Cally sedang berjalan sendirian di lorong kampus, Ia masih memikirkan perkataan Alex yang menyuruhnya untuk keluar dari kampus demi kelancaran misi mereka. Tetapi, Cally rasa jika ia keluar sekarang. Hal terbesar yang sudah ada di depan matanya akan semakin sulit untuk mereka selesaikan. Cally menghela nafas, akhir-akhir ini mood nya sering kali berubah-ubah. Bahkan Calvin juga semakin jarang menemuinya dan cenderung menghindarinya.
Cally menggelengkan kepalanya, tidak seharusnya ia memikirkan lelaki itu. Tugas nya di sini hanya lah untuk menuntaskan misi membosan kan ini. Gawai Cally tiba-tiba berbunyi, ia melirik nama Stephan muncul pada bagian notifikasi pop-up sebuah alamat lokasi. Cally membuka surel alamat itu dan dengan gerakan cepat ia langsung menuju alamat yang di berikan Stephan.
Cally sampai, Cally baru sadar bahwa ternyata dikampus mereka ada sebuah bangunan tersembunyi dan lokasinya berada di hutan kampus.Ukirannya bahkan mirip dengan ukiran bangunan jaman dulu, bangunan nya lembab, berair dan banyak di tumbuhi lumut. Dan yang membuat Cally harus memutar otak adalah, tempat ini berada di lingkungan kampus. "Cally, kemari!" Cally menatap sekitar, ia mendapati Stephan yang ternyata benar-benar berada di sana beserta Max.
Cally sedikit curiga, mengapa mereka berdua berada di sini? Dan kapan tepatnya mereka menemukan ini. Karena seingatnya, Max masih berada di markas dan Stephan yang tidak memberitahu nya sedang bedara di mana. "aku menemukan bangunan ini dari Max dan sepertinya kita punya kesempatan bagus kali ini Cal!" "Dari mana max bisa menemukan bangunan ini steph?" tanya Cally berusaha untuk percaya pada mereka "well, aku juga tidak tau. Tapi kemarilah, di dalam akan lebih mengejutkan mu!" seru Stephan Max dan Stephan masuk duluan, sementara Cally masih diam di tempat. Ia sedikit merasa curiga dengan mimik stephan dan Max. Cally hendak melangkahkan kakinya, tapi seseorang tiba-tiba menariknya.
"sttt jangan berisik Cally, ini aku Calvin !" seru Calvin Setelah merasakan bahwa Cally tenang, Calvin melepas tangannya yang membekap mulut Cally. Gadis itu menatap Calvin dengan pandangan bertanya. "Ada apa? Mengapa kau bisa ada di sini?" seru Cally "Mereka bukan Stephan dan Max, mereka berdua tidak berada di kampus sejak tadi. Aku tidak sengaja melihat mu datang sendirian ke sini dan aku mengikuti mu!" seru Calvin Cally mengangguk, dari awal melihat mereka berdua memang sudah menimbulkan rasa curiga pada Cally.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" seru Cally "Tidak ada jalan keluar dari sini, aku juga pernah tersesat di sini dan menemukan bahwa di tempat ini terdapat banyak mayat yang tertipu oleh mereka. Aku merasa bahwa Leo juga di tahan di sini Cally, kau tau bukan bahwa tempat ter-aman itu adalah tempat paling berbahaya. Jadi kemungkinan besar, tempat ini adalah persembunyian para penculik mahasiswa yang selama ini menghilang secara tiba-tiba!" ujar Calvin "lalu kita harus bagaimana? Apa perlu aku menghubungi Max dan Stephan?" seru Cally "mereka sudah membajak nomor nya Cal, jadi saran ku gunakan lah e-mai pada mereka. Karena hanya itu jalan satu-satu nya kita berdua bisa kembali dari tempat ini sebelum mereka menemukan kita--" "Well, kalian sudah tertangkap!!!"
Cally dan Calvin membalikkan tubuh mereka, ternyata Calvin benar. Lelaki yang mirip dengan stephan itu membuka wajah nya, ternyata itu bukan Stephan. Tetapi sosok lelaki yang benar-benar misterius. Dengan ukiran garuda dan sobekan di wajah nya. Cally tebak bahwa sepertinya lelaki itu adalah ahli bertarung jarak dekat. Sama hal nya dengan pria yang berpura-pura menjadi Max, dia juga membuka wajah nya. Mata cally sontak membulat, dia adalah lelaki yang pertama kali ia curigai. Mr.Erick, Cally mengumpat dalam hati, dugaannya memang tidak pernah salah.
"ada apa nona cantik? Terkejut melihat ku hmm?" seru Mr.erick sambil menyeringai sementara Calvin berusaha tetap tenang meskipun raut keterkejutannya tidak bisa ia kontrol. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa dosen mereka sendiri yang melakukan hal-hal seperti ini. Lalu,Sosok perempuan yang Calvin kenal muncul dari sebuah pintu dengan penampilan yang benar-benar mengerikan.
"kau sudah selesai Alvira? " seru Erick menghampiri gadis itu lalu mencium dan meremas p******a gadis itu. Cally menatap Mr.Erick, lelaki yang benar-benar fack boy sejati. Kelakukannya sama seperti yang ia lihat ketika mereka berada di cafe dengan para gadis yang selalu bergonta-ganti ia mainkan. "sudahi permainan bodoh mu itu Erick, kita harus mengurus dua bocah sialan ini!" seru Joshua, lelaki yang tadi mirip dengan stephan "pergilah jalang, aku akan kembali setelah membunuh mereka berdua!" seru Erick sambil melemparkan Alvira kembali masuk ke dalam ruangan itu. "Cally, kita harus lari. Tidak baik jika kita menyerang mereka di sini, karena ini adalah tempat mereka menjebak kita!" bisik Calvin yang langsung di angguki oleh Cally,ya meskipun ia sama sekali tidak merasa gentar dengan mereka berdua. Tapi, ia mau mengikuti sara lelaki itu lebih dahulu. Calvin langsung berlari sambil menarik tangan Cally, mereka menuju sebuah hutan setelah bangunan tua itu.
"Ayo kejar mereka Erick, dasar sialan mereka kabur!" ujar Josua Erick langsung mengejar mereka berdua sambil mengumpat, andaikan Calvin tidak datang ia pastikan sudah dengan mudah menangkap gadis yang benar-benar berbahaya itu. "Cally, kau baik-baik saja?" seru Calvin ketika menyadari bahwa gadis itu tiba-tiba berhenti. "kau pergi saja sendiri Calvin, aku akan menghadapi mereka dan pastikan diri mu selamat!" seru Cally Calvin menatap wajah Cally, entah sejak kapan. Tapi ia harus mengakui bahwa ia benar-benar sudah jatuh hati pada gadis di depan nya itu. Seolah gadis itu adalah gadis yang begitu istimewa baginya karena hanya bersama gadis ini, ia bisa merasakan bahagia.
"aku yang tidak mau Cally, kita harus bisa keluar dari sini dan kurasa kita semakin dekat dengan keberadaan Leo!" "Leo tidak berada di sini Calvin, Alamat IP yang kami lacak sama sekali mengatakan bahwa mereka sudah berpindah dari sini. Meski pun mereka memang sempat menahan nya di sini!" ujar Cally "Aku rasa perpindahan alamat itu hanyalah pengecoh Cally, mereka tidak akan semudah itu memindahkan Leo!" Cally diam sambil sesekali menatap sekeliling, tiba-tiba pandangan nya jatuh pada sebuah batu besar Ia menghampiri batu itu.
"Mengapa Cal? Ada yang aneh dari batu ini?" seru Calvin "kau bisa merasakan bahwa batu ini berbeda dari yang lain?" Calvin mengerutkan keningnya--"maksud mu, batu ini lebih bersih dari batu yang lain? Begitu Cal?" tanya Calvin dan di angguki oleh Cally "kita hanya perlu mengetahui bagaimana batu ini bisa digerakkan!" seru Cally mulai mencari-cari keberadaan alat yang di gunakan untuk menggeser batu besar itu. "ketemu!" ujar Cally, ia menggerakkan sebuah batu kecil yang memang dibuat seperti pola. Cally menyusun pola-pola yang tersusun, dan selesai! Batu besar itu bergerak, ternyata ada sebuah lorong lagi. Calvin menatap takjub Cally, gadis itu bahkan tau menyusun pola Alogaritma kalkulus yang bahkan ia sendiri tidak tau menyusun nya.
"tunggu apa lagi Calvin? Kita harus segera masuk sebelum mereka benar-benar menemukan kita!" seru Cally. Lelaki itu masih diam di tempat, ragu-ragu untuk mengikuti gadis itu untuk memasuki lorong itu. "hey, dasar sialan, jangan kabur!" Cally dan Calvin menoleh Mr.erik dan Josua benar-benar sudah mendekati mereka, Cally masih menatap Calvin-- "kau pilih saja Calvin, ingin berdiam diri sendiri di situ atau ikut dengan ku!" teriak Cally Calvin akhirnya melangkah masuk, dengan cepat Cally menutup kembali lubang itu.
"sial, mereka sangat pintar. Bahkan gadis itu bisa membuka lubang ini dan menyusun alogaritmanya, jadi apa yang kau katakan bahwa gadis itu tidak tau apa-apa erick? Kau benar-benar sialan, kau hanya lelaki mata keranjang!" kesal Josua Erick hanya diam saja, apa yang ia katakan pada Josua dan Edward memang benar bahwa gadis itu sama sekali tidak bisa memecahkan kode yang ia buat sewaktu mengajar atau apakah itu hanya kamuflase gadis itu saja? Joshua berusaha untuk menyusun Alogartima itu berkali-kali tapi ia terus gagal "Dasar sialan, aku akan membunuh mu Erick!" kesal Josua
***
Cally dan Calvin masih berusaha untuk terus berjalan melewati lorong itu.Air yang begitu bau membuat Calvin harus berusaha untuk tidak memuntahkan semua isi perutnya. Calvin menatap gadis itu yang terlihat biasa saja, ia bahkan tidak merasa jijik melangkahkan kaki nya di linangan air yang sungguh bau dan kotor. Apa sebenarnya gadis itu adalah sama seperti yang ayahnya katakan? "kau tidak jijik Cal?" seru Calvin "jijik? Dengan air ini maksud mu ?" Cally terkekeh "ini sama sekali bukan apa-apa Calvin, ini bahkan tempat yang lumayan indah!" seru Cally "Indah? Apa maksud mu?"
Cally menatap Calvin yang juga sedang menatapnya. "suatu saat aku akan memberitahu mu Vin, tapi tidak sakarang!" jawab Cally "kau tau Cal, aku merasa kau bukan lah orang biasa. Kau tau bertarung, kau bisa koding, mencari alamt IP dan bahkan memecahkan alogaritma sesulit tadi dalam hitungan detik, aku rasa kau orang yang begitu spesial, orang tua mu pasti bangga!" seru Calvin tulus Cally seketika terdiam, ia mengalihkan perhatiannya. Banyak orang yang mengatakan bahwa ia beruntung, ia dikaruniai banyak talenta dan bahkan ia begitu hebat, tapi semua orang hanya benar-benar menilainya dari fisik dan dari apa yang ia punya sekarang.
Dulu, hanya Ender lah orang yang benar-benar menilai nya dengan benar. Menghargai semua usaha dan perjuangannya, Cally baru menyadari bahwa Calvin bukan lah Ender, ia yang hanya terlalu berekspetasi terlalu tinggi kepada lelaki itu. "hey, kau melamun? Apa Aku menyinggung mu?" tanya Calvin "tidak, aku hanya teringat masa lalu ku saja!" seru Cally "Masa lalu? Apa itu sesuatu yang menyakitkan?" tanya Calvin "berhentilah bertanya Calvin, kau fokus saja dengan cara menyelamatkan diri kita kali ini, dan setelah leo selamat kita tidak perlu berhubungan lagi!" seru Cally dan berjalan duluan meninggalkan Calvin yang merasakan hatinya sakit setiap kali gadis itu berkata demikian.
***
"Max, apa kau mendapat e-mail dari Cally?" seru Stephan begitu ia sampai di markas besar mereka dengan nafas ngos-ngosan "ya, seperti nya ia berada dalam bahaya. E-mail nya begitu darurat!" seru Max "baiklah, astagah bagaimana ini? Dia hanya mengatakan bahwa sedang berada di kampus, tapi memang nya ada apa di kampus?" seru Stephan masih menyimak isi pesan Cally "Aku rasa Mr.Erick yang menjebak mereka Steph, kau ingat aku pernah mengatakan bahwa Cally ketahuan bukan?" seru max Stephan mengangguk lalu mulai menyimak kemana arah pembicaraan Max "Dan kurasa, Ada bagian dari kampus yang memang berbahaya dan tersembunyi, ayah ku pernah melarang ku agar tidak memasuki kawasan hutan kampus dan memasuki gedung lama!" "tunggu dulu, apa di kampus benar-benar ada gedung itu?" tanya stephan "Ya, tapi aku tidak bisa menjaminnya. Tapi tidak mungkin ayah ku berbohong pada ku bukan?" Stephan langsung membuka laptop nya "buka lokasi terakhir Cally mengirim e-mail itu Max, aku akan menyiapkan alat pelacaknya lebih dulu!" Max langsung mengangguk, ia mulai memasukkan beberapa angka-angka dan kombinasi huruf yang begitu rumit. Max mulai fokus pada koding nya dan--"Dugaan ku benar Steph, Cally mengirimkan e-mai itu daru bangunan itu!" seru Max
"Baiklah, aku akan memeriksa lokasi nya!" Stephan langsung memasukkan IP e-mail itu, dan Max memang benar. Bangunan kuno yang berada di tengan hutan kampus--" Max, bukan kah ini adalah lokasi dimana mahasiswa yang memasuki wilayah itu tidak akan ada yang pernah selamat?" seru Stephan "Itu benar , tapi setahu ku. Calvin pernah memasuki wilayah itu, tapi ia berhasil keluar meski dengan wajah babak belur dan sejak saat itu semua benar-benar percaya bahwa di gedung itu ada sesuatu yang kampus sembunyikan!" "Dan itu sebabnya ayah mu hanya memberitahukannya pada mu Max? Aku rasa beberapa dosen terlibat dalam hal itu!" Ujar Stephan "aku juga berpikir demikian, kita harus segera merancang pola kita masuk tanpa menimbulkan kecurigaan mereka. Sepertinya Cally masih bisa bertahan sampai kita datang!" ujar Stephan
"Aku rasa kita bisa memasuki gedung itu hanya melewati hutan kampus, tidak ada jalan yang lain. Aku pernah menguping Mr.Erick dan beberapa dosen lainnya berkata demikian!" seru Max "lalu Apa menurut mu kita harus menghubungi Calvin untuk ikut bersama kita?" seru Stephan "Dia tidak bisa dihubungi, aku sudah mencobanya beberapa kali setelah menerima e-mail Cally. Aku rasa ada yang tidak beres dengan nya, beberapa hari ini dia kelihatan menghindari Cally dan juga kita!" "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" "Kita akan masuk sendiri-sendiri, aku rasa orang yang masuk pertama akan mereka kejar. Salah satu dari kita harus bertahan sampai bisa menyelamatkan Cally. Aku bisa masuk yang pertama kali dan kau bisa menyusul!" seru Max
"Itu bagus, karena aku tidak terlalu bisa bertarung jarak dekat. Tapi bukan kah akan lebih mudah jika aku menyiapkan beberapa bom untuk jaga-jaga?" ujar Stephan. Max menggeleng--" Kalau kita menghancurkan bangunan, maka dengan cepat kita akan ketahuan. Sebaiknya kau membawa senjata untuk melindungi diri sendiri dan yang bisa membidik orang lain tanpa mengeluarkan suara!" ujar Max Stephan mengangguk dan sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa kemampuan Max memang sudah hampir setara dengan Cally.
Dari cara berpikir dan bagaimana ia menyampaikan pendapat.Stephan langsung mengambil beberapa senjata, ia mengambil senjata kedap suara milik Cally dan juga menyerahkannya pad Max. "ini milik Cally, apakah bisa mengambil barang nya tanpa seijinnya?" seru Max "ini dalam keadaan darurat Max, aku rasa ini tidak akan menjadi masalah besar!" seru Stephan Max mengangguk, ia juga mengambil septi untuk diri nya sendiri dan juga membawa beberapa cairan yang selalu Cally bawakan untuknya. Setidaknya cairan itu bisa mengembalikan kekuatannya jika sewaktu-waktu energi nya sudah lemah. Setelah selesai, Max dan Stephan langsung menuju mobil
"siap beraksi lagi Max?"
"siapp!"