Bagian 9

916 Words
*** "Kalung ini harganya pasti jauh lebih mahal dibanding cincin yang Gala kasih ke aku." Sienna tersenyum getir. Tergesa-gesa meninggalkan toko bunga, sebuah perintah dia dapatkan dari Galanio yaitu; mengambilkan kalung untuk Syakilla di kamar tamu yang ditempati suaminya itu. Tidak hanya mengambil kalung, Sienna juga diminta untuk menitipkan barang tersebut di lobi apartemen, karena katanya pada Syakilla, Galanio berkata jika hadiah yang akan diberikan, tertinggal di rumah dan akan diantar oleh sopir. Tidak protes sama sekali, Sienna mematuhi semua perintah Galanio sehingga kini dia pun berada di kamar tamu—berdiri sambil memandangi kalung di kotak berwarna biru, milik Galanio untuk Sienna. "Berharap apa kamu, Sienna?" tanya Sienna, pada dirinya sendiri. "Gala itu cinta banget sama Syakilla. Jadi pasti barang untuk dia harus jauh lebih spesial dari apa pun. Lagian dikasih mas kawin aja harusnya aku udah bersyukur. Pernikahan aku sama Gala bahkan enggak resmi." Tidak mau terus meratapi nasib, Sienna menutup kembali kotak yang dia pegang. Melanjutkan tugas, dia keluar dari apartemen kemudian sambil mengendap-endap, berjalan menuju lift yang akan membawanya turun. Sampai di lobi, Sienna mengirim pesan pada Galanio. Meskipun diminta untuk langsung pergi, dia memilih menunggu sampai suaminya itu tiba. Tidak lama, sepuluh menit kemudian Galanio datang. Tidak bertemu langsung, Sienna hanya bisa memperhatikan pria itu, karena memang dia menunggu di tempat tersembunyi. "Gala." Masih berdiri di balik tembok, Sienna bergumam setelah nama Galanio terpampang di layar ponsel. Lekas menjawab panggilan, dia menyapa, "Halo, Gal." "Makasih karena udah anterin kalungnya," ucap Galanio. "Iya, sama-sama," ucap Sienna. "Itu aja, kan?" "Iya, ini aja," jawab Galanio. "Kebetulan Syakilla udah lama pengen kalung ini. Jadi aku beliin tadi siang buat permintaan maaf." "Oh, iya," ucap Sienna, dengan senyuman samar. "Semoga dia suka ya." "Pasti suka banget sih," ucap Galanio, dengan suara yang terdengar antusias. "Secara kalung ini udah lama dia pengenin." "Iya," ucap Sienna. "Kamu di mana? Udah ke unit lagi?" "Udah," jawab Sienna bohong. "Setelah kasih itu, aku langsung naik lagi. Takutnya kamu turun sama Sienna." "Oh, oke," ucap Galanio. "Ya udah kalau gitu aku matiin ya. Sekali lagi makasih karena udah mau aku mintain tolong." "Iya, sama-sama." Tidak ada obrolan panjang, Galanio menyudahi panggilan—membuat Sienna menurunkan ponselnya secara perlahan. Menghela napas pelan, dia berucap, "Jangan sedih, Sienna. Kamu kan udah biasa lihat kebucinan Gala buat Syakilla. Jadi harusnya sekarang pun kamu biasa aja." Sugesti berbanding terbalik dengan apa yang terjadi, cairan bening justru menetes begitu saja di kedua sudut mata Sienna. Tidak membiarkannya jatuh membasahi pipi, dengan segera Sienna mengusapnya sebelum kemudian bergegas menuju lift yang akan membawa dia ke lantai atas. Berbeda dengan Sienna yang baru naik menggunakan lift, Galanio justru sudah sampai bahkan siap memberikan hadiah yang dia beli untuk Syakilla. Menghampiri perempuan itu yang masih menikmati makan malam di meja dapur, Galanio menyimpan kotak biru berisi kalung sambil mengukir senyuman. "Hadiah buat kamu akhirnya sampai," ucap Galanio—membuat kedua mata Syakilla membulat. "Ih, apa itu?" tanyanya sumringah. "Kok kaya sesuatu?" "Buka dong," ucap Galanio, sambil menarik kursi di depan sang kekasih. "Kamu enggak akan tahu isinya kalau enggak kamu buka." Diselimuti penasaran yang menggebu-gebu, Syakilla mengambil kotak pemberian Galanio lalu kemudian membukanya secara perlahan. Lagi, Syakilla dibuat kaget setelah yang dia dapati di dalam kotak adalah; kalung yang sudah lama diimpikannya. Bukan karena tidak mampu membeli, Syakilla belum mendapatkan kalung tersebut karena kesibukannya sebagai dokter, sehingga untuk sekadar berbelanja baik itu offline mau pun online, dia tidak sempat. "Gal," panggil Syakilla sambil menyentuh kalung yang barusaja dia dapatkan. "Kalungnya indah banget. Kamu beli di mana? Aku suka." "Belinya di mana itu enggak penting, yang terpenting kamu senang karena setelah mama dan adikku, kebahagiaan kamu jadi prioritas aku." "Gal ...." "Senang, kan?" "Senang banget," ucap Syakilla. "Aku udah lama pengen kalung ini, tapi belum sempat beli. Demi Tuhan, bagus banget, Gal, kalungnya." Galanio tersenyum. "Aku senang kalau kamu senang." "Makasih banyak ya, Gal," ucap Syakilla. "Hadiahnya luar biasa banget. Aku sampe speechles." "Sama-sama," ucap Galanio. "Mau aku pasangin?" "Mau," ucap Syakilla sambil mengangguk—membuat Galanio beranjak untuk menjalankan tugasnya yaitu; memasang kalung. "Pasangin yang benar ya. Nanti aku mau pamer." "Pamer ke siapa?" tanya Galanio. "Semuanya," ucap Syakilla. "Sienna, orang tua aku, terus yang lainnya. Mereka harus tahu kalau aku dapat kalung seindah ini dari kamu. Selain itu, mereka juga harus tahu kalau kamu cinta banget sama aku." "Boleh-boleh." "Kamu beneran cinta banget, kan, sama aku?" tanya Sienna, sambil menoleh. "Iya dong," jawab Galanio. "Enggak ada alasan buat aku enggak cinta sama kamu." Syakilla tersenyum bahagia, sementara Galanio mulai memasangkan kalung di lehernya. Ketika dia dan sang kekasih tengah berada di momen romantis, maka Sienna berbeda. Masuk ke kamar tanpa memikirkan makan malam, Sienna kini duduk di tepi kasur sambil memegangi pil darurat yang rencananya akan dia minum malam ini. "Minum jangan ya?" tanya Sienna. "Di satu sisi, aku enggak mau ngecewain Gala sama Syakilla, tapi di sisi lain, aku juga takut kalau apa yang aku lakuin, salah." Dilema, pikiran Sienna terus bimbang, hingga di tengah kegiatannya menimbang keputusan, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Berasal dari resepsionis apartemen, Sienna lekas menjawab panggilan kemudian menyapa dengan sopan. "Halo, Mbak, kenapa?" "Mbak Sienna, ada paket," ucap Andin—resepsionis yang sudah cukup akrab dengan Sienna. "Mau diambil ke bawah apa diantar ke unitnya?" "Paket?" tanya Sienna. Tidak merasa memesan apa pun, dia bertanya, "Buat saya, Mbak." "Iya, Mbak," kata Andin. "Untuk Sienna Floryn Maheswara di unit lantai sepuluh. Sienna yang tinggal di lantai sepuluh kan cuman Mbak." Masih merasa heran sekaligus penasaran, Sienna kembali bertanya, "Dari siapa, Mbak, paketnya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD