Langkah Aira terasa berat saat berjalan menjauh dari ruangan itu. Dadanya terasa sesak saat mengingat percintaan panas antara Adrian dan Nadine. Rasa sakit yang menusuk membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Tas bekal di tangan kini terasa begitu berat, seperti beban hati yang semakin menyesakkan. Jemarinya meremas erat kain tas itu, seolah ingin menyalurkan seluruh emosi dalam genggaman itu. Air mata terus mengalir membasahi pipi hingga terdengar isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Dia menyadarkan tubuh ke sebuah dinding lorong yang menghubungkan lift. Padahal jarak antara lift dan tempatnya berdiri tersisa jarak beberapa meter saja, tetapi kakinya sudah tak sanggup untuk melangkah. Dia membiarkan tubuhnya merosot ke lantai. Tangannya berkali-kali meninju dinding di sampingnya

