Setelah merenggut kesucian Sienna secara paksa, Galanio akan menikahi sahabat dari kekasihnya itu. Namun, tidak secara resmi, melainkan siri.
Tidak mengambil keputusan sepihak, Sienna setuju dengan solusi darinya karena sebagai sahabat, perempuan itu tidak mau menyakiti Syakilla selaku kekasih dari Galanio.
Tidak hanya pernikahan yang akan dilakukan secara siri dan rahasia—alias tidak diketahui siapa pun, Galanio dan Sienna juga berencana untuk mengakhiri pernikahan mereka setelah satu bulan, jika seandainya Sienna tidak hamil.
Sebagai seorang perempuan, Sienna sebenarnya banyak dirugikan. Namun, karena lagi-lagi tidak mau menyakiti Syakilla, Sienna menerima semua kerugian yang menimpa dirinya.
"Ya Tuhan, semoga Mas Gilang mau jadi wali nikah aku."
Siang menjelang, Sienna tengah menunggu kedatangan sang kakak yang dia undang jauh dari Tangerang. Meskipun pernikahan dia dan Galanio akan dirahasiakan dari semua orang, Sienna tetap akan memberi tahu Gilang karena setelah sang ayah meninggal sewaktu dirinya SMA, Gilanglah wali nikah Sienna.
"Jadi ada apa kamu tiba-tiba nyuruh Mas ke sini?" tanya Gilang, setelah tiba di apartemen Sienna pukul satu siang.
Tidak ada Galanio, Sienna menghadapi sang kakak seorang diri setelah sang calon suami pergi untuk menyelesaikan masalahnya dengan Syakilla.
"Aku mau bicarain sesuatu sama Mas, tapi tolong Mas jangan marah," ucap Sienna, mulai memelas.
"Apa dulu?" tanya Gilang. "Kalau yang kamu bicarain enggak bikin emosi, Mas enggak akan marah."
Sienna diam. Dia menatap Gilang lekat-lekat, sebelum mengambil napas panjang lalu kemudian berucap, "Aku udah enggak perawan."
Gilang membulatkan mata dengan raut wajah yang terlihat begitu kaget. Menatap sang adik lekat, dia hampir memberi respon. Namun, Sienna lebih dulu melanjutkan ucapannya dengan berkata jika semuanya terjadi secara tidak sengaja.
Tidak hanya itu—sebelum Gilang mengamuk, Sienna juga mengungkap rencananya dengan Galanio. Tidak jujur tentang nikah siri yang diusulkan Galanio, dia berbohong dengan berkata jika keputusan untuk menikah siri diambil berdua atas kesepakatan bersama.
"Kamu bodoh atau apa?" tanya Gilang, setelah Sienna selesai bicara. "Nikah siri enggak berguna apa pun buat kamu, Sienna. Enggak ada kekuatan hukumnya dan—"
"Galanio pacarnya Syakilla, Mas!" ujar Sienna. "Dan Syakilla sahabat aku. Aku enggak mau nyakitin dia karena selama di sini, Syakilla baik sama aku."
"Iya, tapi Galanio udah ngerusak kamu, Sienna," desah Gilang tidak terima. "Mana pernikahan kalian mau dirahasiain juga dari keluarganya dia, kan? Biar apa coba?"
"Mas ...."
"Enggak," tolak Gilang. "Kalau emang dia mau tanggung jawab, nikahin kamu secara resmi bukan siri. Mas enggak akan jadi wali kamu kalau pernikahan kalian siri."
"Mas, tolong," ucap Sienna, sedikit mendesah. "Pernikahan siri antara aku sama Gala enggak akan selamanya kok, karena kalau aku sampai hamil, dia akan mengesahkan pernikahan kita setelah anak yang aku kandung lahir. Jad—"
"Bisa dipegang emangnya omongan dia?" tanya Gilang. "Kalau nanti pas hamil, Gala malah ninggalin kamu, gimana?"
"Enggak akan, Mas," ucap Sienna. "Aku tahu Galanio dan—"
"Halah," potong Gilang jengkel. "Kamu itu terlalu polos, Sienna. Percaya aja sama ucap—"
"Kalau Mas enggak mau nikahin aku sama Gala, aku lebih baik mati, Mas," ucap Sienna—membuat Gilang menatapnya tajam. "Aku udah rusak dan—"
"Jangan macam-macam kamu, Sienna," desis Gilang. "Enggak kasihan kamu sama Bunda?"
"Nikahin aku sama Gala kalau gitu," ucap Sienna. "Aku udah gede. Jadi aku tahu apa yang baik buat aku. Tugas Mas cuman jadi wali nikah aku. Bisa, kan?"
Gilang yang semula menolak habis-habisan pada akhirnya dengan berat hati mengalah. Meskipun tidak ikhlas sang adik dinikahi secara siri, dia bersedia untuk menjadi wali nikah Sienna sehingga malam harinya acara akad nikah dilaksanakan di apartemen Sienna.
Tidak ada pihak keluarga Galanio, pria itu hanya ditemani tiga orang yang terdiri dari saksi juga pemuka agama di daerah setempat.
"Ayo, Pak, mulai akad nikahnya," kata Galanio, yang langsung duduk di karpet bersama Sienna. "Saya enggak bisa lama-lama."
"Mau ke mana kamu?" tanya Gilang. "Seenak jidat banget kasih perintah. Enggak sadar kamu kalau kesalahan yang kamu lakuin tuh bukan sepele?"
"Saya sadar, Mas, tapi di sini Sienna ada titik salahnya juga," ucap Galanio dengan raut wajah santai, seolah apa yang dia katakan tidak menyinggung pria di depannya. "Kalau dia enggak samperin saya pas mabuk, hal seperti ini enggak akan terjadi."
"Kamu nyalahin adik saya?" tanya Gilang, tidak terima. "Setelah kamu rusak dia, kamu menyalahkan dia juga? Iya?"
"Saya enggak menyalahkan, Mas, cuman—"
"Berhenti menyalahkan adik saya, karena di sini kamu yang b******k," desis Gilang, spontan meraih kemeja yang Galanio pakai. "Kalau kamu laki-laki baik, kamu enggak akan mabuk cuman karena bermasalah sama pacar kamu. Lemah tahu enggak kamu tuh? Tahu lemah?"
"Mas, udah," ucap Sienna. "Mas kan udah janji buat lebih sabar."
"Galanio nyalahin kamu, Sienna, Mas enggak terima," desis Gilang dengan rahang mengeras.
"Tapi ucapan Gala juga ada benarnya, Mas. Andai aku enggak datangin dia di club, semuanya enggak akan terjadi."
"Sienna ...."
"Udah ya?" tanya Sienna. "Mas harus tenang."
Gilang menghembuskan napas kasar sebelum kemudian melepaskan cengkramannya di kerah baju Galanio. Kembali duduk, dia menenangkan emosi sebelum kemudian berkata, "Sebelum saya menikahkan kamu sama Sienna, ada beberapa hal yang harus kamu janjikan ke saya. Kalau kamu bersedia, saya akan menikahkan kalian, tapi kalau enggak, jangan salahkan saya kalau semua orang tahu tentang kebrengsekan kamu."
"Apa yang harus saya janjikan?"
"Kamu harus janji buat tinggal di sini sama Sienna, dan kamu pun harus janji enggak menyakiti dia," ucap Gilang. "Sekali aja saya lihat Sienna menangis gara-gara kamu, apa yang kamu lakukan ke adik saya akan tersebar. Bisa?"
Tidak menjawab, Galanio nampak berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Oke, saya bakalan kabulin apa yang Mas minta, tapi enggak malam ini karena saya harus punya alasan buat pindah. Keluarga saya bisa curiga kalau malam ini saya enggak pulang."
"Bukannya semalam kamu juga enggak pulang?"
"Mas ...," panggil Sienna. "Aku yang bawa Gala ke sini. Jadi Mas jangan terlalu menyalahkan dia."
"Kamu juga jangan terlalu belain dia," kata Gilang. "Besar kepala nanti."
"Aku cuman—"
"Bisa kita mulai acaranya sekarang?" tanya salah satu pemuka agama yang malam ini datang. "Supaya tidak menyita waktu."
"Bisa, Pak," jawab Galanio. Merogoh sesuatu dari saku celana, dia meletakan kotak beludru berwarna merah di depan Gilang. "Ini mas kawinnya. Saya belum sempat beli apa-apa selain cincin."
"Padahal kam—"
"Murah banget mas kawin yang kamu kasih ke adik saya," potong Gilang sebelum Sienna selesai berucap. "Padahal sekelas Sienna pantas dapatin yang jauh lebih baik."
"Mas ...."
Gilang menghela napas berat. Tidak mau berdebat dengan Sienna, selanjutnya dia memilih untuk bertanya tentang apa saja tugasnya malam ini. Diberi arahan bahkan sempat menjalani beberapa latihan, tiba waktunya ijab kabul dilaksanakan.
Menjabat tangan Galanio, Gilang mewakili mendiang ayahnya untuk menjadi wali nikah Sienna.
"Galanio Laskar Alexander, saya nikah dan kawin kan engkau dengan adik kandung saya; Sienna Floryn Maheswara binti Ardito Maheswara dengan mas kawin cincin emas seberat dua gram, dibayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Sienna Floryn Maheswara binti Ardito Maheswara, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah."
"Sah."
Malam ini—tanpa pernah diduga sebelumnya, Sienna dan Galanio resmi menjadi pasangan suami istri. Meskipun belum diakui secara hukum, Sienna sedikit merasa lega karena jika seandainya dia hamil, calon anaknya memiliki ayah.
Tentang Syakilla, Sienna merasa bersalah pada sahabatnya itu. Namun, sekali lagi, Sienna tidak punya pilihan.
"Siapa?" tanya Sienna, setelah Galanio tiba-tiba saja mendapat panggilan.
"Syakilla."
Beranjak dari karpet, Galanio menjawab panggilan sambil menjauh. Hanya beberapa menit, pria itu kembali lalu meminta izin.
"Syakilla mobilnya mogok, Sienna, aku harus jemput dia di kampus. Enggak apa-apa, kan?"
"Enggak apa-apa," ucap Sienna. "Dia masih di tempat rame, kan?"
"Masih di parkiran kampus. Cuman, emang mobilnya enggak mau jalan."
"Ya udah pergi aja," ucap Sienna, tanpa merasa keberatan. "Takutnya ada apa-apa."
"Oke, aku pergi dulu kalau git—"
"Saya enggak mengizinkan," ucap Gilang—membuat Galanio batal melangkah. "Kalau kamu berani pergi, malam ini juga pernikahan kamu sama Sienna saya bongkar ke semua orang. Enggak cuman itu, saya juga akan bilang kalau kamu udah meniduri Sienna."
"Mas ...," panggil Galanio.
"Silakan saja pilih," kata Gilang. "Diam di sini dan semua rahasia kamu aman, atau justru sebaliknya?"