Semakin Merasa Kesal

1046 Words
“Aduh, sakit,” ucap Keysha cukup perlahan. Seperti berteriak tapi hanya dirinya yang bisa mendengar. Akan tetapi, terlihat raut wajahnya seperti menahan sesuatu. “Ada apa Key?” tanya Bu Linda. “Kenapa kamu bicara nggak dilanjutkan.” Keysha menoleh sebentar ke arah Rasha di sampingnya. Berhenti sejenak kemudian menatap ibunya sambil tersenyum. “Enggak kok Bu. Aku tadi bilang, jangan-jangan emang kliennya penting banget. Secara Rasha kan pengusaha sukses.” Keysha mengatakannya sambil menahan sakit karena kakinya seperti diinjak seseorang. “Ohh gitu,” sahut Bu Linda tanpa curiga. Keysha masih merasakan kakinya diinjak. Ia kemudian menatap sosok di sampingnya, siapa lagi kalau bukan Rasha. Sadar jika dirinya sedang diperhatikan, Rasha hanya diam sambil tetap fokus pada piringnya. Ia masih menginjak kaki Keysha sambil mengambil nasi dan sayur yang terhidang di atas meja. “Hemb, kayaknya enak nih,” gurau Rasha mengisi kekosongan percakapan di meja makan. “Enak lah. Tapi, kalau makannya sambil ngerasain sakit, rasanya jadi nggak enak deh,” sahut Keysha memberi sindiran. Rasha hanya tersenyum. Ia kemudian menarik kaki sebelah kirinya yang masih menginjak kaki kanan Keysha. Sewajar mungkin, ia bersikap agar tak ada yang merasa aneh. Mulai lagi aksinya memberi perhatian pada Keysha. Diperhatikan setiap hidangan yang tersaji. Ada sebuah menu yang belum sempat ada di piring milik Keysha. “Setahuku ikan ini banyak gizinya, bisa menambah stamina dan meningkatkan daya fokus. Jadi kita bisa konsentrasi seharian, meski ada banyak kegiatan," ucap Rasha sambil meletakkan ikan tersebut di dalam piring Keysha. "Ini, spesial aku ambilkan untuk kamu. Jadi, makan ya!" tambah Rasha sambil melempar senyum. Keysha merasa geli dengan hal itu. Ia pun berteriak dalam hati memaki sosok calon tunangannya yang selalu mencari kesempatan mencari perhatian. “Rasanya pengen aku lempar ikan itu ke wajahnya yang sok imut, sok ganteng, sok pinter dan sokkkkk,” batin Keysha yang berhenti bingung harus mengatakan apa lagi. “Yang sok segala-galanya pokoknya,” tambah Keysha yang masih berteriak dalam hatinya. Dengan penuh keterpaksaan dan demi menyelamatkan keamanan meja makan. Atau lebih tepatnya menyelamatkan hati kedua orang tuanya yang pasti sedang menunggu dirinya mengatakan sepatah dua kata. Keysha berusaha menenangkan pikiran dan perasaan. Ia menarik napas dalam dengan cepat untuk bersiap mengatakan hal manis sebagai balasan atas perhatian dari Rasha. “Makasih ya udah diambilkan ikan. Aku jadi nggak enak sama kamu”, ucap Keysha sambil tersenyum. Rasha terlihat ikut tersenyum sambil tetap menyendok makanannya untuk dilahap. Ia merasa menang karena Keysha dengan sukarela mau mengatakan hal yang bisa cukup menghiburnya di meja makan. “Nggak papa. Aku cuma pengen belajar lebih keras lagi buat selalu bisa beri perhatian buat kamu.” Sontak saja mendengar itu, ekspresi kedua orang tua Keysha seketika berbinar. Mereka berdua tak percaya Rasha bisa mengatakan hal semanis itu. Wajah Bu Linda bahkan seperti orang yang sedang menang undian besar. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum sambil menikmati sarapan paginya. Ia seperti bermimpi begitu indah mendengar penuturan calon menantu tersebut. Sementara itu, Keysha hampir saja tersedak. Makanan yang sudah sebagian masuk ke tenggorokannya, hampir saja meloncat keluar karena terlalu kaget dan tak percaya. “Oh pria idaman Ibuku kenapa rayuannya maut seperti itu. Aku bahkan sudah sangat tak mau mendengar dia berbicara lagi,” batin Keysha. “Lebih baik kita lanjutkan untuk makan Bu,” ucap Keysha berharap tak akan ada lagi percakapan yang akan mengganggu sarapan paginya. Tak lama setelah Keysha sudah hampir menghabiskan makanannya. Ia kemudian mendengar sayup-sayup ketukan pintu yang seperti berasal dari pintu rumahnya. Ia berusaha mempertajam pendengaran. Gerakan tangannya yang akan menyantap satu sendok terakhir dihentikan. “Ada apa Key?” tanya ayahnya. “Seperti ada orang yang mengetuk pintu. Tunggu sebentar biar aku lihat Yah,” pinta Keysha sambil bangun dan berjalan menuju ruang tamu. "Tok tok tok." Kembali suara pintu diketuk terdengar kini semakin jelas. "Iya sebentar," teriak keysha menyahut dari dalam rumah. Keysha membuka pintu utama rumahnya. "Rio, ternyata kamu. Masuk aja lagi," pinta Keysha mempersilahkan. Rio berjalan mengikuti langkah kaki Keysha langsung menuju meja makan. Di sana, Rio bisa melihat meja makan tampak ramai. Ada Pak Rahman, Bu Linda dan Rasha yang sempat melihat sekilas ke arah dirinya saat akan duduk di salah satu kursi di dapur. Bu Linda melihat Rio duduk di kursi yang jauh dari meja makan. Karena sudah menganggap Rio seperti anggota keluarga sendiri. Rasanya tak nyaman jika Rio tidak bergabung dengan mereka untuk sarapan bersama. “Rio, kamu udah sarapan. Sini lho makan bareng. Sekalian kenalan sama Rasha, calon suaminya Keysha," ucap Bu Linda. “Enggak Bi, tadi aku udah selesai sarapan sama nasi goreng,” sahut Rio. Ia kemudian melirik sekilas ke arah Rasha. Hanya terlihat bagian punggungnya saja. "Terus kenapa kamu duduk sendirian di sana?" tanya Pak Rahman. Rio hanya senyum kecil. Ia merasa tak enak mengganggu acara makan pagi mereka, ditambah lagi ada sosok yang akan menjadi calon mantu keluarga itu. "Aku guma mau ajak Keysha ke pasar pagi." "Iya sebentar lagi. Aku belum baca pesan kamu dari semalam. Soalnya hapeku disita sama Rasha," sahut Keysha begitu saja. Rasha sedikit terbatuk. Ia meraih gelas minumnya. "Kenapa dia bilang kalau aku sita hapenya. Apa dia sengaja," batin Rasha. "Hati-hati nak kalau makan. Emang, kenapa hapenya Keysha kamu sita?" tahta Bu Linda. Rasha membereskan minumnya. Berpikir cepat agar mendapat jawaban yang tepat. "Hapenya Keysha itu model lama Bu. Aku mau belikan dia yang baru, tapi dia nggak mau. Padahal niatku baik. Karena kesal, aku ambil hapenya." "Wahhh, kamu baik banget ya," sahut Rio. Karena penasaran ia pun memilih pindah tempat duduk. Kini, ia bisa duduk berhadapan dengan Rasha. "Baik apanya sih. Huh kesal banget. Padahal yang terjadi kan nggak gitu," batin Keysha. Ia hanya bisa melampiaskan kesal dengan sendoknya yang dipukul ke piring dengan cukup keras. ** Jam di dinding menunjukkan pukul sembilan siang. Sarapan sudah selesai beberapa menit yang lalu. Rio sedang membantu Bu Linda membereskan meja makan. Terdengar percakapan ringan tentang perkuliahan yang akan diambil Rio setelah ini. "Jadi, kamu mau kuliah juga di kota. Kalau anak cowok, mungkin Bibi nggak akan khawatir. Tapi, anak Bibi kan cewek. Sekali melakukan hal menyimpang, dampaknya bisa langsung keliatan," ungkap Bu Linda. Rio meletakkan gelas kotor di samping Bu Linda. "Kalau untuk anak cewek, sebenarnya ada dosen yang punya rumah juga di kota khusus untuk mahasiswi desa yang kuliah di sana. Mereka akan diawasi selama 24 jam. Selain itu, dosennya juga tahu gimana jadwal kuliahnya. Mungkin Keysha bisa dititipkan di sana," terang Rio. "Maaf, Riyo. Bibi cuma nurut aja sama Paman. Coba kamu bicara sama Paman aja langsung."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD