"Kamu gila, Dri! Kamu gak bisa mengambil keputusan sepihak. Aku ini masih istrimu. Meskipun aku mandul, kamu gak bisa seenaknya menikahi wanita lain." Nadine berteriak penuh amarah seraya memukuli d**a bidang sang suami secara bertubi.
Perasaannya sangat hancur saat mengetahui kenyataan jika suaminya telah menikahi wanita lain tanpa persetujuan darinya.
"Nadine, dengarkan aku! Aku terpaksa melakukan ini ... aku juga gak mau menduakanmu. Semua ini kulakukan demi bisa mendapatkan keturunan. Aku melakukan ini juga demi kamu." Adrian segera menangkap kedua tangan sang istri yang terus bergerak aktif memukuli d**a bidangnya.
Perasaannya semakin tak menentu saat melihat keadaan sang istri yang kacau akibat ulahnya.
Kini, dia telah resmi menyandang status sebagai suami Aira sejak beberapa jam yang lalu. Dia memang sengaja tidak memberitahu Nadine mengenai pernikahan keduanya, sebab tahu jika Nadine tidak akan setuju dan akan melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan rencananya. Tentu saja, Adrian tidak ingin rencana yang telah ia susun matang harus hancur begitu saja.
Setelah mengikrarkan janji suci secara siri dengan Aira. Adrian membawa istri keduanya ke kediamannya untuk diperkenalkan pada Nadine. Reaksi Nadine benar sesuai dugaannya. Wanita itu langsung naik pitam tidak bisa menerima pernikahan keduanya.
"Demi aku? Jangan bawa-bawa aku dalam kesalahanmu! Sampai kapanpun aku gak sudi menerima pegawai rendahan itu sebagai maduku." Nadine kembali berteriak disertai mata yang telah basah oleh air mata.
Aira hanya bisa terpaku menyaksikan drama rumah tangga yang terpampang nyata di depannya. Hatinya merasa teriris. Detik itu juga, dia merasa seperti wanita yang paling jahat karena telah merusak ketentraman rumah tangga orang.
"Nadine Sayang, tenanglah!" Adrian mengguncang tubuh sang istri. "Aku melakukan ini agar kita bisa punya keturunan, agar kamu gak direndahkan terus sama mereka. Hati aku sakit, Nadine ... melihatmu selalu direndahkan keluargaku."
Sekumpulan kristal bening bergumul di pelupuk mata pria itu. Dia tidak pernah melihat Nadine sekacau ini, meski menghadapi tekanan bertubi dari keluarga besarnya. Bahkan ketika keluarga besarnya memojokkan di depan umum perihal Nadine yang tidak bisa memberi keturunan, tetapi wanita itu tetap terlihat tenang dan berusaha menunjukkan sisi anggunnya.
Nadine seketika terbungkam, menatap lekat suaminya. Bayangan penghinaan keluarga besar Pratama terhadapnya kembali terlintas dalam ingatan. Mereka selalu menganggap jika dirinya wanita tidak berguna hanya karena tak bisa memberi keturunan. Pernah suatu ketika, Pratama–sang kakek meminta secara terang-terangan agar Adrian menceraikannya. Beruntung, Adrian menolak mentah-mentah permintaan itu dan bersikukuh memertahankan dirinya dengan alasan cinta.
Sejak saat itu, keberadaannya di keluarga Pratama seperti tak dianggap, bahkan sang kakek tidak mau menemuinya setiap kali mereka berkunjung.
"Jadi, kamu mau 'kan nerima Aira sebagai madumu?" Suara Adrian berhasil membuyarkan lamunannya.
Nadine menatap datar suaminya. "Sampai kapan dia jadi maduku?"
"Sampai dia melahirkan. Setelah melahirkan dia akan pergi dari kehidupan kita."
"Apa dia sudah hamil?"
Adrian menggeleng pelan. "Belum."
Nadine segera menyingkirkan kedua tangan sang suami yang sejak tadi menggenggam lengannya. Kemudian dia beralih mendekati Aira masih dengan wajah yang tak bersahabat.
Wanita itu memindai penampilan Aira yang masih mengenakan kebaya putih dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Hatinya kembali merasakan sakit saat mengingat jika wanita itu telah berstatus sebagai istri suaminya.
"Nyonya," panggil Aira dengan pelan.
Dia merasa tidak nyaman saat Nadine menatapnya seperti itu, seperti seseorang yang ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Apa katamu? Aku gak dengar, coba ulangi lagi!"
"Nyo-nyonya."
Nadine menarik kedua sudut bibirnya membentuk segaris senyum tipis. "Baguslah kalau kamu masih tau diri. Perempuan sepertimu memang gak pantas menjadi maduku."
Ada rasa ngilu di hati saat mendengar Nadine berkata seperti itu. Namun, Aira berusaha mempertahankan senyumnya.
"Anda tenang saja! Hubungan saya dengan Tuan Adrian hanya sebatas kontrak. Meski status saya telah menjadi istrinya, tapi Anda yang memiliki hak penuh atas tuan."
"Tiga bulan ... dalam waktu tiga bulan, kamu harus hamil. Kalau sampai belum, kamu harus angkat kaki dari kehidupan kami dan pekerjaanmu. Tidak hanya itu, kamu juga harus mengembalikan semua uang yang telah dikeluarkan suamiku untuk membayarmu."
Aira menelan ludah kelat tidak mampu lagi berkata-kata. Dia pun mengalihkan tatapan ke arah Adrian untuk meminta bantuan. Pria itu mengangguk pelan sebagai isyarat untuk menyetujui.
"Ba-baik, Nyonya ...."
"Dri, bawa wanita ini pergi! Aku gak sudi tinggal satu atap dengannya. Hanya aku yang berhak jadi nyonya di rumah ini." Setelah mengatakan itu, Nadine berlalu begitu saja meninggalkan kedua orang itu, bahkan melewati sang suami tanpa menatapnya.
Adrian hanya bisa menatap kepergian Nadine yang menghilang di balik tangga. Emosi istrinya sedang tidak stabil, untuk dibujuk pun percuma. Jadi, dia memutuskan memberi waktu pada Nadine untuk menenangkan diri dan mengajak Aira keluar dari rumah mewah itu.
***
"Mulai sekarang, kamu akan tinggal di sini," ucap Adrian ketika membuka pintu sebuah unit apartemen.
Aira mengikuti dari belakang seraya menyeret kopernya. Matanya memindai seluruh ruangan. Meski hanya sebuah unit, tapi terbilang cukup mewah.
Adrian mulai menjelaskan detail setiap ruangan. Tidak hanya itu, dia juga menjelaskan mengenai apa saja yang harus dilakukan Aira ketika pria itu berkunjung. Aira tampak mendengarkan dengan seksama dengan sesekali mengangguk tanda memahami.
"Ada yang perlu ditanyakan?" tanya Adrian mengakhiri penjelasannya.
"Enggak, Tuan. Saya sudah paham."
"Oke. Itu kamarmu." Adrian menunjuk sebuah ruangan yang berada tak jauh dari ruang keluarga. "Kamu bersih-bersih dulu! Setelah itu buatkan saya makan malam."
"Baik, Tuan ... saya permisi."
***
Kamar yang ditempati Aira tak jauh berbeda dengan ruang tamu, sama-sama mewah. Ruangan dengan dinding bercat krem telah dilengkapi dengan ranjang king size, meja rias berkaca besar yang dihiasi lampu bercahaya lembut di sekelilingnya. Tepat di sebelah tempat tidur, ada sebuah sofa panjang yang berwarna senada dengan dinding.
Aira melangkah pelan memerhatikan interior ruangan tersebut. Kamar ini terlihat dua kali lipat lebih luas dari kamar di rumahnya dulu.
Langkah wanita itu terhenti tepat di pinggir jendela berkaca yang menampilkan pemandangan kota Jakarta pada malam hari. Kelap-kelip lampu terlihat indah di bawah sana, dilengkapi dengan beberapa gedung yang menjulang tinggi.
Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk segaris senyum manis. Pemandangan malam itu berhasil menenangkan gejolak hati yang dirundung gelisah sejak bertemu Nadine tadi. Bagaimanapun juga, penolakan Nadine berhasil menimbulkan perasaan tidak nyaman. Rasa bersalah terus menghantui karena telah masuk dalam rumah tangga bosnya.
Sepasang tangan kekar yang melingkar pada pinggang berhasil mengejutkan wanita itu. Aira terkesiap saat Adrian menghirup dalam leher jenjangnya. Dia berusaha melepaskan belitan tangan itu, tetapi Adrian justru mengeratkan dekapannya.
Timbul gelenyar aneh saat napas lembut Adrian menerpa kulitnya. "Tu-tuan, tolong lepaskan! Saya tidak nyaman."
Adrian menghentikan aksinya, lalu membalik tubuh Aira untuk menghadapnya.
"Bagian mana yang membuatmu tidak nyaman, Ai?"
Pria itu menatap lekat wajah ber-make up tipis itu. Namun, sebisa mungkin Aira menghindari tatapan yang berhasil membuat jantungnya berdetak tak normal.
Kesal karena tak kunjung mendapat jawaban, Adrian pun menarik dagu Aira, memaksa wanita itu untuk membalas tatapannya.
"Jawab, Aira!" Adrian berucap pelan penuh penekanan.
Aira menelan ludah kelat, tidak tahu harus menjawab apa. Pada kenyataannya, dia memang merasa tidak nyaman. Ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi takut menyinggung suaminya.
"Saya ... saya tidak terbiasa."
Adrian tersenyum lembut, sadar jika ini adalah pengalaman pertama bagi wanita itu dekat lawan jenis.
"Mulai sekarang, kamu harus terbiasa karena aku akan sering berlaku seperti ini terhadapmu, bahkan lebih," bisiknya diiringi tiupan pelan ke telinga wanita itu.
Aira sontak mundur satu langkah saat merasa ada yang aneh dengan perkataan suaminya. Namun, sigap Adrian segera menarik tangan wanita itu hingga menubruk tubuhnya.
Aira tak dapat menutupi kegelisahannya. Dia berusaha untuk lepas, tetapi tenaganya kalah dengan Adrian. Pria itu justru mendekapnya dengan erat, perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Aira.
"Tu-tuan, Anda mau apa?" tanya wanita itu cemas.
"Mau apa lagi? Ini malam pertama kita."
Kedua bola mata Aira membelalak sempurna tak menyangka Adrian akan meminta haknya secepat ini, sementara dirinya belum siap.
"Tapi, Tuan–" Perkataannya terputus saat bibirnya telah lebih dulu dibungkam dengan bibir suaminya.
Aira hanya diam membiarkan Adrian bermain sesuka hati dengan bibirnya. Dia sendiri tidak tahu harus bagaimana karena memang ini pengalaman pertama baginya. Dia belum pernah menjalin hubungan sedekat ini dengan laki-laki manapun, paling-paling hanya berteman biasa.
Adrian yang merasa gemas karena tak kunjung mendapat balasan pun segera mengigit kecil bibir Aira. Aira yang merasa kesakitan berniat untuk melepas, tetapi sesapan Adrian begitu kuat hingga membuatnya sulit terlepas.
Aira mulai menggerakkan bibirnya membalas cumbuan itu, mengikuti naluri dalam dirinya. Keduanya pun tenggelam dalam ciuman panas. Ciuman Adrian semakin menuntut membuat Aira kewalahan mengimbangi permainan bibir itu.
Pada saat dirinya hampir kehilangan napas, Adrian baru melepas pagutannya, lalu menyatukan keningnya dengan kening Aira.
"Bernapas, Sayang ... jangan gak napas!"
Aira tersenyum malu merasa salah tingkah mendengar panggilan "sayang" yang terucap dari bibir Adrian. Situasi mendadak canggung membuat Aira merasa tidak nyaman.
"Tuan, saya ... saya mandi dulu!"
Aira berniat menghindar demi mengalihkan kegugupan yang melanda. Akan tetapi, Adrian tetap tidak membiarkan sang istri pergi begitu saja.
"Aku tidak mengizinkanmu mandi. Layani aku malam ini! Aku ingin kamu cepat hamil. Ingat, dalam tiga bulan ke depan kamu harus hamil."
Aira mematung di tempat saat Adrian mengungkit tenggat waktu itu. Tangannya mengepal kuat, dia merasa ditipu dan dipermainkan karena hal itu tidak tertulis dalam kontrak.
"Tapi, Tuan ... tenggat waktu itu tidak tertulis dalam kontrak."
Adrian kembali menarik lengan Aira, menatap tajam wanita itu. "Perkataan istriku sama dengan perintahku, jika Nadine meminta kamu hamil dalam tiga bulan ke depan, maka kamu harus hamil! Jika tidak, kembalikan semua uang yang kamu terima."
"Tapi, Tuan–"
Kedua mata Aira tampak berkaca-kaca hendak melayangkan protes, tetapi Adrian segera menyela.
"Tidak ada tapi, layani aku sekarang!"
Adrian segera menghempaskan kasar tubuh Aira ke atas ranjang, lalu menindihnya. Adrian yang telah terbakar gairah pun mulai melucuti satu per satu pakaiannya sendiri, kemudian berganti melucuti pakaian Aira.
Tidak ada yang bisa Aira lakukan selain pasrah, meski hatinya seperti tersayat belati tajam. Air mata mengalir deras seiring dengan hentakan demi hentakan tubuh Adrian yang menghujam tubuhnya. Tatapan Aira tak pernah lepas dari wajah Adrian yang begitu menikmati tubuhnya. Raut yang sangat kontras ditunjukkan oleh Aira.
Selama permainan berlangsung, tidak ada sedikitpun kenikmatan yang dirasakan. Rasa sakit di hatinya lebih mendominasi. Wanita itu bahkan mengabaikan rasa sakit pada inti tubuhnya ketika dirobek paksa.