Bab 3. Titah Kakek.

1343 Words
"Bangunkan mereka!" titah seorang pria tua berusia 70 tahunan pada dua ajudannya. Pratama sangat geram melihat dua manusia berbeda gender masih tertidur lelap di atas ranjang dalam keadaan saling berpelukan, hanya selimut tebal yang membalut tubuh mereka. Kondisi kamar yang berantakan, serta pakaian pria dan wanita berceceran di lantai seolah menandakan apa yang telah terjadi di antara mereka. Kadua pria bertubuh kekar itu pun kompak mengangguk. Di tangan masing-masing telah membawa seember air. Mereka menyiramkan air tersebut pada dua orang yang masih terlelap. Teriakan melengking seketika memenuhi ruangan ketika air dingin menyentuh kulit kedua orang itu. Adrian yang tergagap langsung duduk sambil mengumpat kasar. Sementara Aira menjerit kaget, buru-buru menarik selimut yang basah untuk menutupi tubuh polosnya. "Apa-apaan ini?!" bentak Adrian menatap marah dua ajudan yang berdiri tegap di sisi ranjang dengan ember kosong masih berada tangan mereka. "Siapa kalian?" teriak Aira panik. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Matanya membelalak ketika menyadari bahwa ada orang lain selain mereka. Wajahnya langsung pucat pasi saat melihat pria tua yang berdiri di depan pintu tengah menatap tajam ke arahnya. "Kakek," panggil Adrian dengan nada bergetar. Tubuh Aira seketika mematung di tempat, saat menyadari jika yang ada di hadapannya kini adalah tuan besar Pratama–sang pemilik kerajaan bisnis Pratama's Group. Pria bernama Pratama itu hanya menatap dingin ke arah mereka. "Memalukan!" Aira menelan ludah, dia segera memberi penjelasan. "Tuan, ini tidak seperti yang Anda pikirkan—" "Diam!" bentak Pratama, suaranya bergema ke seluruh ruangan. "Bangun dan berpakaian sekarang juga. Aku tunggu penjelasan kalian." Kedua ajudan Pratama segera melemparkan pakaian ke atas ranjang tanpa ekspresi. Setelah itu, bergegas keluar mengikuti tuan besar mereka. Aira tampak gusar. Seandainya ada pintu Doraemon, ingin rasanya dia kabur saat ini juga. Sungguh, dia tidak mempunyai cukup keberanian untuk berhadapan dengan Pratama. "Malah bengong! Cepat pakai bajumu, Aira! Kakek gak suka menunggu lama." Suara Adrian berhasil membuyarkan lamunannya. Aira menatap wajah sang suami dengan perasaan tak menentu. Dia ingin sekali protes, tetapi tidak punya cukup keberanian. "Katakan saja apa adanya! Jujur di depan kakek lebih baik karena kakek gak akan mentolerir kebohongan," kata Adrian seolah memahami arti tatapan Aira. "Termasuk soal kontrak kita, Tuan?" "Ya." "Cepat pakai bajumu! Aku keluar dulu." Adrian hendak pergi meninggalkan wanita itu sendirian, tetapi Aira segera menahan lengannya. "Tuan, tunggu! Baju-baju saya masih di dalam koper, sementara kebaya saya ...." Wanita itu tak melanjutkan ucapannya saat melihat kebayanya telah terkoyak. Adrian menghela napas panjang. Tanpa banyak bicara, dia segera menuju lemari, mengambilkan pakaian miliknya secara acak, lalu melemparkannya kepada Aira. Aira dengan sigap menerima setelan kaos polos dan celana training milik pria itu, dan segera memakainya. Dia segera turun untuk menyusul Adrian. Namun, baru menampakkan kaki pada lantai, area inti tubuhnya terasa ngilu saat dibuat melangkah. Desisan kesakitan dari bibir wanita itu terdengar ke telinga Adrian yang ternyata menunggu di ambang pintu. Karena merasa penasaran, dia pun memutuskan untuk menengok keadaan Aira. Dilihatnya, istri keduanya tengah berjalan pelan penuh kehati-hatian, gaya berjalannya pun terlihat aneh seperti pinguin yang tengah membawa telurnya. "Kamu kenapa, Ai?" "Sakit buat jalan, Tuan," keluh Aira dengan bibir mengerucut. Tak dapat dipungkiri dia masih menyimpan kesal pada pria itu karena telah memaksakan kehendak untuk melayaninya. Kekesalannya semakin menjadi saat mengingat perlakuan kasar pria itu semalam. Adrian hanya tersenyum kecut, rasa bersalah menghantam diri. Keadaan Aira yang seperti ini juga karena ulahnya. Aira terkejut ketika melihat Adrian tiba-tiba berjongkok di depannya. "Naik ke punggungku!" "Tapi, Tuan–" Aira merasa ragu untuk menuruti perintah pria itu. Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Adrian telah menarik satu tangannya, hingga tubuhnya menubruk punggung kekar suaminya. "Di luar ada tuan besar, apa pantas seperti ini?" "Pantas-pantas saja. Kita suami istri, Ai ... bukan pasangan gelap." Aira mengulum senyum saat mendengar Adrian berkata seperti itu dengan gaya santainya. Setidaknya, statusnya sebagai istri masih diakui, meski mereka hanya menikah siri. Sesampainya di ruang tamu, Adrian segera menurunkan Aira ke sebuah sofa panjang dengan hati-hati. Semua tindak tanduk pria itu tak luput dari perhatian Pratama. Pria tua itu masih memasang raut tak bersahabat disertai tatapan tajamnya terutama ke arah Aira. Aira merasa tidak nyaman saat ditatap seperti itu. Dia memilih menundukkan kepala seraya meremas ujung baju sebagai sebagai pelampiasan rasa gugupnya. "Sejak kapan kalian menjalin hubungan gelap?" Pratama membuka suara dengan nada dinginnya. "Berapa kali kakek tekankan kepadamu, Dri? Jaga nama baik keluarga! Jangan buat skandal! Tapi ternyata kamu malah seperti ini. Kakek kecewa sama kamu." Helaan napas berat terdengar dari bibir pria tua itu. Dia menumpukan beban tangannya pada tongkat yang dibawanya, disertai tatapan penuh kekecewaan. Adrian terdiam mengepalkan tangan kuat. "Kek, aku sama Aira–" "Oh, jadi nama wanita ini Aira." Pratama manggut-manggut. "Apa kamu sedang memperkenalkan selingkuhanmu pada kakek, Dri?" Senyum sinis tercetak di bibir pria baya itu. Aira mengeratkan remasan pada ujung kaos yang dipakainya. Sakit rasanya saat dituduh sebagai selingkuhan. Dia merutuki sikap Adrian yang tak kunjung mengatakan yang sebenarnya mengenai hubungan mereka. "Ya, aku sedang mengenalkan Aira pada kakek, tapi bukan sebagai selingkuhan." Adrian membalas tatapan sang kakek dengan berani. "Melainkan sebagai istri keduaku." Pratama tak dapat menutupi rasa terkejutnya. Namun, sesegera mungkin mengubah mimik wajahnya menjadi biasa. Senyum sinis kembali terlukis di bibir pria itu. "Setan apa yang merasukimu, Drian? Gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba kamu menduakan istrimu yang mandul itu. Apa pintu hatimu sudah terbuka, Dri?" Adrian mengepalkan tangan erat merasa tidak terima ketika sang kakek menyebut istrinya mandul. Memang ucapan itu bukan pertama kalinya dia dengar, tetapi tetap saja rasa marah itu tetap ada. "Aku melakukan ini juga demi Nadine, Kek! Aku melakukan ini agar aku bisa mendapat keturunan, agar kalian tidak terus-terusan menghina istriku!" "Lalu, apa Nadine bisa menerima pernikahan keduamu ini, Dri? Jika dilihat dari perangainya yang ingin menguasaimu, kakek yakin dia tidak akan terima. Aku jauh lebih paham wanita seperti apa istrimu itu, ketimbang kamu suaminya." Pratama berucap diiringi senyum mengejek. "Cukup, Kek! Jangan hina istriku lagi," teriak Adrian menunjuk tegas kakeknya ketika tidak bisa lagi menahan amarah. Aira yang melihat kemarahan itu segera memegang lengan sang suami meminta untuk diturunkan. Dia tidak ingin Adrian berlaku tidak sopan kepada kakeknya. "Sudah, Tuan! Gak baik membentak orang tua," ucapnya dengan penuh kelembutan. Adrian berusaha keras menekan kemarahan dalam hatinya. Dia membiarkan Aira menurunkan tangannya yang menunjuk sang kakek. "Tuan Besar Pratama, saya minta maaf jika terlalu mencampuri urusan kalian. Bagaimanapun juga, saya orang baru yang masuk ke keluarga kalian. Saya tidak pantas ikut campur." Aira memberanikan diri menatap wajah dingin Pratama yang sejak tadi menatap intens ke arahnya. "Sebelumnya ... perkenalkan saya Aira Pratiwi, sekretaris pribadi Tuan Adrian. Tuan Adrian menikahi saya bukan atas dasar cinta, melainkan berdasarkan keuntungan." "Keuntungan?" tanya Pratama dengan kening berkerut. "Ya, lebih singkatnya ... kami hanya menikah kontrak. Saya harus melahirkan keturunan Tuan Adrian, setelah anak itu lahir nanti ... saya akan pergi meninggalkan anak saya dan pernikahan saya," ucap Aira penuh ketegasan. Meski dari luar terlihat tegar, tetapi jauh di lubuk hatinya dia berusaha kuat meredam perih tak terkira. Dia merasa seperti wanita matre yang menghalalkan segala cara demi uang, termasuk merendahkan harga dirinya. "Aku menikahi Aira hanya untuk menyewa rahimnya demi keturunan," sahut Adrian datar. Pratama tak dapat menutupi rasa terkejutnya. Pengakuan sang cucu berhasil memantik api amarah yang ada dalam diri pria itu. Detik itu juga, dia berdiri menunjuk sang cucu dengan penuh kemarahan menggunakan tongkat kayunya. "Dasar anak sialan! Siapa yang mengajarimu menjadi b******n, Drian? Meski kakek menuntut keturunan darimu, tapi bukan begini caranya. Ceraikan Nadine dan resmikan hubungan kalian!" "Aku gak bisa! Sampai kapanpun juga ... aku gak akan menceraikan Nadine! Aku mencintainya, Kek." "Persetan dengan cinta! Kamu terlalu dibutakan cinta sampai jadi bodoh." Pratama memandang remeh cucunya, kemudian pandangannya beralih pada Aira. "Dan kamu, Aira ... kalau kamu memang bersedia menyewakan rahimmu. Segeralah hamil dalam waktu satu bulan ke depan. Kalau tidak bisa, tinggalkan cucuku!" Setelah mengatakan itu, Pratama bergegas keluar dari unit mewah itu diikuti dua ajudannya. Aira hanya mematung di tempat memandang punggung ringkih Tuan Pratama menghilang di balik pintu. Tatapannya beralih ke arah Adrian yang masih setia mematung di tempat dengan sisa kemarahannya. "Apa permintaan tuan besar termasuk perintah juga, Tuan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD