu tidak bisa di nalar, lelaki itu sangat mirip robot hidup.  Motor Cally dan Stephan beserta Max mulai meninggalkan area kampus. Calvin antara ragu atau tidak, tapi ia memutuskan  untuk mengikuti motor mereka dari belakang. Ia merasa gadis itu adalah sosok yang bisa dikatakan berbahaya, tapi, satu sisi Calvin merasa gadis itu misterius.  Mobil Calvin berhenti di sebuah Club malam, ia menatap motor Cally juga sudah terparkir tapi tidak ada Stephan, karena sejauh yang ia lihat, mereka berpisah di sebuah persimpangan jalan.  Calvin turun dari mobilnya ketika memastikan gadis itu sudah benar-benar memasuki daerah Club yang sebenarnya sangat ia benci. Calvin duduk di meja tidak jauh dari meja gadis itu. Calvin merasa curiga, Cally bahkan tidak takut untuk masuk Club seorang diri meski sudah malam hari. Beberapa lelaki nampak mendekati gadis itu, entah menagapa perasaan Calvin tidak suka melihat gadis itu sama-sekali tidak peduli ketika beberapa p****************g mendekatinya.  Calvin menggelengkan kepalanya, ia tidak ada hubungan dengannya, hanya mengintai saja, cukup, Calvin tidak boleh mencampuri terlalu jauh.  Pria-p****************g yang sedari tadi mengerumuni Cally bubar ketika beberapa lelaki berpakaian hitam mendekatinya. Mereka terlibat masalah pembicaraan serius. Dari raut wajah yang Cally tunjukkan, ia sepertinya sangat menyimak percakapan mereka.  "hey bocah, minggir lah, kau masih bau bawang, pergi sana!"  Calvin menatap tidak suka pada lelaki yang mengusirnya dari tempat duduknya.  "kau bisa cari sofa kosong, ini tempat ku!" ujar Calvin  "dasar bocah, kau....!"  brukk Calvin terhuyung ke belakang sofa, ia sama sekali tidak siap dengan serangan tiba-tiba lelaki itu. Mereka menjadi bahan tontonan di sana. Calvin berdiri, ia balas memberikan bogeman kepada lelaki itu.  brugghhh, bbrakk  Calvin balik menghajar, tapi tiba-tiba seseorang memukulnya dari belakang. Calvin meringis, ternyata lawannya kali ini punya banyak Bodygoard. "kalau berani, kau akan mati kali ini anak muda!" seru nya sambil mengacungkan pistolnya.  calvin membulatkan matanya, ia meneguk ludahnya. Ia pasti akan kalah jika sudah begini.  "bermain lah secara Fair Mr.Benard!"  Mereka menatap siapa yang muncul, Cally menatap Mr.Benard yang membulatkan matanya dengan tatapan miring khas nya. Lawan biacara cally nampak langsung gugup "Ma-maaf, saya tidak tau anda mengenal dia Mrs.dominic, saya ijin undur diri dulu!" ujar nya. Cally hanya mengangguk, ia menatap kerumunan itu yang juga sudah kembali pada urusan nya masing-masing. Cally lalu menatap Calvin, mengedikkan bahunya, ia lalu berjalan santai keluar Club, beberapa orang sempat menyapa Gadis itu.  Calvin yang tiba-tiba tersadar, ia langsung mengejar Cally sambil berteriak. Beberapa orang bahkan tampak terkagum melihat Calvin yang berani berterika-teriak sambil memanggil gadis misterius itu. Sama hal nya dengan lelaki berpakaian hitam yang tadi menjadi patner bicara Cally, ia terlalu terjut ketika ada yang berani dengan gadis itu.  "hey, tunggu, Cally tunggu!"  Cally acuh, ia terus berjalan menuju arah parkiran. Sebenarnya ia tidak mau mencampuri urusan lelaki itu, tetapi hatinya seolah mengatakan bahwa ia harus melindungi lelaki itu dan seketika ia menyesal telah membantu lelaki itu.  "hey, kau mengabaikan ku!"  Cally menatap tangannya yang lagi-lagi di pegang oleh lelaki satu ini. Jika dihitung, ini sudah kali kedua lelaki itu menyentuh tangannya. Ia menatap Calvin datar.  "lepaskan tangan ku!" ujar Cally datar.  "tidak mau, eh bukan, bukan itu maksud ku, maksud ku kau selalu mengabaikan ku!"  Cally melepas paksa tangannya, ia hendak melajukan motor besarnya. Tapi, tiba-tiba lelaki itu naik dan memeluk pinggangnya erat.  "hey, turun lah, heyy!" seru Cally berusaha berontak, tapi kekuatan lelaki itu benar-benar tidak bisa ditandingi.   "tidak, aku ingin bicara dengan mu, ini serius!" "lepaskan aku, dan turun lah, atau tidak aku akan melajukan motor ini!"  "kau harus menjawab dulu, kau mau bicara dengan ku!"  Cally berdecih, lelaki ini benar-benar membuatnya naik pitam. Tanpa pikir panjang, Cally melajukan motor nya dan melaju dengan kencang.  "aaaaaaaaaaa, aku belum mau mati, hey, kau mengendarainya terlalu kencang, lepaskan aku, heyyy!"  Bukannya berhenti, Cally malah menambah kecepatan Speedo meternya. Entah mengapa, ia merasa terhibur dengan teriakan lelaki itu, meski ia harus rela dipeluk dengan begitu eratnya.  Cally menghentikan motornya di sebuah apartemen miliknya. Calvin sudah turun, lelaki itu memuntahkan semua isi perutnya. Cally hanya terkekeh dalam hati, jaman sekarang masih ada ternyata lelaki yang takut dengan kecepatan tinggi, dasar alay batinnya.  "k-kau sudah gila!" ujar calvin hendak protes, tapi gadis itu sudah duluan melajukan langkahnya dan meninggalkannya yang masih diparkiran.  Ia kembali berjalan mengejar langkah gadis itu yang sudah memasuk lobby apartemennya. Ia mengikuti langkah gadis itu, dan memasuki apartemen gadis itu, Calvin dibuat terperangah, warna dominan nya hitam, dan ruangan yang minimalis namum terkesan mewah.  Cally mulai menghidupkan lampu, tapi tiba-tiba  shutt Calvin yang sadar, ia menarik Cally ke dalam pelukannya, anak panah itu menggores bahu Calvin. Sementara Cally, ia manatap manik Calvin yang juga masih menatapnya. posisi mereka sekarang terpojok di antara ding-ding apartemen. Posisi ini, kelakuan lelaki ini, seketika Cally menyadari sebuah kejanggalan dalam diri Calvin, lelaki itu memiliki kepribadian yang hampis sama dengan Ender, lelaki itu, lelaki yang paling ia cintai itu. Cally lalu menoleh, lalu melihat bahu calvin.  "k-kau terluka!" ujar Cally  Calvin sadar, ia melepas pelukannya sambil memalingkan wajahnya.  "bagaimana bisa sebuah anak panah bisa ada di sini?" seru Calvin  Cally mengedikkan bahunya. Ia menuju kamarnya, yang sudah sekitar beberapa bulan ini tidak ia tempati. Karna tidak mungkin sekali jika Cally harus membawa lelaki keras kepala itu ke markas tempat tinggalnya bisa bocor nanti penyamarannya.  Cally kembali sambil membawa kotak P3k "buka baju mu!" ujar Cally  "tidak usah, aku bisa mengobatinya sendirian, kau pergi lah!" ujar Calvin cally tidak mau ambil pusing, ia berlalu ke dapur dan membiarkan Calvin mengobati lukanya sendiri. Ia kembali dengan segelas air putih dan mendapati lelaki itu kesulitan membersihkan lukanya. Entah karena jiwa dokter Cally yang meronta-ronta, atau ada alasan lain. Tapi ia segera mengambil alih dan membersihkan luka lelaki itu.  "aaaa, pelan-pelan dong!" seru Calvin  Calvin merasakan desiran aneh ketika Cally, gadis itu membersihkan lukanya. Sentuhan gadis itu sangat membuatnya nyaman. Ia menatap wajah serius Cally dari samping, wajah yang selalu sama. Calvin merasa familiar dengan wajah ini, tapi, Calvin mengehela nafas, ia memalingkan wajahnya, dan menyentuh jantungnya yang berdegub dua kali lebih cepat dari biasanya.  Deguban ini, baru kali Calvin bisa merasakannya lagi. Selama ini, sudah banyak wanita yang selalu ingin mendekatinya dan bahkan terang-terangan meminta berpacaran dengannya, tapi , tak satu pun dari mereka yang memberikan desir aneh dan deguban seperti yang ia rasakan sekarang. Tiba-tiba  Calvin memegangi kepalanya, sebuah bayang-bayang seperti mencoba memasuki kepalanya. Calvin merintih sambil memegangi kepalanya, rasanya ini begitu menyakitkan, Air-mata nya jatuh, kepalanya semakin sakit. Calvin merasakan seseorang mengelus kepalanya.  Ia menatap Cally, gadis itu duduk di sampingnya sambil mengelus rambutnya, tatapan gadis itu seolah tidak asing. Calvin kembali merintih, ia merasakan sakit yang sangat teramat sakit.  "hey, tenanglah, lihat aku!" seru Cally yang merasa sedikit tidak enak dengan kondisi Calvin  Cally membulatkan matanya, Calvin tiba-tiba pingsan sambil memeluknya. Cally  tidak bisa mengelak, ia membiarkan Calvin tidur di pelukannya. Aneh, rasa ini, mengapa sama seperti perasaannya untuk Ender? Tidak- ini tidak mungkin, ia jelas-jelas melihat kejadian waktu itu, Ender sudah meninggal, tidak ada lagi leleki itu.  Dalam keheningan malam, Cally membiarkan lelaki itu tertidur bersamanya. Setidaknya karena lelaki itu sudah menyelamatkannya tadi, Cally memilih untuk ikut memejamkan matanya sambil berusaha mencerna apa yang terjadi malam ini antara dia dan lelaki asing ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD