Bagian 7

1014 Words
*** "Pesan paket apa?" Barusaja menutup pintu, Sienna dibuat tersentak setelah pertanyaan tersebut tiba-tiba saja menodongnya. Berbalik dengan perasaan kaget, dia mendapati Galanio di ambang pintu kamar tamu. Sejak datang beberapa waktu lalu, Galanio baru keluar. Entah apa saja yang pria itu lakukan di kamar, Sienna tidak tahu karena jangankan bertanya, mengetuk pintu kamar pria itu saja dia tidak berani. "Pil kontrasepsi," jawab Sienna seadanya—membuat Galanio mengerutkan kening. "Kontrasepsi?" "Kamu kan minta aku supaya enggak hamil. Jadi tadi siang aku cari tahu soal cara buat mencegah kehamilan, dan katanya kalau belum tiga hari pasca berhubungan, aku bisa minum kontrasepsi darurat." "Efektif?" tanya Galanio—membuat hati Sienna mencelos. "Enggak tahu," jawab Sienna. "Aku belum minum, tapi kata apotekernya cukup bagus meskipun enggak menjamin seratus persen. Jadi enggak ada salahnya aku coba." "Tahu aturan minumnya?" tanya Galanio. "Jangan sembarangan. Overdosis nanti kalau salah aturannya. Kalau udah gitu, aku juga yang repot." Dari bagaimana Galanio bersikap pun berucap, Sienna dengan mudah menyimpulkan jika sejak kejadian malam kemarin, pria itu tidak pernah mengkhawatirkannya sama sekali. Ada pun alasan Galanio mau bertanggungjawab, semua itu didasari rasa bersalah terhadap perbuatan yang dia lakukan, bukan rasa bersalah pada Sienna. Ya, faktanya memang seperti itu. "Aku tahu, kamu tenang aja," ucap Sienna. "Aku juga enggak asal beli. Aku tanya-tanya dulu." "Ya sudah bagus kalau gitu," ucap Galanio. "Semoga pilnya efektif supaya satu bulan dari sekarang, pernikahan kita berakhir. Jujur, hidup aku enggak tenang setelah nikah sama kamu karena setiap detiknya aku selalu takut Syakilla tahu apa yang terjadi diantara kita." "Aku pun sama kok," jawab Sienna. "Aku enggak tenang, karena bukan cuman dari Syakilla, aku harus sembunyiin semuanya dari Bunda." "Selagi Mas kamu bisa jaga rahasia, Bunda kamu enggak akan tahu," ucap Galanio—menenangkan. "Iya." Hening, selanjutnya suasana diantara Sienna dan Galanio mendadak canggung. Sama-sama bingung, Sienna memilih untuk berpamitan ke kamar. Namun, baru sampai dirinya di depan pintu, Galanio memanggil. "Sienna." "Kenapa?" "Aku mau ke apartemenku buat nungguin Syakilla," ucap Galanio. "Jadi kamu kalau mau makan malam, makan sendiri aja tanpa harus nungguin aku. Kemungkinan besar aku makan sama Syakilla." "Oh, oke," ucap Sienna. "Kebetulan aku juga belum masuk." Galanio tersenyum tipis. "Kalau jam sembilan aku belum pulang, kamu tidur aja. Enggak usah nungguin," ucapnya. "Nanti aku masuk sendiri." "Tahu memang password apartemen aku?" "Kamu bisa kirim passwordnya ke hp aku." "Enggak bisa," jawab Sienna, dengan senyuman miring. "Password apartemen ini cuman aku yang tahu. Jangankan kamu, Mas sama Bundaku aja enggak ada yang tahu." "Aku suami kamu, Sienna. Jadi aku berhak tahu dong password apartemen kamu?" tanya Galanio, nampak tidak terima. "Lagian kalau ke depannya aku mau masuk ke apartemen pas kamu enggak ada, gimana? Masa harus nungguin di luar?" "Kamu bisa tidur di apartemen kamu," ucap Sienna. "Nanti malam pun kalau aku enggak bisa buka pintu, kamu bisa tidur di sana. Mas Gilang enggak akan tahu." "Sienna ...." "Enggak, Gala, enggak bisa," ucap Sienna. "Kamu boleh minta apa pun dari aku, tapi enggak dengan password apartemen karena aku enggak akan kasih." Galanio menghela napas kasar. Tidak mau berdebat, dia pada akhirnya mengalah dengan tidak terus meminta password apartemen milik Sienna. Tidak terus di depan pintu, selanjutnya Galanio berpamitan sementara Sienna masuk ke dalam kamar untuk membuka paket yang barusaja dia terima. Namun, belum sempat paket tersebut dibuka, sebuah panggilan lebih dulu diterimanya. Berasal dari Gilang, Sienna degdegan. Namun, meskipun begitu dia tetap menjawab telepon. "Halo, Mas." "Kamu di mana, Sienna?" tanya Gilang, dengan suara beratnya. "Masih di toko bunga apa udah pulang?" "Aku udah di apartemen, Mas," jawab Sienna. "Sore ini kan Gala pulang ke unitku. Jadi aku beres-beres." "Udah pulang sekarang dianya?" tanya Gilang. "Udah, Mas, lagi istirahat," ucap Sienna. "Mas ada apa telepon?" "Mas cuman mau kasih tahu kalau surat perjanjian yang Mas ceritain kemungkinan besar besok selesai. Jadi Mas pasti ke apartemen kamu lagi buat anterin," kata Gilang. "Enggak sendiri, Mas sama pengacara biar ada saksi pas Gala tanda tangan." "Harus sampai ngelibatin pengacara, Mas?" tanya Sienna. "Aku pikir itu berlebihan." "Enggak ada yang berlebihan, Sienna. Semua yang Mas lakukan demi kamu," ucap Gilang. "Dibanding kesalahan Gala, tindakan Mas sekarang itu sebanding karena sebagai abang, Mas cuman pengen adiknya Mas enggak semakin dirugikan oleh siapa pun. Kamu terlalu baik, Sienna, dan Mas harus bisa ngimbangin kebaikan kamu dengan sikap tegas." "Maaf ya, Mas, aku jadi ngerepotin Mas gini," ucap Sienna. "Padahal Mas udah punya keluarga." "Mas enggak merasa direpotkan, Sienna, karena kamu adiknya Mas. Jadi udah seharusnya Mas ngelindungin kamu—menggantikan posisi ayah," ucap Gilang. "Lagian dibanding kamu, yang harus minta maaf tuh harusnya Gala bahkan Syakilla, karena gara-gara mereka, hidup kamu berantakan." "Kenapa Syakilla, Mas?" tanya Sienna. "Dia enggak ada salah. Dia malah korban dan—" "Dia yang nyuruh kamu buat jemput Gala, Sienna, dan itu kesalahan karena kalau kamu enggak diminta nyamperin pacarnya Syakilla, kamu masih gadis sampai sekarang." "Tap—" "Kamu terlalu enggak enakan sama orang lain, sampai-sampai mereka bersikap seenaknya ke kamu," ucap Gilang. "Mas enggak suka itu." Sienna menggigit bibir bagian bawah, sementara Gilang kembali berkata, "Intinya sekarang kamu ikutin apa kata Mas karena semua yang Mas lakuin demi kebaikan kamu. Mas enggak akan menjerumuskan adik Mas sendiri, karena Mas sayang sama kamu. Paham?" "Paham, Mas." "Ya sudah kalau gitu Mas tutup teleponnya ya," kata Gilang. "Jangan telat makan, nanti magh kamu kambuh." "Iya, Mas juga," ucap Sienna. "Makasih karena selalu ada buat aku." "Sama-sama, Sienna." Selanjutnya panggilan dengan Gilang selesai. Tidak langsung melanjutkan niatnya untuk membuka paket, Sienna justru diam setelah menurunkan ponselnya dari samping telinga. "Mas Gilang benar-benar ngelindungin aku." Diam lagi selama beberapa saat, Sienna teringat lagi dengan obrolannya dan Galanio beberapa waktu lalu. Tidak diam saja, dia beranjak untuk kemudian bergegas menuju dapur. Di sana, Sienna membuka pintu gudang kecil yang tersedia kemudian masuk untuk mencari sebuah kotak berukuran besar yang dia simpan di sana sejak lama. Ketemu, Sienna mengambil kotak tersebut lalu kemudian membukanya. "Aku enggak bisa biarin kotak ini terus ada di apartemen, karena bisa-bisa Galanio nemuin kotaknya," ucap Sienna. "Tapi kalau enggak di sini, kotaknya harus aku ke manain? Aku enggak punya tempat aman lain selain apartemenku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD