-prang
Cally menoleh,sebuah benda terjatuh yang ia tebak berasal dari dalam terowongan itu. Gadis itu menatap Max yang menunggu aba-aba darinya "kita pergi Max, dan kau Stephan, tugas mu membawa Calvin dengan selamat, aku tau kau tidak cukup bagus dalam pertarungan jarak dekat, atur semua rencana B"
Cally hendak pergi, namun Calvin menahan lengannya,"kita harus pergi bersama-sama Cal, aku mohon!"
Gadis itu menatap ke dalam manik Calvin, lalu menggeleng "kita tidak punya cukup banyak waktu Calvin, aku mohon mengertilah. Jika kau sampai terluka,aku tidak akan memaafkan diriku!"
Cally berlari menuju terowongan bersama dengan Max yang mengikutinya di belakang. Sementara Stephan membantu Calvin untuk berdiri "apa yang kau lakukan? Tidak seharusnya kau membiarkan dia pergi begitu saja!" protes Calvin
"Kau bahkan tidak tau seperti apa kehebatannya Calvin. Jadi lebih baik kita segera pergi dari tempat ini, aku akan menyusun rencana B!" seru Stephan
Calvin masih terdiam di dalam tempatnya, tidak tau apa yang harus ia lakukan. Jika ia memilih untuk mengejar gadis itu, resikonya lebih besar, tapi hati nuraninya mengatakan bahwa ia tidak boleh meninggalkan gadis itu sendirian. Calvin akhirnya berlari mengejar Cally dan Max.
"hey, dasar bodoh!" ujar Stephan begitu menyadari bahwa lelaki itu sama-sekali tidak mendengarkannya. Stephan mengumpat dalam hati, ia terpaksa keluar sendirian. Ia harus mengatur letak bom, jika sewaktu-waktu Cally memilih untuk meledakkan gedung itu.
***
Cally dan Max tetap berlari, mereka yakin bahwa ada orang di dalam terowongan itu.
"arah sini Cal, aku masih bisa mendengarnya!" ujar Max sambil menajamkan pendengarannya. Cally mengangguk, ia mengikuti Max yang berlari di depannya.
"Itu dia Cal, aku mendapatkannya!" seru max sambil menambah kecepatan berlarinya ketika melihat sosok pemuda yang berlari cukup jauh di depan mereka.
Pemuda bertopeng itu mengumpat dalam hati, ia tidak menyangka bahwa mereka akan bergerak dengan cepat. Ia menambah kecepatan berlarinya,sebelum--
Bruk
Max menerjang pemuda itu, tapi lelaki bertopeng itu nampak memiliki kecepatan yang bisa dikatakan cukup bagus. Cally menyeringai dalam hati, sepertinya kali ini mereka punya sesuatu yang cukup bagus.
dorr...dorr
Cally dan Max menghindar, mereka saling membentuk formasi untuk tidak tertembak.
"dasar k*****t, pergi saja kau b*****h!" teriak pemuda bertopeng itu sambil terus menembak Cally dan Max.
Cally menyeringai, ia menatap Max yang juga menatapnya seolah sedang meminta persetujuan padanya. Cally mengangguk, Max dengan cekatan mengeluarkan pisaunya dan langsung menyerang balik lelaki bertopeng itu. Cally menatap kemampuan bertarung max yang begitu pesat, dalam sekejap Pemuda bertopeng itu sudah terkapar jatuh dengan Max yang menindihnya sambil mengacuhkan pisaunya.
"Cukup Max, jangan bunuh k*****t itu, aku akan sedikit melakukan interogasi kepadanya!" Seru Cally
Max mengangguk, Ia menarik paksa lelaki itu. "bunuh saja aku b*****h!" teriaknya
"Sebenarnya aku juga ingin membunuh mu,tapi Tuan ku masih ingin sedikit bermain dengan mu!" ujar Max
"Cally, awas!"
Cally terkejut setengah mati, ia menatap Calvin yang memeluknya erat. shut--, peluru itu berhasil melukai lengan calvin lagi. kali ini cally benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, Ia menatap Calvin yang masih ngos-ngosan seperti baru saja berlari kencang untuk mengejar mereka.
"Dasar lelaki bodoh, andaikan kau tidak menariknya,sudah pasti gadis arrogant itu akan mati!" seru pria bertopeng tadi. Max bahkan tidak menyadari kapan tepatnya lelaki itu mengambil pistolnya.
"dasar sialan!" seru max, ia langsung menusukkan pisaunya ke leher lelaki itu. Pria bertopeng itu membulatkan matanya terkejut dan hendak membalas, tapi darah yang keluar dari tubuhnya membuatnya kehilangan kesadaran.
"kau tidak apa-apa?" ujar calvin
Cally masih menatap manik Calvin dan menghela nafas nya lelah.
"kau terluka lagi Calvin, ayo Max bawa k*****t itu. Aku akan menginterogasinya setelah dia sadar!" seru Cally sambil melepaskan diri dari Calvin
***
"Bagaimana? Apakah luka mu masih sakit?" seru Cally setelah selesai mengobati luka Calvin. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya, baginya luka ini sama sekali tidak sepadan dengan keadaan hatinya sebelum gadis itu datang.
"Lain kali, jika aku menyuruh mu untuk tidak ikut, maka kau tidak perlu ikut Calvin, aku dan semua teman ku terlalu berbahaya untuk mu!" seru Cally
"bagaimana jika aku tidak peduli cally? Aku tidak mempersoalkan seberapa berbahayanya diri mu dan bahkan semua teman mu, aku hanya ingin melindungi mu!" seru Calvin
Cally menghela nafas nya, melindungi katanya tadi? Seingat Cally, kata-kata itu hanya pernah diucapkan oleh seseorang dalam hidupnya. Gadis itu berdiri, Calvin menatapnya dalam.
"jangan bertindak gegabah dalam memutuskan sesuatu calvin, kau bahkan tidak tau siapa aku sebenarnya!" seru Cally
"Lalu bisakah kau tidak selalu menghindari ku Cally? kau tau, semua yang kau berikan, baik dari perhatian dan rasa khawatir mu kepadaku adalah hal yang begitu indah yang bisa ku rasakan setelah sekian lama aku tidak pernah merasakan hal ini, kau mem--"
"Lelaki itu sadar Cal!" seru Stephan yang tiba-tiba datang sehingga memotong ucapan Calvin.
Cally langsung melepaskan tangannya, lalu bergegas mengikuti Stephan ke ruang penyelidikan. Calvin hanya menghela nafas nya, ia juga tidak tau dari mana asal kata-kata tadi terangkai, baginya itu seperti hatinya yang berbicara. Calvin ikut berdiri dan menyusul mereka berdua.
"apa kau yang akan memulai nya Cal? Max sudah mencoba dari tadi, tapi hasilnya nihil, ia tetap tidak mau buka suara. Dan ada informasi tambahan lagi!" ujar stephan
"Apa?" seru Cally masih setia menatap bagaimana Max menginterogasi lelaki itu.
"Max mengatakan pernah melihat lelaki itu, tapi ia tidak ingat mungkin lelaki itu adalah salah-satu dari mereka!" seru Stephan
"menurutmu,apakah misi kali ini akan berhasil?" seru Cally
"tentu saja!"
Cally dan Stephan menoleh, di sana calvin sudah datang lagi dan bahkan ia yang menjawab pertanyaan nya tadi. Cally mengalihkan perhatiannya, ia lalu menatap Max yang sudah keluar dari ruangan itu. Nampaknya ia sama sekali tidak berhasil.
"Aku menyerah Cal, dia sama-sekali tidak mau buka mulut. Aku rasa, kau yang harus bertanya sendiri!" ujar nya
"baiklah, sepertinya ini sedikit akan menyenangkan. Stephan, ambilkan alat setrum dan pencabut kuku yang kemarin!" seru Cally, gadis itu lalu menatap ke arah Calvin yang nampakkanya menatapnya tanpa kedip.
"kau bisa pergi jika tidak ingin menatap sesuatu yang tidak sanggup kau tatap Calvin!" seru Cally
"Tidak, aku akan tetap di sini!"
"well, itu pilihan mu!" seru cally sambil menerima alat-alat yang sudah diambilkan stephan kepadanya.
Ia memasuki ruangan, pemuda itu nampaknya menatapnya dengan penuh aura kebencian.
"Belum mau buka suara hmm? Sebenarnya aku sama-sekali tidak ingin melakukan ini pada mu, ya setidaknya jika kau memberikan apa yang ku minta!" ujar Cally sambil memainkan alat penyetrumnya
"Dalam mimpi mu saja jalang, aku tidak akan buka suara meski nyawa taruhannya!"
"benarkah? Baiklah, seperti keinginan mu akan segera kulaksanakan!"
Cally mulai mendekati lelaki itu dengan senyum miring Cally mulai mencabuti kuku nya satu persatu dengan gerakan yang super menyiksa.
"Aaaaaaa, sakitttt!" teriak pemuda itu
Cally nampak tidak peduli dengan teriakan pemuda itu, Setelah mencabuti satu kuku kanan lelaki itu, Cally lanjut dengan kuku kiri lelaki itu.
"masih belum mau buka mulut ?" seru Cally seolah mengulur waktu
"Cihhh Dasar jalang, aku tidak sudi untuk buka mulut!" seru nya sambil meludahi wajah Cally .
Calvin yang melihat itu hendak memasuki ruangan itu, tapi stephan menahannya.
"kita hanya melihat saja Cal, dia sudah berada di level yang mengerikan. kau akan tau apa yang akan ia perbuat pada pemuda itu!" seru Stephan. Calvin kembali diam di tempat sambil menatap gadis itu.
Cally memejamkan matanya, dia sudah diludahi. Cally tertawa dalam hati, ia mangambil pisau lalu
jlebb
"aaaaaa, sakit tolong,jangan bunuh saya, aku akan mengatakannya, aku akan mengatakannya, tolong jangan, tolongggg"
Cally tertawa jahat, ia mencabut pisaunya yang tadi menancap tajam pada mata lelaki itu. Tangan Cally sudah banjir darah, ia menatap bola mata lelaki itu yang sudah berlinang darah. Cally berdiri lalu menatap lelaki itu malas.
"seandainya kau lebih cepat mengatakannya, maka kau tidak akan kehilangan sebelah mata mu!"
"A-aku hanya anak buah mereka, aku bahkan tidak tau persis nya siapa mereka, tapi demi anak ku yang dirawat di rumah sakit, aku rela menerima perintah dari mereka!"
"mengapa kau ada di gedung!" seru Cally
"Di gedung itu, mereka menyimpan LSD yang akan mereka gunankan untuk membius para target utama mereka!" seru lelaki bertopeng itu
"dimana markas besar mereka?" seru Cally
"A-aku tidak tau, aku tidak pernah di berikan ijin untuk memasuki markas besar, tapi aku tau mereka berencana untuk menghancurkan para generasi muda yang mereka dapatkan!"
"benar kah?" seru Cally
"itu benar, tolong jangan bunuh saya, masih ada anak yang perlu saya nafkahi!"
Cally bergegas keluar dan menghampiri Max.
"selesaikan Max!" seru nya. Max nampak bahagia, dengan cepat ia menghampiri lelaki itu untuk menyelesaikan tugasnya.
"Temukan data tentang anak nya yang dirawat di rumah sakit, kita akan menanggung nya!" seru nya pada Stephan.
Calvin menarik Cally keluar, stephan menatap mereka bingung, tapi tanpa mau tau ia kembali mencari apa yang diinginkan oleh Cally.
Calvin membawa Cally menuju kamar mandi, membersihkan tangan gadis itu.
"kau tidak takut kepadaku vin?" seru Cally sambil memperhatikan rahang kokoh milik lelaki itu.
Calvin mengalihkan perhatiannya dari tangan gadis itu, lalu menatap wajah cally dengan lembut.
"Sudah aku bilang kan, aku sama sekali tidak merasakan ketakutan meski pun aku tau kau itu berbahaya, tapi hati ku seolah merasa nyaman dan sepertinya aku merasa familiar dengan mu!"
Cally diam sambil mengalihkan perhatiannya, sementara Calvin yang sudah selesai membersihkan tangan gadis itu mengacak rambutnya gemas.
"kau seperti anak kecil saja, sudah lah ayo pergi!" ujar Calvin
Cally menatap Calvin horor, tapi ia juga tidak tau mengapa tubuhnya sama-sekali tidak memberikan respon apa-apa ketika lelaki itu menyentuh kepalanya. Aneh!rasanya mirip dengan Ender,Cally buru-buru menggelengkan kepalanya,Ender sudah tidak ada,Ia dengan jelas melihat tubuh lelaki itu sudah dikuburkan. Mungkin karena ia terlalu terbayang-bayang dengan lelaki itu.
"Cal, ini informasi yang sudah aku peroleh. Putri nya memang sedang dirawat di rumah sakit!" ujar Stephan
Cally mengangguk, ia lalu menatap pemuda itu sudah mejadi jasad. Cally hanya berdecih dalam hati, hanya demi uang dan perobatan anaknya, lelaki itu harus menghancurkan banyak generasi muda. Padahal untuk mencari jalan keluar dari setiap permasalahan tidak harus melalui jalan kotor seperti itu, pemuda itu memang pantas dan sudah selayaknya mati.
"Aku sudah selesai bersenang-senang Cally, harus aku apakan jasad-nya?" seru Max yang kembali dengan darah yang berlumuran di seluruh badannya.
"tidak perlu Max, aku akan menyerahkannya pada Mita, dia butuh jasad untuk percobannya!"
"baiklah, kalau begitu, aku yang akan mengantarkannya pada Mita!" seru Stephan bersemangat
"jangan berani macam-macam dengan Mita atau kau akan tau apa konsekuensi nya!" seru Cally serius
"ya..ya..ya, aku tidak akan macam-macam, cukup satu macam!" seru stephan dengan cepat kabur sebelum Cally akan menghabisi nya
***
Calvin yang sudah kembali ke rumahnya di kejutkan oleh kedatangan Christian yang sedang berada di dalam kamarnya.
"Sejak kapan kau ada di sini?" seru Calvin
Christian menatap Calvin dari atas ke bawah dengan pandangan menilai.
"Bolos kuliah, pulang larut malam, dan tidak mengabariku sama sekali, dari mana saja anda bapak Calvin sandiego yang terhormat?" seru Christian
"Aku ada urusan penting Christ!"
"Urusan sepenting apa itu hah? Apa kau berencana untuk mencari Leo sendirian hah? Kalau ayah mu tau, dia pasti akan sangat menghukum mu Vin!" seru christian marah
Calvin menatap Christian malas, selalu saja menyinggung tentang ayah nya.
"Lapor saja, dia mungkin tidak akan peduli apa pun yang aku lakukan !"
bughh
"ayah mu hanya ingin menjaga mu bodoh, bukan ingin membatasi kebebasan mu, kau sadar tidak hah?" seru Christian sambil menarik kerah baju Calvin
"menjaga dari apa ? Aku bukan anak kecil Christian asal kau tau, dengan ayah ku yang terus seperti itu akan membuat ku merasa tidak memiliki kebebasan!"
"dasar bedebahh!" seru chritian, Ia hendak memukul wajah calvin lagi. Tapi tiba-tiba seseorang memasuki kemar mereka, dan dia adalah James, ayah Calvin.
"A-ayah? Sejak kapan ayah kembali?" seru Calvin sedikit gugup, pasti ayahnya mendengar pertengkaran mereka tadi.
"Ayah baru saja sampai nak, kau tidak usah terlalu terkejut begitu!" seru James sambil menatap putra tunggal nya itu sedih.
"Ayah ingin bertanya sesuatu pada mu nak, bisakah kau ikut dengan ayah? Dan untuk mu nak Christian, kau bisa ditinggal sebentar bukan?" seru nya
Christian mengangguk, Calvin lalu berjalan mendekati ayah nya menuju ruang pribadi nya. Calvin merasa sedikit gugup, ia yakin ayah nya pasti mendengar pertengkaran mereka tadi.
"duduk lah nak, tidak usah terlalu gugup begitu!" seru James ketika mereka sudah sampai di ruangan privasi ayahnya
"ada apa Yah? Apa yang ingin Ayah sampaikan?" seru Calvin
"Apa ada seorang gadis bernama Cally di kelas mu Calvin? Ayah ingin kau menjawabnya dengan jujur!"
Mata Calvin seketika membola, ia menatap James yang menatapnya dengan sorot teduh nya. Calvin mengangguk " Iya yah. Dia gadis yang baik menurut ku!" seru Calvin "Dan entah mengapa, dia sedikit familiar menurut ku, seolah dia ada hubungannya dengan ku!"
"Dia tidak ada hubungannya dengan mu Calvin, ayah mohon jauhi gadis itu, dia bukan gadis biasa dia itu berbahaya!" seru james
Calvin menaikkan alis nya " Apa ayah kenal dengan gadis itu? Dan mengapa ayah menyuruh ku untuk menjauhinya aku tidak bisa ayah, aku tidak bisa, ayah selalu melarang ku ini dan itu. Apa ayah mau aku hidup hanya dengan setiap medali dan piala biar ayah puas? Aku merasa ayah menyembunyikan sesuatu dari ku!"
"Calvin, ayah melarang mu demi kebaikan mu, jauhi gadis itu, Karena dia adalah buronan kami Calvin!" teriak james marah.
Calvin berdiri dari duduk nya, "sekalipun dia adalah penjahat,maaf aku tidak bisa ayah!"
Calvin berlalu sambil membanting pintu dengan Kuat mengabaikan teriakan James yang terus memanggil namanya. Lelaki paruh baya itu terduduk lemas di kursi, ia hanya ingin menjaga Calvin, harta satu-satu nya yang tersisa, istrinya sudah tiada Ia tidak ingin kejadian yang dulu terulang kembali. Bagaimana pun caranya, James bertekad untuk menjaga putra nya itu.
James tidak mau kehilangan Putra nya hanya demi gadis itu lagi....