Bagian 8

939 Words
*** Tidak diam saja setelah mengkhawatirkan keamanan kotak berukuran sedang yang semula disimpan di gudang dekat dapur, Sienna bertindak dengan memindahkan kotak tersebut ke tempat lain yaitu; toko bunga yang dia kelola. Galanio tinggal bersamanya, Sienna was-was sehingga daripada semuanya terbongkar, Sienna lebih baik berjaga-jaga. "Semoga aku nemuin tempat aman di ruanganku," ucap Sienna, di tengah kegiatan mengemudi. Hari sudah mulai gelap, dia terus membelah padatnya jalanan ibu kota. Tidak meminta izin pada Galanio, Sienna pergi begitu saja karena dia pikir suaminya itu tidak perlu tahu apa yang dia lakukan. Status mereka sekarang memang suami istri. Namun, Sienna yakin Galanio tidak sepeduli itu padanya mau pun kegiatannya sehari-hari. "Lho, Mbak ke sini lagi?" Sampai di toko bunga miliknya, Sienna disambut pertanyaan tersebut oleh salah satu karyawan. Menjawab sambil tersenyum, dia bergegas menuju ruangannya di bagian belakang. Mengunci pintu agar tidak ada yang memergokinya ketika mengamankan kotak, Sienna membuka dulu barang yang dia bawa untuk memastikan isi di dalamnya tidak berkurang satu pun. "Masih aman," ucap Sienna, sambil mengukir senyum. "Tapi kayanya aku harus keluarin semua dari kotak, karena di sini enggak ada tempat tersembunyi buat kotaknya." Tidak sekadar berucap, Sienna lagi-lagi bertindak dengan mengeluarkan semua isi dari kotak yang dia bawa. Tidak ada barang aneh, isi dari kotak tersebut hanya puluhan foto hasil jepretannya sendiri. Foto siapa? Jawabannya adalah foto-foto Galanio yang dia ambil secara diam-diam. Bukan foto terbaru, semua yang ada di dalam kotak yang Sienna amankan berisi foto-foto lama ketika Galanio masih duduk di bangku kuliah. Mengagumi pria itu sejak mendapat pertolongan di hari pertama menjadi mahasiswa baru, Sienna memutuskan untuk menyimpan semuanya sendiri. Tidak berambisi untuk mendapatkan Galanio, Sienna hanya menyukai pria itu sampai akhirnya ketika Syakilla berpacaran dengan suaminya tersebut, Sienna mengubur secara perlahan perasaannya. Namun, untuk semua foto yang pernah dia ambil, Sienna merasa terlalu sayang untuk membuangnya, sehingga tanpa diketahui siapa pun, dia menyimpan foto-foto tersebut di dalam kotak. "Kayanya kaya gini lebih aman," ucap Sienna. "Laci meja ini kan selalu aku kunci. Jadi enggak akan ada yang nemuin semuanya. Sip, semuanya beres." Tidak langsung pergi dari ruangan, Sienna memilih untuk duduk sejenak sambil menenangkan perasaannya yang sempat gelisah. Menikmati suasana hening di sana, Sienna dibuat terkejut setelah ponselnya berbunyi. Mendapati nama Galanio, dia menjawab panggilan. "Halo." "Bukain pintu, aku mau ambil sesuatu," ucap Galanio. "Kamu ada di dalam, kan?" "Kamu mau ambil apa?" tanya Sienna, sedikit panik. Bukan orang yang tenang, dia memang sedikit panikan setiap kali ada sesuatu yang terjadi di luar dugaannya. "Kamu enggak perlu tahu," ucap Galanio. "Intinya bukain pintu. Aku udah pencet bel beberapa kali, kamu enggak dengar emang?" "Aku di luar, Gala, enggak di apartemen," ucap Sienna, mendadak gugup. "Aku di toko bunga." "Kok enggak bilang?" "Harus bilang emangnya?" tanya Sienna. "Aku takut kamu lagi sama Syakilla, makanya enggak telepon atau chat." "Syakilla ke sini jam tujuhan, Sienna, dan ini belum jam tujuh," ucap Galanio. "Lagian kamu itu istri aku sekarang. Jadi seharusnya kalau mau keluar atau ada apa-apa bilang. Itu ilmu dasar dalam berumah tangga padahal. Kamu enggak tahu?" "Aku minta maaf, Gala, aku enggak bermaksud bikin kamu kesal," ucap Sienna. "Aku enggak pergi ke tempat aneh-aneh kok, aku cuman ke toko bunga." "Kenapa balik lagi ke sana? Ada urusan?" "Iya, sedikit," ucap Sienna. "Kalau kamu mau ambil sesuatu di apartemen aku, sekarang juga aku pulang. Kamu tunggu di depan biar nanti—" "Enggak bisa kamu kasih aja password apartemen kamu ke aku?" tanya Galanio, memotong ucapan Sienna tanpa permisi. "Aku enggak akan maling apa-apa kok di apartemen kamu." Meskipun foto-foto Galanio sudah dia amankan, entah kenapa Sienna masih belum bisa memberikan password apartemennya pada Galanio. Pria itu memang suaminya sekarang, tapi tidak akan lama, sehingga Sienna pikir rasanya berlebihan jika Galanio sampai tahu password untuk membuka pintu apartemennya. "Sienna?" "Aku enggak akan lama, Galanio, dua puluh menit juga sampai," ucap Sienna. "Kamu tunggu di situ ya. Aku pulang sekarang juga." "Sienna, tapi—" Tidak menunggu Galanio selesai bicara, Sienna menyudahi panggilan sebelum kemudian beringsut dari kursi. Keluar dari ruangan, dia mengunci pintu sebelum kemudian berpamitan pulang. Di waktu yang sama dengan Sienna yang pergi dari toko, Syakilla sampai di unit apartemen Galanio—membuat pria itu yang semula berdiri di depan unit sang istri, lekas berpindah tempat. Menyambut Syakilla dengan hangat, Galanio menyuguhi kekasihnya itu minuman kemasan yang dia beli di supermarket. "Aku belum beli bahan makanan, jadi sementara minumnya ini dulu ya," kata Galanio. "Air putihnya juga kemasan dulu." "Iya, enggak apa-apa, makasih," ucap Syakilla dengan senyuman manisnya. "Sama-sama." Selama beberapa saat, suasana hening menyelimuti keduanya. Galanio yang sibuk dengan pikirannya sendiri tentang Sienna, sementara Syakilla? Perempuan itu nampak mengedarkan pandangan guna meneliti setiap sudut apartemen milik sang kekasih. "Gimana kerjaan kamu hari ini? Aman?" tanya Galanio, memecah keheningan. "Aman," jawab Syakilla. "Kamu sendiri gimana? Aman dan terkendali, kan?" "Aman semua," jawab Galanio. "Hari ini aku ada pertemuan gitu sama klien terus semuanya berjalan dengan lancar." "Bagus deh," kata Syakilla. "Daripada mabuk, mending sibuk sama kerjaan. Apaan banget minum alkohol? Enggak level." "Iya deh iya, enggak lagi," ucap Galanio. "Dua malam lalu aku kebetulan diajak sama temenku. Jadi ya ngikut. Lagi pusing juga waktu itu tuh karena kamu ngambek." "Aku ngambek harusnya dibujuk, bukan malah mabuk." "Aku kan udah bujuk, tapi kamunya ambekan. terus. Gimana coba?" Syakilla mendengkus. Diam sejenak, dia teringat sesuatu sehingga sambil memandang Galanio, Syakilla bertanya, "Oh ya, kamu bilang mau kasih sesuatu sebagai bentuk permintaan maaf karena udah mabuk, kan? Mana? Aku pengen lihat." "Ah itu ya," ucap Galanio, mendadak gugup. "Iya," jawab Syakilla. "Enggak bohong, kan?" "Ya enggak," jawab Galanio. "Masa aku bohong." Dengan raut wajah merajuk, Syakilla mengulurkan telapak tangan. "Mana kalau gitu? Aku pengen tahu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD