"Apa kabar, Sweety?" Suara Alden kembali menyapa pendengaran Nadine. Nada bicaranya terdengar santai. Namun, sorot matanya menatap tajam ke arah wanita itu disertai senyum manis yang terkesan menyeringai. Nadine menatap pria yang berdiri di ambang pintu dengan jantung berdegup kencang. Alden. Sosok yang sudah lama berusaha ia lupakan, kini berdiri di sana dengan senyum yang membuat bulu kuduknya meremang. Wanita itu berusaha menguasai diri, menelan ludah dan menegakkan punggungnya meskipun rasa nyeri pada bekas operasinya masih menyiksa. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan nada was-was. Alden melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan tenang. "Kenapa? Aku gak boleh menjenguk mantan kekasihku yang baru saja kehilangan rahimnya?" Nadine menggertakkan giginya. "Ak

