Mana Hapeku!

1063 Words
Di dalam kamar, rasanya ada yang kurang. Keysha berusaha mengingatnya. Namun, yang ada justru terdengar petir menyambar begitu keras. Ia pun sontak saja terkejut dan segera melompat ke atas tempat tidur. Menyembunyikan diri di antara tumpukan bantal yang selalu terasa nyaman. "Kenapa hujannya jadi makin deras sih!" keluh Keysha di dalam kamarnya. Ia selalu merasa takut di saat seperti ini. Pintu kamar terdengar dibuka oleh seseorang. Seseorang yang sangat mengenal kebiasaan Keysha saat ada hujan petir seperti saat ini. "Key, kamu nggak papa sayang?" tanya Bu Linda yang merasa cemas dengan kondisi putrinya. Keysha bangun dan memeluk ibunya. Ia memang selalu ketakutan saat hujan petir seperti ini. Tanpa sengaja Rasha berjalan lewat depan pintu. Tertangkap oleh kedua matanya saat bu Linda seperti berusaha menenangkan Keysha. “Dia kenapa sih?” pikir Rasha yang penasaran. Tapi, hanya sedikit. Selebihnya ia kembali tak peduli. Dilanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar. Sementara itu, Keysha perlahan mulai merasa nyaman hingga bisa tertidur. Hal ini, lebih baik baginya daripada harus terus menerus mendengar petir yang menyambar cukup keras. Karena itu akan membuatnya sangat ketakutan. Ia pernah mengalami hal buruk saat ada hujan petir di waktu kecil. Sebab itu, setiap kali ada petir pikirannya akan mengingat hal buruk tersebut. Bu Linda merasa keadaan Keysha sudah lebih baik. Ia pun mencoba membaringkan putrinya di atas bantal kesukaannnya. Tanpa sengaja bulir bening jatuh di pipi Bu Linda. Membuat basah dan tentu saja isakannya sedikit terdengar. “Nggak berasa kamu sekarang udah besar ya Sayang. Semoga setelah ini, kehidupan kamu jadi lebih baik Nak. Ibu yakin, Rasha pasti bisa memberi kamu kebahagiaan dan masa depan yang cerah,” ucap Bu Linda sambil mengusap lembut rambut putrinya. Rasha ternyata masih berdiri di depan pintu yang terbuka. Ia mendengar semua yang dikatakan bu Linda barusan. Harapan anaknya akan mendapatkan kebahagiaan jelas diinginkan untuk masa depan putrinya. Rasanya ada sebagian hati Rasha yang tercabik. Ia sebenarnya tak tega menghancurkan harapan dari keluarga calon mertuanya. Namun, itu semua tak bisa mendorong dirinya akan bisa semudah itu jatuh cinta kepada Keysha. 'Kenapa rasanya hatiku pengen marah ya pas denger harapannya Bu Linda. Aku nggak akan bisa bahagiakan Keysha. Andai Papa nggak maksa aku buat nikah sama Keysha. Pasti Keysha bisa dapat pria yang benar-benar mencintainya,' batin Rasha sambil melihat bu Linda membelai lembut rambut Keysha. Sungguh pemandangan yang membuat semua orang iri. Apalagi untuk Rasha yang harus dibesarkan hanya dengan kasih sayang seorang Ayah. Ibunya pergi meninggalkan dirinya untuk pria lain. Itu sebabnya Rasha menjadi pribadi yang tak bisa setia pada makhluk yang namanya wanita. Rasha pun mengurungkan niatnya untuk mengembalikan ponsel milik Keysha. Ia segera memutar langkah sebelum bu Linda tahu dirinya sedang mematung di depan pintu kamar gadis tersebut. Ponsel itu masih digenggam Rasha. Tanpa alasan yang jelas, ditekan tombol untuk menyalakan. Tampak wajah manis Keysha yang seperti tak pernah sedih di layar gawai tersebut. 'Gadis ini memang hidup dengan penuh kebahagiaan, pantas saja dia selalu bersikap seenaknya sendiri. Sayang ya, Tuhan mempertemukan kita melalui perjodohan yang sama sekali tidak aku sukai. Aku bahkan tidak ingin ada ketertarikan di antara kita,' batin Rasha sambil terus berjalan kembali ke kamar.. ** Pagi ini, cuaca terlihat begitu cerah dengan langit yang berwarna biru. Indah sekali lukisan yang ada dan hanya bisa dilihat Rasha di sini. Di perkampungan kecil tempat calon tunangannya tinggal. “Woy, mana hapeku!” pinta Keysha saat dirinya sudah berada didekat tempat Rasha berdiri. “Ambil aja di atas meja kamar,” sahut Rasha tanpa memandang ke arah Keysha yang menunggu. “Ambilin lha. Kok malah aku yang ambil sih,” ucap Keysha kesal. Mendengar itu, Rasha memutar tubuhnya. Ditunjukkan wajahnya pada Keysha dengan sorot mata tajam. “Kamu ganggu banget waktu pagiku. Lebih baik kamu ambil sendiri sana. Itukan hape punya kamu.” Keysha membalasnya dengan kedua alis yang saling berkerut. “Kenapa alisnya mengkerut gitu. Minta disetrika ya?” tanya Rasha mengecoh dan terkesan memancing keributan. “Kamu kira aku cewek apaan seenaknya masuk kamar cowok sembarangan,” ucap Keysha yang semakin menunjukkan emosi. “I think you are good girl. Why?” Keysha menggelengkan kepalanya seolah lawan bicaranya tak bisa berpikir dengan baik. “Cewek yang baik, nggak akan masuk sembarangan ke kamar cowok. Meski kamar cowok itu sedang kosong. Kalau misalnya barang kamu ada yang hilang, pasti aku yang kamu tuduh. Iyakan?" Keysha semakin meyakinkan dengan mata melotot. Ia rasa dirinya memang benar untuk pernyataan barusan. "Bener juga. Kadang kamu bisa jadi pinter ya. Kalau gitu, biar aku ambilkan. Bahaya juga kalau barangku ada yang hilang." Kekesalan yang tadinya hampir hilang. Sontak saja kembali muncul ke permukaan. Keysha menarik lengan Rasha dengan keras. Lalu menatap wajahnya sekali lagi. "Apa lagi sih?" tanya Rasha yang merasa selalu disalahkan. “Rasha!” panggil Keysha dengan nda yang santun. “Iya, Keysha!” sahut Rasha dengan nada yang sama halusnya. “Kamu pikir aku pencuri, hah!” sahut Keysha dengan nada yang berlawanan dengan yang tadi. Diucapkan kata-katanya dengan suara yang keras dan lantang. Tepat di depan wajah Rasah. Rasha langsung menarik sedikit wajahnya. Volume dan intonasi dari perkataan Keysha begitu mengejutkan. “Hey, kamu kalau bicara nggak usah nyembur. Terus sekarang kamu mau apa?” tanya Rasha. “Aku pengen kamu mikir dulu sebelum bicara. Udah, cepetan ambilkan hapeku. Aku mau telepon seseorang!” Rasha mengepalkan jari-jemarinya. Menahan kesal yang seakan ingin meninju tembok saja. “Ini juga mau aku ambil. Kamu aja yang dari tadi bikin aku muter.” Rasha berjalan lebih dulu diikuti Keysha di belakangnya. Namun, langkah kaki Rasha bukan menuju kamarnya, tapi ke kamatr mandi. Tanpa disadari Keysha mengikuti langkah kaki tersebut. Ia baru menyadari ada yang salah saat dirinya mendapati pintu ditutup dengan keras oleh Rasha saat dirinya berada tepat di depan pintu kamar mandi. “Dooorrrrr!” Suara pintu yang dibanting dan membuat Keysha sangat kaget. “Hah, apa-apaan sih si Rasha!” oceh Keysha yang terkejut dan terdengar oleh bu Linda yang sedang menyiapkan sarapan di dapur. “Lagian kamu sendiri kenapa ngikutin Rasha sampai kamar mandi sih. Rasha kan bisa terganggu,” sahut Bu Linda. “Aku nggak bermaksud buntutuin dia sampai kamar mandi Bu. Aku cuma mau minta,” jelas Keysha yang tiba-tiba terpotong oleh ibunya sendiri. “Udah-udah, lebih baik kamu bantuin ibu siapkan sarapan. Hitung-hitung latihan buat jadi istri yang baik.” “Apa! Istri yang baik,” sahut Keysha terkejut. Rasanya ia tak terima jika harus menyiapkan diri sebagai istri yang baik untuk Rasha. Rasha yang juga bisa mendengar percakapan Bu Linda dengan Keysha dari dalam kamar mandi, mencoba menahan tawa. “Aku beneran nggak bisa membayangkan kalau dia beneran jadi istriku.” Rasha berbicara sendiri dengan hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD