Adrian menyandarkan tubuhnya pada dinding di depan kamar rawat sang istri dengan kepala tertunduk. Tangannya tampak terkepal, disertai rahang yang mengeras. Pria itu termenung, kini dalam hatinya ada dua rasa bersalah yang terus menghantui. Satu, karena selama ini ia tak terlalu memerhatikan keadaan Nadine, dan dua karena tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. Ya, sejak menikah dengan Aira, dia sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah menemani sang istri untuk check up rutin. Hari-harinya selalu sibuk dia gunakan untuk bekerja dan mengawasi gerak-gerik Aira. Dia bersikap seolah hanya Airalah istrinya, tanpa memikirkan perasaan Nadine. Dia hanya rutin mengirim yang bulanan tanpa ada niatan untuk mengunjungi atau meluangkan waktu untuk istri pertamanya. Penyesalan dan rasa bersalah y

