love in mission 9

2077 Words
Cally sibuk dengan lensa di depannya, ia seketika memaki ketika mendapati bahwa dalam panah itu terdapat sebuah racun mematikan. Cally bergegas menuju kamarnya, ia menatap wajah lelaki yang masih terlelap itu.  Wajah Calvin begitu pucat, Cally merutuk dalam hati. Mengapa ia tidak langsung bergerak cepat ketika lelaki itu tergores? Cally membuka baju Calvin, ia menaikkan suhu Ac, membiarkan lelaki itu untuk berkeringat. Cally lalu mengambil beberapa alat bedah, ia melihat lengan Calvin yang sudah mulai membiru. Cally lalu membelah nya dengan hati-hati, memberikan beberapa obat ke dalam tubuh Calvin. Setelah selesai, Cally kembali menjahit luka Calvin dengan sangat hati-hati.  "apa kau kesakitan?" seru Cally begitu menyadari lelaki itu sudah sadarkan diri.  Calvin menatap wajah khawatir Cally, ia merasakan kehangatan dalam hatinya, seolah wajah khawatir yang ditunjukkan Cally merupakan asupan energi untuknya,  "aku merasa lebih baik, kau mengobatiku dengan sangat baik, apakah kau sebenarnya bukanlah mahasiswa biasa?" ujar Calvin serius sambil menggenggam tangan callly.  Cally sedikit terkejut, tetapi ia dengan cepat menetralkan raut wajahnya.  "kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ku calvin, dan sebaiknya kau menjauh dari ku!" ujar Cally melepas genggaman tangan Calvin darinya, meski hatinya merasa tidak terima.  "mengapa? Aku bahkan tidak pernah bebuat salah padamu, aku hanya ingin berteman dengan mu. Apakah kau membenciku?"  "Tidak, aku tidak membenci mu, tapi kau tidak boleh berteman dengan ku!" ujar cally hendak berlalu, tapi Calvin kembali memegangi tangannya dengan erat.  "tunngu sebentar, aku memang tidak tau kau siapa, tapi bisakah aku meminta tolong kepadamu ?" ujar Calvin. Cally mengehela nafasnya, ia membalikkan badannya, lalu menatap netra Calvin. Ia sebenarnya hendak langsung berlalu dari keadaan seperti ini.  "baiklah, apa permintaan mu?" seru Cally  "Tolong bantu aku mencari keberadaan Leo, aku tau kau bisa melakukannya, karena Mr.fernandes merekomendasikan mu kala itu, aku mohon padamu!" ujar Calvin  Cally menghela nafasnya lelah, ia begitu membenci situasi seperti ini. Situasi saat hatinya menjadi lemah dan tidak sinkron dengan pikirannya. Cally menguatkan hatinya, tapi hasilnya sama saja, ia terlalu lemah.  "aku tidak bisa, tapi, aku akan berusaha, tapi setelah ini, kau tidak boleh lagi untuk ikut campur dalam urusan ku!" seru Cally Wajah Calvin seketika berbinar, ia menatap wajah Cally dengan raut bahagianya.  "iya, aku akan berusaha!" seru nya  Cally mengangguk, ia akhirnya keluar dari dalam kamarnya. Cally menuju ruang pribadinya, dan sudah mendapati sosok Stephan yang sudah sibuk. Cally tidak tau kapan lelaki itu datang dan memasuki apartemennya.  "Kau begitu perhatian kepadanya Cal, aku harap kau tidak jatuh cinta padanya!" seru stephan yang memang sudah menyadari kehadiran gadis itu. Cally lalu menatap pintu yang terbuka lagi, Max juga datang. Ia lalu duduk di sebelah Stephan dan menatap cara kerja lelaki itu.  "yang benar saja ? aku hanya berhutang budi pada lelaki itu!" ujar Cally  "Cal, kau tau ini semacam racun dalam LSD? Racunnya begitu mematikan!" ujar Stephan begitu menyadari bahwa panah itu benar-benar beracun.  "Aku tau, dan apakah menurutmu mereka sudah mulai bergerak ?" ujar Cally  "menurutku ini sebuah jebakan, ketika panah itu berhasil menembus tubuh mu Cal, maka kita akan berpikir bahwa ini adalah ulah para teroris, tapi analisa ku mengatakan, ini bukan sesederhana itu, mereka mencurigai mu, satu kesimpulannya, Mr.Ercik dan lainnya sepertinya sudah menargetkan mu!" ujar Max "analisa yang tepat Max, baiklah, sepertinya memang benar begitu. Dan setelah aku sadari, penculikan kepada Leo juga ada kaitannya dengan kasus kita kali ini, kita tidak bisa menganggap sepele mereka!" tambah Stephan  Cally nampak memejamkan matanya, lalu mengehela nafasnya. Misi ini tidak sama seperti yang dijelaskan oleh ayahnya. Misi ini harus melibatkan team Alva.  "aku akan meminta jendral untuk mengirimkan team Alva kepadaku, aku rasa misi ini tidak bisa hanya melibatkan kita saja!" putus Cally dan mendapati anggukan dari Stephan dan Max. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing tanpa menyadari bahwa sejak tadi, Calvin mendengar semua percakapan mereka. Calvin segera bergegas menuju kamar mandi begitu menyadari bahwa Cally sedang keluar sambil berbicara dengan seseorang.  *** Suasana kelas pagi itu masih saja penuh dengan keadaan suram karena belum ada kabar sama sekali dari pihak polisi. Beberapa penggemar Leo terlihat berkumpul di dalam kelas Calvin sambil bertanya beberapa hal yang mereka inginkan.  "kelas saya bukan menjadi perkumpulan manusia seperti kalian!"  Semua sontak melihat ke depan, di sana, tepat di ambang pintu Mr.Erick sudah berdiri dan menatap mereka dengan wajah sangarnya. Para penggemar Leo sontak keluar dengan buru-buru, tak peduli jika dosen killer itu akan mengejar mereka.  Mr.Erick menatap mereka dengan bengis, lalu tatapannya tertuju pada sosok gadis baru yang sedang sibuk dengan laptop di depannya. Ia tertawa dalam hati, apakah team nya tidak salah mencurigai gadis itu terlibat dalam masalah mereka? Mr.Erick mengalihkan perhatiannya, ia mulai menyusun rencana apa yang akan ia lakukan sekarang untuk membuktikan bahwa gadis itu memang benar-benar musuh mereka, jika tidak, ia akan menjadikan gadis itu penghangat ranjang nya.  "dia menatap mu Cal, kau harus lebih berhati-hati, kita sudah berada di sarang lawan!" seru stephan lewat e-mail yang langsung terkirim pada Cally. Gadis itu tersenyum mengejek, ia akan melihat seberapa hebat lelaki b******n yang sedang berkamuflase di depannya itu.  "baiklah, apa kalian sudah mengerti?" seru Mr.Erick  semua nya mengangguk, Mr.Erick nampak menyunggingkan senyum tipisnya. Ia memang sengaja mengajari mereka deret barisan kode yang sangat rahasia.  "baiklah, saya akan memberikan pertanyaan, nama yang saya panggil agar maju ke depan !" seru nya, dan seperti kebanyakan pelajar, semua nya akan menunduk jika diberikan pertanyaan. Sama hal nya dengan mereka, semuanya langsung pura-pura sibuk dengan kegiatan nya.  Mr.Erick tertawa dalam hati, "baiklah, saya akan memanggil Cally Dominic, agar maju ke depan dan mengerjakan soal di depan!"  Cally menatap Mr.Erick, semua mata sudah tertuju kepadanya. Begitu juga dengan Calvin yang menatap Cally dengan rasa penasarannya, ia yakin gadis itu pasti akan dengan mudah bisa mengerjakan soal itu. Tapi yang menjadi pertanyaan baginya, mengapa gadis itu nampak gugup dan tidak maju ke depan? Padahal kode itu terbilang lumayan mudah.  "Ayo, kemari lah dan kerjakan soal itu!" ulang Mr.Erick  "Maaf Sir, saya belum paham sama sekali!" ujar nya sedikit gugup.  Penglihatan Callly saja atau tidak, ia menyadari bahwa lelaki itu memasang senyum miring.  "Baiklah, tetapi mengapa tadi anda tidak mengatakannya? Jika anda malu untuk bertanya, maka otak anda tidak akan pernah berkembang, tapi meskipun demikian, pintu ku selalu terbuka bagi kalian yang mau saya beri pelajaran tambahan!" Ujar Mr.Erick  Alvira yang melihat nya hanya berdecak tidak suka, ia lalu menatap tajam gadis itu. Berani menyanggupi permintaan dosen itu, maka Cally akan mati di tangannya.  "baiklah kalau begitu, Calvin, maju dan kerjakan kode di atas!" seru Mr.Ercik,dalam hati ia sudah merasa senang, gadis itu bukanlah incaran mereka. Mungkin hanya wajahnya saja yang terlihat mirip, berarti ia punya kesempatan untuk menjadikan gadis itu penghangat ranjangnya.  "Sir? Sir? saya sudah siap!"  Mr.erick terkesiap dari lamunanya, ia lalu menatap kerjaan mahasiswa terpintar itu, ia menganggukkan kepalanya.  "selalu benar Calvin, kau bisa duduk kembali!"  Calvin mengangguk, ia kembali duduk di sebelah Cally yang masih saja sibuk dengan layar laptop nya. Calvin ternganga, Cally bahkan sedang menyusun beberapa baris koding yang bahkan belum ia ketahui. Calvin menatap gadis itu yang masih serius dengan urusannya, sekarang ia yakin bahwa gadis itu memang menyembunyikan sesuatu.  Calvin segera mengalihkan perhatiannya begitu gadis itu dengan tiba-tiba menutup laptopnya dan melihat ke arahnya.  *** "ada apa dengan deret ini Cal?" seru Stephan  "aku bisa melacak keberadaan Leo, tapi masih ada yang janggal dengan keberadaan nya!" ujar Cally Max,Stephan dan Calvin mendekat ke arah Cally, melihat beberapa alamat IP yang tertera di dalam layar monitornya.  "letak Leo ada di empat titik ini, dan satu nya adalah IP yang sama seperti malam itu!" seru Cally "sepertinya mereka berniat mengecoh kita Cal, tapi aku yakin, Leo diculik oleh seseorang yang lebih berbahaya dari sebelumnya!" Ujar stephan  "tunggu dulu, mengapa dia ada di sini?" seru Max sambil menujuk Calvin Seolah baru tersadar, Cally dan Stephan menatap keberadaan Calvin yang juga sedang menatap mereka. Cally lalu menghela nafas nya. "aku akan membantunya mencari keberadaan Leo, dan untuk mu Calvin, aku percaya kau bisa jaga rahasia!" seru Cally  Calvin mengangguk, tapi ada yang janggal dengan otaknya. "tunggu dulu, mengapa ketika Mr.Erick menyuruh mu untuk mengerjakan kode tadi kau berpura-pura tidak bisa Cally? Sedangkan kau bisa melacak IP sesulit ini!" seru Calvin  "ada hal yang tidak perlu kau ketahui Calvin, jika kau masih terus-menerus bertanya pada Cally, ia bisa merubah pikirannya dan berbalik tidak mau membantu mu!" seru Stephan mewakili Cally  "Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi!" seru Calvin akhirnya Callly, Stephan dan Max kembali fokus pada layar monitor di depan mereka.  "apakah kita harus membagi team kali ini Cal?" seru Stephan  "tidak perlu, jika kita berpencar, kemungkinan terburuknya mereka akan dengan mudah memecah kita dan memisahkan kita, sebaiknya kita harus memutuskan dari mana kita akan mulai duluan menyelidiki!" ujar Cally  "aku setuju, aku mau memberi saran. Sebaiknya kita menyelidiki IP ini terlebih dahulu, karena IP ini memiliki perbedaan yang hampir sedikit, dan alamat IP ini adalah gabungan dari semua IP ini,bagaimana? ini hanya usul ku saja, jika ada ide yang lebih baik, kita akan mendahulukannya!" ujar Calvin  Cally menatap Calvin yang memberikan penjelasan kepada mereka, hati Cally seolah melihat kembalinya Ender lagi, gaya penyampaian sama persis. Cally merasa aneh, air matanya tiba-tiba menetes dan itu semua tidak lepas dari pandangan Stephan. Ia juga sebenarnya merasakan hal yang sama ketika Calvin menyampaikan usulnya, semua cara lelaki itu sama seperti Ender, komandan mereka dulu.  "baiklah, aku setuju dengan usul Calvin, bagaimana dengan mu Step? Max?"  "kami juga setuju!" ujar mereka berdua kompak  Calvin menghela nafas lega, setidaknya ia bisa berguna dalam team mereka, tapi tatapannya tertuju pada Cally yang sekilas ia melihat, gadis itu tadi meneteskan air matanya, hal itu seolah membuat Calvin merasakan sakit juga, semakin ke sini, Calvin semakin merasakan bahwa semua teka-teki hidupnya sepertinya berhubungan dengan gadis itu.  "okey, mengikuti usul Calvin, kita akan kembali bertemu lagi di sini pukul 11 malam nanti, kita bubar!" seru Cally. Stephan dan Max langsung membereskan barang mereka dan berpamit duluan kepada Cally. Sekarang tinggal mereka berdua lagi, Calvin mendekati Cally yang masih duduk melamun di atas sofa yang ia duduki.  Calvin duduk di sebelah Cally, dan memeluk gadis itu tanpa meminta persetujuan gadis itu.  "maaf, aku rasa ini bisa menenangkan mu, tadi aku melihat mu mengeluarkan air mata, ada masalah?" ujar Calvin.  Cally yang terkejut dengan pelukan tiba-tiba Calvin merasakan sebuah ketenangan. Cally balas memeluk Calvin dan menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu. "aku tidak tau mengapa aku menangis tadi, tapi aku meminta agar kau memelukku sebentar lagi!" ujar Cally  "selama yang kau mau Cally, aku harap kau bisa lebih tenang!" seru Calvin  Cally mengeratkan pelukannya, hati nya menghangat merasakan dekapan Calvin, meski ia tidak terlalu mengenal lelaki di dekapannya saat ini, tapi kata-kata nya sama seperti ketika Ender mendekap dan menenangkannya dulu, siapa kau sebenarnya Calvin? batin Cally.  Tidak berbeda jauh dengan Cally,Calvin juga merasakan hatinya terasa lebih bahagia. Kalau bisa jujur, Cally adalah wanita pertama yang ia dekap dalam ingatannya. Cally seolah menjadi sumber kekuatan bagi hatinya, Calvin kembali mengeratkan pelukannya dan membiarkan gadis di dekapnnya saat ini menyandarkan kepalanya di bahunya.  *** "aku tidak merasakan ada yang aneh di dalam gedung itu Cal, ini sudah larut, dan tidak ada orang yang keluar lagi!" seru Stephan  "kita akan masuk, aku rasa ada yang aneh!" seru Cally  Max dan Calvin mengikuti cally dari belakang. Gedung itu di kunci, jadi mereka lewat dari pintu belakang. Stephan yang awalnya ragu untuk masuk, memilih untuk melangkahkan kaki nya mengikuti gadis itu. Cally melompat, lalu mendarat sempurna di ruang yang sedikit terasa lembab.  "Bukan kah ini sudah tidak terpakai lagi Cal? Sejauh informasi yang ku dapat, Gudang ini sudah di asingkan karena ada kasus pembunuhan yang terjadi beberapa tahun silam di sini!" seru calvin  "aku tau, dan karena itu lah yang menjadikan bagian ini menjadi sedikit menarik, dan lihat lah ini!" ujar Max.  lelaki itu menunjuk sebuah terowongan, berair dan sangat gelap. "aku rasa kita harus masuk ke dalam terowongan itu Cal!" seru Calvin  Cally mengangguk, ia lalu melangkahkan kakinya berjalan duluan, tapi hal yang terduga terjadi tiba-tiba  shuttt Cally langsung berguling ke belakang. Benda itu meleset, dan terjatuh di samping Stephan.  "ini seperti nya memang persembunyian mereka, lihat benda ini Cal, ini adalah besi tajam, dan ini beracun!" seru Stephan setelah mengendus besi itu "kau tidak apa-apa Calvin?" seru Cally begitu melihat lelaki itu kembali terlihat pucat dan memegangi kepalanya. "A-aku merasa pusing lagi, ini begitu menyakitkan!" seru Calvin. Ia bahkan sampai jatuh terduduk di lantai. Sebuah bayang-bayang mencoba memasuki kepalanya saat menyaksikan Cally hampir terbunuh dan dengan mudah nya gadis itu menghindar kau harus kembali, jangan-kau tidak boleh pergi  kembalii lah, heyy, jangan pergi, Aku mencintai mu Dengan nafas terengah-engah, Calvin berhasil membuka kembali matanya yang sepertinya tadi hampir benar-benar tertutup. Ia melihat raut khawatir Cally, Max dan juga Stephan.  "kau baik-baik saja? Kau membuat ku takut!" seru Cally  "setiap kali aku seperti itu, ada bayang-bayang yang berusaha memasuki pikiran ku, aku tidak tau mengapa, tapi aku selalu mendengar suara seorang gadis memanggil dengan nama Endrisk? Tidak bukan nama itu, aku tidak terlalu mengingatnya namanya apa, tapi aku familiar dengan suara itu!"  "Apa nama itu Ender?" Seru Stephan  Calvin sedikit memejamkan matanya, sementara Cally beserta stephan menunggu dengan karuan "A-aku sepertinya.............
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD