Kepulangan yang Penuh Ketegangan

1076 Words
Mobil dengan cepat memasuki jalan Boulevard. Lampu merah yang sama pada sebelumnya kembali menyala, membawa keheningan di dalam suasana mobil. Adrian Adinata menatap anak-anak SD yang melompat-lompat di atas zebra cross, pandangannya diam-diam melirik Kirana Wijaya yang duduk di sampingnya. Kirana Wijaya mengatupkan bibir, menunduk menatap telapak tangannya. Kedua tangannya yang kelihatan agak kasar terus saling bergesekan, meninggalkan semburat merah di kulitnya. Adrian Adinata tidak berkata apa-apa, hanya mengulurkan tangan dan menyalakan musik di dalam mobil. “Dang—” Musik dengan volume besar tiba-tiba menerobos telinga mereka. Kirana Wijaya seperti diserang oleh suara mendadak itu—tubuhnya menegang seketika, pupil matanya menyusut tajam, wajahnya perlahan memucat. Saat Adrian Adinata menoleh ke arahnya, napasnya sempat tertahan. Kelopak matanya berkedip cepat, jakunnya bergerak, “Ehm… maaf.” Kirana Wijaya tidak menjawabnya. Bola matanya yang gelap terus terpaku pada wajah Adrian Adinata. Magnolia Residence. Adrian Adinata memarkir mobilnya tepat di depan gerbang. Ia menoleh melihat Kirana Wijaya yang melirik ke sana-kemari, mulutnya terbuka sejenak, lalu menutup kembali ia berusaha mengontrol suaranya dan berbicara lembut, “Kita sudah sampai. Turunlah cepat.” Kirana Wijaya menatapnya, menekan pengaman sabuk keselamatan dengan pelan, lalu menoleh ke arah pintu mobil. Kedua tangannya bergerak canggung di panel pintu. Adrian Adinata berdiri di luar pintu mobil, melihatnya yang penuh dengan kebingungan. Ia menghela napas tipis, membungkuk badan dan membuka pintu dari luar mobil. Pandangannya terhenti sesaat sebelum berkata dingin, “Turun.” Sepatu olahraga tipis Kirana Wijaya menyentuh tanah perlahan. Matahari menyinari tajam matanya hingga ia refleks mengedipkan kelopak mata. “Bam—” Pintu mobil ditutup cepat. Adrian Adinata berjalan di depan dengan kedua tangan di saku. Ia melirik sekilas ke belakang, melihat Kirana Wijaya menunduk, melangkah kecil-kecil mengikuti dirinya dari jauh. Di depan gerbang pintu, Adrian Adinata mengecek ponselnya sambil diam-diam memperhatikan Kirana Wijaya yang sedang menaiki tangga. Saat gadis itu berdiri di sisinya, barulah ia menyimpan ponsel dan membuka pintu kayu besar. Nuansa khas rumah bergaya Tionghoa langsung memasuki pandangan Kirana Wijaya dengan cepat. Aroma kayu bercampur wangi dupa memenuhi udara. Langkahnya berhenti di ambang pintu, ia mengamati wilayah asing itu dengan sangat hati-hati dan berkali-kali. Adrian Adinata melepas sepatu kulit merahnya di rak sepatu, lalu mengangkat kepala menatap Kirana Wijaya yang masih berdiri di depan pintu. Alisnya berkerut, suaranya pun agak kesel, “Masuk.” Kirana Wijaya mengangkat kaki perlahan. Saat telapak sepatunya hampir menginjak lantai ruangan, ia menariknya kembali ke luar. “Ck.” Adrian Adinata menatapnya dingin. Ia bersandar pada rak sepatu, menyilangkan tangannya. “Ray, Rana sudah datang?” Clarissa Halim keluar dari dapur, tasbih di tangannya bergoyang lembut seiring langkahnya. Adrian Adinata melirik Clarissa Halim, kepalanya sedikit miring ke arah pintu. Clarissa Halim menangkap kejanggalan itu. Putranya yang biasanya tidak suka cahaya terang yang menusuk mata, kini malah membiarkan pintu besar terbuka lebar. Dengan raut heran, ia mendekat. Mata Clarissa Halim menyipit menatap siluet di ambang pintu. Karena membelakangi cahaya, awalnya ia tidak melihat jelas mua Kirana Wijaya. Namun semakin dekat, wajah itu kian nyata. Suaranya bergetar, “Rana?” Kirana Wijaya mundur beberapa langkah saat melihat Clarissa Halim mendekat. Sepatu olahraganya tergelincir, tubuhnya terbentur pagar di depan pintu. Clarissa Halim menatap Kirana Wijaya yang tampak ketakutan, lalu menoleh ke putranya. “Ada apa dengan dia?” Pandangan Adrian Adinata kembali ke Kirana Wijaya. Tatapannya dingin. “Aku tidak tahu. Aku lagi menyuruh orang menyelidiki kondisinya di keluarga Wijaya.” Ia melangkah maju beberapa langkah, menarik pergelangan tangan Kirana Wijaya dan membawanya masuk. Kirana Wijaya tidak melawan, hanya mengamati interior rumah. Napasnya mulai kacau. “Lepaskan sepatumu.” Nada Adrian Adinata dingin, matanya tertuju pada sepatu olahraga Kirana Wijaya yang nyaris bisa dibilang usang. Kirana Wijaya menatapnya lama sebelum akhirnya mulai melepas sepatu. Sandal rumah sudah diletakkan di kakinya. Kirana Wijaya menunduk menatap sandal kelinci kecil berwarna pink. Jari kakinya menyentuh tepi sandal lebih dulu, lalu perlahan masuk. Di belakang mereka, Clarissa Halim mengamati mereka dengan saksama. Tasbih di tangannya kembali melingkar di pergelangan. Adrian Adinata membawa Kirana Wijaya duduk di sofa ruang tamu. Ia sendiri bersandar santai di samping, memainkan ponsel. Clarissa Halim menepuk bahu Adrian Adinata, “Duduk yang benar.” Ia tersenyum lalu hendak duduk di sebelah Kirana Wijaya. Melihat gerakannya, Kirana Wijaya refleks meraih lengan Adrian Adinata dan sedikit meringkuk. Clarissa Halim berhenti, lalu bergeser ke samping dengan senyum tetap terjaga. “Rana, kamu masih ingat aku nggak?” Kirana Wijaya tidak menjawab dan tidak menatapnya. Pandangannya tertuju ke lantai atas, ke arah suara lantunan kitab suci. Ia juga memperhatikan para pelayan yang lalu-lalang dengan waspada. Mengikuti arah pandang Kirana Wijaya, Clarissa Halim menoleh ke ruang kerja di lantai dua, lalu tersenyum dan naik ke atas. Adrian Adinata menyingkirkan tangan Kirana Wijaya yang bergesekan dengan kulit lengannya. Wajahnya mengernyit. “Krakk—” Pintu ruang kerja terbuka. Suara lantunan kitab suci membesar dan berputar di dalam rumah, menyelimuti seluruh ruang tamu. Tanpa memedulikan raut tidak senang Adrian Adinata, Kirana Wijaya kembali memeluk lengannya, memejamkan mata erat-erat. Tangannya mencengkeram hingga memucat. Adrian Adinata terdiam sesaat. “Kamu—” Namun saat pandangannya bertemu wajahnya, kata-kata itu kembali ia telan. Adrian Adinata mendongak ke arah Clarissa Halim. “Ibu, matikan dulu suara kitab sucinya.” Ia segera menepuk-nepuk punggung Kirana Wijaya, suaranya dilembutkan. “Tidak apa-apa, jangan takut. Aku di sini kok.” Dari lantai dua, Clarissa Halim menatap Kirana Wijaya yang meringkuk dalam pelukan Adrian Adinata. Alisnya mengernyit. Ia terdiam sampai tatapan dingin putranya menyadarkannya, lalu berbalik masuk dan mematikan suara itu. Arissa Mahendra yang berdiri di tangga memandang wajah yang terasa familiar. Tatapannya semula lembut, namun saat melihat sorot mata kosong itu, tubuhnya membeku. Tangannya mencengkeram pegangan tangga hingga memutih. Adrian Adinata menatap Kirana Wijaya yang gemetar. Sorot matanya melunak, suaranya pun pelan. “Kirana Wijaya, sudah… jangan takut lagi, suaranya sudah hilang kok.” Namun Kirana Wijaya tetap memeluk lengannya, tubuhnya terus menyusup ke dalam pelukan Adrian Adinata. Baru setelah suara itu benar-benar berhenti, sepasang mata bulatnya perlahan terlihat oleh Clarissa Halim dan Arissa Mahendra. Arissa Mahendra menatap gadis kecil itu dengan mata berkaca-kaca. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, bibirnya pecah-pecah. Ia melangkah pelan mendekat, kedua tangannya terulur ingin menyentuh pipi Kirana Wijaya. Namun melihat Kirana Wijaya yang bersembunyi di balik Adrian Adinata, air mata Arissa Mahendra akhirnya jatuh satu per satu. Kirana Wijaya memandang Arissa Mahendra sekilas, lalu menghindari tatapannya, tubuhnya makin mendekat ke arah Adrian Adinata. Gerakan itu membuat Adrian Adinata ikut bergeser ke depan. Ia menoleh melihat gadis kecil yang mencengkeram kuat kemejanya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD