Rasha sudah keluar dari kamar mandi. Ia kini bisa melihat pemandangan yang sepertinya baru terjadi pagi ini di dapur. Tampak Keysha tengah sibuk menyiapkan sarapan. Ia berusaha mengatur beberapa peralatan makan dan juga hidangan yang sudah dimasak oleh ibunya.
“Tumben Bu, dapur kelihatan ramai,” sindir Rasha sambil menunjukkan senyum tipis super manis.
Keysha yang sadar maksud ucapan Rasha merasa kesal. Ia yang tengah meletakkan piring spontan membantingnya cukup keras sambil melirik tajam ke arah Rasha.
“Key, kamu pengen piringnya Ibu rusak ya?” tanya bu Linda sambil menatap putrinya.
Rasha juga ikut memperhatikan. Sementara Keysha langsung memutar bola matanya karena tak suka mendengar ucapan bernada sindiran dari Rasha.
“Mungkin piringnya licin Bu,” sahut Rasha. Ia kemudian meraih beberapa gelas yang belum tersedia di meja. Diletakkan secara perlahan dan hati-hati. Berbeda sekali dengan cara Keysha barusan.
'Ah, lagi-lagi dia caper. Terus aja kayak gitu. Sampe ibu sama ayah ikut jatuh cinta sama kamu. Embat semuanya aja sekalian,' batin Keysha. Ia pun menarik napas cukup dalam agar perasaannya lebih tenang.
“Nah gitu dong. Coba tiru Nak Rasha. Kamu pasti bisa jadi istri yang paling bisa diandalkan,” ucap bu Linda sambil berjalan mendekati Rasha dan membantu meletakkan kopi hangat di meja.
'Puji aja terusssss, lama-lama yang jadi anak di rumah ini bukan Keysha, tapi Si Rasha,' batin Keysha.
“Key, kamu kok malah diam aja. Bukannya lanjut bantuin biar kita bisa cepet sarapan.” Bu Linda mendapati putrinya termenung di tepi meja makan.
“Kan ada Rasha yang mau dan dengan sukarela bantuin Ibu,” sahut Keysha dengan nada yang dibuat kecewa.
“Kayaknya saya pergi panggil Pak Rahman Bu. Mungkin beliau udah selesai potong rumput di halaman belakang,” ujar Rasha sambil memberi kode pada bu Linda jika dirinya sedikit tidak nyaman.
Rasha kemudian berlalu. Meninggalkan Bu Linda hanya bersama dengan Keysha. Didekati putri satu-satunya dari keluarga Rahman tersebut.
“Nak, Ibu cuma pengen yang terbaik buat kamu. Lihat cara Rasha bersikap. Apa kamu nggak suka sama dia?” tanya Bu Linda yang menghampiri putrinya.
“Bu, Rasha itu nggak seperti yang Ibu bayangkan. Dia itu nggak semanis di depan kita. Dia itu cuma pura-pura.” Keysha mencoba menjelaskan. Akan tetapi, rasanya sia-sia.
Bu Linda hanya membalas dengan hembusan napas yang kasar. Ia merasa semua yang dikatakan Keysha tentang Rasha tidak ada yang benar.
“Nak, jangan menilai seseorang seperti itu. Kamu belum mengenal Rasha lebih jauh.” Bu Linda masih membela calon menantunya.
Terasa sekali, pesona seorang Rasha sudah cukup kuat melekat sebagai sosok yang baik di depan mata Bu Linda. Tak hanya itu, ayahnya pun seperti tak sabar menerima Rasha sebagai anggota keluarga baru.
“Ya udahlah terserah Ibu aja!” sahut Keysha yang tak ingin melanjutkan perdebatan.
**
Seluruh anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Keysha terlihat bersiap-siap mendengarkan segala yang bisa didengar saat acara makan oagi ini.
“Abis ini, pasti topik pembicaraan cuma seputar Rasha. Ih, ngeselin deh!” batin Keysha.
“Rasha mana?” tanya Pak Rahman yang telah mencicipi kopi hangatnya.
“Nggak tahu Yah. Mungkin masih di kamar,” sahut Bu Linda.
Keysha sendiri hanya diam. Dalam hati ia sudah berteriak agar kedua orang tuanya tidak perlu mencari Rasha. 'Ngapain sihhhhh, orang kayak gitu dicariin.'
“Key,” panggil Bu Linda.
Keysha mngngkat wajahnya, menatap sang ibu. “Iya Bu!”
“Coba kamu panggil Rasha, mungkin dia ada di dalam kamarnya,” terang Bu Linda.
Keysha hanya tersenyum kecut sambil menabrakkkan kedua sisi giginya untuk menahan kesal. Bagiamanpun perintah ibunya harus dilaksakan.
“Iya Bu, biar aku panggil itu anak," sahut Keysha mencoba bersabar.
Keysha bangun dan berusaha berjalan cepat menuju kamar Rasha. Sekalian saja, ia juga ingin meminta gawai yang sejak semalam disimpan oleh calon suaminya itu.
Sampai di depan pintu, Keysha berdiri beberapa detik. Diperhatikan pintu tersebut sedikit terbuka. Ia pun memberanikan diri mengintip dari celah yang ada.
Terlihat di balik pintu tersebut, Rasha sedang memperhatikan gawai dengan serius. Ia bahkan tak merasa kalau Keysha mulai menapakkan kakinya di lantai kamar yang ditempati Rasha.
“Hapeku mana?" tanya Keysha setibanya di dalam kamar Rasha.
Rasha memutar tubuhnya. Ia tanpa mengatakan apapun langsung meraih ponsel di atas meja dan melemparnya begitu saja ke arah Keysha.
Dengan sigap Keysha secepat mungkin menangkap gawai kesayangannya itu. “Hey, kenapa dilempar?”
“Terserah aku," jawab Rasha dengan begitu acuh.
Ingin rasanya Keysha naik pitam. Namun urung dilakukan, karena ayah dan ibunya sudah menunggu untuk sarapan bersama.
“Untung bisa aku tangkap," batin Keysha. Ia pun bermaksud keluar segera dari kamar Rasha. Namun, langkahnya terhenti. "Cepet ke meja makan. Ayah sama Ibu udah nungguin,” terang Keysha.
Rasha tak memandangnya sama sekali. Ia masih sibuk dengan layar ponsel.
“Hey, Rasha Hermawan Prayoga, kamu dengerkan kalau Ayah sama Ibuku nunggu kamu buat sarapan bareng,” terang Keysha sekali lagi.
“Hemb, bentar lagi.”
Keysha kemudian berjalan mendekat ke arah Rasha yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ia pun menarik salah satu lengannya dan berusaha mengajaknya ke meja makan.
“Hey lepasin!” pinta Rasha.
“Nggak, ayo makan dulu. Kamu nggak bermaksud bikin ayah sama ibuku mati kelaparan gara-gara nungguin kamu buat sarapan kan?”
Rasha menerima saja ditarik paksa oleh Keysha. “Sial, kenapa tenaganya kuat sekali sih!” batin Rasha yang berusaha ingin lepas.
"Setelah sarapan, aku harap kamu segera balik ke kota. Pasti pacar kamu juga udah nungguin. Iya kan?" tanya Keysha sambil terus menyeret tangan Rasha agar segera sampai di meja makan.
"Iya, dia udah kangen berat sama aku."
"Iuhhhh, udah tua juga masih ngomong kangen berat."
“Terus kalau kamu boleh?” tanya Rasha sambil berharap Keysha membalas tatapan matanya.
Keysha membanting tangan Rasha tepat sebelum kakinya melangkah masuk ke dapur. “Aku nggak pernah kangen sama seseorang,” sahut Keysha yang juga membalas sorot mata Rasha.
Rasha merasa tak puas dengan jawaban yang didengar.
“Lebih baik cepat makan.” Keysha menyuruh sekali lagi. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah meja makan.
Rasha melakukan hal yang sama. Ia merasa Keysha sudah terlalu menyebalkan pagi ini. Berusaha tak terjadi sesuatu. Rasha kembali menunjukkan senyumnya pada Pak Rahman dan Bu Linda.
“Maaf Tante, lama ya nunggunya. Aku harus cek isi pesan dari kantor soalnya,” terang Rasha berbasa-basi. Ia kemudian menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping Keysha.
“Ada ya, pesan dari kantor sepagi ini. Pasti dari klien penting. Atau jangan-jangan,” ucap Keysha yang ingin menyindir Rasha. Namun, tidak dilanjutkan perkataannya. Dirasakan ada sesuatu yang menginjak kakinya di bawah meja.