Bagian 2

727 Words
"Seharusnya kamu enggak datang terus nolongin aku, karena kalau kamu enggak nyamperin, semua ini enggak akan terjadi." Sienna yang duduk tidak jauh dari Galanio, menatap tajam pria itu setelah ucapan bernada menyalahkan, didengarnya. Pagi ini—setelah kejadian tidak terduga, semalam, Galanio terbangun dengan akal sehat yang kembali seperti semula. Meskipun meniduri Sienna dalam kondisi mabuk, Galanio mengingat setiap detail yang dia lakukan pada perempuan itu, sehingga tanpa menunda, dia mengajak Sienna berbicara di ruang tengah. "Apa dunia memang sekejam ini untuk seorang perempuan?" tanya Sienna dramatis. "Aku korban, tapi aku juga yang disalahkan." Tidak setenang raut wajah Galanio, Sienna terlihat emosional. Sejak kejadian semalam, dia tidak baik-baik saja karena ia merasa kotor. Sienna hina dan dia rasanya kehilangan semangat untuk hidup. "Aku enggak menyalahkan kamu, Sienna. Cuman, kalau kamu enggak nekad nyamperin aku, semua ini enggak akan terjadi," ucap Galanio dengan raut wajah frustasi, setelah momen di mana Sienna menghampirinya di club, juga berhasil dia ingat. "Kamu seharusnya tahu kalau orang mabuk bisa lakuin apa pun dan—" "Aku disuruh sama Syakilla, Gala!" ujar Sienna, dengan air mata yang mulai luruh di kedua pipi. "Semalam dia telepon aku terus minta buat jemput kamu di club malam. Katanya dia lagi piket dan enggak bisa ke mana-mana. Jadi enggak bisa urusin kamu." Galanio menghembuskan napas kasar. Dengan pikiran yang kalut, dia menyugar rambutnya ke belakang sebelum kemudian menimpali ucapan gadis yang dia rusak masa depannya itu. "Kamu bisa nolak, Sienna," ucapnya, sedikit mendesah. "Bantu sahabat emang hal baik, tapi seharusnya kamu tahu mana yang harus kamu lakukan dan mana yang—" "Iya, salahin aja aku terus, Gala. Salahin," potong Sienna, dengan isakkan yang tiba-tiba menguat. Mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan Galanio, hatinya semakin terluka. "Di sini memang aku yang salah, sementara kamu enggak. Aku terlalu enggak enakkan sampai-sampai sahabat aku nyuruh jemput pacarnya yang mabuk pun aku mau. Padahal, aku seharusnya nolak. Aku emang bodoh, dan kamu pantas maki aku." "Sienna, maksud aku enggak gitu," ucap Galanio. "Aku cuman—" "Aku udah kotor sekarang," potong Sienna. "Dan enggak ada gunanya aku hidup karena orang-orang pasti akan menghakimi aku, sama seperti yang kamu lakukan. Aku memang lebih baik mati. Aku udah enggak punya masa depan dan orang kotor seperti aku enggak akan bisa lagi jalanin kehidupannya seperti semula." "Sienna." "Aku akan pergi dari hidup kamu, kalau apa yang terjadi semalam bikin kamu terbebani. Kamu enggak usah ngerasa bersalah, karena seperti yang kamu bilang, semua terjadi gara-gara aku." Tidak hanya berucap, Sienna beranjak—membuat Galanio dilanda panik. "Sienna, kamu mau ke mana? Jangan macam-macam!" "Aku yang salah, kan, di sini?" tanya Sienna, dengan suara yang bergetar pun air mata yang terus membasahi kedua pipi. "Aku mau hukum diri aku biar kesalahanku terbayar. Kamu enggak usah khawatir. Kamu enggak salah." "Sienna, jangan seperti ini!" "Jangan peduliin aku," ucap Sienna dengan air mata yang terus banjir. "Di sini aku biang keroknya. Jadi silakan lanjutin hidup kamu biar aku yang pergi." "Sienna jangan nekad, Sienna. Sienna!" Ucapannya tidak digubris, Galanio panik. Ikut beranjak dari sofa, dia yang pagi ini hanya mengenakan celana pendek, sigap menyusul Sienna yang berjalan pergi menuju pintu, hingga ketika perempuan itu hampir membuka pintu apartemen, dia berhasil mendaratkan cekalan—membuat Sienna seketika diam. "Jangan macam-macam, Sienna," ucap Galanio memperingatkan. "Aku enggak bermaksud nyalahin kamu. Aku cuman—" "Lepasin tangan aku, Gal, aku harus menghukum diriku yang ceroboh ini," pinta Sienna sambil berusaha melepaskan cekalan Galanio di lengannya. "Enggak," tolak Galanio, sambil menggeleng, kemudian mengeratkan cekalannya. "Aku enggak akan lepasin tangan kamu sebelum kamu benar-benar tenang." "Perempuan mana yang bisa tenang setelah kesuciannya direnggut, Gal? Perempuan mana?" tanya Sienna yang justru semakin emosional. "Kamu bisa tenang karena laki-laki enggak akan memiliki bekas, sementara aku?" Tidak menjawab, Galanio diam dengan perasaan yang gundah, sementara Sienna yang masih terus menangis, kembali buka suara. "Biarin aku mati, Gal. Kalau aku hidup, kamu pasti pusing harus lakuin apa jadi biarin aku—" "Ayo kita menikah, Sienna," ucap Galanio spontan—membuat Sienna yang semula membelakanginya, menoleh dengan raut wajah kaget. "Aku akan bertanggung jawab untuk apa yang aku lakuin dan—" "Kalau kita menikah, Syakilla apa kabar, Galanio?" tanya Sienna—memotong ucapan Galanio dengan sengaja. "Dia sahabat aku. Rasanya jahat banget kalau aku khianatin dia dengan menikah sama kamu." "Aku punya solusi," jawab Galanio—membuat Sienna mengernyit lalu bertanya, "Solusi apa maksud kamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD