***
Sore ini Galanio akan pulang ke apartemen milik Sienna. Sesuai permintaan Gilang, dia dan sang istri akan tinggal di unit yang sama selama terikat pernikahan.
Tidak membawa banyak baju, Galanio hanya menggerek satu koper saja karena satu kopernya lagi dia bawa ke apartemen yang disewa di samping unit milik Sienna.
"Ini kamar kamu," ucap Sienna, ketika kini dia mempersilakan Galanio untuk menempati kamar tamu. "Aku pernah dengar dari Syakilla kalau kamu suka warna abu. Jadi seprainya aku pakein warna itu."
"Makasih," ucap Galanio, dengan senyuman tipis.
"Sama-sama," ucap Sienna. "Kamarnya udah aku bersihin. Jadi enggak perlu khawatir berdebu. Kamar mandinya juga ada di dalam."
"Oke," ucap Galanio. "Aku masuk dulu."
"Silakan."
Tidak pergi dari depan kamar, Sienna masih berdiri di ambang pintu, sementara Galanio membawa kopernya masuk. Belum sampai di dekat lemari, pria itu berbalik kemudian bertanya,
"Kamar ini bukan yang sering dipake Syakilla pas nginep di apartemen kamu, kan?"
"Bukan, kamu tenang aja," jawab Sienna. "Syakilla selalu tidur sama aku kalau nginep. Jadi kamar tamu beneran kosong."
"Oh, oke," ucap Galanio. Menyadari posisi Sienna yang masih di ambang pintu, dia berkata, "Kamu bisa pergi, aku mau ganti baju. Jangan lupa tutup pintunya."
"Oke," ucap Sienna, refleks mundur.
Lekas menutup pintu kemudian menghela napas pelan, dia berjalan menuju sofa untuk kemudian duduk. Belum kunjung tenang, pikiran Sienna tetap penuh karena meskipun Galanio sudah bertanggungjawab, dia kini takut pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang.
Selain itu, Sienna juga masih bimbang terhadap permintaan Galanio tadi siang tentang dirinya yang harus mengusahakan agar tidak mengandung anak pria itu.
Di satu sisi, Sienna membenarkan permintaan Galanio karena jika dirinya tidak hamil, Syakilla tidak akan terlalu lama dibohongi bahkan tidak akan pula kehilangan Galanio.
Namun, di sisi lain Sienna takut berdosa karena mencegah sesuatu yang mungkin sudah ditakdirkan oleh Tuhan, jelas bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.
"Harus gimana ya aku?" tanya Sienna. "Kalau enggak minum pil darurat, aku takut kecewain Gala, tapi kalau minum, aku takut secara enggak langsung menyakiti sesuatu dalam diri aku. Ya Tuhan, aku bingung."
Tidak ada Galanio, Sienna hanyut dalam keresahan, hingga dering dari ponsel yang dia simpan di saku celana membuatnya tersentak.
"Syakilla ...."
Sienna bergumam setelah mendapati nama Syakilla terpampang di layar ponsel. Meskipun degdegan, dia menjawab panggilan lalu menyapa, "Halo, Kill."
"Na, kamu lagi ngapain?" tanya Syakilla. "Masih di toko bunga apa gimana?"
"Aku di apartemen sih, Kill," jawab Sienna apa adanya. "Udah pulang tadi jam empat sore."
"Eh, tumben banget? Biasanya juga pulang setelah toko tutup," tanya Syakilla. "Baik-baik aja, kan?"
"Aku baik kok, cuman agak enggak enak badan aja. Makanya pulang lebih awal," ucap Sienna, mulai berbohong. "Butuh tiduran kayanya."
"Enggak enak badan, apanya yang baik, Sienna?" tanya Syakilla. "Aku ke sana ya habis pulang kerja. Kebetulan aku—"
"Enggak usah, Syakilla, enggak usah!" ujar Sienna, kaget sendiri. "Aku enggak parah kok, cuman agak pusing aja."
"Maka dari itu aku harus ke sana, Sienna," ucap Syakilla. "Aku sekalian mau ke apartemennya Gala kok. Dia bilang mulai hari ini tinggal di apartemen. Dekat unit kamu lho, sebelahan."
"Oh ya?" tanya Sienna, berpura-pura tidak tahu.
"Iya," ucap Syakilla. "Aku juga baru dikasih tahu tadi. Kaget sih, cuman ada sisi baiknya karena setiap main ke apartemen kamu, aku bisa ketemu dia."
Sienna tersenyum samar.
"Sebenarnya ya, Na, aku agak curiga karena hubungan Gala sama orang tuanya kan baik. Jadi apa gitu alasan dia mendadak pengen pindah apartemen," kataa Syakilla—membuat Sienna kembali degdegan. "Jarak dari kantor agak jauh, terus—"
"Enggak kamu tanya emang alasannya?"
"Tanya," kata Syakilla. "Gala bilangnya karena pengen suasana baru, terus alasan lain biar bisa ketemu aku pas aku main ke kamu. Masuk akal enggak menurut kamu?"
"Masuk akal sih," ucap Sienna, bingung harus menimpali apa. "Lagian Gala kan cinta sama kamu. Jadi mana mungkin dia macam-macam."
"Ya mungkin-mungkin aja, Na," ucap Syakilla. "Orang yang cinta banget sama kita bisa aja selingkuh kalau nemu yang menarik. Apalagi aku kan sibuk dan jarang ada waktu sama Gala. Jad—"
"Kamu harus percaya sama Gala, Kil, dia sayang sama kamu dan dia pasti setia," ucap Sienna. "Percaya deh sama aku."
"Hm, oke deh semoga aja ya," ucap Syakilla. "Sedih banget kalau sampai Gala selingkuh. Aku sama dia emang sering berantem, tapi bukan berarti kita enggak saling sayang. Aku sayang banget sama Gala, Na, dan aku enggak mau kehilangan dia."
"Kamu enggak akan kehilangan Gala, Kill. Dia bakalan tetap sama kamu karena enggak cuman kamu, cinta Gala juga besar banget buat kamu."
"Kamu emang paling bisa ya ngehibur aku," kata Syakilla. "Terbaik deh."
Sienna tersenyum ketir, sementara Syakilla kembali berkata, "Soal aku yang mau main ke apartemennya Gala, aku nanti tetap mampir ke unit kamu ya. Pengen pastiin kamu beneran baik-baik aja apa enggak. Lagian enggak ketemu dari kemarin, kamu enggak kangen emangnya sama aku? Katanya aku sahabat terbaik yang kamu punya."
Mendengar ucapan Syakilla, Sienna kembali merasa bersalah. Tanpa sadar, kedua matanya berkaca-kaca, sementara jemari yang semula diam, perlahan meremat kain sofa yang dia duduki.
"Ya udah kalau gitu."
"Aku ke sana jam tujuhan," ucap Syakilla. "Sekarang masih ada kerjaan dikit. Nyebelin emang, mentang-mentang aku enggak ada jadwal ngampus, kerjaan aku mendadak banyak."
"Enggak apa-apa, semangat," ucap Sienna. "Dua tahun lagi kan jadi spesialis seperti impian kamu."
"Iya sih."
Tidak terlalu lama durasi panggilan Sienna dan Syakilla, selanjutnya Sienna meminta izin untuk menyudahi telepon. Kembali menangis saking merasa bersalahnya pada Syakilla, itulah Sienna, hingga setelah beberapa detik berlalu, dia mencari kontak di ponselnya untuk kemudian dihubungi.
"Halo, Selamat sore," sapa seorang perempuan dari telepon, persis setelah panggilan terhubung.
"Halo, Mbak, saya yang tadi siang ke apotek buat nanyain pil kontrasepsi darurat," ucap Sienna. "Pilnya masih ada?"
"Masih, Mbak, masih ada. Mbak jadi pakai?"
"Iya jadi," jawab Sienna. "Bisa Mbak kirim ke apartemen saya? Uangnya saya transfer berikut ongkos."