“Cepat buka pintunya!” seru Jack dengan suara nyaring bak seorang wasit di permainan football. “Kenapa lama sekali?!” Beni melirik Jack dan terlihat kesal. “Baik, baik ... Aku akan membukanya. Tapi sabar. Kawat ini melilit terlalu kencang di pintunya.” Jack tertawa lirih. “Sepertinya di balik pintu ini tersimpan harta yang sangat banyak.” Raut muka Gabriel terlihat sangat cemas bercampur panik, menunggu Beni melepaskan kawat berduri yang melilit pintu yang sudah susah payah ia segel. “Ben, hati-hati ....”” Beni menoleh ke belakang. Ia tidak mengerti maksud dengan kata ‘hati-hati’ yang dikatakan oleh Gabriel. Tapi walau tidak mengerti Beni tetap menganggukkan kepalanya. Beni membuka pintu yang sudah usang dan beraroma tidak sedap. Saat dibuka, aroma yang sudah terendus tidak sedap, j

